
Langkah kaki Boy menuruni tangga, penampilannya sudah menggunakan baju khusus keluarga Chrispeter, Reza juga keluar berdiri di samping Boy.
Maxi juga berjalan mendekat, menatap Kaira, Rinda menuruni tangga berdiri di belakang mereka.
Berlian dan Tari juga berdiri di samping Kaira dan Rinda, melangkah bersama ke arah ruang jenazah.
Seluruh keluarga masih berkumpul di dalam ruangan operasi, ruang jenazah hanya dijaga oleh pengawal.
"Ayah kapan pemakaman dilakukan?"
"Sore ini, seluruh pengawal sudah mempersiapkannya." Bara masih tegang menatap ruang perawatan.
Di depan pintu ada Rian, Haikal dan juga Roy melihat Akbar dan Kiara ada di dalam ruangan operasi.
"Ada apa di dalam?" Rinda langsung berdiri di depan sekali, menutupi pandangan kakeknya.
"Siapa yang masih di operasi?" Kaira langsung maju di samping Rinda.
Maxi menatap tajam, Boy dan Reza juga mendekati pintu.
"Anak-anak tidak sopan, orang tua di belakangi." Rian langsung mundur, bersama Roy dan Haikal.
Maxi berdiri menatap ke dalam, Kaira dan Rinda juga fokus melihat ke dalam. Ketiganya menatap Miko yang mulai sadar tepat di mata mereka.
Air mata Maxi, Kaira dan Rinda langsung menetes. Ketiganya menjadi patung tidak percaya dengan yang mereka lihat.
"Ada apa di dalam sana?" Reza menggaruk kepalanya.
"Miko sadar setelah melewati masa kritis, juga detak jantungnya juga sempat berhenti. Vaksin berfungsi dengan baik setelah mendapatkan penawar buatan Rinda dan Lian, jantung Miko kembali dan berfungsi normal." Rian tersenyum.
Haikal langsung tertawa, tidak ada yang merespon Rian. Boy, Reza Lian dan Tari juga menatap ke dalam ruangan operasi, menatap mata Miko yang berkedip.
"Arrggg kak Miko kembali." Rinda langsung lompat-lompat mendapatkan kedipan mata.
Kaira langsung berlutut menutup wajahnya, menangis histeris membuat Riki langsung memeluknya dengan erat.
"Papa kak Miko sudah sadar."
"Iya sayang, sudah cukup menangisinya." Riki menghapus air mata Kai.
Boy dan Reza saling berpelukan, langsung memeluk Maxi yang menutup matanya. Berlian bertepuk tangan langsung memeluk Rinda, keduanya lompat-lompat sambil joget-joget.
__ADS_1
Tari hanya tersenyum bertepuk tangan sambil meneteskan air matanya, Bara langsung memeluk Tari yang menangis tidak mengeluarkan suaranya.
"Tertawa boleh, tapi ingat masih ada kabar duka!" Raffa menaikan nada bicara menghentikan tingkah Rinda.
Bianka langsung mendekati Tari, meneteskan air matanya mengusap rambut Tari.
"Tari senang kak Miko akhirnya baik-baik saja, tapi kenapa Paman tidak melakukan operasi juga perawatan khusus, apa karena Paman orang asing?" Tari menatap Bara.
"Tidak ada yang membedakan sayang, Ayah yang akan memberikan pemakaman terbaik untuk Paman. Keadaan Paman memang tidak bisa diselamatkan lagi, dia sudah meninggal, sebelum kita bertindak." Bara menakup wajah Tari.
"Iya tidak masalah, kita tetap harus bahagia menyambut kembalinya kak Miko." Tari membalik tubuhnya bertepuk tangan untuk Miko, bersamaan dengan air matanya.
Berlian dan Rinda langsung memeluk Tari, bersedih bersama Tari atas kepergian Paman Ahlan.
"Bagaimana Miko bisa selamat?" Max menatap para kakek yang duduk santai.
"Tenangkan dulu diri kamu baru bicara, sekarang kamu sudah menggunakan perasaan sehingga memiliki air mata." Roy menatap Max tajam.
"Maafkan Max karena gagal menjaga nama baik pengawal, Max tidak bisa menahan diri."
"Kamu manusia biasa Max yang memiliki hati, sudah aku katakan saat pertama kamu keluar akan ada air mata saat kamu kehilangan." Rian menghela nafasnya.
"Air mata pertama kamu saat kehilangan cinta Rinda, sekarang kamu hancur kehilangan satu-satunya keluarga dan sahabat kamu. Sekejam apapun kamu manusia Max, aku juga pernah hancur saat kehilangan keluarga, kejahatan tempat aku berlari dari kenyataan, semua luka langsung lenyap saat aku jatuh cinta. Hari bahagia saat melihat Boy lahir, hari kehancuran saat melihat Bianka tidak merespon saat keadaan hamil membuat aku saat hancur." Bara menepuk pundak Max.
"Miko selamat karena di dalam tubuhnya masih ada vaksin kekebalan tubuh dari virus, kehebatan virus ini mampu menghentikan detak jantung padahal Miko hanya terkena sedikit suntikan, karena Maxi menyuntikan kepada Ais terlebih dahulu baru mengenai kaki Miko."
"Benar, aku menyuntik Ais juga."
"Ternyata ada hikmahnya kak Miko terkena virus dulu, selamat karena penawar yang kak Kai ciptakan, jika kak Maxi yang tekena suntikan mungkin bernasib sama dengan Paman." Reza menatap kakeknya.
"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, jadi jangan saling menyalakan karena apa yang kalian anggap baik, belum tentu yang terbaik." Haikal tersenyum menatap semuanya akhirnya bisa tersenyum.
Seluruh pandangan mata fokus melihat ke dalam ruangan, Miko akan segera dipindahkan. Akbar keluar bersama Kia, Kei dan Rindu.
Rinda langsung memeluk Maminya, menangis haru, Kaira langsung berlutut, meletakan kepada di kaki kakeknya mengucapkan terima kasih.
"Kai mencintai dia?"
Kaira menganggukkan kepalanya, menghapus air mata tersenyum bahagia.
"Dia tidak mencintai kai." Kia tersenyum melihat perubahan wajah cucunya.
__ADS_1
"Tidak mungkin nenek, kak Miko mengatakan cinta Kai, dia ingin menikahi Kai."
"Lelaki mudah mengatakan cinta, setelah wanita jatuh cari lagi." Rian tersenyum langsung menutup mulutnya melihat Riani muncul bersama Dara.
"Kak Miko tidak seperti kakek Rian, kak Mik seperti Papa dan Kakek, pria idaman Kai." Kaira tersenyum manis.
"Karena dia pria pujaan hati Kai, kita berjuang menyelamatkannya karena tidak ingin cucu kesayangan kami menangis. Terima kasih juga untuk Lian."
"Iya Lian, walaupun otak kamu sejak kembali kurang normal, tapi membuat suasana lebih lucu." Kai tersenyum menatap Berlian yang cengengesan.
"Sebenarnya Lian dipuji atau dihina?" Lian menatap Boy.
"Dipuji sayang." Boy menggaruk kepalanya.
Semua orang tersenyum, Miko dibawa keluar Maxi langsung menggenggam tangan Miko.
"Terima kasih karena masih hidup, jika Kamu mati saat terkena racun aku tidak sedih, tapi kali ini aku tidak ingin ada orang yang mati karena aku." Maxi tersenyum menepuk tangan Miko.
"Sebenarnya kamu senang tidak aku masih hidup?" Miko menyentuh dadanya yang terasa sangat sakit karena berbicara.
"Nanti saja kita bicara lagi, kamu harus dirawat."
"Kamu menangis Max, sejak kapan kamu mempunyai air mata." Miko tersenyum.
Maxi langsung melepaskan tangan Miko, sebenarnya ujian yang terjadi bukan hanya menguji Miko, tapi Max Rinda dan Kaira juga.
Mentari dan Reza yang masih belum merasakan rasanya kehilangan, karena keduanya dua orang yang saling mengimbangi meskipun Reza sangat cuek juga keras kepala.
"Bagaimana keadaan Paman Tari?"
Air mata Tari langsung menetes, melangkah pergi bersembunyi di balik tubuh Bara. Miko mengerti maksud air mata Tari.
"Aku ingin mengantarkan Paman ke tempat peristirahatan terakhir."
"Kamu harus beristirahat terlebih dahulu, jangan memaksakan diri." Rindu meminta perawat menjaga Miko.
Seluruh keluarga dikumpulkan untuk mengantarkan Paman Ahlan ke tempat peristirahatan terakhir.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***