BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 CINCIN


__ADS_3

Hembusan angin menerpa wajah Maxi dan Rinda, jantung Rinda berdegup kencang. Tatapan mata Maxi juga gelap mereka berdua terjebak di dalam bahaya, sebuah tempat pembantai yang digunakan untuk menyembunyikan emas, obat terlarang, racun, senjata, bahkan tulang belulang hewan dan manusia.


"Nona Rinda takut?" Maxi menatap Rinda yang melangkah maju.


Maxi melipat tangannya di dada, Rinda terlihat santai lebih terlihat rasa penasaran daripada rasa takut.


"Kak Max mungkin kita tidak pernah bertualang bersama, biasanya aku bersama kak Miko pergi ke pengeledahan kapal yang menjual obat bahkan wanita dan anak-anak. Kami juga pernah masuk ke markas mafia yang ternyata dipimpin oleh seorang anak kecil." Rinda tersenyum menatap Maxi yang meragukan kemampuannya.


"Dia bukan anak kecil Rinda, tapi ukuran tubuhnya memang kecil." Kepala Maxi menggeleng.


Rinda tertawa, dia tahu jika ukuran tubuhnya kecil, tapi tetap saja bagi Rinda anak kecil. Bukan soal ukuran badan, tapi hebatnya dia bisa menjadi pemimpin mengendalikan ratusan orang yang berbadan besar, juga menyeramkan.


"Kenapa dia bisa menjadi pemimpin kak Max?"


"Karena dia memiliki kekuasaan, bawahannya orang bodoh yang hanya membutuhkan harta dunia, siapa saja bisa menjadi pemimpin selama dia memiliki harta." Max melihat jam tangannya sudah mati, tidak ada yang bisa melacak keberadaan mereka.


"Ada kak yang bisa menjadi pemimpin, dia tidak memiliki kekuasaan, dia dari bawah." Rinda melipat tangannya menatap Max.


"Memang ada, karena dia menggunakan kepalanya, otaknya bekerja untuk mengendalikan. Orang kuat bukan hanya di lihat dari hebatnya dia bertarung, tapi hebatnya dia mengendalikan. Penjahat tumbuh dari hatinya, sejak bangkit dari jatuh dia memiliki niat memimpin, juga menghancurkan dengan segala cara." Mata Maxi dan Rinda beradu, telinga mereka bisa mendengar suara yang mulai berdatangan.


"Kak, Rinda cukup banyak melihat kejahatan. Dia berbadan kecil punya kekayaan bisa memimpin, dia yang berbadan besar bisa mematahkan tulang belulang menjadi pemimpin, dia yang dari kalangan bawah bisa menjadi orang yang memiliki harta, tahta, kekuasaan, juga pengikut. Rinda mengaguminya, kehebatan bukan hanya ada di otot, tapi kepala dan hatinya."


"Aku membencinya Rinda, hidupku hancur karena tidak memiliki harta, kekuasaan, juga pengikut, memaksa meronta-ronta pada akhirnya aku berada di penjara Chrispeter."


"Kak Max bangga berada di penjara Chrispeter."


"Iya, aku bersyukur dikurung di sana, sudah terlalu jauh aku memberontak, jika lebih jauh lagi mungkin aku akan menjadi musuh Chrispeter, akhirnya aku akan mati, juga kehilangan harta, tahta, kekuasaan juga pengikut. Dunia kegelapan kejam sekali Rinda, rasanya aku ingin terlahir kembali hanya menjadi orang biasa."


"Bukannya kak Max dulu terlahir menjadi orang biasa, tapi memaksa masuk ke tempat luar biasa."


"Kamu benar, seharusnya aku mengatakan tidak seharusnya dilahirkan."


"Kak Max lucu, selalu berbicara serius."


Max menatap Rinda yang asik tertawa, sedangkan keberadaan mereka sedang dalam bahaya.


"Rinda, semua komunitas kita mati, sudah saatnya kamu serius." Max menarik tangan Rinda untuk berdiri di sampingnya.


"Kak Max ini apa?" Rinda menyentuh cincin di kalung Maxi.

__ADS_1


"Cincin ibu."


"Boleh Rinda memintanya, Rinda menyukainya."


"Kenapa kamu menginginkannya?"


"Suka, Rinda menyukainya. Cincin ini akan menjadi jimat pelindung agar kejadian aunty Rinda tidak terulang kembali." Rinda tersenyum manis.


Max tidak ingin berdebat lagi, langsung melepaskan kalungnya, memberikan cincin ibunya untuk Rinda. Sedangkan Rinda memberikan cincinnya kepada Max.


Rinda memasangkan cincin di jari manisnya yang terlihat pas, tangan Rinda langsung mendorong Max, menangkap tombak.


"Sudah Rinda katakan, cincin ini jimat penyelamatan. Ayo kak Max kita bertarung."


Maxi kaget dirinya terlempar karena didorong Rinda, padahal Lian, Tari dan Kai pernah melawannya, tapi tidak bisa membuat Max terdorong sedikitpun.


"Apa yang aku pikirkan sehingga tidak konsentrasi?" Max bergumam pelan.


Gerbang terbuka, Max berdiri di depan Rinda melihat banyaknya orang yang berkumpul untuk menangkap mereka.


Rinda juga kaget, karena lawan mereka bukan orang kuat, tapi para pengunjung yang otaknya sudah dicuci.


Max menatap Rinda melihat ratusan orang menyerang mereka, tidak punya pilihan selain melawan dan melumpuhkan.


Rinda langsung maju menyerang, Max hanya menghindar tidak tega menyakiti, wanita tua, ibu, anak kecil, bahkan lansia yang mengutuknya.


"Rinda, sebaiknya kita melarikan diri tidak ada gunanya melawan mereka." Max membuka sebuah pintu, Rinda langsung masuk, Max menutup langsung berlari.


Suara dentuman kuat terdengar membuat langkah Rinda dan Maxi terhenti, melihat ke belakang. Maxi melangkah maju membuka pintu melihat seluruh orang sudah tergeletak.


Mereka semua terkena ledakan bom beracun, Max menutup pintu kuat, langsung menarik tangan Rinda berlari semakin jauh.


"Ledakan apa tadi kak Max?" Rinda berjalan di depan Max.


Maxi terus berjalan tidak menjawab sama sekali, Rinda menghentikan langkah Max menatap matanya yang menunjukkan kemarahan.


"Akan aku hancurkan tempat ini!"


Rinda mendengar suara tembakan, Max menembak pintu sampai terbuka. Dugaan Max dan Rinda benar soal lokasi mereka yang memiliki banyak emas, obat terlarang, senjata.

__ADS_1


"Jangan masuk kak Max, ini semua jebakan." Rinda menarik lengan Maxi.


"Dari awal kita memang sudah masuk jebakan mereka, tidak ada pilihan untuk mundur."


Rinda menahan tangan Max yang tetap memaksa masuk, senyuman dingin Max terlihat meminta Rinda melarikan diri.


Langkah kaki Maxi masuk ke dalam ruangan yang sangat luas, Rinda juga masuk dengan hati-hati.


Rinda teriak kaget melihat dihadapannya, manusia yang tidak menggunakan busana wajahnya hitam penuh luka, seluruh tubuhnya juga penuh luka.


Maxi memeluk Rinda menenangkannya, bukan hanya satu tapi ada lebih dari sepuluh orang tanpa busana tubuh mereka hitam semua, baik lelaki atau perempuan yang menatap Max tajam.


"Rin, tutup mata kamu jangan melihat apapun."


Sekarang Maxi mengerti di mana mereka berada, pulau ini tempat tinggal para orang sakit jiwa, mereka yang sudah tidak memiliki hati, banyaknya melakukan kejahatan, kalah dalam pertarungan sampai akhirnya terbentuk tempat menembus dosa, sebenarnya mereka sudah kehilangan akal, apapun yang mereka lihat tidak nyata.


"Aku tidak akan banyak bicara, kita langsung saja bertarung. Kalian harus disingkirkan agar dunia ini damai."


"Kamu dulunya sama seperti mereka sakit jiwa, Chrispeter sialan yang menggagalkan kami membunuh kamu." Seorang pria datang tersenyum melihat Max.


"Keluarlah, kamu harus sembunyi. Jika mereka semua mati, kalian kehabisan boneka penghasilan uang." Maxi tersenyum licik.


"Baiklah, selamat tinggal. Saat matahari terbit aku akan melihat jenazah kamu."


Max menatap tajam ke arah pintu langsung mengeluarkan belati kecil di kedua tangannya, langsung maju menyerang.


Rinda membuka matanya melihat Maxi yang terus bertahan, tubuhnya dipukuli oleh orang yang kebal senjata. Rinda melihat Maxi terlempar kuat, terdengar suara teriakan Max, tapi sangat pelan.


Darah mengalir dari kepala Maxi, hanya ada beberapa yang terjatuh, sedangkan sisanya masih banyak.


"Rinda pergi dari sini?" Max menatap Rinda sambil tersenyum.


"Tidak, Rinda akan tetap menunggu di sini. Rinda ingin membantu tapi mereka tidak menggunakan baju, Rinda masih polos."


"Kamu masih polos, tapi berani mencium pria dewasa."


"Apa!?" Miko menatap Max tajam, Rinda tersenyum melihat Miko datang.


***

__ADS_1


__ADS_2