BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TUAN BARU


__ADS_3

Tim satu sudah mendapatkan kabar soal Mentari menghilang, Lian dan Boy saling tatap langsung menghela nafas berpisah di tengah jalan.


Boy pergi bersama Rinda masuk ke dalam, Lian dan Maxi pergi ke arah yang berlainan. Rinda menatap Max yang juga menatapnya.


Di dalam ruangan Rinda mematikan seluruh lampu, Boy mengarahkan senjatanya. Langsung mendobrak pintu masuk ke dalam bersama Rinda.


Rinda berjalan di depan, seluruh tempat gelap sama seperti mimpi Rinda, lorong kecil yang mempertemukan satu kamar dengan kamar lainnya.


Seluruh kamar sudah kosong, Rinda berlari kencang masuk ke dalam ruangan yang membuat binggung, ruangan yang memiliki lorong yang sama, Rinda sampai binggung melihatnya.


"Rinda." Boy menatap ke arah cahaya kecil, Rinda mengangguk-anggukkan kepalanya.


Rinda bisa melihat Boy dengan jelas, karena menggunakan penerang otomatis, teknologi yang Reza ciptakan untuk membedakan orang.


Tangan Rinda menyentuh cahaya, suara meraung terdengar. Bulu kuduk Rinda berdiri, mengintipnya ke dalam membuat Rinda hampir terduduk lemas.


Boy membantu Rinda berdiri meminta Rinda mengontrol dirinya, tempat ini bisa mengecoh penglihatan. Orang yang di makan manusia kanibal terkuat bukan Tari, tapi orang yang sudah lama meninggal.


Rinda mengusap dada karena panik, Boy meminta Rinda berjalan lebih dulu bangunan di depan mereka sudah meledak.


Reza sudah mulai meledakan satu persatu bangunan, Boy yakin sekarang emosi Reza sedang tidak bisa dia kontrol karena Mentari menghilang.


Rinda melihat ruangan yang terbuka langsung masuk ke dalam, Boy mengikuti Rinda dari kejauhan Boy teriak meminta Rinda berhati-hati karena ada Nata di belakangnya.


Suara tembakan terdengar, Maxi berhasil menarik Rinda, menembak Nata, tapi Nata berhasil menghindar.


Rinda kesal melihat Maxi, dia memang sengaja memancing Nata menembakkannya, tapi Maxi datang mengacau.


Boy mengingatkan Max jika tempat ini sudah di atur sistem kembar, banyak orang yang kita kenali akan menyamar menjadi salah satu tim sampai akhirnya kita saling membunuh.


"Boy." Berlian mendekat, Boy langsung menebak jantung Lian yang langsung tersungkur.


Rinda dan Maxi saling pandang, langsung melangkah pergi mengikuti Boy, Lian menepuk pundak Boy, senyuman Boy terlihat meminta Lian ada di belakangnya.


Lian menebak di samping, gadis kecil berwajah Mentari, tatapan matanya samar menatap Lian, perlahan terjatuh.

__ADS_1


Reza langsung memeluk Tari yang tertembak, Lian teriak histeris Mentari tertembak.


Rinda dan Kaira langsung berlari melihat Mentari, Boy dan Maxi langsung menarik Rinda, sebuah jaring listrik menutupi Reza Tari dan Kai yang langsung kesetrum.


"Rinda fokus, Reza tidak ada di bangunan ini." Boy teriak kesal.


Berlian juga sudah menghilang, Boy mulai kesal meminta Max dan Rinda pergi. Boy akan menyelesaikannya sendiri, tangan Boy menunjuk pintu keluar.


Maxi menarik Rinda agar keluar, Boy menembak semua pantulan tubuhnya sehingga tidak ada akan ada yang mengenalinya.


Boy memperingati semuanya jangan mendekatinya, karena siapapun yang dekat pasti mati.


Dugaan Boy benar, banyak orang berwajah asli keluar. Langsung menyerang Boy, bertarung dalam keadaan marah, Boy tidak memberikan ampun.


Berlian yang baru datang melihat puluhan orang sudah terjatuh, Boy tidak memberikan ampun sama sekali. Tidak ada satupun orang yang hidup, Lian berjalan perlahan mengikuti suara orang bertarung, seseorang menggunakan high heels melangkah, Lian menghentikan langkahnya, bersembunyi.


Senyuman Lian terlihat menatap Nata keluar untuk melarikan diri, Lian mengiris tangannya mengeluarkan darah.


Suara meraung-raung terdengar, Natasya kebingungan mendengar suara manusia kanibal terdengar. Seluruh pintu Lian tutup dengan cepat.


"Aku menunggu kamu dipinggir pantai." Boy tersenyum.


Berlian menutup pintu terakhir, seluruh lampu hidup kembali. Natasya kaget melihat Berlian bersamanya satu ruangan.


Lian tersenyum menatap wanita yang membunuh orangtuanya, Nata orang yang membuat Lian menjadi yatim piatu, juga membunuh ibunya secara tragis.


Natasya tersenyum melihat Lian yang menatapnya sinis. Nata mengiris tangannya, tapi tidak ada respon, berkali-kali Nata mengirisnya sampai uratnya hampir putus, darahnya mengalir deras.


Sebuah pintu terbuka, Lian melihat manusia bertubuh besar, berwarna hitam, matanya merah, bahkan tubuhnya banyak *****, dia orang paling lama berada di pulau.


Lian meminta manusia kanibal mengumpulkan seluruh manusia yang sejenis dengannya, berbaris rapi di gedung yang sudah Lian dan Maxi persiapan untuk pembakaran.


Manusia kanibal masih mencium bau darah Nata, Lian mengiris tangannya memberikan kepada manusia besar di sampingnya yang langsung melangkah pergi.


Natasya teriak memberikan perintah untuk membunuh Lian, suara Nata tidak didengarkan. Lian sudah menguasai pulau, Lian sudah memberikan darahnya juga racun yang Kaira buat sehingga bisa mudah mengendalikan.

__ADS_1


Lian mencengkram kuat tangan Nata sampai teriak histeris, berkali-kali Nata melayangkan pukulan meminta Nata mengembalikan orangtuanya.


"Bukan aku yang memberikan perintah, tapi Iing."


"Benarkah, tapi kamu ada di sana."


"Seharusnya kamu salahkan keluarga Chrispeter, Ayah kamu bekerja kepada mereka. Alham mempertaruhkan nyawanya melindungi Bara, meninggalkan putri semata wayangnya." Nata teriakan kuat.


Lian melayangkan tamparan, menyayat telapak tangan Nata yang terus meminta ampun. Air mata Lian akhirnya menetes setelah belasan tahun tidak bisa menangis.


Lian mengiris selurus tubuh Nata sampai terkoyak, luka yang sama seperti ibunya dulu. Nata menyayat tubuh ibunya yang tersenyum meminta Lian melarikan diri.


Suara Lian menangis sesenggukan terdengar, mengigat wajah ibunya yang perlahan semakin pudar dari ingatannya.


"Kenapa membunuh ibu dengan keji, seharusnya kamu juga membunuh aku. Wajah cantik kalian membuat aku tidak bisa menatap aunty Nakusha." Lian mencekik Nata, melihat senyuman yang kejam, sangat berbeda dengan Nakusha yang perlahan selalu mendekatinya walaupun Lian terus menolak.


"Kalian lahir dari rahim yang sama, tapi memiliki hati dan pikiran yang berbeda jauh. Rasakan sakitnya sayatan ini." Lian berdiri menendang kuat Nata yang sudah muntah darah.


Berlian memberikan racun yang Kai berikan, racun yang akan menyiksa penjahat yang terlihat baik seperti Nata jauh lebih kejam dari penjahat kelas mafia.


Berlian melangkah mundur melemparkan peledak di tubuh Nata, Lian langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan puas sudah melampiaskan dendamnya.


Tangan Lian terangkat, menekan sebuah remote dan melemparkannya. Suara ledakan kuat terdengar, kobaran api langsung tinggi, satu penjahat mati.


Boy menghentikan langkahnya melihat ledakan, Reza juga melihat ke atas melihat satu bangunan diledakkan.


Kaira menundukkan kepalanya melihat ledakan sebagai tanda Lian membunuh Nakusha, Miko menatap Kai lanjut melangkah mencari Tari.


Rinda meneteskan air matanya, Maxi melihat Rinda tidak mengerti dengan air mata Rinda yang menangisi ledakan.


"Kak Lian yang memutuskan, kami hanya bisa membantu sampai di sini." Rinda melangkah pergi.


"Memutuskan apa Rin?"


"Makhluk asli pulau ini diciptakan oleh Iing, setelah Iing meninggal Nata yang menguasai, sekarang Nata meninggal berarti Lian pengantinya." Rinda menghapus air matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2