
Mobil Boy tiba di rumah bersamaan dengan mobil Maxi yang memasuki parkiran, Max kaget melihat Boy berkeringat ketakutan.
"Dari mana Boy?"
"Biasalah apartemen berhantu." Boy membuka pintu untuk Lian.
Maxi tersenyum langsung menggendong Rinda yang masih tidur.
"Kak Max kenapa pulang?"
"Biasalah Rinda marah, kamar yang biasanya aku gunakan di hotel dihias seperti kamar pengantin, karena kesalahan pelayan."
"Rinda pasti marah karena kak Max tidak berniat memberikan kamar romantis." Boy tersenyum menatap adik kecilnya yang pemarah, jahil selalu membuat masalah.
Boy menatap Lian yang ternyata juga sedang tidur, langsung menggendongnya menuju kamar mereka.
Reza yang terbangun tengah malam menatap Boy dan Max yang baru pulang, menatap baju Lian yang hanya menggunakan kemeja Boy, senyuman Reza langsung terlihat.
"Besok ada gosip hangat." Reza melangkah kembali ke kamarnya, menatap Tari yang sedang ngambek karena handphonenya disita.
Boy langsung mandi, menyegarkan tubuhnya barulah tidur memeluk Lian.
***
Suasana pagi yang cerah, dua wanita duduk manis di ruang tamu mengawasi dua kamar yang belum juga terbuka.
Satu keranjang buah-buahan sudah habis, dua gelas susu lenyap.
"Kamu yakin Tari mereka sudah pulang?"
"Sangat yakin, mobil kak Boy dan kak Max sudah ada di parkiran." Tari mengunyah roti.
"Mereka tidak lapar?" Kaira menatap jam sudah menunjukkan jam makan siang.
Pintu kamar Boy terbuka, Berlian melangkah ke luar. Rambutnya masih basah, melangkah perlahan menuruni tangga karena masih merasakan sakit.
Tari menatap tajam, memperhatikan Lian yang langsung melangkah ke tempat makan.
"Kak Lian, kenapa pulangnya malam sekali?" Tari duduk di samping Lian yang megambil piring.
"Nanti Lian ceritakan, sekarang harus makan dulu jika tidak bisa mati."
"Kak Boy tidak memberikan makan?"
"Tidak, dari kemarin siang."
"Kuat juga tenaga kalian?" Kaira tertawa kecil, duduk di depan Lian yang sudah makan.
Langkah kaki Rinda terdengar membuka kulkas, langsung menatap tajam Tari yang sedang menyedot susu kotak.
"Tari sialan, ini punya Rinda." Susu langsung tumpah, Rinda memungut kembali meletakan dalam gelas.
"Baru juga meminumnya sedikit."
"Dasar pencuri."
"Tari sudah izin kak Reza, menunggu kamu lama sekali."
"Kak Reza matamu, ini punya Rinda bukan punya kak Reza. Sekali pencuri tetap saja pencuri."
__ADS_1
"Diam, biarkan Lian makan dengan tenang. Lian lapar!"
Rinda menghabiskan susunya, mengambil roti langsung mengolesi dengan coklat.
"Rinda makan pelan-pelan saja. Kamu juga kenapa pulangnya hampir subuh."
"Ais, sialan Rinda malam pertama di atas bunga mawar milik pengantin lain. Pelayan hotel menghias kamar kak Max, jadinya pengantin wanita minta Rinda dan kak Max keluar, jika tidak mereka akan bercerai." Rinda memukul meja kesal.
"Pasti kak Max mengalah."
Rinda langsung tertawa, Lian langsung menatap Rinda yang terlihat aneh.
"Kenapa kalian berdua tidak bekerja?"
"Apalagi, kita menunggu cerita malam pertama?"
"Tari!" Rinda langsung berdiri melotot.
Mentari langsung berlari saat pisau daging melayang, Reza langsung menangkap menatap Rinda yang sudah duduk diam.
"Rinda kamu ingin membuat aku menjadi duda?"
"Tari sialan, dia mengatakan malam pertama enaknya tiada duanya."
"Iya, Lian juga kesal. Katanya tidak sakit, tapi nyatanya sakit sekali." Lian mengarahkan pisau ke Tari.
"Bukan Tari yang mengirimkannya, tapi aku?" Reza tertawa langsung melangkah pergi.
"Reza!" Lian dan Rinda teriak kuat.
Reza melambaikan tangannya melangkah pergi, melewati Boy dan Max yang kebingungan.
"Kalian berdua harus berterima kasih kepada Reza, jika tidak kalian sampai tua tidak merasakan surga dunia."
Boy tersenyum berjalan bersama Reza dan Max masuk ke dalam laboratorium, Miko sudah sejak pagi di dalamnya meneliti sesuatu.
"Apa ini kak Miko?"
"Embrio." Miko menatap tajam ke arah benda kecil.
Maxi langsung menarik Miko, menatapnya tajam.
"Apa yang kamu lakukan pada Kaira?"
"Maxi gila, ini bukan milik kami."
"Lalu milik siapa ini?" Reza tidak mengerti apapun.
"Pengawal pribadi putraku." Miko tertawa.
Boy melihat ada tiga lainnya, menatap Miko dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Dari mana kamu mendapatkan ini kak Miko?"
"Siapa yang akan mengandungnya?" Maxi menatap tajam.
Miko tertawa kuat, menatap Maxi dan Boy panik. Langsung menekan sebuah tombol menghancurkan embrio menjadi butiran obat-obatan.
"Miko."
__ADS_1
"Obat penyubur kandungan yang sedang diuji, aku juga masih binggung kenapa saat gelap mereka berbentuk embrio kecil, tapi saat hidup langsung hancur."
"Reza pikir ini hanyalah penarik saja kak, ada penyalahgunaan. Minta tim lain saja yang mengujinya."
"Aku juga berencana mengirim ke lab Chrispeter untuk diteliti lebih lanjut, tapi aku berharap obat berbahaya ini jangan sampai diperdagangkan."
"Melihat obat ini mengingatkan Reza dengan cerita nenek Dara, saat kakek Roy marah besar pernah memberikan obat ini sampai nenek mengalami perdarahan."
"Kamu benar Za, sebaiknya jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab."
Boy keluar bersama yang lainnya, melihat empat wanita sedang duduk sambil tertawa.
Berlian tertawa kuat menceritakan apartemen berhantu milik Boy, saat jam satu lewat angin kencang datang, seluruh lampu mati, suara tertawa anak-anak terdengar, suara high heels menggema.
"Ihh serem, kak Lian jangan bercanda." Tari teriak memeluk Kaira.
"Lian tidak bohong, tanya kak Boy. Saat pintu kak Boy tutup seperti bangunan runtuh, suara keributan terdengar."
"Kaira percaya, karena alasan ini kak Boy selalu pulang ke Mansion."
"Rinda jadinya penasaran, bagaimana jika kita uji nyali ke sana?"
"Jangan konyol Rinda, kamu tidak tahu betapa seramnya." Boy duduk memeluk pinggang Lian.
"Reza juga penasaran, malam ini kita semua ke sana?" Reza menatap Miko dan Maxi.
Semuanya mengangguk kepalanya mengikuti saran Reza, mereka akan uji nyali di apartemen Boy yang dikenal paling menakutkan.
"Jika sampai terbukti benar bagaimana kak Boy?"
"Aku akan menutup selamanya apartemen itu?"
"Sejak kapan apartemen itu berhantu kak?" Rinda menatap Boy yang sedang berpikir.
"Sejak awal, saat pertama Boy membeli bangunan lantai paling atas sudah dikosongkan."
"Pasti ada sejarah, Rinda ingin berbicara dengan mereka."
"Gila kamu Rinda, cukup bicara dengan binatang saja." Kaira menyentuh kening Rinda.
"Seseorang datang ke dalam mimpi Rinda, dia berdiri di pojokan kamar sampai akhirnya Rinda bangun dia masih ada di sana." Rinda menatap kamarnya.
"Rinda!." Semuanya teriak kuat ketakutan melihat ke arah pintu kamar Rinda.
Maxi langsung menyentuh tangan Rinda, langsung panas dingin merasakan cemas.
"Kalian tidak percaya?"
Semuanya menggelengkan kepala, Rinda menghela nafasnya memijit pelipisnya.
"Sayang, bagaimana kita mengusirnya?" Max langsung pucat.
"Kita harus pindah Mansion sekarang juga." Boy merinding ngeri.
"Tari setuju dengan kak Boy."
"Kak Boy yang membawa mereka ke sini." Reza menatap sinis.
"Rinda hanya bercanda." Rinda langsung tertawa, melihat semuanya melotot tajam.
__ADS_1
***