BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 MEMILIH DIAM


__ADS_3

Kemarahan Boy terdengar memarahi Lian, kepala Berlian tertunduk sambil tetesan air matanya mengalir. Lian menahan sekuat mungkin air matanya agar berhenti menetes.


Kaira dan Miko keluar, melihat Lian yang masih menggunakan baju basah. Miko menahan Boy meminta Lian menganti baju terlebih dahulu.


"Kita tinggal di kota, lihatlah banyaknya orang yang melihat ke arah sini. Bahkan beberapa rumah depan samping kanan dan kiri berhamburan keluar rumah mendengar dentuman bom. Candaan kalian tidak lucu, memancing perhatian orang. Jangan samakan kehidupan di sini dengan Mansion Chrispeter." Boy menatap tajam.


"Jangan salahkan kak Lian, Rinda yang salah. Kak Lian hanya mengikuti saja, kejahilan Rinda yang berlebihan. Rinda minta maaf." Rinda menundukkan kepalanya menatap Boy.


"Kamu juga sama Rinda, lihat perbuatan kalian berdua. Bagaimana jika orang jantungan lalu mati? Kalian membunuh orang yang tidak bersalah hanya karena kamu penasaran. Berhenti ikut campur dengan rumah tangga orang, urus sendiri rumah tangga kamu!" Boy membentak.


"Maafkan Rinda kak Boy, janji tidak akan mengulanginya lagi, Rinda yang kekanakan. Janji tidak akan ikut campur dengan rumah tangga siapapun." Rinda mengangkat tangannya bersumpah akan berhenti menjahili orang.


Maxi meminta pengawal membawa dua orang yang mengalami serangan jantung, langsung dilarikan ke rumah sakit.


"Jika terjadi sesuatu, kalian berdua membunuh seorang janda yang bertahan hidup untuk anaknya." Maxi menatap tajam Rinda dan Lian.


"Maaf, Lian minta maaf."


"Rinda juga minta maaf."


Kaira mendekati maid, meminta timnya di rumah sakit untuk bersiap. Semuanya pergi untuk menemui orang sekitar yang memaksa untuk masuk, bahkan kepolisian juga datang.


Rinda menghela nafas langsung tertawa bersama Lian, tidak menyangka perbuatan mereka tidak membuahkan hasil apapun, tapi membuat kemarahan yang cukup menyakitkan.


"Maafkan Rinda kak Lian." Rinda melangkah ke kamarnya.


"Tidak perlu minta maaf, kita tanggung bersama. Anggap saja pengalaman, sekarang suasana sudah berbeda, ternyata kita sudah besar sehingga candaan masa kecil berakibat fatal." Lian melambaikan tangannya masuk ke kamarnya.


Berlian langsung mandi, menyentuh dadanya yang merasakan sedih dengan kemarahan Boy. Pembuatan Lian memang salah, tapi rasanya perih mendengarnya.


Air mata Lian menetes langsung cepat membasahi dengan air, bergegas mandi melupakan kejadian yang baru saja menyakitkan karena kesalahannya sendiri.


***


Suasana makan malam hening, Kaira menunjukkan video lucu yang membuat Tari tertawa kuat, tapi tidak bagi Rinda dan Lian yang fokus dengan makanan mereka.


"Rinda, nanti ke kamar Tari ada sesuatu yang ingin Tari ceritakan."


"Hal apa?"


"Nanti saja." Tari tersenyum.


Kaira merasakan canggung tidak mendengar kerusuhan Lian, Rinda. Candaan Tari juga terasa hambar.


Boy diam saja fokus kepada makanan, setelah makan langsung masuk kamar, begitupun dengan Max yang sibuk melihat keadaan maid yang sudah membaik.

__ADS_1


Di kamar Tari ada Rinda, Lian, dan juga Kaira. Tari tersenyum malu-malu menatap Rinda.


"Tari sudah merasakan malam pertama, tapi Reza mengatakan jangan cerita kepada Rinda, berarti boleh cerita kepada Lian dan kak Kai." Tari tersenyum melihat Rinda dan Lian tertidur.


Tari langsung menangis, tidak bisa menghibur Rinda dan Lian yang sedang sedih. Kaira juga merasakan sedihnya.


Kaira melihat Boy menjawab panggilan langsung melangkah pergi, Kai mengejar Boy sambil menangis.


"Kak Boy, bujuk Lian dan Rinda. Rasanya suasana kita canggung, melihat mereka berdua diam begitu." Rinda menghapus air matanya.


"Kak Max, ayo minta maaf. Kai tahu mereka salah, tapi melihat mereka diam Kai merasakan sedih."


"Sudah jangan menangis, nanti kak Max minta maaf." Maxi melangkah ke kamar Tari melihat Rinda tidur.


Boy juga melihat Lian yang nafasnya teratur, langsung menggendongnya pindah kamar.


"Maafkan aku membentak kamu, tidak ada maksud menyakiti." Boy mencium kening Lian, tidur memeluk erat tubuh Lian.


Saat terbangun Boy tidak melihat Lian di atas tempat tidur, langsung cepat mandi menggunakan baju yang sudah Lian siapkan untuk ke kantor.


Di meja sarapan, Lian sudah menyiapkan minuman makanan sarapan.


"Pagi sayang." Boy mencium pipi Lian.


"Hari ini ke kantor?"


"Iya, Lian sudah siap dari pagi."


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Maaf aku tidak ingin menjadi pengganggu, maksudnya tidak ingin menganggu tidur kamu."


"Kamu aku, Boy." Suara tawa Boy terdengar, Lian sudah melangkah pergi menyiapkan beberapa berkas penting.


Rinda tersenyum menatap Lian, ingin mengejutkannya, tapi mengurungkan niatnya.


"Pagi kak Lian?"


"Pagi Rinda."


"Tari jijik mendengarkannya, tidak bisa kalian bersikap seperti biasanya. Jangan mengatakan selamat pagi, langsung saja seperti biasanya."


"Memangnya biasanya kita seperti apa?"


"Lian, sialan kamu ya. Sudah Rinda katakan kamu jangan menyentuh milik Rinda." Tari mengikuti ucapan Rinda.

__ADS_1


"Kamu yang brengsek Rinda, ini punya Lian, memang hanya kamu saja yang memilikinya." Tari juga mengikuti suara Lian.


"Ribut seperti pagi kita yang penuh kehebohan, perdebatan, pertengkaran. Kalian menyebalkan."


"Kita sudah dewasa Tari, berhentilah kekanakan tidak ada yang lucu." Rinda melangkah pergi.


Maxi menghela nafasnya, langsung mengejar Rinda yang ingin pergi kerja. Tangan Rinda ditahan.


"Ada apa kak? Rinda sudah menyiapkan baju, juga sarapan kak Max. Rinda buru-buru karena ada pekerjaan penting."


"Kita pergi satu mobil."


"Maaf kak, Rinda harus pergi sendiri." Rinda menundukkan kepalanya melangkah masuk ke dalam mobil.


Maxi menarik Rinda keluar mobil, langsung mengunci mobil menyita kuncinya.


"Jika menolak satu mobil, maka jangan pergi."


"Iya maaf, Rinda tunggu kak Max untuk pergi bersama."


Maxi langsung berlutut, menatap Rinda yang duduk memalingkan wajahnya.


"Maaf ucapan kak Max kemarin menyingung."


"Tidak Rinda memang salah, sudah janji tidak mengulanginya lagi."


"Rinda ini bukan kamu, Kamu wanita yang menggemaskan bukan bersikap dingin seperti ini."


"Kak Max tahu apa soal Rinda? kak Max ingin dewasa tidak kekanakan. Beginilah Rinda yang dewasa, tidak ada canda tawa lagi." Rinda melihat jam tangannya.


"Rinda, tatap mata kak Max."


Rinda langsung menatap tajam Max, sekuatnya Rinda menahan air matanya. Max menakup wajah Rinda mencium kedua mata Rinda.


"Dewasa bukan harus menjadi orang lain, kamu harus menjadi diri sendiri yang ceria, heboh, selalu tertawa, penuh semangat, jahil, lucu. Dewasa bukan mengubah karakter, tapi memahami keadaan, kak Max marah juga karena mengkhawatirkan Rinda. Bagaimana jika memang ada ledakan? terus kamu yang terluka. Rinda harus bisa membedakan tempat, situasi yang tidak menyakiti orang lain, terutama diri kamu sendiri."


"Maaf, Rinda terbiasa mengetahui apapun yang Rinda inginkan."


"Iya, kak Max mengerti. Maafkan kak Max yang berbicara kasar, kak Max marah demi kebaikan kamu, tapi kak Max lupa menjaga perasaan Rinda." Maxi memeluk lembut Rinda.


"Maafkan Rinda, tapi jujur Rinda penasaran sekali kak Lian sama Tari pasti sudah malam pertama, kemarin mereka jalannya tidak normal, pasti ada sesuatu. Rinda harus mencari tahu." Rinda mengerutkan keningnya sedang berpikir.


Maxi menepuk jidat, dalam diam saja otak Rinda masih memikirkan hal yang dia ingin ketahui.


***

__ADS_1


__ADS_2