
Semuanya hening, Rinda yang sedang makan berlari kebingungan. Boy dan Reza yang baru masuk kamar juga kaget langsung berlari ke lantai satu bersama Tari dan Lian.
"Ada apa?" Rinda melihat seluruh keluarga kumpul, tangan Rinda masih memegang ayam goreng, sesekali mengunyahnya melihat Maminya menangis.
"Ada apa ini? ribut terus." Reza melihat Miko yang berdiri bersama Mami Rindu.
"Ayo Miko kita pulang saja ke Mansion Mami, kamu istirahat di sana?" Rindu merangkul Miko, tapi ditahan oleh Raffa.
"Minggir." Rindu menatap tajam Raffa.
"Miko juga putraku, kamu, Miko, dan Rinda tidak bisa bertindak tanpa seizin aku. Rindu kamu masih menghormati aku tidak?"
"Kamu hanya akan mengatakan jika Riki benar?"
"Riki tidak salah, Miko juga tidak salah. Tidak ada yang salah di sini, mereka hanya salah paham jangan memperumit masalah, kita selesaikan dengan baik."
Rindu menatap sinis Riki yang menatap Kaira masih mengusap air matanya.
"Riki dan aku memiliki perasaan yang sama, tidak ada sedikitpun berniat menghina Maxi atau Miko, mereka dua orang pilihan terbaik tidak mungkin memiliki cacat di mata kita. Masalahnya kami hanya ingin menunjukkan rasa takut kehilangan putri kami satu-satunya, lelaki yang bisa bersahabat dengan kami, berbagi cerita dengan kami tentang putri kita agar mereka mengerti karakter Rinda dan Kai. Jika kami memukul terus mengungkit masa lalu hanya karena menutupi rasa sayang kami, juga cara kami menguji kesetiaan."
"Raffa, aku tidak rela status menjadi pembatas."
"Tanyakan pada Riki, saat Riki bicara dengan Miko aku juga mendengarnya. Selama puluhan tahun tidak ada yang tahu masa lalu Miko dan Maxi selain kita, para orang tua. Sebelum mereka menjadi satu harus saling terbuka, agar tidak ada perusak yang mengungkit masa lalu mereka di dalam rumah tangganya nanti." Raffa membantu Miko masuk ke dalam kamar kembali.
Haikal tersenyum langsung melangkah pergi bersama yang lainnya, membiarkan anak cucu mereka membicarakan pernikahan.
"Kaira bantu Miko memasang infusnya, nanti Papi yang memasang salah tusuk lagi." Raffa tertawa melihat Miko menyembunyikan tangannya.
Boy, Reza, Lian, Tari, Maxi langsung masuk duduk manis di sofa. Bianka dan Bara juga masuk, diikuti oleh Rindu, Riki, Keisya, Asep dan Reva menatap Kai yang memasang infus, membersihkan darah dari tangan Miko.
"Ada apa ini? kak Kai tidak direstui. Kasihan sekali." Rinda tersenyum mengunyah ayamnya langsung melahap menyisakan tulang.
Tatapan Kai, Miko, Rindu tajam melihat ke arah Rinda yang masih menatap tulang.
"Hei anak kurang ajar, nanti tulang ayam itu Mami masukkan ke dalam mulut kamu." Rindu menatap Rinda emosi.
"Mami marah terus,"
"Bara tidak ikutan, karena kapanpun Boy dan Lian menikah kami mengizinkan."
"Asep juga, tidak ada larangan. Mereka bebas karena saling mencintai."
__ADS_1
"Rinda juga bebas, iyakan kak Max?"
Maxi mengerutkan keningnya, menatap Raffa yang melirik Rinda yang senyum-senyum sendiri.
"Nanti ditolak nangis." Lian menatap Rinda.
"Papi sudah memberikan restu, bahkan sudah berbicara dengan Kakek Haikal, Nek Bunga juga kakek nenek lainnya."
"Dari mana kamu tahu Rinda?"
"Rinda menguping, bahkan Rinda juga tahu Kakek Akbar dan kakek Rian meminta kak Riki berbicara dengan kak Miko soal rencana pernikahan mereka. Berarti kita sudah direstui untuk menikah." Rinda tersenyum memeluk tulangnya.
"Papi sudah berbicara soal restu, kenapa kamu masih memperpanjang?" Rindu menatap Riki.
"Tidak ada yang memperpanjang Kak, Riki berbicaralah dengan Miko sebelum dia koma, baru saja Riki ingin membahasnya, dia dan Kai sudah bertengkar." Riki mengerutkan keningnya.
"Benar Miko?"
"Benar Mami, kita bicara saat Miko ingin ke kamar max."
"Maafkan kak Riki Miko, dia tidak bermaksud menghina apalagi mengungkit masa lalu kamu." Kei mendekati Miko, menyentuh kening Miko merasakan suhu tubuh Miko yang sudah normal.
"Tidak nyonya, saya tidak marah sedikitpun. Karena terlalu lama hidup dengan tenang sehingga Miko lupa siapa Miko sebenarnya, sampai tidak tahu diri jatuh cinta."
"Maafkan aku Kai sudah membuat kamu terluka, maafkan juga untuk kalian yang sudah membuat khawatir."
"Rinda sayang kak Miko." Rinda ingin memeluk Miko.
Rindu menarik rambut Rinda, meminta mundur karena tangannya kotor bekas ayam. Sikap jorok Rinda sama dengan Raffa yang mandi saja pemalas.
"Miko kamu istirahat dulu, Maxi kamu ikut aku." Bara langsung melangkah bersama Maxi.
"Rinda hanya Maxi yang pergi, kamu mau apa?" Bianka menatap tajam.
"Ayah jangan meminta kak Max pergi jauh. Kita banyak hal yang harus dibicarakan."
"Maxi pengawal Rinda, dia harus mengendalikan ribuan pengawal."
"Minta yang lain saja mengurusnya Ayah." Rinda mengerutkan keningnya.
"Maxi akan di kirim ke Indonesia untuk perjalanan bisnis selama dua tahun, Boy akan dikirim ke Jepang, sedangkan Reza akan di kirim ke Inggris selama tiga tahun untuk menyelesaikan pekerjaannya." Raffa menatap Rinda, Lian dan Tari yang langsung berdiri melotot.
__ADS_1
Rinda langsung jatuh pingsan, Rindu menendang putrinya yang berpura-pura. Lian langsung menatap Boy yang tersenyum, Tari melotot melihat Reza yang mengerutkan keningnya.
"Terus kapan kamu menikahi aku Boy?! Lian teriak kuat membuat Boy menutup telinganya.
"Hanya sebentar."
"Sebentar matamu. Tiga tahun keburu Lian tua, pokoknya Lian tidak memberikan izin, jika kamu tetap pergi kita putus, Lian mau menikah dengan tukang kebun saja." Lian langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan, Boy menutup mulutnya menahan tawa.
Mentari meneteskan air matanya, menatap Reza tajam langsung menendang kaki Reza kuat.
"Perintah Ayah, jika ingin marah sama Ayah."
"Kamu memang tidak punya niat menikahi aku, seharusnya aku mempercayai ucapan kak Nando untuk pergi jauh dari hidup kamu, sebaiknya kita putus saja, Tari ingin hidup bebas di luar." Tari menepis air matanya.
Maxi mengangkat Rinda meminta untuk bangun, berhenti berpura-pura karena tidak ada yang akan percaya.
"Kak Max jangan pergi, Rinda tidak sanggup menunggu walaupun hanya satu hari." Rinda memeluk Max.
"Rinda Ratu lebay." Raffa menggelengkan kepalanya.
"Miko akan dikirim ke mana?" Miko menatap Bara.
"Tidak ada yang ingin mengirim kalian, dasar Rinda saja yang ingin menjadi buntut Max."
"Terima kasih Ayah, sekarang katakan Boy harus bagaimana? Lian bukan Bunda yang bisa dirayu dengan kata cinta. Ayah membuat Boy dalam masalah." Boy langsung berlari mengejar Lian.
"Enak saja Bunda mudah dirayu, tidak ada kata cinta yang bisa meluluhkan hati Bunda." Bianka menatap sinis Bara.
"Reza kamu tidak ingin mengejar Tari?" Reva menatap putranya.
"Biarkan saja, nanti setelah lima jam baru bicara, kalau sekarang bisa cacat wajah karena dicakar."
"Reza memang mirip kamu Sep, kebanyakan gaya. Tari pergi nangis." Bara melangkah keluar.
"Jadi kapan Mami Rindu menikah?"
"Setelah Kai dan Miko."
"Kapan mereka menikah?"
"Tunggu dulu Miko sembuh, jadi perempuan gatal sekali kamu Rinda. Urus putrimu ini Raffa." Rindu memukul kepala Rinda, langsung melangkah pergi.
__ADS_1
***