BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 RUMAH SINGGAH


__ADS_3

Boy melangkah masuk ke dalam ruangan, tersenyum menatap seluruh keluarga mendekati kakeknya langsung memeluk Haikal.


"Sudah selesai mengetes kami, sudah saat kami menangkap mereka." Boy melangkah mundur, mengedipkan matanya kepada Bunga.


"Dasar cucu genit, kamu mirip Ayah kamu tidak jelas." Bunga tertawa melihat Bara yang memeluk Bianka.


Maxi sudah duduk di dalam mobil, Rinda juga masuk mencubit lengan Max. Rinda tersenyum menatap Max yang sedang tegang.


"Kenapa kamu tersenyum Rin?" Max mengusap wajah Rinda.


"Kak Max mengkhawatirkan mereka yang sangat kuat, karena kak Max pasti mengenali mereka."


"Aku mengkhawatirkan karena harus bertarung lagi bersama kamu, Lian, Kai juga Tari. Rinda wanita yang kak Max cintai sedangkan Lian, Tari juga Kai adik yang kak Max didik juga sayangi, kak Max orang pertama yang melihat mereka mengangkat pedang juga senjata sampai mereka besar seperti sekarang."


"Kak Max cukup menjaga Rinda, Lian ada kak Boy, Tari ada kak Reza, kak Kai juga dijaga oleh kak Miko yang tangguh. Jaga Rinda saja." Rinda mencium pipi Max.


Kaira yang duduk di belakang bersama, Tari dan Lian menatap tajam. Rinda ingin menguasai Max seorang diri.


"Rinda kamu tidak punya etika, kamu pikir kita tidak terlihat." Lian menatap tajam.


Maxi kaget melihat yang lainnya ada di belakang dengan tatapan kesal, Maxi tersenyum melihat Lian dan Rinda saling tatap.


"Seharusnya kamu mengatakan agar kak Max berhati-hati, jangan sampai terluka agar bisa melindungi kita semua." Kaira menggelengkan kepalanya.


"Rinda juga tahu, tapi ucapan seperti itu sudah basi. Rinda ingin terlihat berbeda, anggap saja kita romantis sambil bertualang, pulangnya dapat bonus menikah." Rinda tersenyum menggoda Maxi.


"Kamu menikah dapat nomor urut terakhir Rinda."


"Kenapa? Rinda yang mempunyai rencana menikah lebih dulu. Saingan terkuat hanya kak Boy dan Lian, sedangkan kak Kei pacar juga belum punya, sedangkan Tari akur juga belum." Rinda langsung teriak, mendapatkan pukulan dari Kaira.


"Sudah jangan berdebat, kita semua akan menikah jika sudah waktunya." Max menghentikan Rinda.


Boy melangkah mendekati Reza dan Miko, berbicara sebentar melangkah bersama masuk ke dalam mobil.


"Kak kita kembali ke Mansion, mengambil mobil masing-masing." Reza duduk di belakang sekali menghidupkan tabletnya.


Maxi menjalankan mobil, melaju menuju Mansion Chrispeter. Sepanjang perjalanan Reza menghidupkan drone melihat situasi.


Boy memilih untuk memejamkan matanya, Lian meletakan kepalanya di dada Boy yang langsung memeluk pinggang Lian.


Tari melihat ke arah Kai yang tidur di pundak Miko yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Tari melihat Reza di belakang melalui kaca.


Rinda menahan tawa melihat Tari, langsung menyandarkan kepala ke belakang memejamkan matanya.


"Kapan misi di mulai?"

__ADS_1


"Jangan terburu-buru Za, kita santai saja mereka tidak akan pergi jauh pasti akan mencari kesempatan untuk menyakiti kita." Boy menatap Lian mengusap wajahnya.


"Berapa jam lagi kita sampai kak Max?"


"Sebentar lagi."


"Tiga jam lagi kak Max." Reza menutup tabletnya.


"Kita sebaiknya tidak kembali ke Mansion, di sana tempat paling aman, juga sulit di sentuh, tetapi alasan para keluarga keluar karena mengamankan mansion, walaupun para penjaga terlatih."


"Aku juga binggung kenapa tinggal di villa, padahal mansion sampai detik ini belum berhasil di sentuh." Miko menatap Reza.


"Jadi sekarang kita ke mana?"


"Rumah singgah, aku dan Miko pernah tinggal di sini." Maxi melajukan mobilnya masuk ke dalam ruangan yang banyak mobilnya.


Reza tersenyum ternyata Maxi hebat juga, memiliki banyak mobil keren. Beberapa orang keluar membukakan Max pintu.


"Selamat datang Tuan Max, tuan Miko."


Boy langsung menggendong Lian untuk keluar mobil, meminta kamar yang langsung diantar oleh bawahan Max, Kai juga sudah digendong oleh Miko menuju kamarnya.


Maxi membukakan pintu untuk Rinda, senyuman Rinda terlihat minta digendong, Max langsung menyambut tangan Rinda memintanya untuk berjalan, Rinda langsung keluar lompat ke punggung Maxi membuat bawahan Max saling tatap.


Tari keluar dari mobil, langsung melangkah masuk mengabaikan Reza yang berniat ingin menyapa.


Mentari langsung melewati Maxi masuk ke dalam kamar membanting pintu, Max menghela nafasnya.


"Rinda dan Reza bertengkar lagi kak?"


"Entahlah, nanti kak Max yang bicara." Maxi melangkah masuk kamarnya.


Rinda melihat kamar Max yang sangat rapi, banyaknya teknologi modern juga. Rinda langsung lompat ke atas ranjang meminta Max tidur bersamanya.


"Rinda kamu tidak takut, bagaimanapun kak Max pria dewasa?"


"Rinda tidak takut karena kak Max tidak mungkin menyakiti Rinda, walaupun tidak cinta." Rinda langsung membuka jaketnya, melangkah ke kamar mandi.


Maxi tersenyum melangkah ke luar, bertemu dengan Reza mempertanyakan kamar Tari. Max menunjukkan kamar Tari yang sudah lama ditinggalkan.


Reza langsung masuk melihat Mentari memeluk bantal guling, menyembunyikan wajahnya.


Senyuman Reza terlihat, membuka bajunya meminta Tari membersihkan luka tembak, Reza menarik tangan Tari yang langsung memukulinya.


"AW sakit."

__ADS_1


"Sana pergi Tari ingin tidur." Mentari mendorong Reza menjauh.


Reza langsung masuk kamar mandi, membersihkan tubuhnya, membuka perlahan luka dipunggung.


Tari berdiri di depan pintu, melihat Reza meringis membuka jahitan.


"Kenapa dibuka?" Tari menahan tangan Reza.


Tangan Reza langsung melingkar di pinggang Tari, mencium bibirnya. Belum banyak hal yang mereka berdua bicarakan sudah mendapatkan perintah untuk kembali.


"Maafkan aku Tari, jangan ngambek seperti ini jika kamu menginginkan sesuatu katakan, aku tidak mengerti jika kamu diam saja."


"Tidak peka."


"Anggap saja aku memang tidak peka, jadi kamu harus bicara hal yang tidak kamu suka dari tindakan aku." Reza mencium kening Tari.


"Cepat keluar, Tari bantu mengobati lukanya." Tari tersenyum melepaskan pelukan Reza langsung melangkah keluar.


Reza melangkah mengikuti Tari duduk di kursi, Reza menanyakan alasan Mentari tidak menemui Nando.


"Kenapa kamu memilih aku sedangkan Nando pengobat luka?"


"Cinta bisa berubah hanya karena rasa nyaman, tapi sebuah rasa bisa membedakan nyaman sebagai pasangan atau saudara. Tari ingin menyelamatkan kak Nando, juga kak Miko. Sepanjang perjalanan Tari merasa bersalah untuk kak Miko, tapi saat mengingat tuan terluka langsung fokusnya langsung ke Reza, lupa kak Nando dan kak Mik."


"Kenapa menjadi yang terakhir kamu ingat?"


"Bersyukur saja masih diingat, walaupun terakhir tapi diutamakan."


Reza tertawa, mencium pipi Tari gemes, Lian langsung melemparkan sepatunya kesal melihat Reza dan Tari.


"Jijik, Lian jijik melihat kalian."


"Syirik, di mana Boy?"


"Ada di dalam sepatu, mana tahu setelah mendapatkan ciuman dia menghilang dasar lelaki buaya buntung." Lian melipat kedua tangannya.


"Makanya selesai di cium peluk, jadinya enak langsung tidur tidak mungkin kabur lagi." Reza tertawa menatap Lian yang sedang kesal.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2