
Suara tembakan terus terdengar, seorang wanita cantik terus berlari menerobos hutan, berlari tanpa tujuan. Tarikan seseorang membuatnya ingin teriak tapi mulutnya langsung di tutup dan jatuh pingsan, tubuhnya di bawa pergi.
Segerombolan orang mulai keluar untuk menyerang, pertarungan kembali terjadi dua kelompok yang memiliki kemampuan sama-sama kuat sedang beradu kekuatan.
Mobil yang berada tersembunyi langsung hidup, jalan yang tertutup oleh hutan terbuka. Gadis tersebut di bawa ke gedung mewah.
"Selamat siang Nyonya."
"Bagaimana keadaannya Max?"
"Sebentar lagi dia akan segera sadar, kekuatan mereka cukup besar tuan. Kemungkinan besar mereka bisa sampai di sini."
"Biarkan saja, aku menunggu kedatangan mereka."
Perlahan mata mulai terbuka, kepalanya pusing dan terdengar suara meringis.
"Naku, kamu baik-baik saja." Bianka mendekati Naku yang sudah teriak histeris dan ketakutan.
"Tenanglah kami tidak akan menyakiti kamu." Bara memberikan minum kepada Bi yang langsung menyerahkannya kepada Naku.
"Selamatkan Raffi, wanita yang bersamanya ingin menguasai seluruh kekayaan keluarga Raffi." Naku terus melihat sekitar karena ketakutan.
"Jadilah wanita kuat jika kamu ingin melawan Natasya, bukan kami yang harus menyingkirkan dia tetapi kamu. Selama ini sudah cukup kamu mengalah Naku, keluarga kami tidak bisa menerima wanita lemah." Rindu berjalan mendekati Naku.
"Rindu," Nakhusya langsung berlari memeluk Rindu, tubuhnya gemetaran, badannya penuh luka.
"Tenanglah, kamu aman bersama kami tapi kamu harus menghancurkan Natasha."
"Raffi dalam bahaya jika rencana Nata gagal, tolong kami Rindu."
"Raffi Chrispeter, dia putra bungsu dari keluarga Chrispeter. Siapa yang berani menyentuhnya berarti mengibarkan bendera perang." Reva berjalan bersama Asep, mereka semua kumpul menyerahkan seluruh laporan tentang Natasya.
Naku terdiam melihat beberapa wanita cantik, duduk di meja panjang dengan gaya yang elegan.
"Perkenalan Naku, dia Bianka dan suaminya Bara, dia Reva dan suaminya Asep, dan dia Keisya Kaka dari Raffi lelaki yang kamu cintai dan mencintai kamu."
"Kalian sebenarnya siapa?"
"Kami keturunan Mafia yang paling berkuasa, kamu pasti pernah mendengar cerita keturunan Chrispeter, kami penerusnya."
"Selamat Raffi, Nata putri...."
__ADS_1
"Dia putri angkat dari lelaki tua yang berkuasa, memiliki banyak bawahan dan tidak segan untuk membunuh. Kamu di paksa tuker posisi dengan Nata untuk menjadi calon pengantin dari pria psikopat." Bara tersenyum melihat hasil yang dengan mudah mereka kumpulkan.
"Apa benar Nata yang membunuh ibu angkatnya?"
Naku hanya menggagukan kepalanya, air matanya akhirnya menetes. Naku sudah berusaha terus kuat agar tidak mudah dikalahkan tapi gadis panti asuhan yang tidak punya kuasa dan kekuatan hanya akan mati sekali pukulan.
"Nakhusya," Raffi datang bersama Raffa dan Riki.
"Kak," Nakhusya langsung berlari ke pelukan Raffi, tangisannya semakin kuat dan terdengar rintihan, Naku menuangkan rasa takutnya kepada Raffi.
"Naku takut."
"Tenanglah sayang, kamu berada dalam perlindungan keluarga kami.
Kei mendekati Naku, mengelus kepalanya agar tenang. Memintanya untuk kuat menghadapi saudara kembarnya, kemungkinan besar Nata sudah menyiapkan jebakan, rencana yang bisa membahayakan Naku.
"Raffi, aku takut Nata menyerang panti. Apa yang harus aku lakukan?"
"Di panti sudah di jaga dengan ketat, kamu tidak perlu khawatir. Ikuti perintah kak Bi, kamu harus memberi pelajaran kepada Nata dengan tangan kamu sendiri.
Raffi mengajak Naku duduk, mendengarkan seluruh rencana Bianka. Hukuman yang paling setimpal untuk Nata menjadi pembunuh berantai, keluarganya juga terlibat mengerakkan pasukan berarti jika Nata terekspos, pasti semua kejahatan keluarga akan di selidiki.
"Aku tidak yakin sayang jika keamanan bisa menahan mereka, bahkan banyak aparat yang menjadi tameng untuk melindungi wajah mereka."
"Bi, bukannya akan membahayakan Nakhusya."
"Maaf semuanya aku tidak bisa menyakiti Nata, jika boleh aku meminta bantuan tolong selamatkan Natasya dari keluarga angkatnya. Mereka semua orang jahat, Nata tidak mendapatkan kasih sayang, beri sedikit Nata kesempatan melihat indahnya dunia."
Rindu langsung tertawa, memeluk Naku penuh kasih sayang. Rencana Bi sesungguhnya ingin melihat hati Naku sebaik apa.
"Kamu wanita baik Nakhusya, kamu berhak bahagia."
"Selamatkan Natasya."
Bianka memeluk Bara, mengedipkan matanya meminta Bara bertindak.
"Emhhh, aku dapat apa?" Bara mulai bernegosiasi untuk bermain dengan Bi.
"Maunya apa?"
"Emmhhh, aku ingin Boy tidur sendiri, kamu dilarang meninggalkan aku demi tidur dengan Boy."
__ADS_1
Bianka tertawa menggagukan kepalanya, Bara sangat cemburuan bahkan dengan putranya sendiri. Bi kaget melihat yang lainnya sudah melangkah pergi karena jijik melihat Bi dan Bara yang tidak tahu malu bermesraan di depan orang lain.
***
Empat bocah sedang berada di kelas ajaran mengenal tentang banyak peraturan, Boy berkali-kali menguap kupingnya sudah berlumut karena harus mendengarkan cerita yang berulang-ulang.
Jika Boy hanya menguap lain dengan Rinda yang sudah tidur sambil mulutnya terbuka, suara dengkuran juga sudah terdengar. Jangan tanyakan keberadaan Reza, kepalanya sudah berada di meja dengan Iler yang sudah mengalir.
Kaira gadis jenius satu-satunya yang bisa menyimak pembicaraan di depan, bahkan Kei bisa dengan mudah menjawab seluruh pertanyaan yang berhubungan dengan banyak bisnis baik resmi atupun ilegal.
Mata Rinda langsung terbuka, tubuhnya langsung berdiri, kursinya sudah terjatuh.
"Siapa yang mengawal kita hari ini?"
"Kak Max pergi bersama Ayah Bunda, sedangkan kak Mik sedang berada di panti." Kai menatap Rinda dengan wajah binggung.
"Kita di serang!" Rinda langsung membereskan alat kosmetiknya mencari tempat untuk sembunyi, mengabaikan bukunya dan menyelamatkan hartanya terutama lipstik.
"Reza bangun kita di serang!" Boy melemparkan meja Reza sampai dia mencium lantai.
"Apa kebakaran atau banjir? Tolong, Daddy Mommy kebakaran." Reza langsung berlari tidak jelas.
Kai berdiri bersembunyi bersama Boy, Reza juga sudah diam di bawah meja sambil memejamkan matanya.
Suara tembakan terdengar, guru yang mengajar langsung tumbang, tepat di dekat Rinda sembunyi. Darah mengalir dari kepalanya.
Puluhan orang berbadan besar masuk, kai ingin keluar tapi di tahan oleh Boy. Dia sedang menunggu pergerakan musuh, tidak ada yang mengeluarkan suara.
"Apa mungkin anak-anak itu berada di sini? mereka tidak menggunakan pengawal khusus hanya orang lemah yang sudah terkapar.
"Temukan mereka dan bunuh keempatnya!"
Boy hanya tersenyum, Kai juga tersenyum lucu mendengar ocehan bodoh yang ingin membunuh mereka. Sejak kecil keempat bocah sudah di ajarkan yang namanya pertarungan, bahkan Rinda yang masih kecil sudah bisa menciptakan senjata.
Reza membuka matanya, melihat alarmnya untuk memberikan sinyal kepada Maxi dan Miko. Dengan santai Reza membaca buku yang terjatuh dari atas meja.
Jika yang lainnya merasakan tenang, berbeda dengan Rinda yang gelisah karena menahan ingin buang air kecil. Bibir Rinda sudah monyong, melihat darah yang sudah menyentuh kakinya, rasanya Rinda ingin ngompol saja.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***