BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PELABUHAN


__ADS_3

Mentari melihat ke arah mansion, melangkah pergi meninggalkan tempat yang selama tiga tahun memiliki banyak kenangan. Tari melangkah pergi ke toko bunganya.


Sesampainya di sana Tari langsung berlari melihat Nando muntah darah di depan pintu, Tari langsung membantu masuk ke dalam toko.


"Apa yang terjadi kak Nando?"


"Aku terkena suntikan mematikan."


"Kak Nando seorang dokter, pasti memiliki penawarannya?" Tari menatap binggung.


Nando menceritakan jika penawarannya sudah dicuri, mereka sekarang sedang menuju pelabuhan untuk mengirim obat-obatan yang sudah dikembangkan, akan dijual di negara luar untuk pengobatan gratis, sebagai uji coba.


Jika tubuh tidak kuat akan menyebabkan penyakit berbahaya, salah satunya kangker, jantung.


Nando terkena efek obat yang belum disempurnakan, hanya ada satu penawaran dibuat oleh seorang dokter cantik. Penawar juga belum diuji coba, bisa saja gagal.


"Tari akan menemui dokter itu kak, katakan di mana dia sekarang?"


"Jangan Tari, catatan dia juga hilang. Aku mencuri obat yang dia ciptakan, juga mencuri catatannya."


"Kak Nando kenapa jahat?"


"Maaf Tari, aku terpaksa melakukannya, tidak menyangka juga akan kejadian seperti ini. Mereka menipu aku, bahkan tidak menepati janji."


Rinda memasangkan infus, pintu toko diketuk kuat. Tari mengabaikannya, tetapi Berlian berhasil masuk.


"Kak Lian?" Tari terkejut.


Lian langsung membantu melakukan pertolongan pertama, perlahan mata Nando tertutup. Lian dan Tari saling pandang.


"Tari harus pergi ke pelabuhan, menunggu di sini tidak akan mendapatkan apapun." Tari menatap tajam keluar.


"Tari, kak Miko juga dalam keadaan sekarat, lebih buruk dari dia. Aku pikir penawar itu ada padanya, tapi ternyata dia juga terluka."


"Kenapa kak Miko dan kak Nando bisa sama?"


"Kaira yang menciptakan obat, dia mencurinya." Lian mondar-mandir harus mengabari Boy atau tidak.


Tari langsung melangkah pergi, Lian cepat mengejar Tari. Tari memaksa ingin pergi ke pelabuhan, langsung membawa ponselnya Nando.


Lian teriak, langsung masuk ke dalam mobilnya melaju cepat mengejar Tari.


***


Boy langsung masuk ke dalam ruangan lab, melihat Miko muntah darah, matanya terbuka mencoba terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Kak Kai, Nando juga sudah muntah darah, dia tidak memiliki penawarannya."


"Penawar juga belum sempurna Boy, mereka tidak akan mati hari ini." Kai memberikan suntikan diinfus Miko.


"Bagian mana yang sakit Kak?"


"Tidak ada yang sakit Kai, maaf sudah menyusahkan." Miko tersenyum.


Kai juga tersenyum menutupi kekhawatirannya, Rinda dan Maxi juga sibuk mencoba memahami obat yang Kai ciptakan.


Ponsel Boy berdering mendapatkan panggilan dari Lian, Boy terkejut mendapatkan kabar Tari pergi ke pelabuhan, Lian sedang mengikutinya.


"Aku pergi dulu, pelaku utama ada di pelabuhan." Boy langsung melangkah keluar.


"Rinda ikut kak Boy, kita tidak bisa melakukan apapun karena catatan juga hilang." Rinda melangkah pergi, memeluk Miko sebentar meminta bertahan.


Maxi juga langsung melangkah pergi, masuk ke dalam kamarnya menganti bajunya, mengeluarkan senjata, belati.


Rinda juga masuk kamarnya, mengambil senjata, mengubah gaya berpakaiannya.


Reza keluar dari kamar Tari, mengusap wajahnya. Reza langsung turun ke bawah melihat Boy yang menggunakan jaket hitam dan kacamata hitam.


"Ada apa kak Boy?"


"Nando bukan pelaku utama, dia hanya orang suruhan. Pelaku utama akan melarikan diri melalui laut. Mereka memiliki penawar, juga sudah mengembangkan obat, kita harus menghentikannya."


"Boy, minta Lian menghentikan Tari jangan sampai mendekat, harus menunggu kita." Maxi mengisi peluru.


Reza mengerutkan keningnya, langsung naik ke lantai atas, mengambil tasnya, mengisi peluru, menggunakan topi langsung mengikuti Boy.


Mobil anti peluru dikeluarkan, langsung melaju menuju lokasi yang Lian kirimkan. Reza memainkan tabletnya mengerakkan drone lebih cepat menuju lokasi.


Boy menatap Reza yang bergerak lebih dulu, langsung mengendalikan para anak buahnya. Reza melihat keadaan pelabuhan yang sudah siap berlayar.


"Kenapa kamu membiarkan mereka berlayar?"


"Kita bertempur di lautan, jangan memancing para aparat yang hanya akan mengambil keuntungan." Reza melihat ke arah luar jendela.


Boy melirik Reza tersenyum sinis, melihat Reza berkali-kali menghela nafasnya.


"Kenapa Za rasanya sakit?" Boy tersenyum.


Reza diam saja, bukan sakit karena putus, sakitnya karena begitu mudahnya Tari menemukan pengganti.


"Sudah aku katakan suatu hari kamu akan menyesal, sekarang sudah terlambat Za. Kamu yang menyakiti Mentari, sedangkan Nando yang mengobati. Waktu Tari bersama kamu memang lebih lama sehingga tumbuh rasa cinta, tapi saat bersama Nando yang baru dia kenal Tari tidak cinta, tapi merasakan kenyamanan juga terlindungi." Boy tersenyum lucu.

__ADS_1


Rinda menatap ke kursi belakang, melihat Boy dan Reza yang aneh. Rinda baru tahu jika Tari dan Nando memang sudah sangat dekat.


"Kak Boy, jangan bilang Tari pergi ke sana demi Nando?" Rinda mengerutkan keningnya tidak percaya.


"Kenyataannya seperti itu Rinda, dia berlari ke sana demi Nando. Cinta bisa berubah hanya karena rasa nyaman."


"Tidak semudah itu kak Boy, Tari sangat mencintai kak Reza."


"Cinta, kamu minta Tari memilih, dia pasti memilih Nando. Tari sudah meninggalkan perusahaan berarti melepaskan tanggung jawab, meninggalkan rumah berarti meninggalkan cinta dan kenangan."


"Rinda tidak percaya."


***


Mobil Tari sampai langsung berlari, Lian juga langsung berlari mengejar Tari melihat kapal yang sudah berlayar.


Mentari teriak kuat, langsung menanyakan tempat penyewaan kapal. Lian menahan meminta Tari tenang, Boy sudah menyiapkan semuanya.


Berlian menghela nafasnya menunggu kedatangan Boy, Mentari memijit pelipisnya tidak mengerti yang terjadi.


"Kalian mengenal kak Nando?"


"Iya, dia mengejar cinta kak Kai, tapi tidak pernah ada peluang karena selalu bersama kak Max, dia berniat membunuh Max. Karena rekaman video yang dia buat, kak Miko marah langsung memukulinya di bar." Lian menceritakan semuanya.


"Kak Nando baik kepada Tari, dia selalu menghibur Tari." Tari menepis air matanya.


Berlian langsung memeluk Tari, hati saat tersakiti pasti mencari tempat berlindung. Tari tidak ingin Nando mati, hanya Nando temannya yang tulus.


"Tari kita berjuang bersama, kamu punya kak Lian. Sampai kapanpun kak Lian akan bersama kamu, nanti kak Lian tinggal bersama kamu." Lian memeluk erat, mengusap kepala Tari.


Mobil sampai, kapal mulai mendekat. Boy meminta semuanya masuk, meninggalkan pelabuhan sebelum ada kapal lain yang bersandar.


Tari, Lian, Rinda langsung masuk, Tari melihat ke luar menatap Reza yang melangkah mendekati kapal.


Boy, Max dan Reza masuk. Beberapa anak buah sudah bersiap. Kapal berjalan Boy menatap semuanya.


"Saat kapal kita berdekatan, bersiaplah untuk masuk kapal mereka, kemungkinan besar mereka menggunakan senjata.


Reza memainkan kembali drone, melihat seorang wanita dan pria paruh baya saling memeluk satu sama lain, tersenyum bahagia.


"Siapa mereka?" Reza menunjukkan foto.


Rinda langsung memotret, mencari tahu siapa pasangan yang terlihat mesra.


"Mampus, kedua orang tua Amel." Rinda menunjukkan foto.

__ADS_1


***


__ADS_2