BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 JURANG


__ADS_3

Boy berlari bersama maxi, mengejar bayangan hitam yang langsung hilang. Boy menarik lengan Maxi agar tidak terjatuh ke jurang.


"Hati-hati kak Max."


"Terima kasih Boy." Maxi melihat ke bawah jurang yang sangat dalam.


Boy juga melihat ke bawah, melemparkan kayu besar. Maxi berjongkok melihat banyaknya jejak kaki.


"Tempat pembuangan." Maxi menatap Boy tajam.


"Cari jalan agar bisa turun ke bawah." Boy langsung ingin melangkah, Maxi menarik lengan Boy untuk bersembunyi.


Reza, Miko dan Ahlan datang, langsung keluar menebak kaki Ahlan membuat Reza dan Miko menatap ke arah Boy.


"Kak Boy."


"Aku tidak menembak hanya memberikan pertanda." Boy dan Maxi menatap satu buronan yang ada di belakang Reza.


"Berapa orang yang sudah tertangkap kak?"


Boy mengatakan jika ada lima orang yang menyerang, tapi kelima buronan tewas diledakkan seseorang. Reza juga mengatakan jika mereka membunuh dua buronan, satu bersama mereka satunya menghilang.


"Berarti sudah sembilan tahanan yang muncul, ada satu yang belum terlihat mister Z." Miko menatap Boy.


"Dia sudah muncul, tapi sepertinya sengaja menjadikan yang lainnya hanyalah pancingan, pada kenyataannya tidak akan ada yang bisa keluar dengan cara apapun." Boy tersenyum sinis.


"Mister Z juga muncul dihadapan kami, tapi menyerangnya sekarang akan menghilangkan jejak."


"Di mana Kaira dan Tari?" Maxi tidak melihat dua wanita.


"Di mana Rinda dan Lian?" Miko juga menatap Max.


"Kai dan Tari menghilang bersama satu buronan, masuk ke dalam lubang sumur." Reza menatap Ahlan.


"Rinda dan Lian juga menghilang." Boy mengacak-acak rambutnya, pusing melihat kekasihnya juga adik-adiknya hilang.


"Kenapa dia bisa bersama kalian?" Maxi menatap tajam satu buronan.


Reza menceritakan jika Tari tidak mengizinkan membunuhnya, Tari juga memberikan nama Ahlan agar mirip dengan Ayahnya, Reza tidak berani membantah, tapi pada akhirnya Tari menghilang.


Boy yakin keempat wanita baik-baik saja, mereka harus menemukan keberadaan Z.


Maxi meminta Reza melacak jalan agar mereka bisa turun ke jurang, Maxi membantu Reza mengerakkan drone kecil.


Boy duduk bersama Ahlan, berkali-kali Ahlan menatap Boy yang sangat tampan, mirip sekali dengan Bara.

__ADS_1


Boy menyadari tatapan Ahlan, tapi sedang tidak ingin berbicara terlalu khawatir memikirkan keadaan Rinda, Kaira, Lian dan Tari. Jika salah satu terluka, Boy tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Tatapan mata Boy melihat ke arah cahaya yang menunjukkan jika sudah subuh, sebentar lagi matahari terbit.


"Jangan terlalu khawatir, mereka wanita tangguh."


"Tahu apa kamu soal kami?"


"Tiga tahun yang lalu aku melihat Rian dan bara datang ke sini mereka menatap aku dengan tajam, mengatakan jika pemilik kunci tempat ini ada delapan orang, siapa yang bisa menjawab akan dibebaskan sepuluh tahun ke depan, kecuali dia bisa meminta bantuan delapan juru kunci penjara Chrispeter."


"Kamu bisa menjawab?"


"Saat kamu berusia dua tahun, datang ke tempat ini. Hari pertama aku masuk dan ingin sekali membunuh kamu. Perkenalkan aku Boy Chrispeter Arnold putranya Bara Arnold dan Bianka Chrispeter, paman nanti Boy bebaskan. Janji pertama kamu Boy walaupun suara kamu belum jelas."


"Salah pendengaran, tidak mungkin aku berniat membebaskan pembunuh berantai." Boy tersenyum sinis.


Ahlan tertawa, dia mengigat jelas Boy kecil, tiga tahun kemudian seorang gadis kecil wanita datang bersama Rian, memberikan sebuah pulpen, beberapa tahun kemudian muncul juga si kecil tampan yang sombong, sampai akhirnya gadis manja yang memperkenalkan diri kepada ratusan tahanan.


"Rinda Chrispeter, semua orang mundur mendengarnya karena Rinda sudah mati, tidak menyangka jika Rinda lahir kembali."


"Paman sangat memperhatikan kami?" Boy tersenyum sinis.


"Iya, bahkan kedatangan dua gadis kecil."


"Ingin membunuh kalian semua, seluruh keturunan Chrispeter."


"Lakukan setelah kita menemukan empat nyonya Chrispeter." Reza menatap tajam memberikan jalan menuju ke bawah.


Boy langsung berdiri, berlari menuju bawah. Reza meminta semuanya berhati-hati, jika sampai terpeleset, jatuh dan bisa mati.


Suara dentuman benda jatuh terdengar, Boy langsung menyingkir, Reza sudah memeluk pohon, Maxi dan Miko juga menyingkir.


Paman Ahlan jatuh tergelincir, terguling-guling sampai dasar jurang. Reza langsung tertawa kuat karena bisa melihat dengan jelas badan besar tinggi jatuh.


Boy hanya tersenyum, dia pikir ada gempa bumi, ternyata manusia psikopat jatuh.


Reza berlari diikuti oleh Boy, Max dan Miko sampai tiba di dasar jurang. Reza tersenyum melihat Paman sudah duduk sambil menundukkan kepalanya.


"Makanya Paman sudah Reza peringatkan hati-hati."


"Saya sudah berhati-hati, tapi gelap. Kalian hebat sekali bisa berjalan di kegelapan malam."


Boy tersenyum mengeluarkan satu lensa mata, membantu Paman memasangnya, suara teriakan meraung terdengar.


Reza, Boy, Maxi dan Miko menutup telinga, Paman Ahlan teriak membuat seluruh hewan langsung bubar, burung terbang meninggalkan hutan.

__ADS_1


"Gila ini orang, dibantu malah seperti banteng dicolok hidupnya."


"Mata saya dicolok." Paman Ahlan tersenyum bisa melihat Reza, Boy, Maxi dan Miko dengan jelas.


"Kalian semua tampan sekali, seperti Paman waktu muda."


"Uweeekk." Reza langsung ingin muntah.


Boy meminta mengikutinya untuk menemukan jalan, Paman Ahlan jalan dengan cepat berlari-lari karena bisa melihat dengan jelas.


"Norak sekali manusia psikopat satu ini." Reza mendadak kesal.


"Kamu tidak tahu Za rasanya bebas dari penjara, setelah dikurung selama hampir dua puluh lima tahun."


"Kak Miko dulu berapa tahun?"


"Hanya sebentar, palingan lima tahunan, tapi rasanya bahagia ingin tertawa lompat, tapi tidak bisa melakukanya."


Paman meminta semuanya berhenti, langsung menyentuh sebuah pohon besar, melihat ke atas.


Boy, Reza, Maxi dan Miko juga melihat ke atas. Pohon digoyang dengan kuat membuat pohon gugur, sebuah gerbang terbuka.


"Jadi benar, Z menipu kami semua. Dia menggunakan kami hanya untuk membunuh kalian."


"Dari mana Paman tahu di sini ada gerbang?"


"Wanita tua di dalam penjara, pohon besar, daun gugur gerbang terbuka."


Boy tersenyum, terkadang pertemuan ada bagusnya membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, akhirnya mereka bisa menemukan jalan keluar.


Maxi melangkah masuk terowongan, diikuti oleh yang lainnya. Max meminta Paman Ahlan di depan, tanpa penolakan langsung cepat maju.


"Tari kamu di mana? Paman datang menyelamatkan kamu."


Reza menghentikan langkahnya, Boy menepuk pundak Reza untuk terus melangkah Tari pasti baik-baik saja.


Sebuah tombak terlihat, paman Ahlan meminta semuanya berhati-hati, dadanya hampir tebus karena tidak menyadari ada panah juga.


"Paman baik-baik saja?" Maxi merasakan ada panah.


"Terus maju, mereka harus segera ditemukan. Terowongan ini sangat berbahaya, banyak anak-anak juga wanita, mereka memiliki tubuh manusia, tapi perilakunya seperti binatang buas.


"Bertahanlah Rinda, Kai, Lian, Tari kalian tidak boleh terluka." Boy menghela nafas.


***

__ADS_1


__ADS_2