
Kediaman Chrispeter ramai, seluruh orang sibuk menyiapkan acara keluarga untuk menyambut pernikahan Raffi dan Nakhusya. Keduanya sudah mengikat janji di depan seluruh orang tua, tangisan haru juga terlihat karena telah selesai tugas mengantarkan para putra dan putri untuk memiliki keluarga sendiri.
Akbar meneteskan air matanya, melihat senyum bahagia putra terakhirnya. Bianka mengelus lengan Papa Akbar.
"Papa berhasil menjaga keluarga kita, kami semua bahagia Pa. Terima kasih membawa keluarga ini dalam kebaikan walaupun orang memandang kita keluarga kejam, tapi Papa mengajarkan kami kebaikan."
"Kamu juga harus menjaga keluarga ini Bi, kamu Chrispeter pertama jiwa pemimpin kamu sama seperti Haikal, dia sangat menjaga keluarga kita, hanya satu orang yang tidak berani dia lawan hanya Bunda kamu, Bi juga harus menghormati suami Bi."
"Pasti Pa, Ayah panutan Bi lelaki pertama yang Bi cintai, lelaki pertama yang pasang badan untuk melindungi Bi. Ayah yang mengajar Bi berjalan, mengangkat senjata sehingga Bi sekuat sekarang."
Raffi menatap seluruh keluarga memberikan hormat bersama istrinya, Raffa langsung memeluk Raffi adik bungsunya yang paling pendiam dan tenang.
"Selamat ya Fi, kamu harus bahagia."
"Terima kasih kak Raffa."
Riki juga memeluk adiknya, Raffi langsung menguatkan pelukan untuk Riki dan semuanya meneteskan air mata bahagia.
"Bi kenapa kita dulu tidak seromantis mereka, kita tidak ada acara tangis menangis." Reva menatap para Boys yang berpelukan.
"Apa yang mau kita tangis? kena luka tembak hanya bilang aww. Melahirkan yang paling menyakitkan, mana sempat untuk berpelukan." Bianka tertawa bersama yang lainnya.
"Bi, ayo kita berkunjung ke tempat Rinda, menyampaikan berita bahagia jika kita sudah memiliki kebahagiaan, mengenalkan anak-anak kepada yang lebih dulu meninggalkan kita." Kei tersenyum mendapatkan anggukan dari Bi.
Semuanya berkumpul masuk ke dalam mobil masing-masing, pengawalan juga sangat ketat terutama para bocah, mobil beriringan melaju ke arah pemakaman.
"OMG kita makan bersama di atas gunung kecil." Rinda langsung berlari untuk naik tapi cepat di tangkap oleh Maxi, teriakan Rinda kuat membuat semuanya panik.
"Lepas, Rinda ingin menaiki gunung."
"Gunung apa Rinda?" Rindu langsung berlari melihat Rinda yang mengamuk di gendongan Maxi.
"Mau naik gunung kecil, lihat banyak sekali."
"Raffa, lihat anakmu." Rindu memijit pelipisnya, Raffa langsung menggendong Rinda untuk menasehatinya.
Semuanya memperhatikan Rinda untuk menenangkannya tapi melupakan Boy dan Reza yang sudah berlari kejar-kejaran melompati satu persatu. Miko hanya bisa terdiam di samping Kaira yang menggelengkan kepalanya.
"Pemakaman tempat yang sakral bukan untuk bermain! setidaknya hormati tempat peristirahatan terakhir." Kai berteriak kuat, melihat Boy dan Reza.
__ADS_1
Boy terhenti, kaki sebelah terangkat siap melangkah, sedangkan Reza sudah merangkak memperbaiki bajunya memberikan hormat.
"Maaf maaf maaf tolong jangan ganggu Boy." Boy menudukan kepalanya memberikan hormat berjalan pelan menyusuri jalan kecil di antara setiap makam.
"Maafkan Reza juga, aku kira tempat lompatan mainan." Reza memberikan hormat.
"Makam itu bukan gunung ya kak Kai?" Rinda langsung turun mendekati Kaira yang masih marah.
"Kamu ingin mencoba di kubur dan merasakan gunung?"
Rinda langsung menggeleng takut, berjalan pelan di belakang Kai diikuti oleh Boy dan Reza.
"Siapa kak orang yang berada di bawah makam? dia pakai baju apa ya kak?"
"Mereka hanya tulang belulang Rinda."
Rinda langsung berbalik badan, bibirnya langsung ingin menangis mendekati Boy dan Reza.
"Rinda ingin pulang saja kak takut." Boy langsung menggendong Rinda.
"Pemakaman menjadi tempat peristirahatan terakhir, orang yang hidup hanya bisa mengantar sampai di sini, juga hanya bisa berkunjung juga berdoa di sini."
Di sana semuanya duduk, berdoa memejamkan mata. Rinda melihat makam yang bernama Rinda Chrispeter, Rinda tahu jika namanya di ambil dari salah satu girls yang pulang lebih dulu.
"Hai Aunty, nama kita sama sikap kita berbeda, tapi Rinda bangga menggunakan nama Aunty." Rinda memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Hai Rin kak Bi datang, waktu telah berlalu kami juga sudah berubah, aku datang bersama keluarga kita, juga anak kami. Mereka sudah besar Rin, kamu bisa melihat keluarga kita bertambah, semuanya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing." Bianka meneteskan air matanya, berbicara dalam hati.
"Dek, kak Rindu berkunjung membawa Rinda kecil, setiap hari aku hampir gila di buatnya. Dia menggunakan nama kamu tapi tingkahnya berbeda jauh dari kamu, tapi kalian memiliki satu kesamaan, terkadang dia bisa melihat kejadian yang akan membahayakan dia. Kami bahagia dek, tambah bahagia karena ditambah buah cinta dari lelaki yang sangat aku cintai." Rindu tersenyum menghapus air matanya.
"Rindu kak Reva hanya ingin bercerita hal kecil tentang kebohongan Rinda, dia mencuri penelitian dari ruangan Papi Rian tapi dengan polosnya saat meledak dan membunuh ratusan ikan dia menyalahkan Rindu. Boy juga tidak kalah nakal, aku harus berpura-pura tidak tahu saat Boy menghancurkan Lab Bara, membuat pertengkaran antara Bianka dan Bara. Reza Arvin bocah lucu yang selalu terlihat polos, tapi menakutkan satu-satunya yang paling tenang Kaira dia mirip Keisya tapi juga menakutkan."
"Hai kak Rinda, aku rindu saat kita bersama biasanya aku selalu keluar bersama kamu, aku sangat rindu kamu. Tapi aku bahagia hidup bersama kak Riki, memiliki putri seperti Kaira. Kami semua bahagia kak, sangat bahagia, kamu juga harus bahagia doakan kami bisa mendidik anak-anak menjadi lebih baik lagi."
Setelah berdoa satu persatu mulai meninggalkan pemakaman, Bianka mengandeng tangan Boy, Kei juga mengandeng putrinya, Reva dan Rindu juga.
"Bunda, mengapa Aunty Rinda pergi lebih dulu?"
"Karena dia berkorban sayang."
__ADS_1
"Mommy, Aunty Rinda pasti sosok wanita yang sangat baik?" Reza menatap wajah Reva.
"Sangat sayang dia wanita yang memiliki hati paling luar biasa."
"Walaupun Aunty Rinda sudah tidak ada girls Chrispeter tetap beranggota lima, karena keberadaan Aunty ada di hati kita." Rinda langsung berlari mengejar Papinya.
Bianka tersenyum melihat Rindu yang menghapus air matanya melihat putri kesayangan yang sangat mengemaskan.
"Kak Kai, hantu bajunya warna apa?"
"Putih." Kai langsung memeluk Keisya minta di gendong.
Reza berlari kencang masuk ke dalam mobil, Boy yabg tidak tahu juga ikut berlari kencang, keduanya rebutan untuk naik lebih dulu. Kaira langsung menangis kencang membuat semuanya terdiam, wanita cool akhirnya menangis karena takut hantu.
"Reza!" Reva melotot melihat putranya yang jahil.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.
***
BESOK TAMAT
***
RAFFI CHRISPETER
VISUAL: mixziw
NAKHUSYA
VISUAL: TZUYUED
__ADS_1