
Rindu sudah mengerakkan keamanan sampai rumah sakit, Reva yang mengendalikan keadaan di rumah sakit, Kei juga sudah menyiapkan para Dokter untuk bersiap.
Setelah kebodohan yang terjadi di rumah, Bi masuk mobil bersama Bara juga Bunda dan Mama Kia. Asep yang membawa mobil, kecepatan Asep juga sangat tinggi tapi terlihat sangat lihai mengendalikan mobil.
"Bi, kalau sakit bilang ya?" Mama menatap Bi yang terlihat kesal.
"Bisa tidak Bara dilempar saja keluar." Bi kesal melihat suaminya yang gemetaran, mandi keringat.
"Ayah kamu lebih parah dulunya Bi, dia hampir pingsan karena ketakutan. Satu-satunya lelaki yang tenang hanya Papa Akbar."
"Wajar Bun, Papa Dokter sedangkan Bara seorang Mafia." Bara bicara sambil gemetaran, melihat baju bawah Bi yang sudah basah.
"Bangga sekali kamu menjadi seorang Mafia,"
"Bukan bangga sayang, mental aku tidak sekuat Papa."
Bi menatap sinis, membuat anak bisa, tapi belum lahir saja Bara sudah mirip orang habis berolahraga, nafasnya ngos-ngosan, wajahnya pucat.
Mama tertawa saat teringat sesuatu, Bunda heran melihat Kia yang tidak berhenti tertawa.
"Ada apa Kia?" Bunga penasaran, mengambil ponsel Kia. Bunga geleng-geleng kepala.
Haikal, Roy, Rian tertinggal di rumah, mereka masih mematung di tempat awal. Wajah mereka juga celingak-celinguk mirip orang hilang ingatan, Bi menelpon Haikal tapi tidak di jawab, langsung menelepon Raffa memintanya menyiram wajah para lelaki di rumah dengan air keras.
Bianka tertawa melihat foto para ayah yang jadi patung, sungguh generasi Chrispeter sangat unik. Kuatnya lelaki Chrispeter karena di dampingi wanita hebat dan tangguh.
Mobil memasuki area rumah sakit, Reva dan Kei sudah menunggu dengan para Dokter. Bi keluar sambil digandeng Bunda, Bara masih terdiam di dalam mobil kebinggungan.
"Sudahlah Bun biarkan saja." Bi masuk tanpa Bara, Asep juga ikut masuk meninggalkan Bara yang masih terdiam.
"Apa semua lelaki terlihat bodoh saat istrinya melahirkan?" Asep kesal meminta Dokter segera bertindak.
"Menikahlah jika kamu ingin tahu, maka kamu akan mengerti perasaan seorang calon ayah." Kia menepuk bahu Asep yang mengerutkan kening.
Bi masuk ke dalam ruangan bersama dengan Bunga dan Kiara. Bara berlari langsung ikut masuk, menguatkan dirinya untuk melihat Bi melahirkan.
***
"Tuan, Nona muda sudah berada di rumah sakit." Seorang pengawal menegur Haikal.
__ADS_1
"Cucu akan lahir!" Haikal teriak, langsung berlari keluar mencari mobil dan cepat menuju rumah sakit, Rian dan Roy juga berlari ikut masuk dan duduk di belakang.
"Kal, kenapa mobilnya tidak jalan?" Semuanya melihat ke arah supir, tidak ada yang menyupir mobil membuat Haikal mengumpat. Cepat dia keluar masuk ke tempat pengemudi.
Mobil langsung meluncur dengan kecepatan tinggi, tidak ada suara di dalam mobil semuanya terus khawatir memikirkan Bianka. Sampai di rumah sakit Haikal langsung berlari diikuti oleh Roy dan Rian.
Di ruang tunggu, Akbar, Asep, Reva juga Kei menunggu di luar. Haikal melihat ke arah ruangan ingin sekali melihat wajah putrinya, Akbar menepuk bahu adiknya menguatkan Haikal.
"Tenanglah, Bi wanita kuat di bisa bertahan."
"Iya kak, semoga saja putri dan cucuku baik-baik saja. Astaga kenapa aku tua sekali di panggil kakek."
Di dalam ruangan persalinan, Bara mengelus perut Bi. Air matanya akhirnya menetas, Bi menatap sinis melihat tingkah suaminya.
"Mendingan kamu keluar Bara, sebelum aku tonjok mata kamu."
Para Dokter terdiam merasakan takut berurusan dengan keluarga Chrispeter, belum lagi suami Bianka yang sangat dingin.
"Bi jaga ucapan kamu, Dokter bisa takut membantu kamu bersalin."
"Bara bikin kesal Bun, Boy tidak mau lahir melihat bapaknya jelek gini."
Bi mulai meringis lagi saat sakit yang amat sakit datang, seluruh Dokter menatap Bi yang merasakan sakit.
"Apa kalian berada di sini untuk menonton istriku menahan sakit, lakukan sesuatu untuk Bi dan Boy." Suara tinggi Bara akhirnya keluar, jiwa kejamnya muncul saat melihat Bi kesakitan tapi tidak bisa berbuat apapun.
Suara teriakan Bara terdengar sampai keluar, Haikal semakin khawatir. Pikirannya tidak tenang perasaannya sangat gelisah.
"Nona, sekarang sudah waktunya untuk melahirkan, atur nafas. Jika sudah tidak mampu lagi katakan." Seluruh Dokter yang ketakutan, akhirnya bersiap.
Bara mendekat, menggenggam tangan Bi menciumnya. Cengkraman kuat dari tangan Bi ditahan oleh Bara.
"Bara sakit!"
"Sabar ya sayang, terus berjuang kamu pasti bisa. Tarik nafas buang." Bara menghapus air mata Bi, yang hampir kehabisan tenaga.
Bunga ikut meneteskan air matanya, melihat Bara yang sudah bisa mengendalikan diri menguatkan Bianka.
Keringat bercucuran, Bara menghapus keringat Bi mencium keningnya. Mengelus perut Bi, mengikuti instruksi Dokter untuk tarik nafas hembusan. Bara juga membantu Bi untuk mengulang secara langsung.
__ADS_1
Kia mendekat, mengecek keadaan Bi yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Kia mendekati Dokter untuk mengambil tindakan, Bianka tidak bisa bertahan dengan tenaganya yang sudah habis.
"Siapakah ruangan operasi?" Dokter yang memimpin memberikan perintah.
Tubuh Bara langsung merasa lemas, dilihatnya wajah Bi yang sudah pucat. Suara rintihan Bi yang menahan sakit, belum lagi memikirkan nasib anaknya yang masih berada di dalam perut.
"Bara, Bi tidak kuat lagi. Ini sakit sekali," Bi menangis menatap Bara yang masih te senyuman.
Kia meminta Bunga keluar, air mata Bunga meneteskan memikirkan nasib putri dan cucunya.
Yang di luar juga kaget melihat Bi yang akan operasi, Bunga masuk ke dalam pelukan Haikal yang sedang berusaha untuk kuat.
"Bagaimana keadaan Bi Kia?" Akbar juga menjadi khawatir.
"Bi melemah, bayi harus segera dikeluarkan sebelum air ketuban kering. Kondisi bayi juga sempat drop, lebih menakutkan jika Bi sampai pingsan."
"Keduanya pasti selamatkan Kia?" Haikal menatap Kia tajam.
"Kita berdoa saja, aku khawatir dengan anak Bi karena terlambat keluar sedangkan air ketuban sudah mengering."
"Ya Tuhan!" Haikal menghela nafasnya, bahkan dirinya tidak bisa menolong putrinya, apalagi cucunya.
Reva meneteskan air matanya, mereka tidak ingin kehilangan Boy, sejak dalam kandungan dia sudah menunjukkan keberadaannya tapi saat waktunya dia lahir terjadi masalah. Rindu juga menangis memikirkan Boy yang selalu memancing emosinya, tapi Rindu sangat mengharapkan kehadiran Boy sang pembuat masalah.
"Ya tuhan selamatkan Bi, selamatkan Boy." Reva berdoa dalam diam, Asep menepuk pelan baru Reva.
Kei menundukkan kepalanya, Riki yang baru saja datang menggenggam tangan istrinya. Raffa, Raka, dan Raffi juga akhirnya datang.
Melihat wajah murung Keluarga, semuanya sudah bisa menduga hal buruk sedang terjadi di dalam ruangan persalinan.
"Tuhan selamatkan kakaku juga anaknya, cukup sekali kami bersedih karena hampir kehilangan Boy, jangan hukum kami dengan kehilangan dia lagi Tuhan, jangan ambil Boy dari kami."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1