
Mobil tiba di hotel, Boy langsung keluar mengucapkan terima kasih, berdiri menunggu yang lainnya. Rinda turun langsung mendekati Boy, begitu juga yang lainnya.
Mobil Kaira dan Maxi terlambat datang, masih mengambil identitas yang Boy inginkan. Tidak begitu lama, mobil Kai sampai.
Kaira memberikan identitas surat keterangan menikah, juga banyak surat penting lainnya. Reza tersenyum langsung memeluk pinggang Tari untuk memesan kamar.
Lian menatap sinis melihat Reza, tapi Lian yakin Mentari bisa menjaga diri. Miko memesan empat kamar, Reza dengan santainya mencium leher Mentari.
Boy menatap sinis, melarang akan menjadi pusat perhatian. Akhirnya membiarkan Reza yang sudah berjalan romantis dengan Tari.
"Kak Reza sengaja memanasi kita, dasar jahil tidak punya kerjaan. Mentari juga polos banget mengikuti keinginan Reza." Kai menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja Kai, Mentari hamil Reza pasti akan bertanggung jawab. Semua keputusan ada pada mereka berdua, berlaku untuk kalian berdua juga penjaga terbaik bukan pengawal, tapi diri kalian sendiri." Boy menatap kedua adiknya.
"Boy seharusnya kamu yang lebih berhati-hati, jangan terjatuh ke lubang yang sama. Berlian mempunyai pesona, banyak lelaki mengaguminya, kamu bisa menjadi salah satunya." Rinda tersenyum melihat Kaka tertuanya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.
"Selama Berlian tidak menolak, mustahil aku berhenti." Boy menatap Lian yang menatap sinis.
Boy tersenyum Berlian memang wanita yang berbeda, tidak mudah ditaklukkan, kesalahan Berlian hanya satu memaksa untuk menjadi pengawalnya.
Lift berhenti, Boy langsung keluar menuju kamarnya yang lain juga sudah masuk kamar masing-masing. Berlian mengikuti Boy langsung masuk.
Tidak ada yang banyak berbicara, Berlian langsung mandi, sedangkan Boy menunggu sambil memainkan laptopnya mencari beberapa hal penting.
Berlian sudah berganti baju melihat Boy yang fokus, Lian juga mengambil ponselnya duduk di atas ranjang melihat keadaan hotel yang mungkin dalam pengawasan.
Boy menutup laptopnya, langsung mencari Berlian yang sedang fokus. Boy mengabaikan langsung mandi menikmati wanginya bunga mawar.
Cukup lama Boy di kamar mandi, Berlian mengetuk pintu meminta Boy cepat keluar dia ingin buang air kecil.
Pintu kamar mandi tidak terkunci, Berlian masuk melihat Boy yang tidur sambil mengorok. Lian langsung buang air kecil berharap Boy tidak terbangun.
__ADS_1
"Kamu tidak takut satu ruangan dengan seorang lelaki?" Boy tidak membuka matanya.
"Jangan membuka mata, aku sudah tidak tahan. Sebentar saja." Lian menahan malu, melihat wajah Boy yang tenang.
Ponsel Boy berdering langsung diangkatnya, Boy membuka matanya, tatapan langsung tajam, pembicara penting keduanya lakukan, Lian melangkah pelan ingin pergi. Boy menatap Lian yang berdiri di depannya, jari tangan Boy meminta Lian mendekat, dengan terpaksa Lian mendekat.
Suara bisikan Boy mengagetkan Lian, meminta Lian mandi bersamanya hanya kurang dari lima menit, ada sesuatu yang harus Boy pastikan.
Lian menolak tidak ingin membuka bajunya, Boy tidak memaksa meminta Lian keluar hanya dengan gerakan tubuhnya.
[Kenapa aku harus berbohong? kamu bukan wanita satu-satunya yang penting. Hilang kamu banyak penggantiannya, tunggu saja aku bisa menghancurkan kalian.]
[Nada kamu saja yang selalu mengancam, buktinya kamu tidak mungkin berani menyakiti aku, tidak mungkin sanggup membuat aku terluka. Perlihatkan wanita yang bisa mengantikan aku disisi kamu.]
Panggilan mati, berpindah menjadi panggilan video. Suara tawa mengejek terdengar, Boy menatap tajam. Lian memasukkan kakinya ke dalam bathtub, Boy langsung merinding tegang melihat Lian mandi bersama, Lian mendekat memeluk erat tubuh Boy.
Tangan Lian menyentuh dada, langsung mengambil ponsel Boy menyapa wanita yang sudah menatapnya tajam, suara caci maki terdengar.
[Kamu pasti wanita malam, Boy membayar kamu berapa?]
Berlian melihat Boy yang memejamkan matanya, memijit pelipisnya. Mata Boy terbuka melihat Lian yang juga malu.
"Terima kasih pakai baju kamu sekarang." Boy menutup matanya, barulah Lian keluar memakai bajunya.
Boy menarik nafas panjang, melihat Berlian berlari ke luar kamar mandi. Senyum juga terlihat dari bibir Boy merasakan tubuh Berlian.
Selesai mandi Boy langsung menatap Berlian yang kembali sibuk dengan ponselnya, sebuah handuk melayang di wajah Berlian, melihat Boy yang melipat kedua tangannya.
"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu?" Boy duduk di meja rias.
"Tidak, jika tuan ingin bercerita langsung saja, saya tidak punya hak untuk bertanya." Berlian tersenyum melihat Boy.
__ADS_1
"Dia dulunya aku tolong dari kejaran para lelaki bejat, membiarkannya berdiri di sisiku, mengikuti setiap langkah. Aku terlalu nyaman, tapi akhirnya dia berkhianat, menghancurkan Bisnisku demi lelaki baru, lebih buruknya lagi, mereka melakukan kejahatan menggunakan nama besar aku." Boy menatap Berlian yang fokus.
"Berarti tujuan sebenarnya ingin menghancurkan mereka, berarti mereka ada di sini?"
"Bukan hanya menghancurkan, tapi merebut kembali. Dalam bisnis tidak semuanya sesuai peraturan, jiak mengikuti peraturan, kita akan terlempar jauh, bahkan bisa saja tidak terlihat kehadirannya." Senyum Boy terlihat, Lian melihat hal lain dari mata Boy.
"Berat ya tuan, menjaga dua nama besar Keluarga Chrispeter dan Arnold, jika berat tuan harus menyimpulkan menjadi satu." Berlian tersenyum melihat tuanya.
"Dari mana kamu tahu Lian? semua orang selalu bertanya apa kamu mencintai dia? aku selalu menjawab iya, tapi kenapa kamu berpikir aku dilema dalam dua keluarga." Boy melangkah mendekati Lian.
"Di mata Tuan tidak ada cinta, hanya terlihat ingin kuat berdiri sendiri. Saya sudah bertemu banyak jenis orang tuan, hidup tanpa orang tua mengajar Lian hidup keras memahami keadaan, jika Lian tidak memahami diri sendiri, maka Lian tidak bisa memahami orang lain."
"Kamu benar, aku tidak mencintainya. Hanya saja aku terlalu berat menyembunyikan identitas keluarga, jika seorang pembisnis muda membawa dua nama keluarga besar, terlalu berbahaya, musuh dua keluarga tidak akan pernah berakhir." Boy menundukkan kepalanya.
"Simpulkan menjadi satu, jangan hanya berdiri di persimpangan menunggu musuh datang."
"Menyimpulkan? bagaimana caranya Lian?" Boy menatap ke dalam mata Lian.
"Tuan mempercayai Lian, tapi jawabannya tidak, tuan tidak memiliki orang kepercayaan. Lian benarkan tuan? sebenarnya inilah masalah tuan." Lian tersenyum.
"Aku tidak punya takut, aku memang tidak bisa mempercayai siapapun, bagi aku orang terdekat musuh terkuat." Boy melihat ke arah jendela kamar.
"Bulan kesepian tuan jika tidak ada bintang, padahal mereka berbeda, tapi bisa saling mendampingi. Biarkan orang yang berkhianat berada di sisi kita, dia bisa tahu kelemahan kita, menghisap darah kita, tapi tidak tahu sebesar apa kekuatan kita."
Boy tersenyum mendengar ucapan Lian, gadis kecil yang cerdas. Pertama kalinya Boy melihat kejujuran yang tulus.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
BELUM SEMPAT REVISI MAAFKAN KESALAHAN TULISAN.
***