
Teriakan Kaira sangat kuat melihat tubuh Miko bermandian darah, Reza langsung mengangkat kepala Miko membuka bajunya melihat luka tembak di dadanya.
Kaira gemetaran tidak tahu harus mengobati dari mana, hanya bisa menangis meminta Miko bangun. Kai tidak siap kehilangan Miko, Tari memeluk Kai mengusap punggungnya untuk tenang.
"Paman tolong bantu Reza, kalian tahan tubuh kak Miko." Reza membuka baju Miko, melihat luka di dada menggunakan alat seadanya mengeluarkan peluru.
"Peluru zaman batu masih ada saja, setidaknya hampir menebus jantung."
"Dadanya sudah tembus Za?"
"Belum kak Kai, ditembak di punggung, tapi Reza bisa mengeluarkan peluru, tapi kenapa bagian depan juga terluka." Reza kebingungan, karena dia tidak pernah mengotak-atik tubuh manusia, jika mesin sudah menjadi mainan.
"Bagian depan tertusuk, belakang tertembak." Miko kembali sadar meminta Kai menghentikan perdarahan.
"Ternyata kamu masih kuat, aku pikir hidup di luar membuat kamu melemah."
"Paman, menjadi pengawal cucu Chrispeter bukan hal yang mudah. Sejak kecil mereka manusia aneh, meledakan lab Maminya aku di marah, merusak kantor Papinya, aku juga dimarah, dianya salah penghitungan, aku di marah, kesalahan mereka aku yang menderita." Miko tersenyum mengingat Rinda.
"Kamu jatuh cinta dengan cucu Chrispeter?"
Miko tersenyum langsung menatap Kai yang menangis sesenggukan, meminta Kai mendekat langsung menghapus air matanya.
"Jangan terluka, apalagi mati." Kai memeluk Miko erat.
"Baiklah, hanya kamu yang bisa membunuh aku." Miko mengusap rambut Kaira.
Semuanya berdiri untuk mencari keberadaan Boy, Maxi, Lian dan Rinda.
"Mereka berdua seharusnya kita bunuh juga?" Reza menatap dua orang di belakang Tari.
"Tidak boleh, dia Paman Ahlam, juga Paman Ahlan." Tari tersenyum.
Reza mendekati Tari, menangkap wajah Tari meminta Tari sadar. Reza tahu Mentari sangat merindukan Ayahnya, ingin bertemu dan bisa memiliki keluarga, tapi pada kenyataannya Ayah Mentari tidak akan pernah kembali.
"Tari jangan mudah percaya dengan siapapun, mengatasnamakan Ayah kamu."
"Mentari tahu Za, tapi mereka sebenarnya sama seperti Ayah dan kak Miko yang sebenernya di lubuk hati paling dalam ingin hidup normal seperti kita, mereka ingin keluar dari tempat ini."
"Bagaimana jika mereka membunuh banyak orang setelah keluar, membuat banyak masalah."
"Kak Miko apa membuat masalah? Ayah selama hidupnya apa membuat masalah? asal tuan tahu, orang jahat juga manusia hanya bedanya tuan dibesarkan dengan penuh cinta, kemewahan, sedangkan mereka sejak usia muda membunuh dan di penjara sampai kematian datang. Jika ada kesempatan salah tidak berharap menjadi orang normal." Tari meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, jangan menangis. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu." Reza memeluk Tari menenangkannya.
__ADS_1
"Biarkan mereka bersama kita, jangan bunuh mereka." Tari memohon.
Reza menatap Miko, kepala Miko mengangguk. Tatapan mata Reza tajam, menunjukkan ketidaksukaannya juga ancaman jika sampai menyakiti mereka langsung mati di tempat.
"Paman Ahlan boleh Kaira bertanya?"
"Silahkan nona."
"Di mana lubang terowongan berada?"
"Terowongan memiliki empat pintu, satu di dalam penjara, dua di ujung hutan, tiga pertengahan, sedangkan yang terakhir tidak ada yang mengetahuinya."
"Ayo kita hancurkan setiap pintu." Reza menggandeng tangan Tari.
Pundak Reza ditahan oleh Ahlan, melarang Reza menghancurkan karena di dalam terowongan ada kehidupan yang sudah lebih dari dua puluh tahun ada di sana.
Reza sangat terkejut, selama puluhan tahu terowongan sudah terbentuk tapi tidak ada satu orangpun yang tahu.
"Hanya ada satu orang yang tahu, tuan Rian Chrispeter."
Kaira menatap tajam, Reza mengerutkan keningnya tidak mungkin kakeknya membiarkan tempat ini menjadi tempat kehidupan para penjahat.
"Kai tidak mengerti, kakek seharusnya mengehentikan mereka."
"Rian dan mister Z melakukan perjanjian, seumur hidup seluruh tahanan hanya hidup dan mati di markas, Z ingin membuat kehidupan sendiri di bawah tanah karena dia tahanan paling lama. Rian memberikan Z pilihan menjadi orang baik dan keluar dari tempat ini atau tetap menjadi penjahat di markas."
"Benar, Rian memberikan waktu berpikir. Saat putri Chrispeter meninggal Rian sangat terpukul melakukan pertarungan di sini, Z meminta Rian bertarung dengannya dan kalah. Z memukuli Rian membabi-buta sampai akhirnya Z mendapatkan kebebasan keluar masuk penjara melalui jalan bawah, dia megambil banyak wanita dijadikan pemuas."
"Hebat sekali, dia di penjara sejak kecil tapi besarnya tahu cara membuat anak. Belajar dari mana ya?" Tari menatap Reza, suasana seriusan langsung pecah karena tawa Ahlan baru.
"Dia manusia jenius gadis kecil, di dalam penjara berhubungan bebas dilakukan selama saling menikmati."
"Oh ... otaknya dia gunakan untuk membuat anak." Tari menatap sinis, Reza langsung merangkul Tari, menutup mulutnya.
"Berarti di dalam terowongan banyak anak-anak, juga wanita." Kaira menunjuk ke arah bawah.
"Berapa usia anak tertua?"
"Entahlah, di sana gelap gulita."
"What? bagaimana cara dia mengenali wanita? nanti salah masuk." Tari teriak kaget, Reza memeluk erat, menutup mulut Mentari memintanya diam.
Miko meminta berhenti membahasnya, bersyukurnya hanya ada Mentari, jika ada Rinda dan Lian lebih heboh lagi.
__ADS_1
"Kai juga penasaran, bagaimana jika salah lubang?"
"Kak Kai berhenti membayangkannya, mengotori otak saja." Reza mengacak-acak rambut Kai agar fokus.
Kaira tersenyum malu, langsung menatap ke arah lain. Miko meminta semuanya melangkah ke dalam hutan untuk melacak keberadaan Boy dan timnya.
Miko menghentikan langkahnya, melihat pergelangan tangannya yang kehilangan jejak Rinda, Kaira berhenti menatap Miko yang wajahnya berubah panik.
"Rinda sudah tidak terdeteksi lagi, di mana mereka?"
Miko langsung berlari, tapi tidak melepaskan sedikitpun tangan Kaira. Tari teriak memeluk Reza meminta semuanya berhenti.
"Ada hantu, lihat dia besar sekali." Tari teriak panik.
"Tidak ada namanya hantu Tari."
"Ada Za, tari melihatnya. Sumpah." Tari menutup matanya.
Kaira langsung memeluk Miko erat, mengatakan melihat hantu, seorang wanita menggunakan baju putih, wajahnya hancur.
Reza menatap Miko, langsung menatap dua orang yang melihat sekitar.
"Kita pergi dari sini, mungkin ini area pulau berhantu." Ahlam berlari diikuti yang lainnya.
Reza melihat ke belakang, belum bisa mempercayai dua buronan yang berpura-pura baik, Reza melihat seorang wanita yang wajahnya hancur.
Miko memanggil Reza, tapi langkah kaki Reza bukan berlari tapi maju mendekati, mencekik kuat.
"Siapa kalian?"
"Jangan masuk ke sana Tuan, mereka pembohong." Reza langsung berlari berteriak memanggil Tari.
"Di mana Kaira?" Miko menatap Reza.
Hanya tersisa Reza, Miko dan Ahlan. Kaira Mentari dan Ahlam menghilang.
"Di mana mereka?" Reza teriak kuat mencekik Ahlan.
"Maafkan saja Tuan, sungguh saya tidak tahu." Ahlan mengacak dedaunan memanggil Mentari.
"Ini lubang kedua." Ahlan menatap Reza dan Miko.
Ahlan langsung menarik Reza dan Miko, cepat bersembunyi. Suara ledakan terdengar menutup pintu membuat Reza ingin mengamuk.
__ADS_1
"Rian Chrispeter, sehebat apa cucu kalian. Kamu terlalu membanggakan mereka, aku tidak akan pernah hancur ditangan mereka." Z meludah.
***