
Senyuman Paman Ahlan terlihat, Maxi menahan tawanya melihat seseorang jatuh cinta pandangan pertama.
"Paman biasa saja."
"Dia lebih lucu dari Rinda."
Maxi menundukkan kepalanya menahan tawa, Reza melangkah mendekati Aunty Aisya mencium tangannya.
"Apa kabar Aunty lama tidak bertemu? di mana suami dan anak Aunty?"
Paman Ahlan langsung terkejut, menenggelamkan kepalanya. Maxi tidak bisa menahan tawa langsung tertawa lepas, belum sempat berkenalan sudah dihancurkan.
"Ada apa kak Max?" Reza duduk di samping Maxi.
"Tidak ada Za."
Aunty Aisyah langsung melangkah pergi, Boy kembali duduk menatap Maxi yang senyum tidak jelas.
"Kak Max kenapa?"
"Boy, Paman pikir dia akan dikenalkan dengan kak Ais."
"Gila, dia sudah menikah. Boy melihat bayangan Aunty makanya Boy masuk."
Paman Ahlan muncul dengan wajah sedih, Maxi tertawa lucu. Max merasa sekarang dia banyak tertawa, lupa dengan banyaknya luka di masa lalu.
"Paman jangan berharap lebih, Aunty Ais sudah menikah. Dia patah hati karena cintanya ditolak kak Max, bahkan pernah ingin bunuh diri, kak Max tetap tidak perduli." Tari tersenyum.
Maxi langsung terdiam, menatap Tari tajam. Rinda wajahnya langsung berubah, melangkah pergi meninggalkan kolam berenang.
"Tari jangan membahas masa lalu."
"Hanya bercerita saja kak."
"Rinda marah, kak Max tertawa karena terlalu bahagia bertemu Aunty Ais kembali." Reza mengerutkan keningnya.
Maxi langsung melangkah pergi, Miko tertawa melihat Maxi yang cemas, padahal Rinda bukan tipe yang akan marah hanya karena masa lalu.
Semuanya meninggalkan Paman, meminta jodoh dengan kakek mereka Rian Chrispeter yang memiliki banyak kenalan wanita.
Seluruh keluarga kumpul untuk makan malam, Kai menatap Papanya ragu. Keisya bisa mengerti tatapan putrinya yang menginginkan sesuatu.
"Ada apa Kaira?" Riki menyudahi makanya.
"Tidak ada Pa."
Dokter Mansion berlarian, Kaira menatap Akbar yang sudah berhenti makan. Keisya langsung menghentikan satu dokter.
"Ada apa para dokter berlarian?"
__ADS_1
"Kamar pengawal khusus banjir darah, belum tahu siapa yang terluka."
"Maxi Miko."
Boy langsung berlari ke arah kamar Max dan Miko yang berdekatan, pintu kamar Miko terbuka, tidak ada satupun orang.
Darah mengalir dari kamar Maxi, Rinda langsung menutup mulutnya. Seluruh keluarga kaget melihat darah sampai keluar kamar.
"Apa-apaan ini?" Haikal menatap tajam, meminta Boy membuka pintu.
Kaira langsung berlari mendorong pintu kuat melihat ada tiga tubuh terkapar dalam genangan darah, lutut Kai langsung lemah sampai jatuh pingsan.
Rinda langsung melangkah mundur, Lian dan Mentari juga diminta untuk pergi. Haikal dan yang lainnya juga pergi.
Boy, Reza, Bara, Asep menatap tajam langsung melangkah masuk melihat Maxi berusaha menyelamatkan Miko.
Raffa berlari terkejut melihat keadaan Miko yang bermandian darah, langsung mendekat mengecek nadinya.
Miko langsung diangkat ke atas tempat tidur, Keisya menyobek baju Miko melihat dada Miko memiliki dua luka tusuk, perutnya juga tertusuk.
Bianka, Rindu dan Reva mendekat, melihat keadaan Miko yang langsung kritis.
"Pindahkan ke ruangan khusus saja, dua korban meninggal juga langsung dievakuasi." Bara memijit pelipisnya tidak ingin bertanya lebih kepada Max melihat wajah Maxi yang ada kemarahan juga ketakutan.
Miko dipindahkan ke dalam ruangan khusus, Keisya dibantu oleh Rindu bersama tim medis langsung bertindak.
Maxi terduduk di depan pintu menundukkan kepalanya, Raffa mendekat memberikan kain membersihkan tangan Maxi yang penuh darah.
Maxi menutup wajahnya dengan tangan, selesai mandi dan berpakaian Maxi membuka pintu melihat Miko meminta bantuan mengobati lukanya, Max langsung melangkah keluar menuju ke ruangan medis megambil obat-obatan.
Aunty Ais datang langsung memeluk Miko yang yang dia sangka Maxi, Mik langsung mendorong kuat menatap marah.
Senyuman Aunty Ais tidak sedikitpun menunjukkan rasa takut, dia langsung mengeluarkan pisau menerkam Miko.
Ais ingin memiliki Maxi, tetapi ada saja orang yang menghalanginya. Di saat yang bersamaan Paman Ahlan juga muncul menyangka Maxi berhubungan dengan wanita lain langsung marah, menarik wanita yang berada di atas Miko langsung ingin memikul.
Melihat Miko terluka, Paman Ahlan langsung menatap Aunty Ais belum sempat menghindar, suntikan beracun yang pernah menyerang Rinda Chrispeter juga tertusuk di tubuh Paman Ahlan yang langsung terjatuh di lantai.
Aunty Ais menusuk tubuh Paman Ahlan berkali-kali dengan pisau, Miko berusaha menghentikan langsung melayangkan pukulan.
Miko menatap Paman Ahlan yang penuh darah, satu suntikan hampir menusuk Miko, tangan Maxi menahan kuat langsung menyuntikan balik ke tubuh Ais.
"Max aku mencintai kamu, aku tidak rela kamu menikah dengan Rinda."
"Aku tidak mengenal kamu, wanita satu-satunya yang aku cintai hanya Rinda." Maxi mendorong Ais yang langsung tersungkur.
Miko berusaha menyelamatkan Paman Ahlan, tidak mempedulikan dirinya yang juga penuh darah. Maxi mengambil alih Paman, meminta Miko menjauhi.
Miko langsung menghubungi tim medis, menatap ke bawah Ais memeluk kaki Miko menyuntikan sisa suntikan ditubuhnya.
__ADS_1
Ais langsung tewas, Miko langsung tumbang membuat Maxi langsung menahan tubuh Miko melihat darah yang keluar dari tubuh Miko semakin banyak menjadi satu dengan darah Paman Ahlan.
Boy dan Reza menatap Maxi yang menutup wajahnya, karena takut Miko tidak bisa selamat sama seperti Rinda dahulu.
Rian menatap Maxi, langsung melihat ke arah dalam yang sedang kewalahan menghentikan pendarahan.
"Bagaimana keadaan Paman Ahlan?" Maxi menatap Rian Chrispeter.
"Kamu tidak waspada Maxi, mengotori kediaman Chrispeter dengan genangan darah, menyebabkan salah satu tim kalian sekarat."
"Kak Max tidak mengetahuinya kakek." Reza mengusap punggung Max.
"Maxi yang paling bersalah, dia mengetahui Ais mencintainya, tapi tidak berhati-hati."
"Aku tidak perduli siapa yang mencintai aku, karena yang aku perdulikan siapa yang aku cintai. Saya minta maaf Tuan." Tangan Maxi bergetar.
Riki berdiri di samping Papinya, melihat suasana yang sama saat adiknya berjuang di dalam sampai akhirnya menutup mata.
"Papi bagaimana dengan penawar racun?"
"Tidak tahu, dari mana Ais mendapatkan racun tersebut? "
"Siapa orang yang membudidayakan kembali racun berbahaya?" Haikal menatap Rian.
"Miko pasti sulit bertahan, karena lukanya cukup parah, ditambah lagi dengan racun yang bisa mengakibatkan lukanya sulit di atasi." Bunga menatap ke depan ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan Paman Ahlan?" Boy menatap Bundanya.
"Kenapa Ahlan bisa di kamar Maxi?" Bianka menatap Max.
"Boy yang meminta Paman merapikan rambutnya, kak Max pintar memotong rambut." Boy menghela nafas.
"Bagaimana keadaan kak Miko?
"Sekarat, harapan hidup juga kecil untuk ...." Rian menghentikan ucapannya langsung melihat ke belakang, Kaira banjir air mata mengigit bibirnya gemetaran.
Riki langsung memeluk Kai, memintanya tenang.
"Papa, selamatkan lelaki yang Kaira cintai."
"Kakek, tolong selamatkan kak Miko." Kai menggenggam tangan Rian.
"Kaira, Miko sangat mengetahui racun ini karena saat dia muda melihatnya langsung penyebab Rinda Chrispeter meninggal."
"Cari penawarnya kakek, Kai ingin masuk."
Tangan Kaira ditahan oleh Riki, suara tangisan Kaira langsung menggema. Maxi langsung memeluk Kaira.
"Maafkan kak Max, ini salah kak Maxi. Jika nyawa kak Maxi bisa mengantikan nyawa Miko akan kak Max berikan." Max memeluk erat Kai.
__ADS_1
"Selamatkan kak Miko, kak Max. Tolong selamatkan lelaki yang Kaira cintai, Kai tidak pernah meminta apapun kepada kalian semua, satu kali ini saja." Kaira teriak kuat sampai akhirnya jatuh pingsan.
***