
Maxi sudah berganti baju, langsung bergabung dengan beberapa dokter yang mengenalinya. Boy juga sudah turun berjabatan tangan dengan rekan kerjanya.
Reza dan Miko juga sudah berganti baju, agar lebih santai karena akan ada acara lelang beberapa benda yang harganya sangat fantastis.
Para girls masih sibuk berfoto, mengabadikan momen langkah menggunakan gaun mewah impiannya.
Acara lelang di mulai, keluarga Chrispeter duduk paling depan melihat benda pertama sebuah kalung bermata biru. Harga yang dibuka juga sangat tinggi, para orang yang memiliki banyak uang mulai saling mengangkat tangan dengan harga yang berlipat ganda.
"Kamu suka sayang?" Bara menatap Bianka.
"Tidak Ayah."
Kalung jatuh ke tangan pengusaha batu bara, pemilik bisnis terbesar di negara luar. Seluruh orang bertepuk tangan.
Seluruh benda sudah hampir habis di keluarkan, tidak ada satupun yang menarik perhatian keluarga Chrispeter.
Sebuah lukisan dimunculkan, Berlian dan Bianka langsung berdiri. Lukisan yang pernah menghilang.
Bianka langsung menawarkan harga sepuluh kali lipat dari harga awal, Lian menaikan lima kali dari harga yang Bianka inginkan.
Reva langsung berdiri, sepuluh kali lipat dari harga yang Lian berikan, Bianka naik lagi, Lian langsung menatap Boy.
Boy menaiki sepuluh kali lipat dari harga Bundanya, Rindu menaikan ke harga paling gila.
Seluruh orang terdiam jika keluarga Chrispeter mulai maju, tidak ada yang bisa menandingi.
Bianka terus menaikan harga, Lian terus meminta Boy memilikinya. Reva dan Rindu memilih duduk.
Rinda Chrispeter, memberikan harga, berpuluh-puluh kali lipat dari yang Bianka dan Boy tawarkan, Maxi menatap Rinda yang meminta Maxi yang membayarnya.
Maxi terpaksa menganggukkan kepalanya, Berlian meneteskan air matanya. Maxi meminta Rinda mundur saja.
"Bunda, tolong menyerah." Boy menatap Bi.
"Tidak, bunda menginginkannya."
"Sayang, Lian sudah menangis." Bara menarik tangan Bianka.
"Kenapa Lian kamu menginginkannya?"
"Lukisan Mama Lian." Berlian menghapus air matanya menunjukkan ke arah lukisan.
Boy langsung merangkul Lian, memintanya untuk duduk menyerahkan kepada Bundanya. Bianka tidak akan pernah mengalah.
"Kenapa Bunda menginginkannya?"
"Lukisan terakhir yang seseorang titipkan, tapi aku kehilangan karena kelalaian."
"Rinda kenapa kamu menginginkannya?" Rindu menatap putrinya.
"Rinda akan menjawab jika kalian menyerahkan kepada Rinda."
__ADS_1
Bara berdiri, memberikan harga paling fantastis. Keputusan Bara tidak bisa dibantah lagi. Bara langsung melihat lukisan, membaliknya ke belakang.
Boy mendekati Ayahnya melihat lukisan keluarga dari balik lukisan yang sangat bagus, ada lukisan lain yang juga tidak kalah bagus.
"Foto keluarga Lian dan Tari, di sini juga ada kak Max dan Miko." Boy berbisik kepada Ayahnya.
Acara lelang selesai, seluruh hasil penjualan disumbangkan. Seluruh orang bubar, Bara menatap lukisan bersama Berlian dan Tari langsung membalik lukisan.
"Lian maafkan Ayah dan Daddy Asep gagal menyelamatkan orang tua kamu, kami hanya bisa menyelamatkan kamu."
"Jangan terus merasa bersalah Ayah, Lian sudah ikhlas."
Bara menunjukkan foto keluarga Lian dan Tari, Ahlam dan Ahlan menikah bersamaan dengan sepasang wanita kembar. Dua wanita ini pelayan setia Bianka dan Bunga.
Pernikahan mereka tidak dihadiri banyak orang, hanya ada Bara, Asep, Bianka dan girls Chrispeter.
Di hari pernikahan mereka, Maxi dan Miko bebas. Dua anak remaja tidak bisa berbicara, tidak berani menatap manusia.
"Maxi dan Miko memiliki hutang kepada ibu kalian berdua, sudah kewajiban Maxi menjaga kalian karena besarnya cinta ibu kalian kepada Max melebihi apapun. Jika Miko dia memang sejak datang ke dalam keluarga ini paling dekat dengan Rindu, tapi Maxi sangat dekat dengan Nella dan Nelly."
"Kak Maxi sudah membayarnya Ayah, dia yang menyelematkan Tari, menjaga Tari, mengajari banyak hal. Sekarang Tari sudah besar, sudah ada lelaki hebat yang bertugas menjaga Tari."
"Anak pintar, jadi lukisan ini untuk Bunda Bi saja."
"Tidak mau, Lian juga menginginkannya."
"Siapa orang yang paling Lian ingat di masa lalu?"
"Emhhh, anak laki-laki yang menggenggam tangan Lian."
"Sudah meninggal." Lian langsung memeluk Bianka.
"Bunda yang melanjutkan lukisan Mama?"
"Iya sayang, jadi lukisan ini punya Bunda."
"Bunda tidak pernah ingin mengalah." Berlian tersenyum langsung mencium pipi Bi.
"Punya Bunda."
"Silahkan ambil, tapi Boy punya Lian. No debat." Lian langsung berlari memeluk erat Boy.
"Dasar anak nakal, putraku ditukar dengan lukisan." Bianka tersenyum menatap Bara.
"Sudahlah kalian langsung beristirahat, Ayah juga cepek."
Semuanya pergi ke kamar masing-masing, Maxi duduk menatap layar tabletnya. Miko juga duduk menatap Maxi yang selama ini diam menutupi hubungannya dengan istri Paman Ahlan dan Ahlam. Miko sekarang mengerti alasan Maxi tidak pernah bisa pergi meninggalkan Lian dan Tari.
"Max, semuanya sudah berakhir. Kita terlahir kembali."
"Bukan lahir kembali, tapi kita bangkit dari kematian. Selama ini kita hidup seakan mati."
__ADS_1
"Apapun istilahnya, aku ingin meminta maaf soal masa lalu, juga terima kasih karena kamu sudah banyak berkorban. Tolong jaga adikku, aku akan menjaga adik kamu." Miko merangkul Maxi.
"Kak kita ke kamar duluan." Boy merangkul Lian menunju lantai paling atas.
"Kak Mik, Kai juga ingin beristirahat." Kaira tersenyum melihat Miko merangkulnya melangkah bersama.
Reza dan Maxi saling pandang lalu tertawa, langsung melangkah masuk bersama Tari dan Rinda yang sedang bertengkar karena lipstik.
Boy tiba di kamar langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, Lian langsung masuk kamar mandi. Baru saja Boy ingin ikut masuk, tapi sudah ditutup.
"Aku tahu otak kotor kamu tuan muda Boy." Lian tersenyum.
"Sayang, ayo mandi berdua. Janji tidak akan melakukan apapun."
"No Boy, kamu hanya janji palsu. Tidak mungkin kamu diam saja melihat keindahan tubuh Lian." Berlian menghidupkan air shower.
"Tahu saja, jika aku memang tidak bisa." Boy melangkah mundur.
Berlian kesulitan membuat bajunya, rambutannya juga menyangkut di gaun membuat Lian teriak.
"Tuan muda tolong bantu buka baju."
Boy melotot, langsung tersenyum mengetuk pintu yang langsung terbuka.
"Terkadang perempuan sendiri yang memberikan peluang untuk kenikmatan." Boy melangkah masuk.
Boy membantu melepaskan satu persatu kancing baju, langsung melempar ke sembarang arah.
Tatapan mata Boy tajam melihat punggung Lian yang terbuka, baru saja tangan Boy ingin menyentuh suara alarm langsung membuat Boy berlari keluar kamar mandi.
"Kenapa dia lari, memangnya punggung Lian bolong?"
"Lian pakai baju kamu."
"Lian mandi dulu Boy!" Lian menghentakkan kakinya.
"Cepat Lian."
"Sabar, kamu pikir Lian mandinya hanya membasahi rambut. Dasar Boy menyebalkan." Lian mengacak rambutnya memakai shampo dan pewangi.
Lian tidak mempedulikan ocehan Boy, masih asik berendam di dalam bathtub.
"Berlian, cepat mandinya." Boy membuka pintu.
"Tidak mau." Lian menatap tajam.
"Jangan salahkan aku." Boy menunjuk tajam.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***