
Bianka melemparkan sebuah belati, Bunga cukup kaget melihat Bi yang bisa-bisa melepaskan senjata tajam di depan putranya. Boy yang sangat aktif dan nakal menangkap arah belati Bianka yang tertancap di sebuah apel, tangan Boy ingin menggapai belati Bundanya.
Tatapan mata Boy mirip Bara yang pecicilan, jahil tapi jika marah langsung gelap dan menakutkan. Mulut Boy mengaga melihat ayahnya yang pulang dengan keadaan kacau, Bi sudah teriak marah. Tawa Boy langsung terdengar mengikuti kedua orangtuanya yang naik ke lantai atas.
"Boy nanti saat besar jangan ikuti tingkah Bunda dan ayah kamu, harus menjadi anak yang lembut,baik dan penuh kasih sayang."
Boy nyegir memegang mulut Bunga yang menceramahi, Haikal pulang dan langsung menggendong Boy yang sudah mengerakan kakinya dengan lincah.
"Kaki kamu sangat kuat, nanti saat besar kamu harus jadi pesepakbola."
Tawa Boy terdengar, tangannya menjambak rambut Haikal, Bunga sudah tertawa memegang perutnya. Teriakan Haikal yang seakan mendapatkan buli terdengar oleh Bunga dan cepat turun ke bawah, diambil Boy dari gendongan langsung pindah ke gendongan Bianka.
"Maaf ayah," Bi nyegir, sedangkan Bunda Bunga tidak berhenti tertawa.
"Awet muda ya Bunda, menertawakan suami." Haikal kesal langsung melangkah masuk ke kamar.
"Salah sendiri, sudah tahu Boy tidak suka bau keringat. Dia langsung main gendong saja." Bunga mencium Boy langsung melangkah menemui Haikal yang sedang ngambek.
Bianka menatap Boy yang sedang nyegir menunjuk susu, bibirnya juga monyong memegang dada Bi.
"Mau tu tu?" Bianka menatap putranya, melangkah menuju kamarnya, sambil mulut Boy terus mengoceh tu tu.
Bara baru selesai mandi, mencium Bi dan Boy bergiliran. Bianka langsung duduk di sofa dan menyusui bocah nakal.
"Kenapa kamu berlari ke bawah tadi sayang?"
"Biasalah, Boy menjambak ayah, Bunda hanya menertawakan."
"Pasti ayah Haikal bau keringat, Boy tidak suka. Makanya ayah langsung mandi ya nak, biar bisa cium kamu." Bara mencium pipi Boy, tapi ditonjok karena menyentuh susu yang sedang Boy sedot.
Bianka tertawa, melihat Bara meringis merasakan matanya sakit, Bi mencium mata Bara agar cepat sembuhnya.
"Dasar pelit, ini punya ayah, ini juga ini, ini,ini." Bara menunjuk kedua dada Bi, mencabut yang sedang Boy minum, seluruh tubuh Bi ditunjuk.
"Bara!" Bianka kesal, melihat Bara yang kekanakan harus bertengkar dengan putranya hanya untuk berebut.
"Tapi semua yang ada di tubuh Bunda punya ayah, Boy hanya meminjam."
Bianka kesal sekali melihat wajah Bara yang cemberut, syukurnya putra mereka tidak cengeng. Hanya saja tatapan marahnya terhadap Bara seakan menyimpan dendam.
"Bagaimana soal persiapan pernikahan Asep?"
__ADS_1
"Seperti itulah, proses panjang karena Asep sedang pergi melaksanakan misi yang Daddy berikan. Setelah kembali baru menikah, jika tidak kembali berarti batal menikah."
"Reva diam saja?"
"Ngambek, dia ingin ikut Asep tapi Daddy melarang dengan ancaman akan melarang pernikahan. Sebenarnya Asep ini pengawal aku atau Daddy roy?" Bara mendadak kesal karena harus mencari pengawal pribadi.
"Minta kedua paman kembali, mereka bisa dipercaya."
"Paman dua? pengawal Boy?"
"Iya paman Ahlam, dia baru saja menikah kita bisa membawa mereka ke Mansion, untuk sementara biarkan Paman menemani Kaka."
"benar juga, tapi sebaiknya pisah rumah sayang, istrinya wanita biasa dan tidak mengerti tentang kehidupan kita."
"Siapa yang mengatakan jika dia tidak mengerti, istri paman Ahlam mantan asisten di kediaman pembunuh bayaran."
Bara akhirnya menurunkan perintah untuk menarik paman Ahlam, mengawalnya mengantikan Asep yang akan menjadi menantu Chrispeter. Sudah diputuskan jika keturunan paman Ahlam yang akan mengawal Boy Chrispeter Arnold di masa depan.
***
Para girls cukup terkejut melihat dua bocah remaja yang dilatih untuk mengawal keturunan Chrispeter ternyata masih remaja. Maxi dan Miko membunuh orang tuanya sama mereka berusia 12tahun. Bi mendekati dua bocah yang tidak terlihat mirip, Maxi jauh lebih menakutkan.
"Yang mana Maxi yang mana Miko?" Kei juga mendekat dan menatap wajah dua anak remaja berusia 15tahun.
"Aku Miko, sahabat Maxi. Kita memang tidak bersaudara tapi kami bersatu melebihi saudara."
"Kenapa kalian membunuh?" Reva mengulangi pertanyaan Bianka.
"Apa kalian keluarga Chrispeter tidak pernah membunuh? Maxi menatap Reva tajam, membuat Rindu dan Reva saling tatap.
Rindu langsung mengeluarkan sebuah jarum, mendekati Maxi dan memegang erat tangannya.
"Jangan coba menantang melalui mata bocah tengil, kami dengan mudah bisa membunuh kamu." Rindu menancapkan jarum beracun membuat tubuh Maxi melemah.
Miko langsung menyerang Rindu, pertarungan sengit terjadi. Keributan yang terdengar membuat banyak orang berkumpul, kehebatan Rindu dalam beladiri bisa diimbangi oleh Miko yang masih muda.
Dengan sekali tendangan berputar, Miko terpental. Rindu yang sudah terpancing mengeluarkan belati beracun tapi Maxi berhasil berdiri melindungi Miko, dua remaja bertarung melawan Rindu.
Bara mendekati dan mengagumi kehebatan Miko dan juga Maxi yang sedang dalam pengaruh racun ditubuhnya.
"Pertama, kalian berdua tidak akan mampu menyakiti Rindu, dan yang kedua kalian kehabisan waktu untuk menyelamatkan Maxi, pada akhirnya kalian tetap akan berujung kalah." Reva tertawa melihat Maxi yang sudah mundur, Miko juga sudah berhenti menyerang, mengusap darah yang berada di bibirnya.
__ADS_1
"Maxi, tenanglah aku akan menyelamatkan kamu?"
"Berikan penawarannya, aku berjanji akan menurut." Rindu melemparkan sebuah botol kecil, Maxi langsung meminumnya dan berdiri dibantu oleh Miko.
"Miko, selain belajar beladiri kamu juga mempunyai tugas penting mengawal seseorang." Bianka mendekat dan mengelap darah.
"Aku belum wajib bertugas, karena aku masih butuh pelatihan."
"Lindungi Keisya, juga kandungannya dari segala bahaya. Ikuti Kei ke manapun dia pergi. Tugas kamu di mulai sejak mereka dalam kandungan."
"Lalu Maxi?" Miko menatap Maxi yang tatapannya sangat gelap.
"Dia juga akan memiliki tugas, menemukan seseorang." Bianka tersenyum, Maxi binggung dengan tatapan Bi.
Paman Ahlan juga datang meminta maaf akan sikap lancang Miko dan Maxi. Keduanya langsung diminta pergi, paman Ahlan menatap Bi sambil memberikan hormat.
"Mereka sangat kuat paman, uji coba pertarungan yang cukup kuat biasa. Mereka bisa mengimbangi Rindu."
"Mereka memiliki kelemahan." Rindu menatap paman Ahlan sebagai pelatih.
"Nona Rindu benar, Maxi tidak bisa mengendalikan emosinya, sedangkan Miko membabi-buta tanpa sadar."
"Mereka lebih mirip kanibal versi ganteng, masih muda tapi kejiwaannya sudah terganggu."
"Mental mereka sedang terguncang, butuh pelatihan ekstra. Tidak mungkin keduanya masuk penjara Chrispeter jika aparat keamanan bisa mengendalikannya." Kei bisa melihat dari tatapan keduanya.
"Mereka bukan kanibal tapi psikopat muda." Bi tertawa melihat bocah tampan, tapi kehidupannya sangat keras sehingga menjadi pembunuh berantai. Kekejaman Miko dan Maxi saat melakukan pembantaian, sampai membuat tulang belulang remuk, mengeringkan darah, menghancurkan tubuh.
Kei merasakan iba melihat kondisi kedua remaja, yang otaknya sudah dipenuhi oleh kasus pembantaian. Seharusnya mereka hidup bebas dan sedang asik bermain tapi kenyataan harus terjun dalam kegelapan.
"Ubah cara pikir mereka paman, tidak ada gunanya dia hebat beladiri, jika di dalam hatinya tersimpan kebencian, dendam, dan amarah." Reva akan turun langsung mengajari keduanya, tentang dunia yang sebenarnya terang dan penuh kebahagiaan.
"Aku setuju dengan Reva, hadirnya mereka bukan untuk membantu para Chrispeter untuk berperang, tapi untuk menegakkan kebenaran dan menikmati hidup." Ucap Bi tegas.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1