BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SELAMAT DATANG


__ADS_3

Gerbang mansion Chrispeter terbuka, seluruh pengawal menundukkan kepalanya melihat keturunan Chrispeter kembali. Semuanya mengucapkan selamat datang.


Dua mobil melaju dengan pelan menuju ke depan pintu, saat sampai semuanya berdiri tegak di depan pintu.


Boy melangkah lebih dulu langsung membuka pintu, seluruh keluarga sudah menunggu dengan senyuman lebar.


Rinda langsung berlari ke arah Papinya, Raffa menyambut putrinya dengan pelukan hangat.


Kaira juga langsung memeluk erat Riki, tidak ingin lepas dari pelukan Papanya. Bianka memeluk Lian mencium pipinya, meminta Tari mendekati memeluk keduanya.


"Kalian baik-baik saja?" Bianka mengusap punggung Lian dan Tari.


"Baik Bunda, kita kembali semuanya." Lian memeluk erat Bi.


"Ayah peluk." Boy ingin memeluk Ayahnya, tapi langsung mendekati neneknya Bunga.


"Dasar anak nakal." Bunga mengusap kepala Boy yang memeluk lututnya.


Reza memeluk Daddy-nya, baru memeluk Mommy.


"Kalian berdua baik-baik saja?" Bara menatap Maxi dan Miko.


"Baik tuan."


"Saya juga baik, bos mafia yang paling kejam." Paman Ahlan menatap Bara tajam.


Bara menatap tajam sambil tersenyum, menundukkan kepalanya memberikan hormat. Ahlan langsung mencekik Bara membuat Tari teriak kuat.


"Kamu cari mati?" Rian menatap tajam.


"Kamu yang memimpin penyerangan sampai membunuh kekasihku?"


Bara langsung mencengkram kuat pergelangan tangan, memutar tubuh Paman Ahlan membantingnya kuat.


Mentari meneteskan air matanya, melihat Bara mencekik kuat Paman Ahlan. Tari melangkah mendekati Bara menahan tangannya.


"Tuan jangan bunuh dia?" Tari melipat kedua tangannya.


"Mundur Tari dia juga bisa membunuh kamu!" Bara menatap Tari tajam.

__ADS_1


Mentari menatap wajah Paman Ahlan, menghapus air matanya. Reza melangkah mendekat menarik Tari untuk menjauh.


"Jika iya katakan maaf, tapi jika tidak jawab pertanyaan Paman jika tuan Bara tidak pernah membunuh seorang wanita." Tari langsung menepis tangannya langsung berlari menuju ke kamarnya.


Asep menahan tangan Bara, memintanya melepaskan. Asep membantu Paman Ahlan berdiri mengatakan jika Bara memang yang memimpin, tapi tidak pernah menyakiti wanita.


Bara memang mengetahui ada beberapa wanita saat penyerangan di markas, tapi bukan Bara yang membunuh mereka.


"Bara menyelematkan mereka, meminta mereka pergi jauh. Aku tidak tahu siapa kamu, tapi kamu bersalah karena banyak membunuh orang yang tidak bersalah. Jangan salahkan orang lain, koreksi diri sendiri." Asep menatap Ahlan tajam.


"Aku tidak berniat menyakiti anak kalian, termasuk anaknya Bara. Aku datang hanya ingin meminta penjelasan. Bertahun-tahun berada dalam penjara, Bara tidak pernah memberikan jawaban."


"Apa pentingnya sebuah jawaban? di mata aku kalian manusia bodoh, jika mencintai sesuatu terlalu berlebihan bahkan kamu tahu salah, masih saja dilakukan. Pada kenyataannya orang-orang seperti kamu tidak menerima kegagalan, aku tidak tertarik berbicara ataupun ada komunikasi dengan orang bodoh."


"Bagaimana jika istri kamu berkhianat?"


"Aku menikahinya tanpa cinta, aku tidak memaksanya mencintai aku, tapi kami tahu hubungan yang bisa bertahan bukan hanya siapa yang kuat, siapa yang berpangkat, tapi siapa yang tahu saatnya mengalah. Cinta aku dan Bianka tidak semulus yang orang ketahui, kami ada di masa sama-sama egois, tapi kami berdua memegang prinsip jika aku berpaling maka aku yang merugi kehilangan wanita baik, juga kehilangan anakku seluruh keturunan kami. Sedangkan kamu wanita berkhianat, kamu membunuh seluruh orang. Manusia bodoh!" Bara menatap sinis langsung melangkah pergi.


"Jika kamu mencintai satu wanita, maka lihat juga wanita itu mencintai satu lelaki tidak? pertahankan wanita jika dia ingin bertahan bersama kamu, tapi jika dia pergi lepaskan." Bianka tersenyum langsung menyusul suaminya.


"Bara memiliki segalanya, harta, kekuasaan, istri setia, putra yang hebat karena dia memiliki prinsip. Hiduplah dengan prinsip salah satunya memperbaiki diri setiap orang di dunia ini melakukan kesalahan, tapi mereka tahu kapan waktunya berhenti." Riani tersenyum menatap Paman Ahlan yang tertunduk.


"Paman jangan sedih, ada Tari yang membela Paman. Terima kasih sudah membantu kami dalam misi, kebaikan Paman membuahkan hasil karena mendapatkan perhatian dari wanita polos seperti kami." Rinda tertawa langsung melangkah pergi.


Rian tertawa menatap Ahlan, langsung melangkah pergi meninggalkannya. Roy menepuk pundak Ahlan memberikan sebuah kertas dari Rian.


"Rian sudah tua masih saja genit."


"Biarpun dia genit tidak berani berpaling dari istrinya." Haikal tersenyum, berjalan bersama Ahlan ke kamar tamu.


"Haikal, kamu memiliki keluarga yang luar biasa, mereka memiliki kehebatan, kepribadian yang berbeda, tapi satu kesamaan , tersimpan kebaikan."


"Kamu benar, hanya ada dua orang asing dalam keluarga ini. Bara Arnold mafia gila, juga bawahan Asep Arvin pembunuh berdarah dingin, masuknya mereka ke dalam keluarga Chrispeter membuat kekuasaan semakin luas, ditambah lagi dua pengawal hebat kami, Miko dan Maxi yang juga sangat kuat dalam pertarungan, juga otaknya sangat cerdas."


"Di dalam keluarga Chrispeter masih kuat pria atau wanita?"


"Wanita, mereka perempuan tangguh semua. Kita para pria hanya menjadi perisai, mereka yang mengendalikan." Haikal tersenyum mempersilahkan masuk.


"Aku minta maaf, karena lancang mencekik menantu kamu."

__ADS_1


"Dia tidak akan mati dengan mudah." Haikal melambaikan tangannya langsung merangkul Bunga.


Di dalam kamar Tari menangis sesenggukan, Reva membuka pintu membawakan minuman, mengusap kepala Tari memintanya untuk berhenti menangis.


"Maafkan jika tindakan Tari lancang, Paman tidak punya nama jadinya Tari memberikan nama Ayah, karena Tari tidak tahu wajah Ayah."


"Tari tidak salah, maafkan Paman Bara."


"Tari yang salah, karena status Mentari bukan siapa-siapa, seharusnya Tari tidak melakukan hal tadi."


"Kenapa bicara seperti itu, kamu bagian keluarga Chrispeter, Tari punya hak membela siapapun."


"Mommy, Tari hanya ingin Paman bisa hidup bebas diusianya yang sudah tidak muda lagi. Mentari ingin Paman bisa melihat dunia luar bukan sesaknya penjara."


"Iya sayang, hati kamu memang sangat baik." Reva tersenyum mengusap kepala Tari memintanya membersikan diri.


Pintu kamar Tari terbuka, Mentari langsung berdiri melihat Bara masuk. Berlutut melipatkan kedua tangannya meminta maaf.


Bara langsung berjongkok mengusap kepala Tari memintanya berdiri, Bara memeluk Tari meminta maaf jika sudah membuat Tari takut.


"Manfaat Ayah."


"Maafkan Tari tuan, Tari hanya ingin Paman hidup bebas."


"Iya, Ayah yang salah. Jangan menangis lagi, nanti Bunda marah, Reza marah, Reva marah, Berlian marah, semuanya marah." Bara melipat tangannya memohon.


Mentari langsung tertawa, melepaskan tangan Bara agar tidak memohon. Bara tersenyum langsung berlutut menggenggam tangan Tari.


"Tuan nanti Mentari berdosa." Tari tersenyum.


Bara langsung memeluk, mengusap kepala Tari meminta Mentari terus tertawa.


"Jika Tari merindukan Ayah, temui Ayah Bara karena Ayah mendapatkan amanah untuk melindungi kamu Lian." Bara tersenyum mengacak-acak rambut Mentari.


Bianka tersenyum di depan pintu, melihat Reza memeluknya, Berlian, Boy, Rinda dan Kai tersenyum.


"Alasan Bunda mencintai Ayah Bara, dia tidak pernah tega melihat air mata wanita." Bi mengusap kepala Reza yang mengkhawatirkan Tari.


***

__ADS_1


__ADS_2