BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TERTANGKAP


__ADS_3

Mentari mengobati wajah Max, Lian mengobati wajah Miko. Rinda mengabaikan Boy yang menegurnya, sibuk berdandan di depan meja hias.


"Rinda sudah selesai belum?" Boy menatap adik kecilnya yang masih sibuk.


"Belum bulu mata belum dipasang sebelah." Rinda menunjukkan wajahnya yang bulu matanya tebal sebelah.


Miko langsung tertawa kuat melihat Rinda, Lian juga tersenyum melihat tingkah Rinda yang selalu membuat tertawa.


Reza memilih tidur, memejamkan matanya lelah melihat terkadang saling marah, tidak lama tertawa. Reza menyadari ternyata melakukan segala sesuatu dengan berkelompok cukup menyenangkan.


Rinda berdiri dari duduknya langsung mendekati Maxi yang wajahnya memar, bibir Rinda yang merah membuat kening Maxi berkerut.


"Rinda lipstik kamu terlalu tebal." Kai memberikan tisu, tapi Rinda menolaknya.


"Rin, bulu mata apa yang kamu pakai, mirip sapu." Reza menahan tawa, membuka matanya melihat adiknya yang memonyongkan bibirnya.


"Rinda cantik tidak?"


"Rinda kamu duduk sini dekat kak Boy."


Rinda langsung melangkah duduk di depan Boy, wajah Rinda sangat dekat, Boy mundur meminta Rinda duduk diam.


"Rin, kamu tidak boleh mencium kak Max seperti itu?"


"Kenapa?" Rinda menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu masih kecil, kak Max sudah tua. Kamu tidak mengerti hubungan orang dewasa."


Rinda menghela nafasnya, selalu mengatakan jika dirinya masih kecil, padahal Rinda merasa dirinya sudah besar, bahkan ukuran dadanya juga besar, bodynya seksi, dia juga sudah bulanan, tapi masih dianggap anak kecil.


"Kak Boy ingin melihat anak kecil beraksi?" Rinda menatap Boy.


Rinda meminta Reza memantaunya dari kamar, Rinda akan keluar menuju pantai, melihat kapal yang datang membawa penumpang ke pulau untuk liburan.


Boy memberikan izin, Rinda mengeluarkan sepatu bot tinggi, menggunakan jam tangan mewah, mengambil tas bermerek langsung melangkah keluar.


Reza langsung menghidupkan tabletnya, menghubungkan ke arah tv. Semuanya duduk diam melihat Rinda yang berjalan, membuka bajunya menggunakan baju satu jari, pusat dan perutnya kelihatan, celana pendek Rinda juga di atas pahanya.


"Baju apa yang Rinda gunakan?" Boy merinding ngeri.


"Dari mana Rinda baju seksi?" Kaira langsung berdiri kesal.

__ADS_1


Berlian tersenyum Rinda memang terlihat berbeda, dia sangat cantik dan elegan. Setiap langkah Rinda menjadi pusat perhatian, seluruh pengunjung yang datang melihat Rinda yang seperti Barbie berdiri sambil tersenyum melambaikan tangannya kepada seluruh orang yang baru datang.


Seorang wanita cantik berambut hitam panjang juga berdiri di samping Rinda, Mentari juga menggunakan baju seksi.


Reza kaget tidak melihat Tari lagi, mata Reza tidak berkedip melihat tubuh kecil Tari yang terekspos.


"Kenapa anak kecil berdua mengunakan baju kurang bahan." Reza menatap sinis.


Rinda menerbangkan kupu-kupu buatan, menempel di setiap pengunjung. Tari tersenyum turun ke bawah melihat anak kecil yang berlarian.


"Kakak cantik."


"Kamu tampan, nanti kita pulang bersama-sama." Tari mengusap kepalanya, Tari melangkah ke arah pinggir pantai.


Rinda juga turun tertawa bersama Mentari, banyak kupu-kupu berterbangan, beberapa anak-anak mengejar kupu-kupu menangkapnya. Misi Rinda berhasil dia bisa menemukan cara menyelematkan banyak orang yang baru saja datang.


"Kupu-kupu Rinda buatan, di sana ada pelacak juga bisa merekam dan menangkap suara. Rinda memang pintar dan menggemaskan." Miko tersenyum melihat Rinda yang merangkul Mentari berjalan bersama para pengunjung.


"Sekarang giliran kita yang bersiap-siap." Maxi langsung melangkah pergi ke luar.


"Reza juga ikut kak Max."


"Reza kamu tetap di sini, kita bergerak berdua." Boy menatap Reza yang balik lagi dengan langkah malas.


"Kai ikut dengan kak Boy."


"Jangan Kai, kamu tetap bersama Berlian."


Miko meminta Boy dan Reza berhati-hati, misi Rinda menyelamatkan para pengunjung, misi Boy menangkap pelaku utama.


Boy langsung pergi tanpa menatap Berlian, Miko berjaga di luar, di dalam kamar hanya Kai dan Lian.


Kai sibuk meneliti Bom yang akan mereka gunakan untuk meledakan seluruh bangunan, Lian memilih untuk tidur.


***


Sudah malam, Berlian baru bangun. Kamarnya gelap gulita tanpa penerangan, Lian tidak melihat keberadaan Kaira langsung turun dari atas ranjang, membuka tirai melihat seluruh tempat gelap, Lian menghela nafas tidak mengerti yang terjadi.


"Kaira, kak Miko." Lian berjalan pelan karena kakinya masih sakit, membuka pintu, tapi dikunci dari luar.


Berlian melangkah ke arah balkon, mengambil kain panjang untuk turun ke bawah, Lian membungkus kakinya berjalan membawa senjata mencari yang lainnya.

__ADS_1


Lian binggung apa yang terjadi, pulau gelap, juga sepi dan hening sekali, Lian merasa berada di pulau tidak berpenghuni.


Sampai hampir ke pantai, Lian tidak melihat satu orangpun, bahkan aktivitas yang biasanya ramai melakukan persembahan juga sepi.


Lian duduk di pinggir pantai, melihat bintang di langit. Dia sangat merindukan orang tuanya, juga merasakan hidupnya sangat sepi.


"Ayah ibu Lian kesepian." Berlian tersenyum melihat bintang.


Lian melihat sebuah kapal, langsung melangkah untuk melihat ke dalamnya, Lian kaget saat melihat banyak orang yang sudah mati tertembak.


Cepat Berlian keluar, berlari mengecek setiap gedung, melupakan kakinya yang sakit demi bisa bertemu semua orang.


Berlian sudah lelah, tidak menemukan siapapun bahkan hewan juga tidak terdengar suaranya.


Seseorang menepuk pundak Lian, Berlian berbalik perlahan, melihat Juwi tersenyum melihatnya, meminta Lian mengikutinya untuk bergabung dengan semua orang melakukan doa bersama.


Lian tersenyum melangkah mengikuti Juwi, tapi Lian tahu pasti dia sedang dijebak, tidak mungkin Boy dan yang lainnya tertangkap.


Sebuah gerbang terbuka, Lian kaget melihat semua orang pengunjung ada di dalam, hiasan yang sangat mewah terlihat.


Lampu kristal bergelantungan di atas, banyak emas bersusun mengelilingi ruangan yang dipenuhi banyak orang.


Langkah Berlian terhenti, melihat Rinda dan Mentari duduk bersama para pengunjung lainnya. Wajah Rinda tidak bersahabat, terlihat kemarahan saat melihat Juwi.


Juwi meminta Lian mengikutinya, maju ke depan. Berlian kaget melihat Kaira berada di depan dalam keadaan terikat, Miko dalam keadaan tidak sadarkan diri akan dijadikan persembahan untuk sang penguasa api.


Karena banyaknya kebakaran, Miko akan menjadi persembahan agar terhindar dari marabahaya.


Lian juga melihat Boy, Maxi dan Reza sudah terduduk tidak sadarkan diri. Lian melihat keadaan yang sangat lucu.


Putra putri Chrispeter kalah melawan seorang Juwi yang menganut kepercayaan sesat, dia bukan hanya bisa mencuci pikiran, uang, tapi bisa menaklukan para penguasa.


Tawa Lian terhenti saat melihat Nata keluar dari ruangan, dia berjalan bersama Jem yang memeluknya mesra.


"Kalian semua gila, sebaiknya kalian lenyap." Lian menatap tajam, menggenggam erat tangannya.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...

__ADS_1


***


__ADS_2