
Jet pribadi Chrispeter tiba di bandara, Boy melangkah turun melihat sekitarnya. Keadaan sama seperti bandara lainnya, Reza juga turun melihat sekeliling mereka.
"Boy, tempat ini cukup ramai untuk wilayah kota kecil?" Reza menatap Boy yang sudah menggunakan kacamata hitam.
Maxi Miko juga turun berdiri di depan Boy, melihat sekitar yang tenang. Boy tersenyum membuat Maxi binggung.
"Max, jaga Kai dengan baik, abaikan apapun yang tidak ada sangkut pautnya dengan Kai. Berlaku juga untuk kamu Miko." Boy melangkah, Reza tersenyum menepuk pundak keduanya.
Miko tersenyum melihat Boy yang berbicara seakan mereka orang lain, Reza juga tidak memanggil Boy kakak lagi.
Lian masih berada di dalam Jet, melihat ke luar keadaan yang cukup tenang, tapi banyak rahasia bahkan sebelum mereka tiba di lokasi.
"Ada apa Lian?" Kai melihat Berlian yang tatapannya tajam.
"Tempat ini tenang, tapi bisa menjadi tempat yang cukup berbahaya." Lian meminta Kai melihat ke arah pandangannya.
Beberapa penjagaan mulai terlihat, tapi penampilan mereka tidak biasanya, mungkin bagi kehidupan normal melihat mereka suatu hal yang biasa, tapi bagi mereka sangat terasa keanehannya.
"Tempat ini sudah dikuasi oleh satu pemimpin, tapi posisi dia sudah terpecah. Bisa saja dia mengendalikan dari kejauhan, para pemain dikendalikan oleh satu orang." Rinda tersenyum, memperbaiki dandannya.
"Ayo kita turun." Kai melangkah dengan gayanya yang elegan, melangkah di samping Maxi.
Rinda juga turun, Miko sudah menunggunya. Tatapan Miko serius, Rinda mengerutkan keningnya.
"Rin, tempat ini berbeda dari tempat yang biasanya kita kunjungi, lebih berhati-hati jangan sembarang bertindak." Miko memperingati Rinda yang memang terkadang tidak bisa mengendalikan diri.
"Tenang saja, aku datang bukan untuk mencari mati." Rinda langsung berlari, memeluk lengan Boy yang tersenyum saat melihatnya.
"Jangan pernah melangkah berjauhan Rinda." Boy menatap mata Rinda, kepala Rinda mengangguk.
Senyuman Rinda terlihat, Reza sudah tertawa lepas melihat mobil yang menunggu mereka. Mentari juga tidak bisa mengendalikan diri melihat kejadian di depannya, pertengkaran Boy dengan Ibu hamil.
"Pak ini mobil kita." Boy berbicara kasar.
"Kamu buta, istri saya sedang hamil."
"Dasar bodoh, sudah tahu istri hamil besar. Mengapa dibawa ke bandara?" Boy masih tidak terima.
"Istri saya menjemput saya, perutnya sakit kami harus ke rumah sakit sekarang." Ayah bayi lebih kasar dari Boy.
__ADS_1
"Memang tidak punya otak, seharusnya dia meminta taksi menunggu bodoh."
Sebuah pukulan hampir melayang, Lian menahan kuat. Menatap tajam Ayah bayi yang seharusnya berbicara lebih sopan.
"Anda sedang membutuhkan bantuan setidaknya berbicaralah lebih sopan, ucapkan kata tolong bukan marah-marah." Lian menatap tajam menepis tangan.
"Dia suami kamu, suatu hari kamu akan hamil. Kamu akan merasakan lebih menderita dari istri saya." Ayah bayi menunjuk wajah Boy dan Lian.
"Maaf, saya tidak bodoh. Istri saya tidak akan pernah berjalan sendiri, dia akan menjadi ratu yang hanya duduk diam menunggu aku pulang. Saat hamil dia memiliki banyak pelayan dan pengawal yang berjaga."
Lian melihat Boy yang menatap kesal, mobilnya pergi begitu saja sedangkan mereka harus secepatnya ke area pelabuhan untuk pergi ke tempat tujuan.
"Sebaiknya kita naik helikopter."
"Tidak bisa Boy, terlalu mencolok, kita sebaiknya beristirahat ke hotel." Maxi menolak keinginan Boy yang sedang marah.
Reza duduk santai mentertawakan Boy, baru saja Boy mengakui jika Berlian istrinya. Setidaknya Boy sedang berdoa tentang sebuah pernikahan.
"Apa yang membuat kamu tidak berhenti tertawa Reza?" Boy berbicara dengan nada tinggi.
"Kamu punya bayangan indah sebuah pernikahan, bukannya sesuatu yang lucu." Reza tersenyum melihat wajah Boy.
Reza langsung diam, memejamkan matanya coba mengigat pasangan suami istri yang baru saja bertengkar dengan Boy, mungkin akan lebih mudah jika mereka bisa pergi dengan cara berpasangan.
"Boy, kita bisa bebas masuk menjadi pasangan." Reza menatap Maxi dan Miko.
"Aku juga memikirkan hal yang sama dengan Reza." Miko setuju.
"Maksudnya menjadi pasangan pengantin baru?" Maxi kaget.
"Gila Za, kamu ingin membahayakan Kai Rinda?" Boy tidak setuju.
"Rinda sudah biasa dalam misi satu ruang dengan Miko, jadinya Rinda setuju saja, jika kita terpisah jauh lebih berbahaya." Rinda tersenyum.
"Sebenarnya yang dalam bahaya kamu Boy? Lian cukup seksi." Reza tertawa melihat Boy.
"Kamu yang harus berhati-hati, bisa saja Mentari hamil. Dia terlalu polos dengan hubungan dewasa." Boy melangkah pergi, melihat Taksi.
Kaira menatap Maxi dengan tatapan yang sulit diartikan, satu kamar dengan pria dewasa, Papanya selalu memperingatinya untuk berhati-hati dengan lawan jenis.
__ADS_1
"Tenang saja Kai, tugas aku menjaga dan melindungi kamu." Maxi membukakan pintu mobil.
Reza menatap Tari yang memang sangat polos, senyum jahil mulai muncul untuk memanasi keadaan.
Seluruh mobil berjalan, sementara mereka akan menginap di hotel. Besok pagi baru berangkat ke lokasi yang ingin mereka tuju.
Reza satu mobil dengan Mentari, Reza berbicara menggunakan bahasa asing, luar biasanya Tari mengerti ucapan Reza. Nada bicara Reza yang memerintah membuat Tari cemberut,
Mentari meminta Reza berjanji agar tidak menghamilinya, Reza dengan cepat langsung menerima, dia tidak akan menyentuh Tari di dalam hotel, walaupun mereka tidur bersama.
Melihat keseriusan Reza Mentari setuju, sejujurnya ini pertama kalinya bagi Reza bertualang beramai-ramai. Biasanya dia bergerak sendiri, menyamar bahkan bertarung tanpa bantuan.
"Reza, kamu selama ini tinggal di mana?" Mentari menatap Reza.
"Tidak menentu, kadang di alam kadang di laut, kadang udara." Reza menahan tawanya, Terlihat Mentari yang sedang berpikir keras membayangkan ucapan Reza yang akhirnya jawabannya hanya kata oh.
Di dalam mobil lain, Boy menatap tajam ke depan, coba memikirkan ucapan Reza, sebenarnya ada baiknya jika mereka datang dengan cara berpasangan. Boy yakin Miko Maxi tidak mungkin menyentuh kedua adiknya, kecuali keduanya memiliki rasa.
Boy menepis pikirannya soal cinta, jika cinta hadir terlalu banyak masalah yang akan datang, semakin banyak juga yang akan terlibat dan terluka.
"Tujuan aku datang untuk menemukan kamu bukan untuk cinta, kamu harus membayar mahal kematian Tim tebaik yang aku susun bertahun-tahun, langsung hancur hanya karena satu wanita." Batin Boy tersenyum sinis.
Boy memberikan perintah untuk Kai membuatkan identitas mereka sebagai pasangan suami istri, Kai cukup kaget langsung menatap Maxi, memberikan ponselnya.
Maxi menggagukan kepalanya, dia yang akan mempersiapkan semuanya sebelum mereka sampai di hotel.
Rinda hanya tersenyum melihat isi pesan Boy, menatap wajah Berlian yang sangat cantik. Kecantikan Berlian tersembunyi tanpa polesan sedikitpun.
"Kak Lian sudah melihat perintah Boy?"
"Sudah Rinda, kamu berhati-hati ya, cari aku jika butuh bantuan."
"Kamu yang harus hati-hati, Boy pernah patah hati. Jangan pernah terikat jika tidak ingin terluka." Rinda menepuk pelan pundak Lian.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***