BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PERTARUNGAN PEDANG


__ADS_3

Sudah tegang malam Reza tidak bisa tidur, dia tidak memperdulikan soal perusahan, pikirnya kacau karena bertengkar dengan Tari.


Reza melangkah keluar kamarnya, mengetuk pintu kamar Tari, lama tidak ada jawaban. Reza langsung masuk, tapi tidak melihatnya.


Langsung berlari ke lantai satu, duduk di ruang tamu melihat rekaman CCTV. Reza melihat Tari keluar sambil mengusap matanya.


Mata Mentari merah, berjalan ke arah bawah tanah. Reza langsung melangkah memasuki pintu rahasia melangkah perlahan mencari keberadaan Tari.


Suara pertarungan terdengar, Reza melihat Mentari bertarung seorang diri menggunakan pedang tajam, menggunakan baju seksi.


Reza duduk di kegelapan, menunggu Mentari meluapkan kemarahannya. Suara langkah kaki terdengar, Reza bersembunyi Berlian muncul bersama Kai dan Rinda.


Di saat semua orang tidur, para wanita masih menjadi kelelawar yang bergadang. Rinda mengambil pedang langsung membuka bajunya.


Reza menutup matanya mengintip sedikit melihat Rinda tenyata masih menggunakan baju, jika tidak Max dan Miko bisa mengamuk.


Kai dan Lian duduk di atas batu besar, melihat pertarungan Mentari dan Rinda. Lian sampai berkali-kali menutup matanya saat melihat ujung pedang berada di dekat perut, leher bahkan dada.


Reza kaget melihat Boy, Miko dan Max juga muncul bersembunyi. Keempat pria duduk diam melihat pertarungan pedang antara Tari dan Rinda.


Suara pedang saling beradu terdengar membuat sakit telinga, tendangan kuat membuat Mentari terlempar, hanya hitung detik Tari kembali bangun melayangkan pukulan kepada Rinda.


Keduanya langsung mundur, dua pedang terlepas. Keduanya kembali maju saling menjatuhkan.


Boy tersenyum ingin bertepuk tangan, di tengah kesibukan masih saja ada waktu untuk menguji kemampuan masing-masing.


Rinda terlempar membentur dinding, Max langsung berdiri ingin mendekati Rinda, tapi Reza menahannya.


Tidak ada yang mengeluarkan suara, Rinda kembali bangkit menyerang. Lian menjadi patung melihat dua orang saling menjatuhkan.


Kaira menepuk punggung Lian agar tenang, mereka sudah lama tidak bertarung sehingga hal yang normal jika mulai melemah.


Berlian memejamkan matanya, mengingat dirinya yang sedang bertarung menggunakan pedang, bertarung bersama Maxi, Tari dan kaira.


Suara tembakan menggelegar di dalam ruangan, Lian yang tidak mudah dijatuhkan bahkan seringkali Kai dan Tari menyerangnya bersamaan.


Kai menepuk wajah Lian, menatapnya yang berkeringat. Lian tersenyum mengatakan dia baik-baik saja.


Sebuah pedang melayang ke arah Kai, Lian langsung mendorong Kai, menendang pedang sampai tergeletak di lantai.


Mentari, Rinda dan Kaira menatap Lian, kaki Lian melangkah menyentuh pedang, tersenyum melihat semua orang.


"Ayo bertarung Lian." Kaira menarik pedang.


Mentari dan Rinda langsung menyingkir, Kaira membuka bajunya. Hanya menggunakan baju seksi.


"Lian juga ingin buka baju, tapi tidak menggunakan dalaman hanya bra."

__ADS_1


"Jangan dibuka Lian, aku tidak tergoda dengan dada kamu, punya aku juga ada."


"Punya Rinda lebih seksi dari kalian." Rinda tertawa kuat.


"Terserah." Kai menatap kesal Rinda.


"Lian buka celana saja?"


"Kak Lian ingin berenang, hanya menggunakan dalaman."


"Pinjam baju kamu Mentari."


"Tidak mau, terus tari pakai apa?"


"Tutup dulu pakai baju kamu, tidak ada yang melihat juga."


"Tidak, ini pemberian Reza."


Semuanya kaget langsung tertawa, Rinda sampai memegang perutnya.


"Kak Reza memakai bra?" Rinda tertawa bersama Kai dan Lian.


Max menahan tawa melihat Reza, Boy sudah menutup mulutnya kuat. Tatapan mata Reza tajam, Miko menepuk pelan.


Reza menepuk jidat Boy dan Miko, berhenti menatap tajam. Hanya Max yang menundukkan kepalanya, Reza dan yang lainnya juga tidak berani menjahili Max karena orangnya selalu serius.


Dua orang ahli pedang sedang bertarung, bukan hanya Rinda dan Kai yang terdiam. Boy, Reza, Max dan Miko juga melongo melihat kehebatan Kai dan Lian, tidak ada yang terpojok.


Belum ada yang melangkah mundur, masih berdiri tegap di dalam lingkaran. Kai langsung menjatuhkan pedangnya, menyerang Lian dadakan. Cepat Lian menghindar melayangkan tendangan kuat membuat Kaira terguling.


Darah segar keluar dari mulut Kai, senyuman Kaira terlihat akhirnya Berlian sesungguhnya kembali. Teriak Lian terdengar langsung membantu Kai berdiri, tapi pukulan Kai membuat Lian terpental.


Hidung Lian berdarah, langsung ingin menangis memonyongkan bibirnya. Rinda langsung tertawa.


Tari menghapus air mata Berlian yang langsung berdiri mengambil pedang.


"Kak Lian jangan main-main, pedang bisa membunuh kita." Tari langsung mundur.


Kai kembali mengambil pedang, menyerang Mentari yang berhasil menahan pedang Kai dengan pedang milik Rinda.


Rinda juga mengambil satu pedang, menyerang ke arah Berlian. Empat pedang beradu, suara pertarungan terdengar.


Tidak ada yang mundur, saling menjatuhkan sampai seluruh lampu hidup. Pintu besar terbuka.


Kaira langsung mencari bajunya, begitupun juga dengan Rinda dan Mentari. Bara masuk bersama Bianka, Rindu, Asep, Kai dan Reva.


Tatapan mata Bara tertuju kepada empat pria yang asik duduk di tangga sambil ngemil, Boy menyembunyikan makanannya, Reza menyembunyikan minuman Boy. Maxi langsung berdiri menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa yang kalian berempat lakukan di sana?" Bara menatap tajam.


"Menonton." Boy dan Reza tersenyum.


Kai, Rinda dan Tari mengerutkan keningnya. Mereka membuka baju menjadi tontonan, hanya Berlian yang mengusap dadanya selamat karena tidak membuka baju.


Pembicaraan mereka soal dada juga sudah didengarkan, Kaira teriak kuat menyalahkan Berlian. Rinda dan Tari langsung berlari keluar dari ruangan bawah.


Maxi melangkah mendekati Bara, meminta maaf atas sikapnya yang lancang. Boy, Reza dan Miko juga berdiri.


"Warna apa baju dalam Mentari?" Bi menatap tajam.


"Pink." Reza, Boy dan Miko menjawab.


Maxi menatap tiga pria dengan tatapan tajam, memukul kepala Boy sebagai kakak memperhatikan warna baju wanita lain.


"Kamu tidak melihatnya Max?" Reva menatap Maxi tajam.


"Tentu aku melihatnya, tapi yang aku lihat bukan warna pakaian mereka, tetapi kemampuan mereka." Max menjawab tegas.


"Boy juga sebenarnya mengigat kemampuan, tapi ada bayangan warna pink." Boy menundukkan kepalanya.


"Warna punya Rinda apa?" Rindu melipatkan tangannya.


Semuanya diam, menatap Maxi yang matanya mengerikan. Walaupun mereka tahu tidak berani menjawab, Max tidak bisa diajak bercanda.


"Warna apa Max?"


"Hayo kak Max warna apa?" Reza menyindir Max.


"Iya, jangan buat alasan tidak melihat." Boy juga menggoda Maxi.


"Pelangi."


Semuanya terdiam menatap Max, manusia paling cerdik sangat pintar mengelak. Rindu tersenyum langsung melangkah pergi.


"Bukannya tadi warna merah? apa ada birunya." Reza berpikir, Reva langsung menendang perut Reza sampai terguling kebelakang.


"Kamu sedang membayangkan punya Rinda?"


"Mana berani Mommy, enak juga punya Tari."


"Cari mati ini anak!" Reva ingin menyerang Reza.


"Bercanda Mommy." Reza langsung berlari lewat tangga.


Boy dan Miko sudah melarikan diri, hanya tersisa Max yang diam saja. Asep merangkul Max melangkah keluar bersama.

__ADS_1


***


__ADS_2