BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PINGSAN


__ADS_3

Pintu ruangan Boy terbuka, Cristal teriak histeris melihat ruangan hancur berantakan. Boy mendorong Cris yang langsung jatuh ke dalam tumpukan buku.


Tatapan mata Boy langsung gelap melihat ruangan hancur, Cris menggelengkan kepalanya mengatakan bukan dirinya yang menghancurkan.


"Kenapa kamu datang sepagi ini?" Boy menarik lengan Cristal.


"Saya ingin membersihkan ruangan Tuan, tidak ingin menganggu pekerjaan tuan jadinya perginya pagi."


"Bohong."


"Tuan juga kenapa datang pagi sekali?"


"Aku mengambil berkas penting untuk rapat ke luar negeri."


"Bohong." Cristal melepaskan tangannya.


Boy melihat bayangan, langsung mendorong Cristal sampai terguling jatuh ke bawah meja. Suara tembakan terdengar, Boy langsung bersembunyi di balik sofa, mengeluarkan senjatanya mengarahkan ke jendela.


Cristal menutup telinganya, melihat pertarungan Boy dan seseorang yang menggunakan topeng.


Ternyata bukan hanya satu orang yang masuk, ada orang lain yang langsung menyerang Boy. Cristal teriak meminta Boy menghindar, Cris langsung ingin berlari keluar menyelamatkan dirinya.


Seseorang menarik rambut Cristal, meletakkan senjata di kepala Cristal. Suara Cris memohon untuk melepaskannya, dirinya tidak tahu apapun.


"Tuan tolong selamatkan Cristal."


"Selamatkan diri kamu sendiri." Boy melayangkan pukulan.


"Tolong lepaskan Cristal, saya masih jomblo belum menikah. Berjuang untuk selamat, memiliki rasa trauma, berharap hidup bebas, tapi masih saja dalam bahaya." Cristal menangis seperti anak kecil.


Boy menatap Cris melepaskan tembakan, teriakan Cristal kuat langsung berlari memeluk erat Boy.


Tiga orang melarikan diri, Boy ingin mengejar tapi melihat tubuh Cristal gemetaran ketakutan sampai wajahnya memucat.


Tatapan mata Boy binggung, Lian sudah terbiasa dengan pertarungan, tetapi kenapa sekarang ketakutan seperti orang yang memiliki trauma.


"Lepaskan."


"Boy ayo pulang, Cristal takut." Air mata Cristal menetes, memeluk erat Boy.


"Lepaskan atau kepala kamu aku tembak."


Cristal langsung jatuh pingsan mendengar ucapan Boy, tangan Boy langsung menangkap juga kebingungan.


"Sial."


Boy langsung menggendong tubuh Cristal, membawanya keluar dari kantor. Sebelum banyak orang yang datang, Boy menghubungi bawahan untuk menyelesaikan masalah di ruangannya, menangkap pelaku.


Cristal dimasukkan ke dalam mobil, langsung melaju menuju apartemen Reza. Boy mengumpat melihat Cris mengacaukan segalanya, seandainya Cris tidak ketakutan pelaku bisa Boy tangkap.


"Berlian, apa yang terjadi kamu wanita kuat, tetapi mengapa menjadi wanita bodoh." Boy memukul setir mobilnya.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Boy langsung membawa Cris, membanting tubuhnya di atas ranjang.


Boy mengutuk dirinya sendiri yang masih saja memperdulikan Lian, padahal Boy sudah meyakinkan dirinya untuk membenci Lian.


Mata Boy melihat sebotol air, langsung menyiramkan ke wajah Cristal. Suara Cristal teriak membuat Boy memukulnya dengan botol kosong.


"Tuan." Cristal menangis memeluk Boy.


"Lepaskan, sebelum kepala kamu aku tem ...." Boy menghentikan ucapannya.


Air mata Cristal menetes, memegang baju Boy mengusap ingus dari hidungnya.


"Kamu jorok sekali." Boy mengambil tisu.


"Cris takut, mereka menggunakan senjata."


Boy mengacak rambutnya, melepaskan tangan Cristal, langsung melangkah pergi.. Cristal berlari memeluk lengan Boy, tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam Boy.


"Kamu bosan hidup?"


"Cristal ingin hidup lama, menikah punya anak."


"Jika kamu ingin hidup jauhi keluarga Chrispeter."


"Memangnya mereka pembunuh bayaran?" Cris memonyongkan bibirnya.


Boy mengangkat tangannya ingin menampar Cristal, tapi senyuman Cris menghilangkan niat Boy.


"Diam di sini." Boy langsung melangkah pergi.


Manusia bawah memang tidak tahu diri, sudah diberikan kehidupan mewah, berkecukupan, pekerjaan yang menjanjikan terapi masih merasakan kekurangan.


Boy mengerakan banyak bawahan, menutup seluruh penerbangan, Boy juga menutup pelabuhan.


"Tidak akan pernah aku biarkan kalian lolos." Boy menjalankan mobilnya ke arah tempat penyiksaan.


Reza sudah mendapatkan kabar soal kantor Boy berhasil dibobol, berkas penting Boy hilang.


Reza langsung berlari masuk ke dalam mobilnya, menghubungi Tari untuk segera kembali karena dirinya dalam masalah.


"Sialan, jika sampai berkas itu hilang kepala aku dan Boy juga bisa hilang." Reza mempercepat laju mobilnya.


Mobil Reza dan Boy bertemu di persimpangan, beberapa orang yang masuk sudah tertangkap dan dikurung di dalam ruangan bawah tanah.


Saat sampai Reza langsung mendekati Boy, tapi tidak berani menegur melihat wajah Boy yang mengerikan.


Reza langsung melangkah masuk mengikuti Boy, pukulan Boy mematikan langsung membuat lumpuh.


"Kalian pikir aku bodoh, tidak akan ada yang bisa mengalahkan Boy. Kamu pikir bisa mengecoh selama ini, salah besar." Boy melayangkan satu pukulan sampai muntah darah, mati di tempat.


Banyak orang mundur ketakutan, Boy menanyakan siapa orang dalam yang terlibat.

__ADS_1


"Kenapa bisa mereka masuk? bagaimana nasib kita jika berkas itu sampai bocor ke publik."


"Tidak akan ada yang bocor, sebenarnya berkas soal penyeludup tidak pernah ada, aku sengaja memancing mereka semua untuk mendekat."


"Boy, jangan bilang Cristal salah satu bagian mereka."


"Jangan asal menundu kak Reza, sekalipun dia sebagai Berlian ataupun Cristal dia tidak ada sangkut pautnya." Rinda menyerahkan sesuatu kepada Boy.


Boy melihat Cristal seorang pasien yang tidak sadarkan diri selama satu tahun, saat sadar dia ketakutan memanggil nama Boy.


Akhirnya dia diberi nama oleh seorang nenek dengan nama Cristal, karena wajahnya yang cantik. Hidup di pedalaman selama dua tahun, hidup penuh ketakutan.


Rinda mengerti Boy membenci Lian, tetapi Boy juga tidak tahu betapa menderitanya Lian. Menguji metal Lian dengan kekacauan di perusahaan.


"Aku tidak bermaksud melibatkan dia, salah sendiri datangnya subuh. Aku datang cepat ingin menangkap mereka, karena Lian aku harus kehilangan mereka." Boy menyobek kertas.


"Berarti kak Boy cinta Lian, buktinya memilih menyelamatkannya daripada mengejar musuh." Reza tersenyum melihat Boy.


"Cinta, aku sangat membenci dia." Boy langsung melangkah pergi, masuk ke dalam sebuah ruangan.


Reza tersenyum menatap Rinda, akhirnya Berlian kembali. Walaupun butuh waktu agar semuanya kembali seperti awal.


Beberapa orang dibawa masuk, Rinda memilih untuk pergi membiarkan Boy dan Reza mengurus para pengkhianatan.


Reza melayangkan pukulannya, sudah lama tidak bertarung akhirnya Reza bisa meluapkan rasa kesalnya.


"Tuan Reza." Mentari muncul, dia belum sempat pulang sudah mendapatkan panggilan.


"Cepat sekali sampainya?"


"Tari belum pulang, masih mampir ke desa yang terpencil mencari sesuatu."


"Kenapa tidak pamitan?" Reza menatap tajam.


Tari mengabaikan Reza langsung melangkah masuk menemui Boy, memberikan yang Boy butuhkan.


"Terima kasih Tari?"


"Tari ingin meminta imbalan?"


"Apa yang Kamu inginkan?"


"Tari ingin pergi ke luar negeri, mencari kak Lian."


"Dia ada di sini, kamu akan segara bertemu dia."


Reza merangkul Tari, mengatakan jika Lian baik-baik saja, hanya saja terlihat lebih bodoh. Reza tertawa mendapatkan pukulan dari Mentari.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...

__ADS_1


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***


__ADS_2