
Perlahan mata Cristal terbuka, Kaira duduk di kursi menunggu Cris bangun. Senyuman Kai terlihat saat melihat Cris bangun.
"Bagaimana perasaan kamu Lian?"
"Baik Kai."
Kaira menggenggam tangan Lian meminta Berlian terbuka, memberikan mereka kesempatan untuk mengobati luka Lian yang mengalami trauma tentang masa lalu.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Lian, tapi sekarang semuanya sudah berubah, bahkan bukan hanya Lian yang terluka ada Boy, Tari dan Maxi yang merasakan bersalah juga kehilangan.
"Lian, Boy marah sama kamu, kita tidak mengerti kalian berdua ada masalah apa?"
"Boy jahat, dia meninggal Lian tidak mencari Lian." Air mata Lian menetes memeluk Kai.
"Apa yang terjadi Lian, kalian berdua salah paham." Kaira menghapus air matanya.
Mentari membuka pintu, tidak berani mendekati Cristal, dia takut menyakiti Cristal kembali.
"Tari, maafkan kak Lian yang tidak menemui kamu lagi." Lian berjalan mendekati Tari, memeluknya erat.
"Tari baik-baik saja, maafkan Tari yang menyakiti kak Lian. Sebaiknya kak Lian istirahat, Tari permisi." Tari melangkah keluar, Lian menahan tangan Tari memeluknya erat.
"Kak Lian rindu kamu."
"Lalu kenapa tidak pernah datang?"
Berlian meneteskan air matanya, dia sudah berusaha berjuang untuk kembali, berusaha ingin hidup agar bisa bertemu mereka semua.
Lian membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, bahkan Lian tidak bisa melihat pertengkaran, senjata, ataupun tubuh orang yang menyeramkan.
Berlian sudah berusaha mengobati traumanya, tetapi tetap tidak bisa bahkan semakin dia berjuang, semakin tidak pernah sembuh.
"Kak Lian punya kita, berjuang bersama Tari kita obati trauma kak Lian." Air mata Tari mengalir membasahi pipinya.
Reza langsung masuk mendengar suara Mentari menangis, menarik lengan Tari menakup wajahnya.
"Apa Za?"
"Kenapa kamu menangis, sudah tahu jelek." Reza tertawa menatap Tari dan Lian.
"Tuan Reza jadi rebutan banyak wanita, dia mirip artis." Lian tertawa melihat Reza.
"Kenapa ingin mengakui jika aku jauh lebih tampan dari Boy?" Reza mengedipkan sebelah matanya.
Mentari langsung melayangkan pukulan, Lian langsung mundur. Reza teriak kuat merasakan matanya sakit, Tari langsung berlutut di kaki Lian meminta maaf, dia lupa jika Lian takut.
__ADS_1
"Maaf kak." Tari mencium tangan Lian.
"Iya Tari kamu kurang ajar sekali dengan tuan Reza?" Lian kebingungan.
"Sudah biasa Lian, mereka berdua sudah sering bertarung."
Suara piring pecah berhamburan terdengar, Kaira dan Reza langsung berlari ke luar. Mentari dan Berlian juga berlari ingin melihat yang terjadi.
Kaira mengehentikan Boy yang sedang marah, memukul bawahannya yang kerjanya tidak beres. Miko dan Maxi memegang Boy yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Kak Boy sedang marah dengan siapa? makanan di meja berhamburan." Kaira teriak marah.
"Lepaskan." Boy membenarkan bajunya.
Menendang meja makan sampai pecah semua, tidak ada yang berani angkat bicara. Jika Boy mulai hilang kendali hanya bisa didiamkan.
Berlian turun ke bawah melihat pecahan kaca, Boy melangkah melewati Lian menganggapnya seakan tidak terlihat.
Lian menahan tangan Boy, menggenggam erat membuat Boy membalik badannya. Lian berhadapan dengan Boy.
"Tuan semakin kejam, tidak heran tuan mengkhianati Lian. Ucapan tuan hanya janji yang tidak bisa dipegang, karena Tuan memiliki segalanya sehingga mudah mengendalikan orang, menghina juga menjatuhkan mereka."
"Berkhianat kamu bilang, siapa yang mengkhianati siapa." Boy mencengkram rahang Lian.
"Tuan tidak menunggu Lian saat ledakan, menutup jalan yang pernah kamu katakan, bahkan aku harus merangkak keluar dari sana." Air mata Lian menetes.
"Siapa yang mengatakannya? demi tuhan Lian ingin pulang, Lian takut sendirian di sana, Lian ingin pulang." Berlian memeluk erat Boy, mata Boy juga merah berair.
"Kamu jahat Boy, kenapa tidak mencari Lian? kenapa tidak datang? Lian hampir mati." Suara tangisan Lian terdengar kuat, mencengkram leher Boy, memukuli tubuh Boy bertubi-tubi.
"Kamu bilang cinta, ingin menikahi Lian tapi kenyataan kamu menghindar dan melupakan Lian."
"Aku tidak pernah mengkhianati kamu, aku sudah menunggu, sudah mencari kamu. Aku tidak pernah hanya sekedar janji, prinsip aku apa yang terucap pasti aku tepati." Boy menahan kedua lengan Lian.
"Wanita itu memberikan Lian kesempatan untuk kembali ke pantai, tapi saat Lian berlari dia menyuntik Lian dan melemparkan Lian ke arah manusia kanibal. Berlian hampir mati di dalam api jika tidak diselamatkan oleh manusia kanibal."
"Apa?" Boy menatap mata Lian yang hancur.
"Aku melihat rekamannya Lian, berarti dia yang membuat rekaman yang membuat salah paham."
"Lian tidak tahu soal kamera, Lian takut hari itu."
"Lalu bagaimana kamu keluar, seluruh tempat lenyap dilahap api?" Boy mengusap matanya.
"Merangkak di jalan tikus, Lian dipukul, lihat tangan Lian Boy digigit, dagingnya dimakan. Lian sudah memohon untuk dilepaskan, sudah menangis tetapi tetap disiksa." Lian menyentuh tangannya.
__ADS_1
Boy mengusap tangan Lian yang penuh jahitan, Lian juga menunjukkan kakinya yang kehilangan satu jari karena di makam manusia kanibal.
Maxi meneteskan air matanya melihat Lian, Miko juga sudah terduduk tidak kuasa menahan sakitnya Lian.
Mentari dan Rinda sudah berpelukan menangis, Kai juga menangis dalam pelukan Reza.
"Lian juga menjadi saksi Juwi di makan perlahan, Lian terus berjalan dengan merangkak melewati ruangan sempit, terus menangis."
"Di mana kamu Boy? kamu tidak datang menyelamatkan Lian, kamu jahat." Lian memeluk Boy yang menjadi patung.
"Maafkan aku." Boy memeluk erat Lian.
Lian menatap semua orang yang menangis, meminta maaf jika dia melukai mental Lian.
"Maafkan kami Lian, maaf karena kami meninggalkan kamu?" Reza menundukkan kepalanya.
"Maafkan kami kak Lian." Mentari dan Rinda menundukkan kepalanya.
"Maafkan Kai yang tidak mengetahui apapun."
Miko dam Maxi juga menundukkan kepalanya meminta maaf, Lian tersenyum menundukkan kepalanya.
"Kalian sebenarnya tidak ada yang salah, tidak ada yang seharusnya disalahkan. Lian hanya mencari alasan untuk meluapkan amarah karena sakit sendirian." Lian melangkah memeluk Kaira, memeluk Rinda dan Tari.
"Kami senang melihat kak Lian kembali." Rinda memeluk Kai.
"Mentari apa yang kamu lakukan di kamar Reza, apa kalian berdua sudah menikah?" Lian menatap Tari dan Reza.
"Mereka tidur berdua lagi?" Kai menatap Reza.
"Iya, Lian melihat Tari keluar dari kamar Reza mengendap, terus Reza hanya menggunakan celana pendek."
Mentari menundukkan kepalanya, menatap Reza santai yang hanya cengengesan tidak merasa bersalah.
"Sudah waktunya sarapan, karena meja sudah pecah kita sarapan di luar." Reza langsung melangkah keluar.
"Reza apa yang kamu lakukan dengan Mentari?" Boy menatap Reza yang tersenyum.
"Membuat Reza junior." Suara tawa Reza terdengar.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***