BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 HIDUP SULIT


__ADS_3

Ruangan kamar yang serba sempit, hanya memiliki satu kamar tidak ada dapur, toilet apalagi ruang tamu.


Cristal tinggal di sebuah rumah yang tidak layak, ada rasa menyesal pergi ke kota untuk mengubah hidupnya, kenyataannya kehidupan di kota sangat keras.


Cris duduk di pojokan ruangan, memeluk harta satu-satunya sebuah tas yang berisi beberapa baju sederhana.


Senyuman Cris terlihat saat menatap kartu nama sebuah perusahaan besar, Cris menguatkan dirinya untuk bertahan sedikit lagi, dia pasti bisa menjadi orang, walaupun harus bersakit-sakit dahulu.


Mata Cris terpejam, suara petir saat hujan membangunkan Cris, kamarnya bocor semua membuat Cris harus keluar karena di dalam basah.


"Oh tuhan, hidup Cristal sial sekali. Tidak bisa satu hari saja hidup tenang, bisa mati muda Cris karena beban hidup." Cris teriak kuat, mendengar suara petir menggelegar.


"Ampun tuhan jangan disambar dulu, Cris masih ingin hidup. Iya Cris menerima hidup melarat, setidaknya izinkan Cris semalam saka tidur tenang." Suara petir kembali terdengar.


"Tuhan jangan marah, Cris hanya bercanda. Cris bahagia hidup melarat." Cristal kembali masuk ke dalam, menggigil kedinginan.


Di dalam Mansion mewah, Boy berdiri di balkon kamarnya melihat hujan petir sambil meminum anggur merah. Tersenyum melihat langit yang menakuti bumi.


"Jika kamu memang masih hidup, aku berharap kamu hidup penuh kesulitan. Merasakan sakitnya aku yang kamu tinggalkan, aku sangat membenci kamu, sehingga ingin rasanya aku membunuh dengan tanganku sendiri." Boy meneguk minuman sampai habis, melangkah masuk untuk beristirahat.


Kamar Boy gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali bahkan tidak ada sedikitpun cahaya. Boy tidak bisa tidur jika ada cahaya, dia pasti akan langsung bangun.


Matahari bersinar, kesibukan sudah terlihat di Mansion. Rinda yang terus mengomel, ada saja yang dia bicarakan, belum lagi Mentari yang bertengkar dengan Reva.


Seluruh berkas dari tangan Tari dihamburkan, Reza marah langsung mencengkram lengan Tari menatap tajam.


"Saya lelah menghandle seluruh pekerjaan penting tuan, rela dimarah rekan kerja tuan, belum lagi sulitnya berbicara baik dengan tuan. Mulai hari ini Tari memutuskan untuk tidak bekerja lagi." Mentari menepis tangan Reza.


"Mentari."


"Kak Kai, hari ini Tari kembali ke Mansion Chrispeter, memilih mengundurkan diri."


"Apa yang akan kamu lakukan di sana?"


"Saya ingin meminta izin untuk lepas dari tuan Reza Arvin Chrispeter, ingin hidup di luar, jatuh cinta, menikah dan memiliki keluarga."


"Rinda setuju, sekarang juga Rinda sedang mencari jodoh." Rinda tersenyum merangkul Tari.


"Coba saja kamu berani pulang, aku pastikan kamu keluar dari gerbang sudah tidak bernyawa." Reza meminta Tari merapikan seluruh berkas.


Mentari kembali mendekati Reza menendang semua berkas, langsung melangkah keluar untuk melewati gerbang.


Boy, Kai, Maxi dan Miko menjadi penonton pertengkaran rumah tangga, Rinda menjadi kameraman yang mengabdikan momen yang setiap pagi terdengar.


Kai memijit pelipisnya, jika tidak Rinda yang ribut, pastinya Tari, tidak lama lagi Reza. Pertengkaran sampai keluar rumah, Tari sudah melewati gerbang.


Reza mengambil semua berkas, menyusunya langsung melangkah pergi menggunakan mobilnya.

__ADS_1


Mentari menghela nafas melihat Reza memilih pergi, Boy meminta Tari ikut dengannya.


"Masuk Mentari."


"Maaf kak Boy, Tari ingin tidur di rumah. Capek kerja siang malam, belum tentu juga kaya."


"Aku tidak ingin berdebat Tari."


"Tari juga, jika kak Boy ingin Tari membantu Reza sudah cukup, Tari lelah. Reza egois tidak mandiri, sekarang biarkan dia berjuang sendiri." Mentari melangkah masuk.


Boy tersenyum semuanya memang sudah berubah, keadaan di dalam Mansion bukan hubungan antara bawahan dan tuan, tapi sudah sama.


Tari yang menganggap Boy kakak, sedangkan yang lainnya mengaggap Maxi yang tertua, orang yang paling berhak mengambil keputusan di Mansion.


"Boy pergi duluan."


"Boy, apa yang harus aku lakukan soal Tari dan Reza?"


"Biarkan saja kak Max, mereka terlalu sering bersama, jadinya tidak tahu rasanya saling membutuhkan. Reza yang keras merasa apapun bisa Tari bereskan, sedangkan Tari lelah dengan Reza yang tidak paham jika dia butuh kebebasan. Biarkan mereka terpisah, agar tahu rasanya kehilangan." Boy langsung masuk ke dalam mobilnya.


***


Cristal tiba di perusahaan Boy, dia kagum melihat kemewahan perusahaan langsung melangkah masuk melihat banyak orang cantik yang berlalu lalang.


Seseorang menghampiri Cris memintanya untuk keluar, karena CEO mereka tidak menyukai seseorang yang berantakan.


"Saya datang atas rekomendasi dokter cantik Kaira Chrispeter." Cris menunjukkan kartu nama.


"Serahkan kepada kak Boy." Rinda memberikan berkas, meminta Cristal mengikutinya.


Cristal tersenyum berjalan di samping Rinda yang sangat cantik, elegan, mobil Rinda juga sangat mewah membuat Cris teriak kagum.


"Masuk kak Lian."


"Cristal, nama aku Cristal. Kamu siapa? temannya dokter Kaira"


"Rinda Chrispeter." Rinda berjabat tangan.


Rinda membawa Cristal ke salon langganan mengembalikan penampilan Berlian seperti dahulu, agar Boy bisa menatap Lian kembali.


"Kak, kami menunggu cukup lama. Rinda bahagia melihat kak Lian kembali, walaupun tidak mengenali kami." Rinda menepuk pundak Cris.


Cristal menggaruk kepalanya, dia bernama Cristal si gadis miskin. Cris binggung Rinda memanggilnya Lian Berlian.


"Lian Berlian siapa?"


"Versi kamu tiga tahun yang lalu." Rinda tersenyum meminta Cris keluar mobil, mereka akan melakukan perawatan.

__ADS_1


Cristal terdiam melihat kemewahan salon, melihat bayi Cris ingin menjadi pengasuh, melihat salon ingin menjadi karyawan salon.


Rinda dan Cristal melakukan perawatan bersama, berkali-kali Cris teriak kesenangan. Rinda menemukan satu teman yang sama konyol dengan dirinya, melebihi Mentari.


"Kak Cris punya pacar?"


"Jangan tanyakan pacar, coba tanyakan punya uang tidak, bayaran salon pasti mahal, bisa jual ginjal."


"Pertanyaan siapa yang ingin membelinya?" Rinda tertawa.


"Seriusan Rin tidak ada yang ingin membeli?" Cris mengelus dadanya.


"Kak Cris dulu ada seseorang bernama Berlian, wajah kalian mirip, tapi sikap sangat berbeda. Dia menghilang tiga tahun yang lalu, ini fotonya." Rinda menunjukkan kepada Cristal yang terlihat kaget.


"Cantik sekali, ini aku."


"Iya."


Cristal melihat wajahnya di cermin yang sudah di rapikan, melihat ponsel Rinda terlihat sangat mirip.


"Apa kami kembar?"


"Mustahil, kalian orang yang sama."


"Aku hidup di sebuah desa jauh dari keramaian, nenek aku meninggal beberapa bulan yang lalu, akhirnya aku memutuskan untuk ke kota. Tidak mungkin kami orang yang sama."


"Hanya satu orang yang bisa membedakannya. Kak Boy."


"Siapa dia?"


"Pengusaha hebat, calon suami Berlian."


Cristal kaget, langsung mundur takutnya Rinda memasangnya untuk menikah dengan Boy mengantikan Lian.


"Kak Boy membenci Lian."


"Apa yang harus Cristal lakukan?"


"Tinggal bersama kami, kembali ke posisi awal. Tim kita kurang sejak kak Lian menghilang."


Cristal menolak, dia tidak ingin menjadi pengganti orang lain. Rinda memeluk Cris, karakter boleh beda tetapi cara berpikir sama.


"Rinda berjanji akan membawa kak Lian kembali." Batin Rinda dalam hati.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...

__ADS_1


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***


__ADS_2