BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
TARUHAN


__ADS_3

Persiapan acara lamaran Keisya dan Riki Chrispeter sedang dalam persiapan, seluruh keluarga sibuk karena Riki seorang pembisnis yang pastinya memiliki banyak rekan kerja. Acara pertunangan memang sengaja diadakan besar-besaran, karena nikahan khusus keluarga dekat.


Bi mendekati Kei yang sedang melihat baju untuk keluarga, melihat Bi datang Kei langsung tersenyum. Menunjukkan beberapa baju couple untuk Bi dan Bara.


"Bi lihat ini bagus tidak?"


"Bagus,"


"Kei, kamu mencintai Riki sejak kapan?" Bianka tidak tahu rasanya awal jatuh cinta, karena dia dan Bara langsung menikah sampai cinta datang dengan sendirinya.


"sejak kecil, aku suka dengan kak Riki yang dewasa, baik, dermawan. Melihat kak Riki seperti aku melihat sosok Papa."


Dua girl Chrispeter muncul, mereka langsung melihat baju untuk mereka. Bi menatap Reva yang sibuk sendiri dengan bajunya.


"Reva, kapan kamu menikah tidak malu dilangkahi adek." Bi tersenyum mengejek.


"Sejak kapan kamu mengurusi hidup aku," Reva menatap sinis.


"Jangan sampai keduluan Rindu, dia sudah mendapatkan sinyal dari Raffa. Sedangkan kamu, Asep jangankan tertarik melirik saja tidak."


"Terimakasih atas hinaan dan cacian kamu Bianka Chrispeter!" Reva teriak melempar Bi dengan banyaknya baju, langsung melangkah pergi.


Bianka hanya tertawa, dia yakin emosi Reva akan menarik perhatian Asep.


"Jahil banget Bi." Rindu menatap Bianka yang hanya tertawa.


"Mau taruhan tidak?"


"Taruhan apa?" Rindu dan Kei saling pandang.


"Menurut kalian, Asep suka Reva tidak."


"Tidak!" jawab keduanya bersamaan, Asep pria dingin yang hanya tahu mengabdi terhadap Bara, dia juga tidak pernah mengenal wanita karena tidak punya waktu untuk berkenalan.


"Baiklah akan aku buktikan, cinta yang tidak berani berjuang. Kalian tidak tahu berapa ratus orang lari saat tahu identitas Chrispeter. Salah satunya Asep, dia dan Reva bagai langit dan bumi."


Rindu dan Kei tersenyum, Bianka tidak pernah mengurus hidup orang lain. Kemungkinan keinginan anak Bara yang menjodohkan pengawal pribadi ayahnya dengan keturunan Chrispeter.


***


Reva keluar dari kediaman Chrispeter, dia membawa senjata membuat para pengawal menyingkir. Jika salah satu putri keluar membawa senjata jangan ada yang menegurnya, jika tidak ingin sekarat.

__ADS_1


Dari kejauhan Asep bisa melihat Reva yang masuk ke dalam mobil dalam keadaan marah, dia memalingkan wajahnya tidak ingin ikut campur.


Beberapa pengawal berlarian berusaha menghentikan Reva atas perintah Bianka. Melihat orang mengelilinginya membuat Reva semakin marah.


Ketiga putri Chrispeter menatap Reva, dia memang tidak begitu ahli dalam berkelahi tapi kemampuan juga tidak bisa diremehkan. Beberapa pengawal maju menyerang, para Bunda melihat dari atas. Pengawal yang menyerang pasukan khusus milik Bianka.


Reva kewalahan melawan tapi tidak ingin mundur, wajah cantiknya mulai mendapatkan pukulan. Asep yang melihat tidak mengerti penyebab Reva diserang, hati Asep tidak tega melihat Reva yang sudah terlempar, dan menjatuhkan senjata karena lawannya pasukan khusus terlatih, tidak mungkin dia menembak.


Belum juga menyerah Reva langsung maju melayang pukulan, tubuhnya terlempar sampai jatuh ke dalam pelukan Asep. Reva membuka matanya dan melihat Asep yang menatap tajam.


"Apa ini tradisi keluarga Chrispeter? kalian tahu dia kewalahan tapi maju semua, bukannya kalian terlihat memalukan."


"Anggap saja tradisi, karena sebelum jatuh pingsan atau patah tulang pertempuran tidak akan berhenti."


"Bagaimana jika aku yang menggantikannya?"


Asep melepaskan Reva, dia langsung berdiri di tengah. Pengawal maju semua dan langsung menyerang. Puluhan orang khusus bukan hal yang sulit, melihat pertempuran sengit seluruh orang berkumpul. Bara juga yang baru kembali melihat dengan aneh, para ayah juga menatap binggung tapi sangat kagum dengan kelihaian kemampuan Asep. Bara sangat luar biasa bisa melatih Asep bertarung dengan kemampuan yang cepat, puluhan orang sudah terlempar.


"Luar biasa, sejak kapan kamu melatih dia Bara?" Haikal menatap menantunya sambil tersenyum.


"Sejak dia usia 10tahun, kedua orangtuanya dibunuh. Aku ingin dia hidup normal tapi dia memutuskan mengikuti jejak Bara ayah."


"Bi! apa yang kamu pikirkan?" Reva menatap tajam, tangan Asep langsung keluar darah.


"Kamu yang menyakiti dia Reva, senjata ini milik kamu, putri Chrispeter gagal menjaga senjata pribadinya sampai melukai orang lain." Bi tertawa melemparkan senjata yang langsung ditangkap Reva.


"Calon menantu kak." Rian berbisik ke Roy langsung masuk mendekati istrinya yang sudah berdiri di depan pintu bersama Nayla.


Reva langsung mendekati mengambil tangan Asep, dengan santai dia mengeluarkan peluru. Reva coba mengikat tangannya tapi langsung ditepis.


"Aku bisa sendiri." Asep langsung melangkah pergi, setelah memberi hormat.


Sebuah belati tajam melayang hampir menembus punggung Asep, tapi dia cepat berbalik untuk menangkapnya. Daddy Roy tersenyum dan suka dengan kepekaan Asep yang tidak perlu melihat.


"Jangan coba dekati putriku Reva, jika kamu ingin keluar dari tempat ini hidup." Roy menatap tajam, tapi tatapan Dara yang sudah berada di depan pintu jauh lebih tajam melihat suaminya.


"Daddy!" Reva menatap dengan wajah memelas.


"tenang saja tuan, saya tahu diri. Tapi jangan ancam saya, hidupku milik Bara tidak ada yang bisa menghentikan aku selain dia. Tapi soal perasaan tidak ada yang bisa menghentikannya bahkan diriku sendiri." Asep memberi hormat, langsung melangkah pergi.


Senyum sinis terukir di wajah Roy, kehebatan Asep memang tidak diragukan tapi untuk menyerahkan putrinya tidak akan semudah itu. Roy melihat Dara yang seakan ingin memukulnya, tapi dia hanya tersenyum mencium pipi istrinya.

__ADS_1


"kita sudah sepakat tidak ikut campur soal asmara Reva, aku tidak setuju Daddy menjodohkannya dengan teman Daddy." Dara mengikuti suaminya masuk ke dalam, sedangkan Reva sudah pergi bersama Rindu.


"Sayang, sebagai seorang Daddy aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku."


"yang terbaik saat dia menentukan sendiri kebahagiaannya."


"Dara aku tidak ingin berdebat soal ini."


Bianka hanya diam melihat dari balik pintu, Bara juga berada di belakang Bi ikut melihat perdebatan Mommy dan Daddy.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Bara menatap mata Bi sambil mengelus perutnya.


"Daddy ingin menjodohkan Reva dengan putra dari keluarga Eksel, ini tidak boleh terjadi."


"Kenapa sayang, mereka bukan keluarga berbahaya. Ayah tepat memilihnya karena Reva akan hidup normal saat menikah dengan orang biasa, putranya rekan Bisnisku." Bara mengenal keluarga Eksel, karena mereka sangat bersih dari kecurangan.


"Baik untuk Daddy belum tentu untuk Reva, kalau ingin hidup normal kenapa Daddy menikahi Mommy seorang mafia wanita." Bianka hanya sedang memikirkan soal taruhannya, jika sampai kalah pulau yang baru dia miliki akan menjadi milik Rindu, villa rahasia penelitiannya akan menjadi milik Keisya.


"Ya sudah bukan urusan kita, fokus sama calon baby. Anaknya ayah."


"Lakukan sesuatu Bara, jika sampai perjodohan berhasil jangan harap kamu bisa menyentuh anakmu." Bi melangkah masuk, Bara mengerutkan keningnya.


"Kenapa Kaka yang jadi menderita."


"Bujuk Asep agar bisa menaklukkan hati Daddy."


"Aku tidak bisa ikut campur soal perasaan Bi, hanya mereka yang bisa memutuskan."


Bianka berbalik menatap Bara, tangannya dilipatkan. Bara melihat dari ujung kaki sampai kepala penampilan Bi, ingin sekali dia tertawa melihat Bi yang gemes dengan perutnya yang semakin terlihat.


"Baiklah, demi kamu akan aku lakukan segala cara."


Mendengar jawaban Bara, Bi langsung memeluknya dan mencium bibir Bara.


"Terimakasih ayah, we love you."


"Ada maunya aja romantis, aku sangat mencintai kamu Bianka." Bara memeluk erat tanpa memperdulikan sekitar mereka.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


__ADS_2