BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BUKAN MUSUH


__ADS_3

SATU TAHUN KEMUDIAN


Mansion Chrispeter ramai karena seluruh keluarga berkumpul untuk mempersiapkan pesta anniversary pernikahan para cucu Chrispeter, kepulangan Boy dan yang lainnya disambut hangat seluruh keluarga.


Mobil Bara memasuki gerbang Chrispeter, sejak Berlian hamil Bara dan Boy tidak pernah bisa tidur tenang karena banyaknya gangguan mistis.


Bianka santai saja karena sudah mendengar cerita kedua orangtuanya, Haikal juga takut jika melihat Berlian yang berkomunikasi sendiri.


"Lian, kamu jangan jauh-jauh dari Bunda, nanti ada yang menggangu kamu." Bara menghela nafasnya, melangkah keluar dari mobil.


"Di samping Ayah sudah ada yang ikut."


Bara masuk lagi, memasang wajah sedih melihat istri dan menantunya tertawa. Boy hanya menatap Ayahnya yang selalu menjadi korban kejahilan Berlian, tapi Bara juga yang tidak bisa jauh dari Boy, menantu dan calon cucunya.


Walaupun Bara takut, dia ingin menantunya tetap aman juga dalam pengawasannya. Jangankan manusia, seekor nyamuk saja tidak Boy dan Bara izinkan menyentuh Lian.


"Kamu jahil sekali Lian." Bi mengusap perut besar Lian.


"Maaf Bunda, Berlian merasa bahagia melihat Ayah panik sendiri."


"Ayah sudah tua, nanti jantungan."


"Bunda, Ayah belum tua." Bara menatap tajam.


"Sebentar lagi punya cucu, tapi tidak ingin mengaku tua." Bianka keluar setelah Boy membukakan pintu.


Bunga meneteskan air matanya, langsung melangkah memeluk Berlian. Lian mengusap air mata Bunga mencium tangannya.


"Bagaimana kabar kamu sayang?"


"Lian baik nenek."


"Syukurlah, kamu harus sehat terus, jaga kandungan kamu." Bunga mengusap perut Lian.


Haikal tersenyum memeluk Bianka dan Boy, memukul kepala Bara yang cengengesan.


"Mertua durhaka, menantunya dipukul terus." Bara menatap tajam Haikal.


"Kamu jangan macam-macam Bara, mulai sekarang Boy dan Lian akan tinggal di sini."


"Mansion Bara aman Ayah."


"Sekali lagi kamu membantah, pulang dari sini Mansion kamu Ayah ledakan." Haikal melangkah merangkul Lian dan isterinya Bunga.


"Kakek."


"Iya sayang."


"Perempuan itu ingin kenalan dengan kakek, boleh?"


"Katakan kepadanya kakek sudah tua, sudah punya anak cucu sebentar lagi punya cicit."


"Baiklah Kakek."


Haikal langsung berhenti melangkah, membiarkan Lian masuk bersama Bunga dan Bianka.


Wajah Haikal langsung panik, menatap Bara dan Boy yang tersenyum mengangkat kedua bahunya.


"Bagaimana rasanya Ayah?" Bara menahan tawa.


"Beginilah derita Boy dan Ayah Bara mandi, makan, tidur tidak bisa tenang karena takut." Boy melangkah masuk.


"Bara sedang bernafsu saja langsung hilang mendengar teriakan Lian." Bara langsung melangkah masuk.

__ADS_1


"Bara kamu sudah tua, berhentilah memaksa Bianka untuk melayani kamu."


"Ayah seperti tidak pernah muda saja, bukannya semakin tua semakin panas." Bara tertawa kuat.


Boy tersenyum merangkul kakeknya, mengucapkan terima kasih karena kakek yang selalu menjaga keutuhan keluarga, membimbing Boy dan yang lainnya.


"Di mana Reza sekarang?"


"Di mansion Daddy Asep, Boy mendengar kabar kehamilan Tari aneh, dia membenci Reza."


Boy dan Haikal tertawa, melangkah masuk melihat Kaira yang langsung berjalan menuruni tangga memeluk Boy.


"Sudah berapa lama kita tidak bertemu Kai?"


"Lumayan lama, apa kabar kamu Boy?"


"Baik, walaupun susah tidur."


"Sehat terus keponakan Uncle, dia akan lahir bulan depan." Boy tersenyum menatap Miko dan Kai.


"Iya Boy, kami menunggu satu bulan lagi untuk menjadi orang tua." Miko mengusap perut Kai yang sudah memasuki sembilan bulan.


"Rinda sudah datang?"


"Sudah kak, mereka sudah pulang seminggu yang lalu." Kaira menunjukkan ke arah kamar Maxi.


"Apa yang mereka lakukan jam segini belum bangun?" Boy menggelengkan kepalanya.


"Maxi terus ketagihan." Miko tertawa bersama Boy.


Boy melangkah menyapa seluruh nenek dan kakek yang sudah berkumpul bersama, Lian juga sudah duduk sambil makan buah.


"Cowok atau cewek Boy?"


"Rahasia nenek Dara." Lian mengunyah buah sambil tersenyum.


"Iya, nenek boleh menyapa dia sebentar?" Riani mendekati Lian yang terlihat kekanakan.


Riani mengusap perut Lian, menatap Berlian yang juga tersenyum.


"Berapa bulan Lian?" Rindu menatap perut Lian.


"Delapan bulan nenek."


"Boy, lebih siaga lagi. Dia bisa mendahului Kaira." Riani tersenyum mengelus perut Lian.


"Nenek jangan menakuti, Boy nanti panik."


"Bersiaplah Boy, prediksi nenek Riani tidak pernah salah." Rian menahan tawa menatap Bara.


"Oh, pantas saja." Lian mengangguk kepalanya.


"Pantas apa sayang?" Boy langsung duduk mendekati istrinya.


"Rinda memperingati Lian untuk berhati-hati, Rinda bermimpi didatangi anak kecil mengatakan jika dia akan hadir, tapi tidak tahu itu anaknya Lian atau kak Kai."


"OHH, anak kamu juga laki-laki Lian sama seperti Kaira?" Rindu menutup mulutnya menahan tawa.


"Nenek tahu dari mana?"


"Sayang, barusan kamu bercerita." Bunga mengusap tangan Lian.


"Lian hanya mengatakan anaknya kak Kai dan Lian, tidak menyebut jenis kelamin."

__ADS_1


"Semua orang sudah tahu anaknya Kaira laki-laki." Dara tertawa lucu melihat Lian menangis.


Boy memeluk Lian memintanya tenang, tidak masalah semua orang tahu yang paling penting Lian dan calon anak mereka sehat.


"Siapa namanya Boy?" Roy duduk di samping Akbar.


"Rahasia, tidak boleh dikasih tahu lagi."


"Kasih bocoran, mengikuti Bunga atau Haikal." Kiara tersenyum penasaran.


"Nama depannya kita keluarga B, tapi nama panggilannya mengikuti Kakek Haikal." Lian tersenyum menatap Haikal yang memberikan ciuman jarak jauh.


Boy tersenyum menatap istrinya yang menginginkan Anaknya mengikuti kakeknya, Lian berhutang banyak kebaikan kepada Haikal, terutama orang tuanya.


Suara teriakan Tari terdengar, Reva tersenyum langsung memeluk kedua orangtuanya.


"Kepala Reva rasanya ingin pecah Mommy?" Reva memeluk Dara.


"Ada apa Reva?"


"Tari dan Reza bertengkar terus, lima menit melihat Reza Tari langsung marah, lima menit tidak melihat Reza dia langsung menangis." Reva menepuk jidat.


Dara langsung berdiri memeluk cucu lelakinya, menatap Tari yang tersenyum manis dengan perutnya yang terlihat sudah mulai besar.


"Nenek, Tari pulang."


"Apa kabar sayang?"


"Nenek sudah melihat Tari di sini berarti sehat, jika sakit tidak mungkin ke sini." Tari langsung cemberut.


"Dasar ambekkan, sini peluk kakek." Roy meminta Tari mendekat.


"Tidak mau, kakek mirip Reza." Tari langsung melangkah mendekati Riani langsung memeluknya.


"Sayang, karakter kamu dan anak kamu bertolak belakang."


"Tari tidak ingin ditolak nenek."


"Bodoh." Lian langsung mendorong Tari.


Reza dan Boy langsung teriak panik, berdiri di belakang Tari dan Lian siap menangkap. Semua orang berdiri, panik melihat Lian dan Tari seperti orang yang bermusuhan.


Tatapan mata Lian tajam, tidak kalah tajam dengan tatapan Tari yang mencengkram kuat leher Lian. Tangan Lian mencengkram kuat lengan Tari.


"Sayang lepaskan." Reza menyentuh tangan Tari.


"Berlian, lepaskan sayang." Boy memeluk Lian menariknya ke belakang.


Kaira langsung berada di tengah, menggenggam tangan Lian dan Tari untuk tenang.


Dari lantai atas Rinda sudah bertepuk tangan, semua orang menatap Rinda yang terlihat sangat bahagia.


"Ayo terus, bertengkar lagi. Rinda ingin melihat siapa yang menang."


"Tidak boleh bertengkar kita keluarga." Kaira memperkuat genggamannya.


Tari menatap Rinda tajam, senyuman Rinda terlihat menantang Tari. Lian juga tersenyum sinis melihat Rinda yang menjulurkan lidahnya mengejek.


Haikal menatap Rian, Roy dan Akbar langsung tersenyum. Dulu Haikal tidak menyukai Roy dan Rian, menganggap keduanya pengganggu, sampai hadirnya Akbar yang menjadi penenang.


"Apa sudah waktunya kita beristirahat total?" Akbar tersenyum menatap Rinda yang mirip Rian memiliki otak licik, menatap Tari yang kejam seperti Roy yang tidak memiliki pendirian. Berlian mirip Haikal tidak menyukai orang lemah, sedangkan Kaira seperti dirinya selalu ada ditengah.


"Rinda, Kaira, Lian, dan Tari. Kalian keluarga, selalu bersama menjadi penerus keluarga Chrispeter, kalian boleh beradu kuat, tapi ingat keluarga bukan musuh." Riani tersenyum manis meminta semuanya tenang.

__ADS_1


***


DUA EPISODE LAGI ....


__ADS_2