
"Sayang! Bianka." Bara menyentuh wajah Bi yang berlinang air mata. Mata Bi bergerak melihat wajah Bara, air mata Bi semakin deras mengalir. Bara ikut meneteskan air matanya melihat Bi bibirnya bergetar, tatapan matanya menunjukkan kesedihan yang sangat dalam. Bara menyatukan wajah mereka, sampai hidung mereka menyatu. Air mata Bi dan Bara menjadi satu sebagai saksi kesedihan mereka.
"Ba ba bar ra,"
"Iya sayang, ampuni aku Bi. Kakak tidak bisa melindungi kamu, gagal menjaga kamu. Maaf Bianka, hukum kakak seberat mungkin." Tangisan Bara pecah, hancur sekali hatinya melihat Bi yang terluka.
"Ba Ra! anak kita..., di dia tidak ada lagi." Bi menatap wajah Bara, teringat darah yang mengalir dari kakinya.
Arrrrrgggghhhhh arrrrrgggghhhhh teriakan Bi menggema membuat keluarga yang berada di lantai bawa langsung berlari semua. Mereka hanya berdiri di depan pintu melihat Bara dan Bianka menangis.
Tangan Bianka memukuli dada Bara, tangan Bara memeluk erat tubuh Bi, teriakan Bi tangisannya menjadi satu. Pukulan tanpa tenaga yang Bara rasakan, hati Bara terasa tersayat karena perihnya mendengar tangisan pilu Bi.
"Maafkan aku Bi! andai aku bisa menukar nyawaku demi kebahagiaan kalian. Pasti akan aku lakukan sayang, aku sangat mencintai kamu. Kamu segalanya Bi, kamu harta yang paling berharga. Aku serahkan nyawa aku ke kamu." Bibir Bara bergetar, inilah air mata terbanyak yang Bara keluarkan.
Seluruh keluarga menangis melihat Bi yang mulai diam dalam pelukan Bara, bibir Bi terus bicara tanpa suara.
"Maafkan bunda sayang, bunda tidak bisa jagain kamu."
"Bara anak kita, dia belum melihat dunia. Aku gagal melindungi anakku."
"Maaf maaf Bi, kesalahan aku tidak bisa termaafkan tapi aku tetap ingin meminta maaf. Cinta yang aku miliki masih belum kuat untuk melindungi kamu, aku gagal menjaga kalian. Ini kesalahan kakak." Nada bicara Bara pelan, pelukan lembut dan belaian dikepala Bi. Bara menenangkan Bianka yang sangat kehilangan.
"Kakak marah! menyalahkan Bi ya." Bianka kembali menangis, tapi lebih tenang.
"Kakak marah sama diri kakak sendiri, melihat air mata kamu ingin rasanya kakak keluarkan seluruh darah dari dalam tubuh sebagai gantinya."
Bi melepaskan pelukan menatap wajah Bara, air matanya masih mengalir tapi terukir sebuah senyuman.
"Anak kita Bara! aku gagal menjadi Bunda." Bianka kembali menangis histeris, masuk ke dalam pelukan Bara sambil kembali memukulinya.
Raffa yang melihat Bi ikut menangis, langkah kaki Raffa menjauhi kamar Bi. Rindu berada di belakang Raffa yang sedang menangis. Keluarga yang tidak sanggup melihat juga melangkah pergi, hanya tersisa Kiara, Bunga dan Haikal.
"Aku penyebab rusaknya kebahagiaan kak Bi, benar kata Oma. Apapun yang kita miliki tidak bisa menutupi air mata, kesalahan tidak bisa diperbaiki." Raffa melangkah pergi masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Rindu hanya menatap kepergian Raffa, Rinda menepuk pundak Rindu sambil tersenyum. Reva dan Kei juga mendekat.
"Rindu! kapan kita melakukan penyerangan. Mereka sedang tertawa di atas kesedihan kita. Mahal harga yang harus mereka bayar."
"Jangan bergerak tanpa perintah Rindu, kak Reva tidak punya hak untuk memimpin."
"Rindu!"
"Aku benar Rinda! kak Reva juga menjadi orang yang bertanggung jawab akan masalah ini." Rindu melangkah masuk melewati Nayla yang menatap mereka.
Reva melangkah pergi dari Mansion, Kei juga masuk sambil menggandeng tangan Nayla. Mereka masih menunggu Bianka untuk tenang, membiarkan Bara lebih lama bersamanya.
Rindu melihat beberapa burung gagak hitam terbang mengelilingi Mansion lalu melangkah pergi. Senyum kecil terukir dari bibir Rinda, dia ingin melihat keluarga kembali bahagia dengan canda dan tawa.
***
Bara keluar sebentar karena Bianka sudah tidur, dia ditemani oleh Bunda dan Mama. Kiara mengecek Keadaan Bianka yang nafasnya mulai tenang.
"Bianka lebih buruk dari kamu dulu Bunga, saat sadar kamu melupakan semuanya sehingga tidak merasakan lagi sakit. Tapi Bi dia menyadarinya, jika Bianka tidak bisa menerima kebenarannya dia bisa gila."
"Bianka beruntung menjadi putri dari seorang Bunga, dia memang sangat kuat, cepat sehat Bianka Chrispeter." Mama mengelus perut Bi dan mencium keningnya.
Di luar kamar Bara menemui Rindu yang terlihat sangat sedih dan terpukul, Rindu menutupi kebenaran soal wanita yang menjebak Bara. Sebenarnya dia memang mencintai Raffa, tapi saat melihat Ghavin dia langsung dengan cepat berpindah hati. Wanita ini memang hamil dan kemungkinan besar darah Chrispeter.
"Rindu kamu yakin! Raffa tidak mungkin melakukannya, pasti ada kesalahan." Bara menatap punggung Rindu yang melihat ke arah luar membelakangi Bara.
"Awalnya aku berusaha menyakinkan diri jika ini sebuah kesalahan, aku mendapatkan stempel darah wanita ini yang keguguran dan mengetesnya dengan Raffa 70%."
"Keguguran! bukannya dia selamat."
"Dia bekerja di bawah perintah seseorang, dan saat misi selesai dia digugurkan. Aku menyelamatkannya sekarang dalam pengawasan."
"Sebenarnya ini siapa? musuh Chrispeter atau Bara?"
__ADS_1
Rindu hanya menggelengkan kepalanya, satu hal yang masih sulit dia selidiki. Rindu akan mulai bergerak setelah bertemu Bi. Bara hanya berpesan untuk berhati-hati.
***
Di malam apartemen Reva sedang mengerakkan teknologinya menembus, keamanan Mansion Bara. Asep juga berada di sana ikut mengamati, mata mereka berdua saling pandang dan menghela nafas.
"Gerry! dia belum mati. Jangan bilang dia dan Clori."
Reva tertawa sekarang mereka mengerti, penjahat di sekitar Kristan bukan Bara tapi Gerry dan Clori. Mereka mengadu domba Bara dan Kristan, agar bisa menembus markas penelitian Chrispeter.
"Mereka musuh Chrispeter atau Bara?"
"Musuh Chrispeter dan keluarga Arnold!"
Reva pernah mendengar cerita Keluarga Arnold, yang mengkhianati cinta istrinya dan menyia-nyiakannya putra semata wayang mereka. Seorang pria kaya raya meminta cinta dari istri Arnold tapi memutuskan untuk bunuh diri, marah dan dendam kehilangan wanita yang di cintai membuat pria kaya ini menghancurkan keluarga Arnold sampai semuanya mati. Tapi kehilangan jejak anak-anak mereka.
"Tujuan mereka membunuh Bara dan Nayla, demi memutuskan darah keluarga Arnold. Hubungan dengan Chrispeter!"
"Keluarga Chrispeter yang menyelamatkan Bara, sedangkan Nayla dan Kristan diselamatkan oleh paman Austin yang juga keturunan Chrispeter."
"Mereka akan mulai mencampur adukkan perasaan keluarga Chrispeter, agar mendapatkan peluang melenyapkan Nayla dan Bara."
"Gerry dan Clori putra dan putri dari Lemos Kamil orang yang berkuasa nomor satu di negara tetangga, mereka anak angkat, kemarahan Gerry karena Clori yang meninggal gagal diselamatkan."
"Kristan! kamu juga menyelidiki ini."
"Aku mengetahui ini saat pertama Clori dan Gerry datang saat Bara menghilang, aku hanya berusaha menyelamatkan Nayla dan menunggu waktu yang tepat memberitahu Bara." Kristan menyerahkan seluruh bukti yang dia dapatkan.
Reva mulai panik, penyerangan kepada komplotan Kamil. Bukan musuh yang seimbang untuk Rindu, Reva cepat berlari ingin memberitahu Bara tapi ledakan sudah terjadi. Asep cepat melindungi Reva, seluruh bangunan hancur seketika.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
***