
Suara teriakan histeris terdengar, Boy memeluk erat tubuh Berlian yang sudah mandi keringat.
"Lian bangun." Boy menggoyangkan tubun Lian.
"Boy." Lian memeluk erat Boy, tubuh Lian gemetaran.
Lian membuka matanya melihat semua orang ada di dalam kamar, Rinda sedang membersihkan wajahnya, Mentari duduk di samping Lian.
"Kalian semua baik-baik saja?" Lian menatap Boy.
"Iya kak Lian, kita baik-baik saja." Tari mengusap tangan Lian.
"Kak Tari bermimpi ruangan mewah, ada tempat persembahan api, kak Miko jadi korban, kita semua dalam keadaan tidak berdaya." Rinda tersenyum melihat Berlian.
"Iya Rin, perasaan kak Lian tidak enak."
"Di dalam mimpi Rinda, kak Lian mengantikan posisi kak Miko." Rinda berjalan ke arah balkon, melihat ke luar yang ramai pengunjung.
Boy menghela nafasnya, meminta semuanya keluar. Boy ingin berbicara dengan Berlian. Reza langsung melangkah pergi, Max dan Miko juga keluar, Rinda melangkah keluar pergi bersama Kaira dan Mentari.
Di luar kamar Rinda duduk di kursi santai, memakai make-up lagi. Maxi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Rinda yang berlebihan dalam mempercantik diri.
"Kak Maxi." Rinda kaget melihat Maxi memakaikan baju menutup tubuh Rinda yang seksi.
"Gunakan baju yang sopan Rinda, bukan hanya manusia kanibal ingin memakan kamu, manusia normal juga mau."
"Kak Maxi menginginkan Rinda juga?" Rinda tersenyum menatap Maxi yang kaget.
Reza menarik kuat telinga Rinda, teriakan Rinda terdengar mengusap telinganya yang panas. Max hanya tersenyum kecil melihat tingkah Rinda.
"Kak Eza tidak boleh seperti itu, Rinda sudah besar ingin merasakan surga dunia."
"Kami ingin menikah muda, punya anak, menjadi seorang ibu. Sudah siap kamu Rinda?" Reza menatap tajam.
Rinda cengengesan, langsung memeluk Reza manja. Rinda mengatakan jika calon suaminya setampan Maxi dia siap menjadi ibu untuk anak-anak Max.
Kaira menggelengkan kepalanya, melangkah pergi bersama Maxi. Reza juga pergi bersama Tari ke kamar masing-masing.
Miko berjalan mendekati Rinda, memintanya duduk bersama melihat pemandangan indah di depan penginapan.
__ADS_1
Rinda memahami kegelisahan Miko soal mimpi Lian dan Rinda yang sama, juga memahami arti jika Rinda sudah bermimpi.
"Rin, mimpi kamu nyata. Berlian akan menjadi satu-satunya orang yang tidak kembali bersama kita." Miko menatap Rinda yang menundukkan kepalanya.
sejujurnya Rinda tidak menyukai setiap mimpi yang datang sebagai peringatan, awalnya Rinda berpikir hanya bunga tidur, tapi selama pertualang bersama Miko semua mimpi nyata, Rinda sudah berusaha menghentikannya, tapi sampai detik ini Rinda tidak bisa menghentikan.
"Rinda tidak tahu kak Mik, mimpi yang datang berkali-kali. Sekarang mimpi ini juga datang kepada kak Lian, semoga kita semua bisa keluar." Rinda menghela nafasnya.
Miko meminta Rinda menenangkan diri, berjalan-jalan bersama. Miko paham saat Rinda mulai memoles wajahnya secara berlebihan karena dia sedang menutupi kegelisahan hatinya yang bisa terbaca melalui wajahnya.
***
Boy duduk di sandaran ranjang, Lian juga duduk di samping Boy melihat ke luar jendela yang tiba-tiba turun hujan lebat.
Lian menanyakan ke mana Boy dan Reza pergi, Lian cukup kaget mendengar ucapan Boy soal tempat yang dia kunjungi, ruangan mewah yang sama persis dengan mimpi Lian.
Boy akan masuk kembali ke sana saat malam, karena paginya para pengunjung akan pulang dari pulau bersama dengan mereka juga yang memutuskan untuk keluar dari pulau.
Keberadaan Juwi dan Jem tidak diketahui, Boy hanya mengetahui keberadaan Natasya yang berdiam diri di ruangan yang sebelumnya Lian masuki.
Berlian mengatakan jika ruangan yang Boy kunjungi, tempat keberadaan Jem dan Juwi. Ada kamar khusus di dalamnya yang sangat mewah, di sanalah mereka berada, tidak ada alat yang bisa mendeteksi tempat persembunyian mereka, karena di dalamnya seluruh jaringan apapun mati.
"Aku tahu mereka mengerikan, tapi kita sudah ada di akhir perjuangan tidak ada alasan untuk takut."
Lian menggenggam tangan Boy, meminta Boy berjanji jangan menyelamatkan Berlian jika sesuatu terjadi. Boy harus mengeluarkan seluruh Chrispeter, juga para pengunjung.
"Apa maksudnya Lian?"
"Tuan, harus ada satu yang berkorban. Darah Lian sudah tercium di sini, Lian bisa mengendalikan mereka yang tersisa, saat Bom meledak jangan selamatkan Lian."
"Kita datang dan harus pulang bersama." Boy melepaskan tangannya dari genggaman Lian.
"Lian berjanji akan selamat, kembali menemui tuan. Biarkan Lian membalaskan dendam kematian orang tua Lian."
"Berlian kamu bisa membalaskan kepadaku."
"Mustahil, aku menyayangi Tuan. Lian juga sudah menganggap Bunda Bianka ibu pengganti Lian, tidak mungkin Lian sanggup menyakiti keturunan Chrispeter."
Boy diam langsung ingin melangkah pergi, Lian memeluk tubuh Boy dari belakang. Memohon kepada Boy mengabulkan keinginannya.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu berikan kepadaku?" Boy membalik tubuhnya menatap Lian.
"Lian berjanji akan kembali."
"Bagaimana jika kamu tidak kembali Berlian?"
"Pasti akan ada pengganti Lian." Berlian terbaring di ranjang, karena di dorong Boy.
Boy berada di atas tubuh Lian, terlihat tatapan kemarahan dari mata Boy. Lian mengusap wajah Boy memohon agar Boy mengabulkan keinginannya.
"Bagaimana jika kamu tidak selamat?"
"Tidak ada yang harus tuan tunggu, sudah takdir Lian hanya menjadi pengawal tuan sampai di sini." Lian teriak kuat.
"Sejak kapan aku menganggap kamu sebatas pengawal, aku menganggap kamu sebagai wanita Lian." Boy menaikkan suaranya.
Berlian diam, Boy juga tertunduk diam tidak bisa berpikir lagi. Memang ada satu orang yang harus berkorban, tapi Boy tidak rela jika harus kehilangan Berlian.
"Aku menginginkan kamu, rela tidak kamu menyerahkan diri?"
"Lakukanlah tuan, Lian siap melayani tuan untuk terakhir kalinya, kita tidak memiliki banyak waktu." Belian mencium bibir Boy yang semakin marah.
Pertengkaran Lian dan Boy terdengar oleh Reza, nafas Reza tidak teratur melihat Lian dan Boy berada di ranjang, menutup perlahan pintu melangkah pergi.
Reza bertanya-tanya mungkinkah harus ada yang dikorbankan, tidak ada harapan mereka kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Mentari datang ingin masuk ke kamar Lian, tapi Reza menarik tangannya meminta Tari mengikutinya.
"Tari jika kamu diberikan pilihan, salah satu dari kita harus tertinggal di sini siapa orang yang kamu pilih?"
"Mentari, Tari siap berkorban. Tidak ada yang ingin menjadi korban, tapi demi keselamatan semuanya Mentari rela."
Langkah kaki Reza berhenti, pada kenyataannya Boy dan Berlian akan saling berkorban. Reza tidak bisa tinggal diam melihat Boy tidak ingin kehilangan Lian, harus ada tindakan agar semuanya selamat.
Tatapan mata Reza tajam melihat banyaknya kupu-kupu terkapar, teknologi buantan Rinda berhasil dilenyapkan.
"Tuan, seluruh kupu-kupu mati."
"Memang sudah Rinda perkiraan pasti akan ada perlawanan, hanya melenyapkan tempat ini satu-satunya jalan." Rinda tersenyum menepuk pundak Tari dan Reza.
__ADS_1
***