
Meja makan hening, Boy makan dengan tenang sambil mendengarkan melalui headset hasil rapat kerjasama.
Suara sendok Boy terdengar, Reza menatap ke arahnya yang langsung menatap Reza tajam.
"Apa yang kamu lakukan Za?"
"Melakukan apa?"
Boy menyerahkan rekaman hasil rapat yang tidak bisa dia hadiri, Reza yang mengikuti rapat bertengkar dengan salah satu pemegang saham terbesar sampai membatalkan kerja sama.
"Kehilangan satu orang tidak membuat jatuh miskin Boy."
"Memang tidak, tetapi kamu sudah menimbulkan satu musuh dalam bisnis. Sudah aku peringatkan jika kalian tidak bisa hidup normal sebaiknya kembali ke Mansion Chrispeter, jangan membuat masalah di sini." Boy memukul meja makan, langsung melangkah pergi.
"Kerjaan Boy hanya marah saja, aku punya peraturan juga dalam hidup aku. Tanpa dia sadari banyaknya musuh dalam bisnis karena sikapnya yang kejam dan pemarah." Reza juga memukul meja makan, langsung melangkah pergi.
Rinda memegang dadanya, perubahan sikap Boy memang sangat jauh. Dia sangat kasar melalui ucapan, hilang sudah Kaka yang dulunya suka bercanda.
"Rinda tidak bisa makan dengan tenang, setiap pagi ada keributan." Rinda langsung melangkah pergi.
Miko melangkah mengikuti Rinda, hanya tinggal Mentari Kaira dan Maxi. Tari juga menjadi pendiam sejak bertengkar dengan Reza.
"Kak, Tari berangkat pulang dulu."
"Iya, hubungi kita jika sudah sampai." Kai memeluk Tari yang melangkah pergi.
Maxi dan Kaira saling pandang, Kai tersenyum mendengar kabar jika saat Maxi pulang karena dipanggil oleh Raffa, mempertanyakan hubungannya dengan Rinda.
Kai yakin suatu hari Rinda akan membuka hati lagi, mungkin sudah saatnya Maxi yang berjuang jika memang memiliki rasa.
Luka hati tidak memiliki obat, sehingga proses sembuhnya sangat lama.
***
Cristal bangun langsung buru-buru, dia harus sudah membersihkan seluruh ruangan sebelum para petinggi datang terutama Boy.
Langkah kaki Cris berlari, dia langsung naik ke lantai paling atas membawa alat untuk membersihkan ruangan.
Tatapan mata Cris melotot saat melihat ruangan Boy yang super mewah, tidak heran dia terkenal kekejaman suasana di dalam ruangan juga serba gelap.
Cris langsung cepat merapikan ruangan, menyapu dan mengepel, mengelap meja juga kaca.
__ADS_1
Hampir satu jam hanya untuk membersihkan satu ruangan, Cris melangkah keluar berdiri di pojokan mendengar langkah kaki.
Kepala Cris tertunduk melihat Boy datang, langkah Boy terdengar melewatinya bahkan tidak melirik sama sekali.
Cris menatap punggung Boy yang masuk ke dalam ruangannya, sekretaris pribadi Boy meminta Cris membawakan minuman yang biasanya.
Cepat Cris berlari, menyiapkan minuman yang sudah tertulis di daftar minuman para bos. Selesai membuatnya Cris langsung membawakan kepada Boy, mengetuk pintu baru melangkah masuk.
Meletakkan minumannya, melihat Boy yang sedang membolak-balik berkas, menatap sekilas minuman di atas meja, langsung menyentuh mencium baunya langsung melemparkan ke lantai.
Cris yang baru saja ingin keluar kaget, melihat minuman ditumpahkan. Suara Boy meminta yang baru terdengar, Cris langsung melangkah kembali ke area dapur membuat ulang.
Para OB dan OG menatap Cris yang kebingungan, tidak ada yang berani mengantikan Cris masuk ke ruangan Boy.
Masuk kedua kalinya, jantung Cristal berdegup ketakutan. Boy memang mengerikan juga tidak punya perasaan.
"Tuan silahkan di minum." Cristal meletakan minuman.
Cristal membersihkan bekas minuman yang tumpah, sesekali melirik ke arah Boy. Tidak heran satu minggu sekali karyawan khusus ruangan Boy selalu berhenti tidak pernah sanggup melayani Boy yang keras.
Tangan Boy menyentuh minuman, meminumnya perlahan langsung keluar lagi membuat Cristal kaget.
"Tuan jika ada yang kurang seharusnya bilang, Cris akan memperbaikinya jangan dipecah. Repot membersihkannya." Cristal menghentakkan kakinya.
"Kamu jilat rasakan sendiri." Boy kembali melanjutkan pekerjaannya.
Cristal melangkah keluar, mengambil air putih, meletakan di depan Boy.
"Perbanyak minum Tuan, biar tenang tidak marah-marah. Masih pagi, bangunan ini bisa roboh jika satu kali lagi ada yang tuan lempar." Cristal menatap tajam, membersihkan pecahan kaca.
Boy menatap Cris yang mengomel sambil membersihkan bekas minuman, tatapan mata Cris sinis melihat Boy.
"Mulai besok berhenti bekerja, menjijikan." Boy meludah membuka komputernya.
"Berhenti, belum satu hari bekerja sudah dipecat. Tuan memang tidak punya otak, saya bangun pagi membersihkan ruangan ini, belum lagi membersikan kekacauan ini, seenaknya tuan memecat saya." Cristal menantang Boy.
"Perusahaan ini milik saya, sampah seperti kamu tidak pantas ada di sini." Boy memukul meja menatap Cristal.
"Saya tidak akan berhenti, terserah Tuan saja." Cristal melangkah pergi, meninggalkan Boy yang menatapnya tidak suka.
Di luar ruangan, Cristal menendang tempat sampah. Mengumpat kasar Boy yang tidak punya hati.
__ADS_1
"Boy sialan."
"Sabar, CEO kita memang seperti itu. Dia pemarah juga apapun yang dilakukan selalu salah, bekerja dengannya ujian terberat."
"Dia pria gila."
"Sebaiknya jaga ucapan kamu Cristal, dia bukan hanya seorang CEO tapi putra orang terpandang. Kita tidak punya kuasa untuk mengkritiknya."
Cristal menundukkan kepalanya, hatinya terasa sakit mendengar Boy pria yang sangat dingin, pemarah juga sangat kasar. Dia tidak pernah tersenyum, bahkan banyak menjatuhkan orang.
"Boy pria baik, ini bukan dia." Cristal duduk memegang kepalanya pusing.
Seharian Cristal mengawasi ruangan Boy dia tidak keluar sama sekali, tidak minta makan dan minum sampai hampir waktunya pulang Cristal tidak melihat Boy keluar.
Selesai pulang bekerja, Cris sibuk membersihkan beberapa ruangan yang digunakan untuk rapat.
"Sebaiknya aku membersihkan ruangan CEO, jadinya besok tidak harus masuk ke sana lagi." Cris membawa peralatan membersihkan ruangan.
Ruangan Boy gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. Cristal binggung mencari letak lampu, Boy pulang mematikan seluruh lampu sampai tidak ada cahaya sedikitpun.
"Boy kamu banyak berubah." Cristal menghidupkan lampu.
Teriakan Cristal kuat, saat melihat Boy masih di dalam ruangannya. Wajah Cris langsung pucat melihat Boy yang menatap ballpoint.
"Tuan belum pulang, Cristal ingin membersihkan ruangan."
"Kenapa kamu kembali, menunjukkan wajah kamu kepada kami." Boy menatap Cristal yang kebingungan.
"Baiklah, besok saja membersihkan ruangan ini. Selamat malam Tuan Boy." Cristal langsung melangkah pergi.
"Di mana anakku?" Boy menatap punggung Cristal.
"Anak? kita belum melakukannya bagaimana bisa memiliki anak?" Cristal menutup mulutnya, mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mulutnya.
Boy tertawa, merasakan lucu dipermainkan oleh seorang wanita.
"Maafkan saya Tuan, pertanyaan tuan tidak masuk akal soal anak, kita tidak ada hubungan, bertemu juga baru, sangat mustahil bisa memiliki anak." Cristal langsung melangkah pergi.
Boy menatap tajam, mematikan kembali lampu ruangannya. Boy memegang dadanya merasakan kembali sakitnya dikhianati, Boy akan membuat Lian menderita karena berani kembali menemuinya.
***
__ADS_1