
Langkah kaki berlari kencang, menabrak seorang wanita sampai terlempar. Tatapan matanya langsung tajam, mengejar lelaki yang menabraknya. Pengawal pribadi kebinggungan mencari Nona nya yang baru beberapa menit dia tinggalkan.
"Nona,"
Seorang lelaki tampan senyum menawan, menghirup udara segar serasa baru saja keluar dari tahanan, tapi pada kenyataannya dia berkelana, kini kembali menginjakan kakinya di tanah kelahirannya.
"Ayah Bunda Boy kembali." Boy melangkah perlahan, bersiap untuk ke kediaman keluarga besarnya. Kedua orang tua Boy sudah kembali sejak lima tahun yang lalu.
Langkah kaki Boy mundur, seorang pemuda berlari langsung terlempar karena tendangan seorang wanita muda. Boy tersenyum melihat keduanya saling tatap.
"Beraninya kamu menyentuhku, tidak meminta maaf."
"Maaf adik kecil, aku tidak sengaja dan sedang terburu-buru."
Baru saja pertarungan siap di mulai, langsung terhenti oleh teriakan seorang wanita cantik dan berwibawa.
"Berhenti!"
"Apa kak kamu coba menghentikan aku?"
"Rinda Chrispeter, sebaiknya segera kembali ke Mansion."
"Kamu mengenali aku, tidak ada yang mengetahui identitas asli Rinda. Siapa kamu?" Rinda mendekat seakan menantang.
"Tata Krama kamu rusak Rinda. Selamat datang kak Boy, selamat datang Reza." Kaira memberikan hormat kepada dua lelaki Chrispeter.
Boy tersenyum melihat ketiga adiknya sekarang berada di depannya, Boy melangkah langsung memeluk Reza, Reza membalas pelukan Boy.
"Apa kabar kak Boy? akhirnya kita bertemu setelah puluhan tahun." Reza menepuk bahu Boy.
"Hai gadis centil, kamu lebih mirip preman sekarang."
"Kak Boy, Rinda kangen kalian." Rinda langsung menangis masuk ke dalam pelukan Boy, Reza mengusap kepala Rinda, gadis yang baru saja menendangnya.
Kaira juga langsung memeluk, keempatnya melangkah keluar dari bandara, melihat Miko dan Maxi berpelukan. Kedua remaja sekarang sudah menjadi pria dewasa, belasan tahun keduanya tidak bertemu, bahkan tidak pernah saling bicara bertukar kabar.
"Kak Max, kalian bisa menghabiskan waktu berdua untuk bercerita saat kita tiba nanti." Kaira menghentikan keduanya.
Miko terdiam melihat Kaira yang sudah sangat berubah, melihat Boy dan Reza terlihat sangat tampan.
"Apa kabar kalian Boy Reza?" Maxi dan Miko memberikan hormat.
__ADS_1
"Kabar baik kak, ayo kita pulang." Boy menepuk bahu dua orang kepercayaan yang di tugaskan menjaga Rinda dan Kaira.
Boy mengambil alih membawa mobil, di sampingnya Reza yang masih sama suka makan permen karet. Rinda yang suka bermake-up, Kaira yang kutu buku.
"Reza selama ini kamu ada di mana? apa yang kamu lakukan?" Boy menatap Reza yang terlihat hidup bebas.
"Aku berkeliling dunia, masuk dan keluar dunia hitam. Banyak hal gila terjadi, tapi teknologi semakin berkembang, orang biasa saja bisa mengendalikan teknologi, apalagi orang jenius. Reza berkali-kali jatuh mendapatkan pukulan, bahkan Reza hampir meledak di dalam Laboratorium milik Mafia Italia."
"Mafia Italia, pemimpin mereka sudah meninggal dua hari yang lalu, digantikan putranya yang psikopat, tapi di mata banyak orang dia malaikat." Rinda tersenyum melihat wajahnya di kaca.
"Mafia tidak ada yang berhati baik, mereka malaikat maut." Kaira menutup bukunya.
"Rinda, jangan terlalu banyak terlibat, ingat kamu seorang wanita. Kak Boy pernah melihat kamu di Menara Pisa, tapi tidak tahu jika wanita muda yang sedang menjadi perbincangan ternyata kamu."
"Kak Boy juga berada di sana, Rinda terkenal dengan nama Rain."
"Apa yang kak Boy lakukan di Italia?" Reza menatap Boy, Rinda juga penasaran.
"Kak Boy tergabung dalam komunitas rahasia, dia memiliki pasukan yang sangat kuat di sana. Kak Boy menyembunyikan Tim di sana. Pertanyaan Kai, berapa banyak kekayaan kak Boy sebagai pemimpin?"
Boy langsung tertawa, Kaira tidak bergerak tapi kecerdasan berkelana. Boy menghabiskan banyak waktunya untuk bertarung, bermain bisnis, menjatuhkan banyak orang yang curang dalam bisnis.
"Rinda juga punya, pasukan ...." Rinda memberikan hati, membetuk jarinya, Reza dan Boy langsung tertawa.
"Rinda jangan bilang kamu sudah pacaran, kamu sudah tidak mengompol di celana lagi kan?" Kaira menatap Rinda, mata Rinda sudah menatap sinis.
"Rinda sudah 17 tahun kak, kalian jangan meremehkan."
Kaira tersenyum, mengacak rambutnya. Akhirnya mereka bisa bertemu dan berkumpul kembali.
***
Di kediaman Chrispeter, keluarga besar sudah menunggu. Dua bocah kecil sudah duduk santai seperti di pantai menunggu kakak mereka pulang.
"Ibu, kak Kaira lama sekali?"
"Sabar Nia, kamu tidak akan jamuran menunggu mereka." Nayla mengelus kepala putrinya.
"Kak Nathan, mereka keturunan Chrispeter yang istimewa, Nia sangat penasaran pasti cantik dan tampan." Nia tersenyum, memperlihatkan giginya yang ompong.
Dua mobil tiba bersamaan, Miko keluar bersama Maxi. Miko langsung berlutut memberikan penghormatan. Haikal meminta Miko berdiri.
__ADS_1
"Kak Boy, tampan, kekar tapi kenapa sangat dewasa." Nia mengelilingi Miko.
Kaira keluar dari mobil, Rinda juga keluar, langsung berlari ke dalam pelukan Rian. Melihat si kecil manja sudah besar, Rian tidak bisa menahan air matanya, memeluk erat Rinda.
"Apa kabar Pa Mi? Rinda cantik tidak?"
"Kamu cantik sekali sayang." Riani memeluk Rinda.
"Keturunan siapa dulu, Pa Rian dan Mi Riani, dan juga ada darah Ay dan Bu." Rinda langsung berlari memeluk Haikal, Bunga juga memeluk cucu kecil mereka yang dulunya sangat mengemaskan, sekarang juga masih sangat mengemaskan.
Boy dan Reza juga keluar, langsung menundukkan kepalanya memberikan hormat. Baru ingin melangkah mendekati keluarga, panah beracun langsung muncul, Boy bergerak begitupun dengan Reza. Serangan dadakan penyambutan untuk keduanya.
Reza dengan gerakan cepat menyingkirkan seluruh panah, Boy tanpa bergerak, panah terjatuh di hadapannya.
"Aiiisss, tidak ada acara sambutan lebih bagus lagi. Setidaknya tawarkan makan terlebih dahulu." Reza teriak, menatap tajam, pengawal yang menyerang.
"Ayah Bunda kenapa kita di serang?" Boy menatap kedua orangtuanya.
"Kalian melanggar peraturan."
"Peraturan?" Boy dan Reza saling tatap.
"Boy kamu yang memimpin penyerangan di bagian barat, sedangkan Reza memiliki pasukan melawan komplotan orang bawah tanah. Ayah belum mengizinkan kalian terlibat, tidak bisa kalian hidup normal." Bara menatap tajam keduanya.
"Maaf paman, kita hanya melakukan hal benar. Reza tidak peduli jika pengedar narkoba, penyeludupan senjata, tapi ini penjualan bayi."
"Boy juga bergerak bukan untuk terlihat hebat, tapi ada seorang ibu yang menangis menunggu putrinya pulang, Boy hanya membantu menemukan putrinya yang manjadi korban penjualan wanita."
Haikal bertepuk tangan, langsung memeluk dua lelaki tampan yang sudah memiliki kekuasaan, tidak membawa nama keluarga, bergerak dengan nama orang lain.
"Boy Reza, kalian sudah dewasa, saatnya kalian tahu siapa keluarga kita, jangan pernah mengikuti jejak kami, tapi jadilah orang yang merakyat, jalani kehidupan normal."
"Iya Kek, kami selalu mengigat peraturan keluarga Chrispeter dan Arnold. Boy tidak akan keluar dari jalur." Boy mengedipkan matanya ke arah Bunga, Haikal memukul kepala Boy pelan, sikap jahil Boy belum menghilang.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1