BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PENYUSUP


__ADS_3

Suara pintu di buka dengan cepat, Boy sudah berlari menuju lantai atas. Reza sudah melewati pintu belakang.


Bianka menghela nafas, bahkan sudah berani memasuki villa. Rindu dan Keisya saling tatap, keadaan Ayahnya Akbar memburuk mungkin karena ada campur tangan obat yang tidak mereka ketahui.


villa tempat yang jauh dari markas Chrispeter, sangat hebat mereka bisa mengetahui keberadaan villa, juga bisa masuk dengan mudah.


"Sungguh beraninya mereka masuk ke villa, sedangkan seluruh keluarga ada di sini." Lian melihat ke arah kaca tersenyum.


Mentari melangkah ke area taman, Kai juga berdiri di belakang Tari. Sebuah belati melayang tepat di dada Tari, Mentari melempar balik. Kai ingin mengejar, tapi ditahan oleh Tari mereka sedang memancing untuk keluar villa.


"Bagaimana keadaan di sana Lian?" Boy menghubungi Lian yang cekikikan tertawa.


Kaira langsung berlari ke lantai atas berdiri di atas villa melihat ada tiga orang berbadan besar, Boy dan Reza juga ada di sana.


"Siapa kalian?"


"Pembunuh bayaran Boy, lihat tulisan di dada mereka lambang tengkorak, berarti mereka tergabung dalam kelompok tengkorak pada masa kakek." Lian melipat kedua tangannya.


"Berlian benar, mereka salah satu tahanan bawah tanah yang melarikan diri. Bawahan Chrispeter yang berkhianat, bergabung dengan musuh yang sekarang sudah dilenyapkan." Maxi melangkah bersama Miko melihat orang yang pernah masuk penjara saat mereka masih dikurung.


"Kalian masih hidup dua bocah pembunuh?"


"Halo paman, jika Miko menjadi kalian, jika bisa keluar dari penjara Chrispeter lebih baik pergi jauh, sejauh-jauhnya dan memulai hidup lagi. Usia sudah tidak muda, sudah masuk zona tua, jadi berhentilah." Miko tersenyum berdiri di samping Reza.


"Kami akan pergi setelah salah satu cucu Chrispeter mati."


"Selalu ingin cucu yang mati, paman tidak punya cucu syirik ya?" Tari tertawa langsung duduk di pojokan bersama Rinda sambil minum susu.


"Minuman kalian ada racunnya." Lian menatap Tari dan Rinda sudah menyemburkan susu.


Kaira tertawa lucu melihat ulah Rinda dan Tari masih bisa membuat lelucon, Miko juga tersenyum melihat Kai yang sudah bisa tertawa kembali.


"Bawa mereka keluar dari tempat ini." Maxi melangkah pergi diikuti oleh Kai, Lian, Tari dan Rinda.

__ADS_1


Miko menatap Boy dan Reza yang sudah sangat siap, senyuman kedua cucu Chrispeter juga menyeramkan.


Boy langsung melangkah menyerang, tidak memberikan sedikitpun musuh untuk memberikan ruang mereka untuk membalas.


Miko dan Reza juga sudah maju menyerang, pukulan dan tendangan sudah menghantam musuh.


Lawan melangkah mundur, langsung lompat dari atas gedung, melarikan diri ke arah luar villa. Serangan Berlian dan Rinda membuat dua orang terlempar sampai muntah darah, satu orang berhasil keluar dari gerbang, tapi langsung terguling. Maxi melempar belati sampai mengenai kepala bagian belakang.


"Kak Max bagian Tari mana?" Tari memonyongkan bibirnya.


Maxi tersenyum meminta maaf, mengacak rambut Mentari.


Dari atas Boy menatap sambil tersenyum, Reza juga berjongkok melihat ke bawah begitu mudahnya lawan dilumpuhkan.


"Mereka bukan sepuluh orang yang melarikan diri, aku tidak mengenalinya." Miko menatap Reza dan Boy.


"Kak Max mengenalinya, berarti kak Miko tidak memperhatikan." Reza melihat Maxi di bawah.


"Aku setuju dengan kak Mik, lawan mereka harus sekuat Maxi atau kak Miko, bahkan paman Ahlan dan Ahlam juga kebal senjata, tidak mungkin sebuah belati bisa membunuh dengan mudah."


"Kak Maxi sudah mengetahuinya, tapi berpura-pura tidak tahu." Reza menatap Max yang mengerutkan keningnya tersenyum.


***


Haikal berdiri menatap layar besar, memperlihatkan delapan orang yang tidak bisa tertipu lagi, lawan yang Rian kirimkan sangat kuat karena mereka yang menangkap pelaku asli yang melarikan diri dari penjara.


"Maxi orang pertama yang curiga." Bianka tersenyum duduk memeluk lengan Bunga.


"Lian, Tari, Rinda dan Kai tidak menyadarinya?" Rindu menatap Bi.


"Sadar, mulai dari susu sebenarnya tidak ada apapun. Lian tahu ada yang memberikan minuman beracun sebelumnya kepada Papa Akbar, Lian sangat pintar mengetahui situasi."


"Membiarkan mereka hidup di dunia bebas, tidak ada yang mengetahui kekejaman mereka tidak mengurangi sedikitpun kemampuannya." Bara tersenyum menatap putranya yang sudah berdebat dengan Reza.

__ADS_1


"Ada yang memiliki kelemahan?" Kei menatap penasaran.


"Ada." Reva maju ke depan layar.


"Karena ada cinta, sehingga menjadi kelemahan mereka. Boy kehilangan separuh dari dirinya sehingga melemah menutupi kelemahan lewat sikapnya yang pemarah, sama seperti Rinda yang hancur hatinya, bersembunyi dengan kesibukannya. Dua anak ini sudah sejak lama terlihat kelemahannya."


"Diantara mereka yang paling terlihat tenang Berlian." Rindu menatap Reva.


"Kamu salah Rindu, Lian dan Maxi orang yang paling terluka. Seadanya Maxi bisa menangis, dia ingin bersujud di bawah kaki Rinda meminta kembali seperti dahulu, tapi dia hanya bisa menatap dari kejauhan, juga melindungi dari jauh. Sama dengan Berlian, dia memiliki trauma yang sangat besar, trauma itu belum sembuh, tapi kehadiran Boy membuatnya tenang, juga Boy selalu memberikan obat penenang." Reva tersenyum.


"Apa yang akan mereka lakukan sekarang?"


"Masuk ke markas Chrispeter." Haikal, Roy, Rian mengikuti ucapan Boy dan Reza.


"Apa mereka harus di awasi?" Bianka menatap Ayahnya.


"Tidak perlu, ini akan menjadi pertualang terakhir mereka, membawa kembali sepuluh orang yang menghilang."


"Terakhir Ayah?" Bianka, Reva, Kei dan Rindu menatap tajam.


"Iya, setelah ini mereka harus menikah."


"Kenapa Raffa Riki, kalian ingin protes?" Roy menahan tawa hanya Raffi dan Raka yang duduk santai karena kedua anak mereka masih kecil.


"Raffa ingin bertarung kembali dengan Max, di depan Rinda. Berani tidak Max memukuli Ayah wanita yang dia cintai."


"Raffa kamu sebelum bertarung sudah mengaku kalah, berlindung dibalik nama putri sendiri. Max di atas kamu Raffa, dia bisa mengimbangi Bara." Bianka menjulurkan lidahnya mengejek adiknya yang mulai terpancing emosi.


"Kamu juga ingin bertarung dengan Miko Ki? Kaira tidak akan memberikan izin." Dara tersenyum melihat putra Rian yang banyak mengalah, tapi sebenernya dia mengimbangi Rindu.


"Pa, Pi. Kai Putri aku dan Kei satu-satunya, Riki tidak masalah soal Miko yang mencintai Kai, jika Kai juga mencintainya, tapi usia mereka jauh sekali, terus Miko juga seorang ilmuwan yang sedang dicari keberadaan, dia yang sudah menyumbangkan obat bagian dalam jika sampai Miko tertangkap kamera, Kaira juga akan terlibat."


"Riki kamu lupa, kak Rindu lebih tua dari Raffa. Bukannya suatu kebanggaan Miko menyelamatkan banyak nyawa, Kai dan Miko satu server saling melengkapi. Jangan membuat alasan jika Miko unggul dalam bela diri juga kemapuan medisnya yang mampu mengalahkan kamu." Rindu tersenyum mengejek Riki, Kei hanya tertawa saja, dia sangat mengerti perasaan suaminya yang sangat mencintai putrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2