
Suara pertarungan terdengar, Reza bertarung bersama Iing di bawah hujan lebat. Miko ingin turun membantu Reza, tapi Boy meminta jangan ada yang keluar dari kapal.
Jantung Boy berdegup kencang, seluruh tempat satu persatu meledak. Boy masih menunggu Berlian keluar.
Reza terlempar ke lautan, ombak semakin tinggi, tubuh Reza dan Iing terguling di bawah ombak.
Keduanya masih bertarung habis-habisan, darah bercampur dengan air laut.
Maxi membuka jendela kapal, melihat tuan muda mereka saling menjatuhkan. Miko meremas rambutnya, pasti ada yang tertusuk.
Reza berhasil melumpuhkan Iing, menjatuhkannya ke pantai. Dua orang datang mendekati Reza, memukuli Reza karena membunuh Tuan mereka.
Boy menahan tangan pria yang sudah mengarahkan pisau ke perut Reza, pukulan melayang.
Reza mengumpat kasar, baru selesai satu dia harus bertarung lagi. Ada berapa banyak orang yang memiliki dendam kepada keluarganya.
Boy bertarung dengan seseorang yang pernah berurusan dengan Bundanya, sekarang keberadaan Boy dan yang lainnya sudah diketahui banyak orang.
Mereka berpikir keluarga Chrispeter sedang mengincar pulau untuk keuntungan pribadi, bahkan keluarga Chrispeter sudah mengirimkan orang kepercayaan untuk mengetahui kabar para tuan dan nona muda.
Reza dan Boy cukup terkejut, jika banyak yang tahu keberadaan mereka, berarti musuh semakin banyak.
Maxi melihat kapal bersandar, langsung berlari keluar untuk membantu dua tuan muda, Miko juga langsung turun.
Puluhan orang keluar membawa senjata, Boy mengacak rambutnya. Manusia bodoh, kedatangan mereka hanya akan memperbanyak korban jiwa.
"Apa yang harus kita lakukan Boy?"
"Bagaimana indentitas kita sudah terbongkar? keluarga kita tidak mungkin mengirim orang menyebabkan masalah." Boy teriak kuat.
Boy membuka bajunya, mengikat luka di perutnya. Tidak punya pilihan , mereka harus menyingkirkan para penjahat musuh keluarga yang selama ini memang bersembunyi di beberapa tempat untuk menghindari penyerangan dari keluarga Chrispeter.
"Mereka bukan musuh keluarga kita kak Boy, tapi mereka orang yang Juwi kirim untuk menyelamatkannya. Juwi memiliki banyak pengawal yang tersebar di beberapa pulau menunggu perintah untuk menyerang." Kai melangkah keluar.
"Bagaimana mereka bisa tahu kita keluarga Chrispeter?" Reza menatap Boy.
"Karena Iing, dia cucu dari keluarga kakek buyut yang pernah terusir dari kediaman Chrispeter, dia pernah datang untuk berdamai, tapi kakek Haikal menolak."
"Kenapa ditolak?" Boy menatap Kai yang berada di sampingnya mandi hujan.
"Dia mengagumi kecantikan aunty Nakusha, mendapatkan kabar Chrispeter penyebab kematian Nata, padahal saat itu Nata kritis. Dia menolak wajah Nata yang sedang hancur."
Boy tertawa, lelaki memang sangat tahu wanita cantik.
__ADS_1
Semua bersiap, Boy tidak melihat Rinda langsung menatap Maxi. Max mengatakan Rinda sedang beristirahat, dia baik-baik saja.
Boy melihat jam tangannya, melihat ke arah bangunan. Lian belum juga kembali sedangkan ada puluhan orang yang akan menghentikan mereka.
Seluruhnya maju menyerang, pertarungan terjadi. Banyak orang di dalam kapal ketakutan melihat pertarungan dua kelompok yang sama kuatnya.
Suara senjata saling menembak terdengar, satu persatu musuh berjatuhan. Pertarungan yang tidak saling pandang lagi, satu orang bahkan langsung melawan puluhan orang yang bergiliran maju.
Maxi menarik tangan Kai saat hampir tertembak. Kaira teriakan kuat karena kesal langsung melemparkan bom kecil menjatuhkan puluhan orang.
Boy dan Reza saling pandang, Kaira marah mirip Kakek Rian yang sulit mengendalikan emosinya.
***
Berlian mengumpulkan seluruh orang berdiri bersama dirinya di dalam bangunan yang hitungan detik meledak.
Lian mengucapkan terima kasih juga kata maaf, langsung memegang remote. Juwi merampas remote, Lian langsung melayangkan pukulan, pertarungan dua orang terjadi.
Tatapan manusia kanibal semakin gelap, Lian melayangkan pukulan kuat, sampai Juwi muntah darah.
Lian megambil remote langsung berlari kencang, melihat Lian berlari kencang ratusan orang ikut berlari mengikuti Lian.
Suara ledakan terdengar, satu persatu manusia kanibal hilang masuk ke bawah tanah, suara ledakan menggema di mana-mana.
Lian berhenti menutup pintu, langsung berlari ke arah pantai.
Satu manusia kanibal berhasil menyelamatkan diri, menatap Lian langsung membuka mulutnya ingin memakan Lian.
Berlian melakukan perlawanan sampai bisa terlepas. Mengambil jarum suntik untuk melumpuhkan, Lian berlari kencang terus dikejar manusia kanibal.
Ledakan ada di mana-mana, Lian sampai terguling berusaha menghindar. Suara pertarungan di pinggir pantai terdengar.
Lian terus berusaha untuk bangkit, dia harus menepati janji kepada Boy untuk kembali, kaki Berlian tertangkap ditarik kembali ke dalam kobaran api.
Berlian kehabisan tenaga, tapi tidak ingin menyerah, tangannya Lian memegang kayu lancip menancapkan ke tangan manusia kanibal, langsung berdiri kembali berlari sambil memanggil nama Boy.
Pertarungan dipinggir pantai masih belum ada tanda selesai, Kai sudah mengeluarkan darah dari hidung. Reza juga sudah bengkak wajah dan matanya terkena pukulan.
Maxi juga sudah kehabisan tenaga untuk memukul, terus memaksa dirinya untuk berdiri tegak.
Miko juga sudah menggunakan senjata karena lelah melawan puluhan orang, darah Boy juga semakin banyak keluar.
Suara ledakan, juga api berkobar di mana-mana membuat keadaan dipinggir pantai semakin panik dan kalang kabut. Beberapa bawahan Juwi melarikan diri, kembali ke kapal mereka untuk menyelamatkan diri.
__ADS_1
Semuanya masuk kapal, Kaira melemparkan peledak terakhir membuat satu kapal hancur. Air pantai semakin tinggi karena ledakan bom.
Suara teriakan dari dalam kapal terdengar, Reza menarik Kaira untuk masuk ke dalam kapal. Dalam hitungan menit semuanya akan meledak.
Miko juga langsung melangkah masuk menghidupkan mesin kapal, Boy menatap ke arah bangunan yang sudah hilang dilahap api.
Maxi juga masih berharap Lian berlari ke arah mereka, pulang bersama mereka.
"Maxi Boy cepat masuk, sebentar lagi api akan sampai di pantai." Reza teriak kuat.
Max menepuk pundak Boy, menarik lengan Boy untuk masuk ke dalam kapal. Kaki Boy perlahan menaiki kapal, menoleh kembali ke arah belakang.
"Boy cepat masuk." Reza menatap wajah Boy yang terlihat sedih.
Mata Boy tertutup, perjuangan mereka akhirnya berakhir. Lian tidak menepati janji untuk menemuinya di pantai.
"Boy." Berlian teriak kuat sampai terduduk, merangkak mendekati pantai.
Semuanya melihat ke arah Berlian, Maxi langsung turun dari atas kapal menangkap tubuh Lian.
"Kak Max, Lian datang." Tubuh Berlian gemetaran.
Maxi langsung menggendong Lian, membawanya ke arah pantai masuk ke dalam kapal. Reza membantu Maxi naik, meminta Miko menjalankan kapal.
Suara ledakan kuat terdengar, satu pulau menghilang di lahan api.
Berlian memeluk erat Boy, senyum Boy terlihat mengusap wajah Lian. Tangan Lian menyentuh perut Boy yang penuh darah.
"Tuan terluka." Lian mengusap wajah Boy.
"Aku baik-baik saja, paling penting kita kembali bersama."
"Aku menepati janji, membunuh Nata, Juwi bahkan wanita yang menyerupai aku."
"Kita lupakan kejadian di pulau ini." Boy mengusap kepala Lian.
***
Akhirnya perang selesai, lanjut konflik ringan. Capek tegang terus, autor sampai kebawa mimpi. Hihihi.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***