
Semuanya kumpul untuk makan malam bersama, suasananya yang masih sama Miko dan Max hening, Tari yang bertengkar dengan Reza, suara Rinda yang mengoceh.
Boy menatap satu persatu sambil menggenggam tangan Berlian, hanya ada satu yang berbeda Berlian yang berubah banyak bicara.
Maxi menyelesaikan makanannya, langsung melangkah pergi, Lian langsung mengejar Max yang berjalan ke ruang penelitian.
"Kak Max."
"Apa Lian?" Maxi menutup kembali ruangan, melangkah duduk di ruang tamu.
Berlian duduk di samping Max, menepuk pundak Max memintanya untuk mengikuti isi hatinya. Lian sangat mengenal Max dia pria yang tegas, tidak banyak bicara.
Jika Maxi menikah tanpa dasar cinta, hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Lian bisa melihat Maxi masih menatap Rinda.
"Kak, berjuang walaupun sulit. Lian tahu kakak mencintai dia."
"Keluarga Chrispeter meminta kak Max menikah, sebagai seorang bawahan kak Max hanya bisa menuruti."
"Di tangan kak Max ada senjata, di minta menembak Rinda. Kak Max siap membunuhnya?" Lian menutup matanya membayangkan senjata.
"Senjata itu akan menembak kepalaku."
"Kak Max tidak boleh menembak salah satu, kalian berdua harus hidup agar imbang. Rinda mati kak Max hancur, kak Max mati Rinda yang hancur. Berlari kak selamatkan diri." Lian menegaskan ucapannya.
"Apa yang kak Max harus lakukan?"
"Kak Max mencintai Rinda?" Lian menatap tajam mata Max.
Maxi diam langsung melangkah pergi ke luar rumah, Berlian melangkah mengejar Max mengikutinya menjauh dari dalam mengacak rambutnya.
"Kenapa tidak bisa menjawab, jika kak Max cinta perjuangan, jika tidak menikahlah."
"Aku mencintai Rinda Lian, tapi aku dan dia ...." Max langsung duduk bersandar di dekat mobilnya.
Berlian meneteskan air matanya, Lian sangat mengerti perasaan Max yang ragu menikahi
Rinda beberapa tahun yang lalu bukan karena tidak cinta, tapi Max binggung harus bagaimana mengendalikan seorang anak yang baru berusia tujuh belas tahun.
Max tidak tahu apapun soal karakter Rinda, mereka terlalu berbeda dalam banyak hal. Max yang menyukai tempat sepi, Rinda tempat ramai, Max tidak banyak bicara tetapi Rinda memaksanya terus berbicara.
Mengikuti keseharian Rinda membuat Max muak, dia merasakan lelah pusing juga emosi. Berbeda dengan Kai yang tenang.
Keinginan Rinda menikah membuat Max sangat terkejut, hal yang tidak mungkin saat itu Max setujui.
"Kak perbedaan kalian yang akan kak Max rindukan."
"Iya Lian, aku rindu mendengar suaranya, tawa canda, kelucuan dia, kejahilannya. Sejak Rinda tidak ingin berbicara separuh kehidupan aku terasa hampa."
__ADS_1
"Ayo berjuang kak."
"Masih pantaskah aku berjuang, berkali-kali aku berbicara dengan Rinda, dia tidak merespon walaupun Rinda masih perhatian, tersenyum rasanya semakin menyakitkan." Max memejamkan matanya.
Berlian tertawa Max sudah tua, tetapi kisah percintaannya masih berantakan, pria yang seharusnya sudah memiliki lima anak, sedangkan Max masih tidak punya arah tujuan.
Maxi meminta Lian diam, dia tidak suka ditertawakan. Boy yang sedari tadi memperhatikan Maxi dan Berlian ikut tersenyum.
Boy meninggalkan Lian dan Max menuju kamarnya untuk bekerja lagi, tetapi suara Lian menghentikannya.
"Tuan ingin ke mana?"
"Tidur, kamu ingin tidur bersama?"
"Tidak, Lian punya kamar sendiri." Lian langsung berlari meninggalkan Boy.
Rencana awal Boy ingin bekerja langsung batal, masuk ke kamar Lian memeluknya erat memutuskan untuk tidur bersama.
Lian tidak mengehentikan Boy, membiarkannya tidur memeluk pinggang. Boy tidak berhenti menciumi Lian, bahkan tangannya sudah meraba.
Kening Lian berkerut, melihat Boy sudah tidur, sedangkan tangannya masih menempel di dadanya.
"Boy, jangan tidur dulu." Rinda memukuli dada Boy yang tidak menggunakan baju.
"Ada apa? aku mengantuk, besok ada pekerjaan.
"Kita." Boy mencium bibir Lian.
"Lian tidak yakin."
"Reza Mentari mungkin." Boy ikut berpikir.
"Emmhh, sepertinya kak Miko dan Kaira."
Boy langsung duduk menatap Lian, Kai dan Miko tidak terlihat ada hubungan, mereka terlihat normal hanya sebatas tim.
"Tidak mungkin sayang, sebaiknya kita tidur." Boy menarik Lian tidur bersamanya.
"Lian mendengar suara yang seperti di pulau dulu, itu Boy yang suara sedang berhubungan." Lian menundukkan kepalanya.
Boy langsung berdiri di atas tempat tidur, melompat turun berlari keluar. Lian juga langsung berlari mengejar Boy.
Reza dan Tari yang sedang membahas pekerjaan saling tatap, melihat Boy berlari tidak menggunakan baju.
Reza juga langsung berlari membuka kamar Kai, mendobrak kuat membuat Kai teriak kaget.
Semuanya masuk melihat ke dalam, Rinda asik menonton film dewasa. Langsung mematikan ponselnya, Kai menatap Rinda yang cengengesan menahan tawa.
__ADS_1
"Ada apa kak Boy?" Kai menyentuh dadanya yang berdegup.
"Aku pikir kamu masih berduaan dengan Miko." Boy mendekati Rinda yang duduk diam menyembunyikan ponselnya.
Boy menadahkan tangannya, meminta ponsel Rinda. Rinda menyerahkan tangannya mencium tangan Boy.
"Handphone Rinda."
"Rinda tidak membawa handphone, lagi bercerita bersama kak Kai." Rinda tersenyum.
Boy langsung mengangkat tubuh Rinda, mengambil ponselnya yang disembunyikan di belakangnya.
Rinda teriak menghentikan Boy, tatapan mata Boy tajam memutar video yang membuat Rinda menelan ludah, duduk di pinggir ranjang.
"Apa yang kalian tonton ini?"
"Kai tidak menonton, Rinda sendirian yang kurang kerjaan."
"Rinda hanya iseng kak, lagian Rinda sudah besar."
Reza melihat handphone Rinda, melihat isinya yang terlihat rekaman hubungan dewasa. Tatapan mata Boy dan Reza sama tajamnya, adik kecil mereka otaknya sudah kotor.
Rinda hanya diam saja, Miko juga masuk melihat ke dalam. Boy memarahi Rinda sampai menangis.
Boy tahu Rinda sudah besar, Boy juga tahu Rinda tidak bisa move on, tapi bukan berarti dia bebas mengkhayalkan hal yang belum seharusnya Rinda pahami.
Reza juga setuju dengan Boy, tidak menyukai hal bodoh yang Rinda lakukan. Reza menghapus seluruh video di handphone Rinda.
Rinda langsung berdiri, mengambil ponselnya langsung membantingnya, menginjak sampai pecah, menghilang seluruh kenangan di dalam ponselnya.
"Rinda tahu batasan, lagian dalam pengawasan kak Kai. Rinda sedang melakukan penelitian soal berhubungan, bukan berarti Rinda menginginkannya. Bagaimana Rinda bisa meneliti jika tidak tahu apapun soal berhubungan. Seburuk itu Rinda di mata kalian, maafkan Rinda." Rinda meneteskan air matanya langsung melangkah keluar.
Sejalan menuruni tangga Rinda menangis, melewati Maxi yang baru ingin masuk. Mengambil kunci mobil langsung melangkah pergi.
Miko langsung berlari menghentikan Rinda, megambil mobilnya mengejar Rinda.
"Max pinjam mobil kamu."
"Masuklah, aku yang akan membawa mobil." Maxi mempercepat laju mobilnya.
Max melihat kecepatan Rinda yang sangat tinggi, tidak memperdulikan keselamatan dirinya.
Miko menghubungi Boy dan Reza, Rinda mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dia melebihi jalur biasanya.
Boy dan Reza langsung panik, melangkah keluar mengejar Rinda.
***
__ADS_1