BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
SAKIT PINGGANG


__ADS_3

Langkah kaki Reva memasuki Mansion, tubuhnya penuh luka dan terlihat kacau sekali. Asep langsung melangkah mendekat memeluknya dengan erat, rasa khawatir Asep lebih besar dari kedua orangtua Reva.


"Kenapa kamu pergi tidak memberitahu aku? ke manapun kamu pergi aku akan mengikuti langkah kaki kamu Reva."


"Aku baik-baik saja, kamu hidup untuk setia mendampingi Bara, dan jangan melewati batasan. Kamu dan aku berbeda, aku putri Chrispeter, sedangkan kamu tidak tahu asal usulnya."


"Kamu benar siapa aku?" Asep melepaskan pelukannya, membuang arah pandangnya mencari Bianka. Reva melangkah untuk pergi, tapi Asep menahan tangannya.


Mata Reva melotot menyadari ciuman di bibirnya, Asep melakukannya di depan keluarga besar Chrispeter. Asep tidak perduli jika harus dibunuh oleh Daddy Roy, selama satu minggu tidak melihat senyuman, canda, juga kemarahan Reva membuatnya tidak tenang dan merasakan kehilangan. Rasa rindu yang sekarang Asep rasakan.


Tatapan mata Roy langsung gelap, putrinya dicium di depannya berarti Asep sudah siap mati. Setelah membuat bibir Reva memerah, dengan berani Asep melihat kearah Roy.


Dari lantai atas Bianka tersenyum, dia yang menyelamatkan Reva sampai bisa kembali dengan selamat. Saat Reva pamit untuk pergi, kebetulan Bianka sedang duduk dipojokan dinding memakan es krim. Dia mendengar semua percakapan Daddy, panti yang harus Reva selamat, tempat tinggal para ayah dahulu.


Bi mengirimkan pasukan rahasianya yang berada tidak jauh dari panti untuk mengawasi, dari sanalah Bi mulai melindungi Reva secara diam-diam. Bi sengaja tidak mengabari siapapun karena dia yakin Reva bisa keluar.


"Aunty sangat baik, hampir mati demi menyelamatkan seorang bocah cacat. Anak itu mempunyai hutang nyawa."


"Bi, kamu melindungi aku dari kejauhan?"


"Tentu, aku tidak akan membiarkan salah satu Chrispeter dalam bahaya lagi."


"Terima kasih Bi."


Daddy Roy tahu, Bianka mendengar pembicaraan malam kepergian Reva, tapi sengaja diam saja ingin melihat bisa tidak putrinya keluar dari bahaya, baru dia akan membiarkan Reva hidup bersama pria berbahaya seperti Asep, karena Asep tidak ada bedanya dengan Bara, hanya saja dia tidak memiliki kekuasaan, tapi mempunyai kekuatan juga pasukan.


"Asep, bertarung dengan Daddy sampai ada yang mati, aku tidak rela menyerahkan putriku."


"Boleh ikut bergabung," Haikal tunjuk tangan, diikuti oleh Rian.


"Kamu harus tahu Asep, Reva putri tertua keluarga Chrispeter. Tidak sembarang orang yang bisa memilikinya." Papi Rian tersenyum sinis.


"Kalau Nay, boleh pilih sembarangan ya Papi?"


"Siapa yang mendekati putri bungsu kami, bahkan sehelai rambutmu tidak akan pernah tersentuh."


"Termasuk putramu Raka?" Riani tersenyum, wajah Rian langsung berubah kesal dan mengerutkan keningnya.


"Yee, satu lawan tiga. Ayo kita ke dalam ruangan pertarungan." Bi turun dengan penuh semangat.


"Bara, kamu ingin bergabung?"


"Tidak ayah, aku harus terlihat tampan saat menyambut kelahiran putraku. Kalau wajah aku terkena pukulan dia bisa tidak jadi lahir, karena dia tidak bisa mengenali ayahnya yang sangat tampan."


"Kamu sudah ketularan Bi, jangan bilang mendekati kelahiran kamu yang berulah."

__ADS_1


Semuanya sudah masuk ke dalam ruangan khusus pertempuran, Haikal tersenyum melihat Asep yang tidak menunjukkan rasa takutnya. Dia sudah menyiapkan banyak nyali untuk mencinta Seorang Reva, bahkan tidak takut mati.


Daddy sudah masuk area, langsung menatap Asep memintanya masuk. Reva yang baru selesai mandi langsung menarik lengannya.


"Daddy seorang pembantai, apalagi Papi Rian. Kamu hanya akan mati konyol."


Tangan Asep menyentuh pipi Reva, senyuman manis terlihat. Reva tidak melihat Asep yang biasanya, lelaki yang dihadapannya sekarang memiliki pandangan tulus dan sangat lembut.


"Aku mencintai kamu Reva Chrispeter, jangan pernah pergi lagi untuk membahayakan diri sendiri. Aku yang akan ada di depan kamu, untuk melindungi kamu dengan nyawaku." Senyum dibibir Reva terlihat, digenggamnya tangan Asep yang ada di wajahnya.


Bi tersenyum melihat tatapan Asep, saat pertama bertemu dan melihat Asep Bi bisa melihat kelembutan tapi sifat lembut sudah terkubur dalam. Kelemahannya tidak bisa menyakiti wanita, tidak berani menatap mata, Bi tahu ada luka yang sangat besar tergores di dalam hatinya.


"Cinta sangat hebat ya nak, dia bisa mengubah segalanya. Bahkan seorang kanibal bisa berubah menjadi vegetarian, seorang mafia bisa menjadi ayah yang lembut, seorang yang berhati dingin bisa berubah hangat." Bi mengelus perutnya yang sudah sering terasa sakit, Bara mengikuti gerak tangan Bi memeluk anak mereka dari luar.


"Kita bertiga akan segera bertemu, berpelukan terus seperti ini. Ayah sama Bunda menanti kehadiran kamu nak, lahirlah ke dunia ini memberikan kebahagiaan untuk semua orang." Bara mencium pipi Bi dengan penuh cinta.


"Jangan mengikuti jejak ayahmu,"


"Ikuti sayang yang baiknya,"


"Baiknya apa?"


"Anak kita akan setampan aku,"


"Hanya tampan."


Bunga melihat Bi dan Bara yang terlihat sangat bahagia, air matanya perlahan menetes. Melahirkan Bianka sebuah perjuangan, setiap hari Bunga menangis karena Bi tidak pernah menangis, tapi sekarang dia sangat lucu, murah senyum, cengeng.


"Jangan menangisi putri kita yang telah bahagia, pikiran saja putra kita yang masih menjomblo." Haikal merangkul Bunga yang tersenyum.


"Aku sudah memiliki calon menantu dari Raffa."


"Siapa sayang?"


"itu!" Bi menunjuk dengan bibirnya ke arah Rindu yang sedang memberikan peringatan kepada Asep, keahlian setiap ayah."


"Rindu Chrispeter, kita akan menjadi besannya Rian."


Pertempuran sudah di mulai, pendukung Asep Rindu Chrispeter diikuti oleh Bianka dan Bara yang bersorak. Kei dan Riki juga ikut mendukung Asep.


"Seperti anak kita semuanya pengkhianatan?" Rian tersenyum.


"Tidak masalah yang penting istri setia." Roy mengedipkan matanya ke arah Dara.


"Sebelumnya Asep ingin minta maaf jika terlihat kasar."

__ADS_1


Satu orang lawan tiga, Reva melipat kedua tangannya. Wajah dingin dan tampan Asep bisa rusak, hidung mancung bisa patah, bibir seksi bisa pecah.


Pukulan juga tendangan berhasil Asep hindari, sejujurnya kekuatan para ayah sangat besar, Asep sadar belum sepenuhnya tenaga di keluarkan.


Tendangan kuat Haikal menghantam perut, pukulan Roy juga melayang di kepala Asep. Kaki juga langsung bertekuk lutut saat Rian menendangnya kuat.


"Sep, santai saja jangan pikirkan keselamatan mereka, dia musuh kita bukan para ayah. Lawan mereka demi menyelamatkan Reva." Bara mulai cemas melihat Asep muntah darah, juga gerakan para ayah sengaja ingin melumpuhkan Asep.


"Hmmm, kakek lihat saja nanti aku yang akan mengalahkan kalian bertiga. Tiga lelaki kuat melawan satu lelaki kuat. Ayah cepat bantu Asep."


"Jangan sayang, lihat para ayah tidak memberikan ampun, nanti saat anak kita lahir aku tidak tampan lagi."


"Tidak ada sangkut pautnya."


"Ada, kami berdua pasti mirip."


Semuanya kaget saat Asep berhasil menjatuhkan Roy, tendangan kuat juga melayang di atas dada Haikal, pertarungan sengit masih dengan Rian yang juga mendapatkan pukulan.


Roy tidak bangkit lagi, langsung melangkah mendekati istrinya. Dara hanya tersenyum, pasti suaminya sakit pinggang. Haikal juga mengelus dadanya, terasa sesak efek mulai tua.


"Stop!"


"Papi aman," Asep terlihat cemas.


Riani langsung melangkah mendekat, membantu suaminya.


"Ingat umur, sudah tua jangan banyak tingkah. Nanti asam urat."


***


Siap-siap menyambut kelahiran Boy...


***


Lupa upload VISUAL, niatnya pas nikahan Kei sama Riki tapi lupa.


***



RIKI CHRISPETER


VISUAL TAEHYUN


__ADS_1


KEISYA CHRISPETER


__ADS_2