BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 KUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Darah mengalir di area dapur, Boy meminta lima wanita membersihkan sampai bersih, mengurus mayat, terserah ingin mereka apakan.


Sambil membersihkan darah, air mata terus mengalir. Bau amis darah, belum lagi ada tiga orang tidak bernyawa akan menimbulkan masalah.


Boy sudah membereskan semuanya, menghilang jejak keterlibatannya dengan Berlian. Semua kesalahan jatuh kepada sekretarisnya dan keempat OG.


Lian tersenyum berada di dalam gendongan Boy, langsung melangkah pergi untuk pulang. Boy meminta Lian menutup matanya, Boy menatap tajam meninggalkan kantor langsung pulang.


Di mobil Boy mengomeli Lian, memintanya berhenti bekerja. Senyuman Lian terlihat memeluk lengan Boy, mencium pipinya.


"Tari kerja di kantor, Kaira juga di rumah sakit bersama kak Max, Rinda selalu di lab bersama kak Miko, terus Lian melakukan apa?"


"Menjadi sekretaris Boy, kamu bisa menggantikan posisi sekretaris brengsek yang beraninya dia menyakiti kamu."


"Lian tidak bisa melakukan apapun Boy."


"Bisa sayang, percaya sama aku." Boy menggenggam jari jemari Lian.


Sesampainya di mansion, banyak mobil yang bersusun di depan rumah. Lian langsung keluar berlari ke dalam, hatinya mengatakan ada Bunga datang berkunjung.


"Nyonya." Lian langsung berlutut di kaki Bunga memeluk lututnya, air mata Berlian menetes.


Bunga mengusap wajah Lian, sekarang Lian sudah bisa menangis untuk mengungkapkan rasa hatinya. Pelukan hangat dari Bunga Lian rasakan, salah satu wanita yang Lian khawatirkan selama dirinya tiada.


"Nyonya apa kabar, baik-baik sajakan." Lian mengusap air matanya.


"Nenek senang melihat kamu menangis, jika kamu bersedih, terharu menangislah Lian, jika kamu bahagia tertawa dan tersenyumlah, jika kamu marah utarakan, jangan menyimpan di dalam hati, menanggung sendirian, rasanya berat sayang." Bunga mencium kening Lian.


Boy masuk memeluk neneknya, mata Haikal tajam melihat Boy dan Bunga. Sikap pencemburu kakeknya berlebihan.


"Boy menikahlah, nanti nama anak kalian diawalnya huruf H, berhentilah menggunakan keluarga B."


"Boy, Berlian tidak ada tanda-tanda huruf H. Ayah saja yang namanya Ghavin tidak protes." Boy duduk memeluk Bunga.


"Wajar saja Ghavin tidak mempermasalahkannya karena dia juga keluarga B, Bara." Haikal menaikkan nada bicaranya.


"Kakek semakin tua semakin pemarah." Boy tertawa.


"Lian nanti awalnya huruf H, Boy pasti akan mengikuti ucapan kamu."


"H itu siapa Kakek?" Boy menatap sambil cemberut.


"Hanoman, Halloween atau hantu." Rian tertawa terbahak-bahak melihat wajah Haikal.


Bianka langsung duduk memeluk Haikal, bermanja-manja kepada Ayahnya. Meminta Boy mengikuti keinginan Ayahnya.


"Baiklah, karena Bunda."


"Anaknya Ayah Haikal memang terbaik, putriku paling hebat."

__ADS_1


"Terus putra Ayah benalu." Raffa memonyongkan bibirnya.


"Sensi banget kamu Raffa, pasti sedang ada masalah?" Bianka menatap tajam.


Raffa duduk memeluk Haikal, memejamkan matanya. Bunga meminta Raffa jangan terlalu stress bekerja.


"Hidup dibawa santai saja Raffa, bekerja boleh tapi jangan lupa tugas kamu sebagai suami, Ayah dan anak." Haikal mengacak rambut putranya.


Suara teriakan Tari terdengar, Reza berlari kencang dilempar dengan high heels.


"Tari kalau kepala aku bocor bagaimana?"


"Tari potong kepala kamu, ganti sama kepala burung." Tari memukuli Reza.


Suara tawa terdengar, Reza masih sama konyolnya. Sangat hobi menjahili Tari.


"Kakek, Reza pikir banyak mobil punya karyawan baru." Reza langsung berlari memeluk Roy yang menjitak kepalanya.


"Berhentilah menjahili Tari."


"Dia mengemaskan kek, di mana cinta kedua Reza." Reza berlari mengendong Dara memeluknya erat.


"Nenek apa kabar, lama tidak menemui Reza."


"Baik sayang." Dara meminta Reza mendekat.


Mentari mencium tangan Roy, juga yang lainnya. Dara mencium kening Tari meminta Tari jangan terlalu banyak bekerja.


Bianka langsung berdiri, meminta Kiara dan Riani duduk santai. Tari langsung melangkah ke dapur bersama Lian.


Akbar berada di lantai atas tersenyum melihat anak cucu kumpul, kebersamaan yang masih sama. Akbar ingin sebelum dia menutup mata. bisa melihat seluruh cucunya berumah tangga.


Keira memeluk Akbar dari belakang, mengandeng tangan Papanya untuk kumpul dengan yang lainnya.


"Kei satu-persatu mimpi Papa terkabulkan, menemukan keluarga papa, menikah, memiliki putra dan putri, menikahkan mereka melihat cucu, semuanya sudah terjadi, mimpi Papa sisa satu melihat Kaira menikah."


"Papa bisa melihat Kai menikah, melihat anaknya Kai, bahkan melihat anaknya Raffi beranjak remaja." Keisya tersenyum.


Akbar duduk di samping istrinya, menggenggam erat tangan Kiara. Menatap Haikal yang selalu cemburuan bahkan dengan cucunya.


Melihat Rian yang masih saja jahil, melihat Reza yang berkali-kali mencium Dara dan Bunga kedua neneknya.


Langkah kaki Rinda terdengar, suaranya yang berisik menjadi ciri khas, dia sedang berdebat dengan Kai membahas pekerjaan.


"Nenek, Kakek." Rinda langsung berlari memeluk Rian, memeluk Haikal, mencium Raffa berkali-kali.


Rinda juga memeluk Bunga dan Riani, mengungkapkan rasa rindunya. Kaira juga berlari memeluk Kia, mencium pipinya, memeluk kakeknya Akbar


Keisya juga memeluk Roy dan Dara mengungkapkan kerinduannya. Haikal tersenyum melihat cucunya sudah besar.

__ADS_1


Miko masuk dengan tatapan marah, Rinda langsung melihat ke arah Miko. Kepala Miko langsung tertunduk melihat seluruh keluarga kumpul.


Maxi juga masuk dengan keadaan kesal, menunduk kepalanya memberikan hormat langsung pamit ke luar.


"Maxi Miko ada apa kalian berdua?"


"Nanti saja kita bahas Tuan."


"Nanti Max sampai kapan kamu ingin menutupinya?" Miko menatap tajam.


"Mik kita sejak kecil saling mengenal, sekali aku bicara tidak tahu jawabannya tidak tahu. Terserah percaya tidaknya." Maxi menatap tajam.


"Terserahlah." Miko langsung melangkah pergi.


Suara Nakusha dan Raffi datang bersama anak Nathan yang sangat tampan, Raka juga datang bersama istrinya dan putri mereka yang cerewet.


Nayla langsung melangkah memeluk Bara, sudah lama dia tidak bertemu kakaknya. Nia langsung mendekati Roy, duduk dipangkuan kakeknya.


Nathan menatap Max sambil tersenyum, memberikan selembar kertas.


"Paman wanita itu datang terus, Nathan tidak menyukainya." Nathan meminta Max membatalkan pernikahannya.


"Minta Daddy Raffa yang membatalkan." Max tersenyum.


Nia langsung berlari memanggil Rindu, semuanya binggung alasan Nia mencari Rindu. Bagi keluarga Chrispeter keputusan istri tidak bisa diganggu, suami hanya punya pilihan menurut, selama Mami Rindu tidak mengizinkan maka tidak akan ada pernikahan.


Miko di kamarnya membanting pintu, Rinda masuk melihat Miko yang sedang marah. Mempertanyakan apa yang terjadi, Miko tidak berani bicara, tidak ingin Rinda tahu.


"Kak Miko, seluruh keluarga sedang berkumpul, sebaiknya kendalikan diri." Rinda langsung melangkah pergi.


Rinda berjalan melewati Maxi, berjalan ke arah Kai yang juga kebingungan terpaksa tersenyum.


"Ada apa Rinda, Miko dan Maxi ada masalah apa?" Rian menatap cucunya.


"Sepetinya ada yang mengadu domba mereka."


"Pasti soal cinta,"


"Mungkin saja kakek, kak Miko emosian jika soal perasaan."


"Rinda menurut kamu cinta jauh atau mencintai orang dekat." Bunga menatap si kecil yang manja.


"Nek ...."


"Tidak ada jawabannya, mencintai orang luar membuat mereka tidak bisa masuk keluarga kita, jadinya hanya orang dalam yang bisa." Kai menatap Bunga.


"Seandainya Kai mencintai pria di luar sana yang kehidupannya jauh dari Kai, tetapi Kai dijodohkan dengan lelaki yang seimbang dengan Kai orang terdekat keluarga kita."


"Kai tidak berani mencintai orang luar, berarti menerima perjodohan. Nek orang dalam jangan buang ke luar, sedangkan orang luar jangan bawa ke dalam tanpa alasan yang tidak masuk logika." Kaira tersenyum menatap Raffa.

__ADS_1


***


__ADS_2