
Jam di dinding sudah menunjukkan tengah malam, Rinda sudah memasang sepatunya bersama dengan Tari, Berlian juga sudah menyiapkan senjatanya, hanya Kai yang masih sempat membaca buku.
Miko masuk ke dalam kamar menjelaskan saat masuk ke dalam gedung berstatus pasangan suami istri, jadi pergi juga menggunakan jarak.
Boy akan pergi lebih dulu bersama Lian, baru Rinda dan Maxi, lanjut Reza dan Tari, baru Miko dan Kai.
Reza masuk ke dalam kamar bersama Boy dan Maxi berkumpul untuk berbagi tugas masuk ke dalam beberapa tempat.
Maxi menceritakan jika pulau digunakan untuk melakukan hal yang tidak pantas, salah satunya pelecehan. Sudah pasti di sekitar tempat ini ada satu bangunan bawah tanah yang digunakan untuk tempat pembantaian.
Boy setuju dengan ucapan Maxi, jadi salah satu dari mereka harus mencari tempat itu. Reza langsung mengajukan diri, tapi semua orang menatap Tari.
Mentari tersenyum dia akan baik-baik saja, jangan mengkhawatirkannya, dia bisa menjaga diri. Berjanji juga tidak akan menjadi patung.
Miko tidak yakin adanya tempat pembantaian, Mik lebih penasaran dengan adanya lab pembuatan obat-obatan berbahaya.
Kaira setuju dengan ucapan Miko, tempat ini tidak sepenuhnya digunakan untuk menyabut nyawa, tapi digunakan untuk tempat menghasilkan uang.
Jika adannya pembantaian mungkin hanya dilakukan untuk menutupi rahasia, atau mereka orang yang sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Tempat ini bisa jadi tempat pembunuh, karena digunakan untuk pemujaan." Lian menunjukkan beberapa lembar foto sedang melakukan doa.
"Lalu bagaimana dengan racun ini?" Kai menunjukkan dua buah yang sudah dia teliti.
Kai menjelaskan buah yang ada di sini semuanya manipulasi, mereka menggunakan untuk memberikan penyakit, lalu menawarkan penyembuhan, tapi mustahil racun yang sudah masuk ke dalam tubuh mereka tidak ada penawaran jika didiamkan berlama-lama.
"Siapa perduli soal mereka kak Kai? setiap orang akan mati. Tujuan kita datang ke sini bukan untuk menyelamatkan nyawa orang." Reza mengerutkan keningnya.
Kaira kaget mendengar ucapan Reza langsung berdiri mendekati adik lelakinya yang duduk santai di atas meja.
"Kamu mengatakan apa tadi Reza?"
"Kematian mereka bukan urusan ki ...." Reza tertunduk.
__ADS_1
Kai menampar kuat Reza, tidak percaya dengan ucapan Reza yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Apa yang kamu cari di sini? jika hanya untuk mengetes kemampuan kenapa harus sejauh ini, bukannya sudah puluhan tahu kamu bertualang bertemu banyak orang tidak mengerakkan sedikit saja hati kamu."
"Bukan seperti itu kak Kai, mereka datang ke sini mempercayai pengobatan, melihat pembunuhan bukan sesuatu yang salah, tapi sesuatu kehormatan. Mereka bodoh, mengantarkan nyawa secara langsung." Reza langsung menyingkirkan, takut ditampar lagi.
Boy menghentikan Kai dan Reza, meminta fokus membuat kesimpulan tindakan mereka malam ini. Boy merasakan tidak nyaman berada di pulau yang mengatasnamakan kekuasaan, kebaikan, keimanan, dari luar terlihat baik-baik saja, tapi di dalamnya banyak hal yang mengerikan.
Rinda hanya diam saja, melihat bulan yang menyinari lautan, terlihat sangat indah. Perasaan Rinda juga tidak enak, ada suatu bencana yang akan meratakan tempat ini.
Jika Reza tidak perduli dengan kematian seseorang, sedangkan Kai sibuk mementingkan keselamatan seseorang, tapi Rinda menginginkan semuanya normal, jangan sampai melihat kematian, juga tidak ingin menyelamatkan.
Biarkan mereka terjebak selamanya dengan tempat yang penuh kotoran, sampah juga bangkai yang busuk.
Lian datang mendekat, berdiri di samping Rinda, menatap ke arah bulan.
"Rin, kamu tahu tidak aku pernah masuk ke kamar aunty Rinda melihat sebuah lukisan pulau, jika diperhatikan bukannya bulan itu mirip dengan lukisannya?" Lian tersenyum melihat Rinda.
Rinda terdiam, ucapan Lian ada benarnya, dia juga pernah melihat lukisan pulau yang terbagi dua antara siang dan malam, tapi saat malam pulau terlihat menunjukkan bulan, sangat mirip dengan bulan yang Rinda pandang.
Berlian juga tersenyum melihat keindahan malam, dia tidak ingin pulau ini hancur, tapi ingin mengeluarkan seluruh penghuninya dengan cara apapun.
"Kita kuasai pulau ini, mengubahnya menjadi pulai kita."
"Caranya, kak Lian juga tahu. Sekalipun kita melemparkan bom, mereka akan mengatakan sungguh luar biasa kuasanya, kita memiliki banyak dosa, harus berdoa lebih khusyuk lagi." Tari tertawa bersama Rinda yang punya pemikiran sama.
"Mungkin bisa, kita singkirkan para penjahat di pulau ini, jika otak para penghuni sudah sulit kita ubah, lanjutkan saja pemikiran mereka, tapi dengan syarat memberikan perawatan agar tidak semakin parah." Kai menatap tiga wanita yang menganggukkan kepalanya.
"Kak Kai memang yang terbaik." Rinda memeluk Kai, mencium pipinya gemes.
"Apa nama pulau ini?" Lian menatap bulan yang terlihat di dalam air.
"Putri bulan." Kai meminta persetujuan.
__ADS_1
"Bagus putri, lalu kita di sini tidak kalian anggap." Boy berdiri di depan pintu menatap sinis.
"Emhhh Boy Berlian, Reza Mentari, Kaira Miko, Rinda Maxi. Singkatannya Madamira Rizalibo." Rinda langsung tertawa kuat.
Semuanya mengerutkan kening mendengar nama yang Rinda buat, tapi dari pada urusan panjang tidak penting juga soal nama yang paling penting mereka berhasil menjalankan misi.
Tidak ada lagi perdebatan sekarang tujuan mereka menjadi satu, mengambil alih pulau, menjadi milik Madamira Rizalibo yang akan memberikan kesejahteraan.
"Madamira mount Rizalibo, kita singkat menjadi pulau MMR." Berlian mengulurkan tangannya ingin menyentuh bulan.
"Nama yang indah, MMR." Boy meminta semuanya bersiap untuk pergi.
Mentari meminta semuanya berhenti, melihat ke depan. Beberapa orang berjalan beriringan untuk menuju tempat acara persembahan.
"Ternyata di sana akan cukup ramai?"
"Lebih bagus ramai Tari, kita tidak akan menjadi pusat perhatian."
"Aku dan Beylian akan ikut acara ritual, sedangkan yang lain boleh berpencar, berhati-hatilah, gerbang ini hanya dibuka saat bulan purnama, berarti banyak sekali rahasia." Boy meminta semuanya mengatur pergerakan.
"Reza ingat kamu memiliki partner, jangan keluar seorang diri."
"Iya Boy, aku tahu. Ada patung yang harus aku bawa pulang." Reza langsung melangkah pergi.
"Kak Max, dan kak Miko tolong jaga kedua adikku. Aku percaya kalian bisa diandalkan." Boy menepuk pundak Miko dan Maxi.
Rinda menyerahkan tiga lipstiknya untuk Kai, Lian dan Tari. Reza juga memberikan sebuah penghubung untuk mereka berkomunikasi.
Semuanya melangkah keluar, berpisah di depan pintu. Boy berjalan pelan bersama Lian, menatap malam yang dingin, juga bulan yang sangat terang.
Tangan Boy merangkul Lian, tersenyum menatapnya seakan-akan mereka pasangan yang sangat saling mencintai.
"Lian, berapa usia kamu? sudah siap memiliki anak?"
__ADS_1
"Pastinya lebih muda dari kamu Boy, tentu aku menginginkan anak, setidaknya aku ingin meninggalkan satu keturunan Ayah ibu."
***