BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 INGIN MENIKAH


__ADS_3

Haikal tersenyum melihat Lian yang terlihat nampak berbeda, tidak seperti biasanya yang lebih banyak diam.


"Lian otak kamu tidak geser, bisa juga kamu membuat lelucon."


"Kenapa kakek memangnya Lian terlihat aneh?" Berlian memonyongkan bibirnya melihat Rian, Roy, Akbar dan Haikal mengangguk kepalanya.


"Kamu menjadi orang lain Berlian, tidak seperti biasanya." Rian menatap Boy yang tersenyum.


"Lian bahagia dengan diri Lian yang sekarang, bisa tertawa, menangis, marah, kecewa dan sedih karena merasa hidup seperti manusia, tidak seperti dulu yang hidup tapi terasa mati." Lian tersenyum menatap Akbar.


"Kakek juga bahagia melihat kamu yang sekarang." Akbar mengusap kepala Lian.


"Kek, kita diminta berkumpul pasti ada perintah, hukuman, dan permintaan. Kakek ingin membicarakan yang mana terlebih dahulu?" Rinda nyengir membuat wajah Boy dan Reza tegang.


"Kamu sudah tahu Rinda?" Roy menggeleng melihat cucu Rian yang bisa tahu lebih dulu.


"Kalian ingin mendengar yang mana terlebih dahulu?" Haikal menatap bergiliran.


"Hukuman." Boy mewakili yang lainya.


"Sebelumnya kakek ingin tahu, kalian siapa yang sudah siap menikah?" Roy tersenyum melihat Boy, Rinda, Kei menunjukkan tangan. Reza ragu-ragu ingin mengangkat tangannya.


"Reza tidak punya pendirian, mental kamu masih kecil." Haikal tersenyum menatap Reza.


"Bukan seperti itu kakek, terlalu banyak yang Reza langkah, ada kak Boy, kak Kei yang belum punya pacar, belum lagi Rinda yang memang sudah lama ingin menikah." Reza membela dirinya sendiri.


"Alasan saja kamu Za." Rian menatap sambil tersenyum.


"Reza siap menikah, Mentari kamu siap tidak menikah?" Reza menatap Tari yang terdiam menatap Akbar.


Suara Akbar tertawa, meminta semuanya mendengarkan ucapannya. Keluarga Chrispeter sudah menjadi satu, tidak perduli calon pasangan dari kalangan mana, tidak memandang kurang lebihnya.


"Maxi, kamu sudah kami anggap yang paling tertua sebagai cucu putra Chrispeter, pilihlah wanita yang ingin kamu nikahin, kita perluas lagi kekeluargaan kita."


"Maaf tuan Haikal, saya tidak memiliki wanita di luaran."


"Jika kamu berkenan, boleh kita menjodohkan kamu?"


Pintu langsung terbuka, Raffa masuk bersama Riki, Bara dan Asep. Para ayah langsung duduk bergabung untuk mendengarkan pembicaraan antara kakek dan cucu.


"Ayah, jangan sembarang menjodohkan Max. Dia punya wanita pilihan sendiri." Raffa menatap Max yang tersenyum.

__ADS_1


"Ayah sudah mempertanyakannya, tapi Max mengatakan tidak memiliki wanita."


"Di luar tidak ada Ayah, tapi di dalam mungkin saja ada."


"Raffa, kamu tidak punya hak atas Maxi, jika bersangkutan dengan Miko baru kamu boleh berkomentar. Apa kamu ingin bertarung kembali dengan Max, bukan hanya memukulinya." Haikal menaikkan nada bicaranya.


"Tuan Haikal, Tuan Raffa. Tolong hentikan. Max mencintai Rinda Chrispeter, jika kalian ingin Max menikah, berarti harus mengizinkan Rinda menikah." Max menatap dua orang besar.


Raffa langsung berdiri menatap tajam, Haikal langsung memukul kepala Raffa agar duduk kembali.


"Beraninya Kamu Max!" Raffa duduk dengan wajah kesal.


"Miko bagaimana dengan kamu? apa mungkin kamu mencintai Rinda?" Rian menatap Miko yang terkejut.


"Tidak mungkin tuan, dia adikku, saudara perempuan satu-satunya. Kasih sayang aku kepada Rinda sebatas persaudaraan."


"Siapa wanita pilihan kamu?" Akbar menatap Miko yang tersenyum.


Miko berdiri menundukkan kepalanya, sejak perasaan muncul Miko berusaha menghindar, dia tidak ingin mencintai apalagi dicintai.


Perasaan yang Mik anggap hanyalah perasaan mengagumi, tidak pernah menyangka jika tidak pernah menghilang, tetapi semakin besar.


Senyuman Akbar terlihat, meminta Miko duduk kembali tidak perlu terlalu sopan.


"Bagaimana Kaira, kamu menerima cinta Maxi?"


"Miko kakek bukan Maxi." Kai tersenyum malu.


"Tunggu Pa seharusnya bertanya juga kepada Riki mengizinkan tidak, Kai Putri kami satu-satunya tidak semudah itu mengizinkannya menikah." Riki menatap Akbar dan Rian.


"Kamu tidak setuju Ki?" Rian menatap putra satu-satunya yang memijit pelipisnya.


"Bukan tidak setuju Papi, hanya saja Riki tidak ingin dijodohkan biarkan mereka memilih."


"Tidak ada yang menjodohkan Riki, tanyakan kepada putrimu." Rian menahan tawa melihat Riki sama dengan Raffa tiga tahun yang lalu.


Perdebatan Riki dan Rian terjadi, Bara dan Asep hanya bisa diam tidak paham yang diperdebatkan Ayah wanita.


"Bara Asep kalian berdua berikan saran?"


"Asep tidak mempermasalahkan, Reza dan Tari cocok. Tidak berani juga menentang, karena Reva pasti mengamuk."

__ADS_1


"Bara setuju Papi, tidak masalah karena semua keputusan tidak ada pada Ayah, tapi ibu. Daripada tidur di luar jadi setuju saja. Lian anak baik karena dari kecil dia sudah terdidik memahami keluarga Chrispeter. Mentari, Maxi dan Miko juga sama sangat mengenali kehidupan kita yang tidak bisa dipahami orang luar."


Boy langsung berdiri memeluk Ayahnya, mencium Bara penuh cinta karena selalu takut dengan Bundanya.


"Maxi kamu harus bertarung kembali dengan Raffa, kali ini jangan sampai pingsan lagi, membuat malu mafia." Bara menyemangati Maxi yang tertawa.


"Kamu tampan sekali Max jika tersenyum." Roy menepuk pundak Maxi.


"Jadi siapa yang ingin menikah lebih dulu?" Akbar tertawa melihat semuanya tunjuk tangan.


Bara dan Asep juga tunjuk tangan, kepalanya langsung mendapatkan pukulan. Bianka dan Reva ada di belakang.


"Pengen menikah lagi, aku pisahkan seluruh organ tubuh wanita yang kamu nikahi." Reva menatap tajam.


"Hanya bercanda sayang, tidak ada juga yang berani berpaling." Asep mengusap kepalanya menatap Bara yang cekikikan tertawa.


Bianka duduk di samping Ayahnya, memberikan sebuah rekaman. Boy langsung mengambil rekaman dan mendengarkannya.


Reza juga mengambil dan mendengarkannya, seluruh tahanan bawah tanah melarikan diri ke tengah hutan, mereka membunuh setiap orang yang mereka temukan.


"Berapa banyak yang melarikan diri?" Boy menatap Bundanya.


"Sepuluh orang, sisanya sudah tertangkap, tapi sepuluh manusia tidak berhati sedang bersembunyi diantara banyaknya manusia."


"Perintah yang akan diumumkan kita harus menemukan sepuluh orang ini." Rinda menatap kakeknya.


"Lalu apa hukuman kita?" Kai menatap Haikal.


"Hukuman kalian harus menemukan mereka, kalian hanya memiliki waktu sampai akhir bulan. Permintaan Kami kalian jangan sampai kehilangan personil, tidak boleh bergerak sendiri, bertanggung jawab dengan resiko yang kalian buat, tidak keras kepala dan egois, tidak megambil keputusan sendiri. Kami paling kecewa kepada Maxi dan Boy, kalian berdua gagal menjaga keutuhan tim."


"Kita tidak akan pernah kehilangan personil lagi, jadi besok pagi misi di mulai." Boy menatap Max yang menganggukkan kepalanya.


"Kalian bisa menolak, bukannya kalian semua ingin menikah?" Rian menatap delapan orang yang saling pandang.


"Kami memiliki waktu sampai akhir bulan, di awal bulan berikutnya kami memiliki kesempatan untuk menikah. Siapa yang lebih dulu, siapa yang lebih cepat, siapa yang lebih pantas." Max menatap Rinda.


Boy melihat jam tangannya, Reza juga melihatnya hanya diam saja.


"Target utama ada di rumah ini." Boy tersenyum sinis.


***

__ADS_1


__ADS_2