BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TAMAT


__ADS_3

Tiga tahun sudah berlalu, kebahagiaan keluarga Chrispeter semakin sempurna melihat kelincahan empat penerus keluarga.


Hansen tumbuh menjadi anak jenius, pintar, kuat, nakal, jahil seperti kakeknya. Han juga memiliki keistimewaan seperti Bundanya, sejak kecil Bianka harus mengajari Han membedakan manusia nyata dan makhluk beda alam.


Kecerdasan Han sangat mirip dengan Boy, dia cepat mengerti. Bisa memahami dengan mudah lingkungannya.


Han setiap bangun tidur minum susu, mandi, dan bergantungan di tangga seperti Tarzan barulah terjun, tidak membutuhkan tangga membuat Bunga selalu panik melihat tingkah Han yang nakalnya melebihi Boy saat kecil.


Setiap pagi seisi rumah dibuat heboh mencari Han yang menghilang, dia bisa bersembunyi di setiap sudut tanpa ada yang bisa melihatnya.


Kemapuan yang Han miliki membuatnya bisa berkomunikasi dengan makhluk lain, Berlian berkali-kali menghentikan Han agar mengabaikan apapun yang dia lihat.


Berbeda dengan Han, Mickael memiliki kemapuan yang juga istimewa, bisa mengetahui pemikiran orang, mengendalikan hewan melebihi Rinda.


Melihat kemampuan putranya, Maxi yang paling sensitif. Dia sangat mengkhawatirkan Mic yang memiliki emosi tidak stabil.


Setiap hari Mic membuat masalah dengan siapapun, dia tidak akan pernah membuat orang duduk dengan tenang, ada saja tingkahnya yang membuat orang repot.


Satu-satunya anak yang paling tenang karena Kenzo sangat cerdas, pendiam, murah senyum, pikirannya sangat dewasa.


Sejak kecil Miko menanamkan kebaikan menghormati setiap orang, Ken tidak pernah menyusahkan, dia juga selalu menuruti apapun yang Han dan Mic dan Ren lakukan.


Satu pengacau yang paling parah, jahil, nakal, cengeng membuat Tari naik darah terus. Rendri setiap hari membuat orang menangis karena kenakalannya, jika orang tidak menangis maka dia yang akan menangis.


Sikap Reza yang sangat memanjakan putranya membuat Ren semakin nakal, ada saatnya Rendri diam saat Reza mulai menegurnya, tapi jarang sekali Reza melakukannya karena jika sudah diam, Ren akan sangat pendiam sampai tidak ingin melakukan apapun.


Kebebasan sangat diberikan kepada empat anak yang sedang aktif sekali, penjagaan mereka juga sangat ketat demi keamanan.


Di tengah lapangan seluruh keluarga berkumpul melihat empat anak kecil berlari bermain kejar-kejaran.


"Ken, angkat pedang kamu." Miko melemparkan sebuah pedang.


"Mic saja, Ken tidak bisa." Mickael mendorong Kenzo.


Tubuh Mic langsung terlempar jatuh, Han mengambil alih langsung mengangkat pedang dengan sekuat tenaganya.


Boy langsung melangkah mendekat, mengarahkan pedang ke arah Han yang tersenyum langsung berlari menarik pedangnya mendekati Boy.


"Angkat pedang kamu Han."


"Tidak kuat Ayah, pedangnya lebih besar dari Han."


Boy tersenyum langsung menancapkan pedangnya di tanah, merentangkan tangannya menyambut putranya yang berlari, pedang Han juga terjatuh tersenyum memeluk Ayahnya.


"Anak Ayah sudah besar."


"Belum Ayah, tinggi Han baru segini." Han mengukur tubuhnya.

__ADS_1


"Ayah sudah tua, kita sudah besar."


"Belum tua, kalau tua pasti ubanan seperti kakek." Rendri menatap sinis.


"Mic tidak bertanya dengan kamu Rendri." Mic langsung mendorong Rendri sampai jatuh.


"Rendri juga tidak bicara sama kamu." Ren bangkit langsung mendorong balik Mic sampai Ken harus tarik-tarikan.


Hansen langsung berlari melompat memeluk Rendri dan Mickael, tertawa bersama membuat para orang tua juga tersenyum bahagia.


Walaupun Rendri dan Mickael selalu bertengkar, ditambah lagi Han yang sama nakal dan jahilnya hanya Ken yang selalu menjadi korban kenakalan ketiganya.


"Kakak ...." Hansen langsung berlari mengejar sesuatu.


"Ikut." Mic dan Ren langsung berlari mengejar Hansen.


"Hansen." Berlian langsung berlari mengejar putranya.


"Ada apa Lian?"


"Tidak boleh mengejar dia, kakaknya jahat." Lian memeluk Han.


"Han kuat Bunda."


"No sayang, Bunda mohon jangan pernah mengikuti mereka." Berlian mengandeng tangan Han, dan Mic.


Boy duduk di bawah pohon rindang menatap langit yang cerah, melihat putranya yang sedang tidur dalam pelukannya. Berlian memeluk lengan Boy, mencium pipi suaminya penuh cinta.


"Sayang, melihat Han mengingatkan aku saat kecil berada di tempat ini, mengangkat pedang pertama kalinya, menatap kakek yang masih bisa bertarung bersama kami."


"Lian juga memiliki kenangan indah di sini." Lian mengusap wajah putranya penuh cinta.


"Dulu kak Max yang selalu mengawal kita dari kejauhan." Rinda tersenyum menatap wajah Maxi yang tersenyum sambil mengusap kepala Rinda dan Mickael.


"Tempat ini juga kita berlarian, terjatuh, tertawa, menangis, dimarah, juga menjadi tempat terindah untuk pulang." Reza menggenggam tangan Tari dan memeluk putranya Rendri yang sudah tertidur mengorok.


"Pohon ini dulunya kecil, sekarang sudah besar sekali." Kaira tersenyum melihat pohon tempat mereka berteduh.


"Kai benar, dulu hanya Kaira yang duduk di sini sambil membaca buku, sekarang kita semua bisa berteduh dibawahnya." Boy tersenyum.


"Bukan hanya pohon yang tumbuh, tapi kita juga terus tumbuh besar, dewasa juga memiliki jalan masing-masing. Kebahagiaan terbesar bisa memiliki keluarga seperti kalian semua." Miko mencium kening Kai, mengusap kepala Ken yang tidur nyenyak.


"Boy berharap kita semua bisa menjaga anak-anak, membimbing mereka untuk mempertahankan keutuhan keluarga."


"Tugas kak Boy itu." Rinda tersenyum lucu.


"Menjaga keutuhan harus dilakukan semua orang, menanamkan kebaikan di dalam hati anak-anak juga tidak mengurangi pengetahuan mereka tentang siapa kita."

__ADS_1


"Reza benar, menjadi orang tua bukan hanya membesarkan mereka, tapi membentuk pribadi mereka agar terus kompak." Maxi tersenyum sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.


Boy tersenyum menggendong putranya, menggenggam tangan Lian untuk melangkah kembali ke dalam rumah.


Semuanya juga berdiri, melangkah bersama penuh kebahagiaan.


"Cerita kita masih panjang, perjalanan kita belum berakhir." Rinda memeluk lengan Max.


"Sepanjang apapun jalan kita, hal terpenting kita bahagia." Boy mengedipkan matanya menatap istrinya tercinta.


"Akan ada hari sedih, bahagia, juga keributan yang akan kita lalui, tapi selama bersama semuanya akan dilalui." Reza mencium pipi putranya.


"Kenapa Rendri terus yang dicium, tidak cinta Tari lagi?"


"Sayang, sama anak sendiri saja cemburu." Reza mencium pipi Tari.


Semua orang tertawa bahagia, melangkah memasuki kamar masing-masing.


***


TAMAT.


BOY BERLIAN


REZA MENTARI


MAXI RINDA


MIKO KAIRA


Pamit undur diri.


***


Terima kasih untuk semua pembaca Bianka dan mafia kejam sampai season dua, dukungan kalian, semangat kalian motivasi bagi autor.


Terima kasih komentarnya, tunggu novel author cerita Mafia selanjutnya yang menceritakan Seorang pemuda yang masuk penjara anak-anak, karena mendapatkan tuduhan dari Ayah tirinya karena sudah membunuh ibu kandungnya.


Dendam dan kemarahan terus tumbuh sampai dewasa, memaksanya menjadi pemimpin mafia paling kejam demi membalaskan dendam.


TUNGGU UPDATENYA.


Jangan lupa baca novel author yang lainnya.


SAMPAI JUMPA.


***

__ADS_1


__ADS_2