
Pesta pernikahan Keisya dan Riki Chrispeter sudah berlangsung, seluruh keluarga berkumpul. Air mata Mama Kia menetes melihat putrinya akhirnya menjadi seorang istri.
"Kia sekarang kita sudah tua ya, putra dan putri kita sudah mulai menikah. Mereka mulai meniti kehidupan berkeluarga." Dara juga meneteskan air mataku, melihat putranya tersenyum bahagia.
"Iya Ara, tanpa kita minta putra putri kita memilih sendiri. Padahal dulu kita berencana menjodohkan mereka."
Pesta meriah hampir selesai, keluarga sedang berkumpul untuk makan bersama. Hanya satu orang yang tidak hadir, Bianka tidak muncul setelah pengucapan janji pernikahan.
Tidak ada yang bertanya soal Bi, karena kemunculannya hanya akan membuat masalah. Bara juga ikut hadir menyapa para rekan bisnisnya.
"Tuan Ghavin, di mana istri anda Bianka?"
"Kenapa?" tatapan Bara langsung tajam, jika tidak ada Raffa mungkin Bara sudah memukul. Dia tidak suka ada yang bertanya tentang istrinya, apalagi seorang pria.
Kekesalan Bara tidak juga reda, saat mengetahui jika Bi pulang ke Mansion karena ingin tidur. Asep mengawal Bi untuk kembali lebih dulu, bukan Bara tidak percaya Asep tapi dia kesal dengan Bi yang pulang tanpa pemberitahuan.
***
Bi sedang tidur nyenyak, dia sangat lelah sehingga terlelap. Seseorang masuk menatap Bi sinis, di pandanganya tubuh Bi yang sudah bulat dengan perut buncitnya. Suara dengkuran Bi juga terdengar.
"Bianka Chrispeter, aku akan mengeluarkan anakmu secara paksa. Kemampuan kamu sekarang sangat lemah, sejak hamil kamu terlihat bodoh dan sembrono."
Belum sempat perut Bi tersentuh, tubuh seseorang sudah terlempar dari lantai atas kamar Bianka. Alarm langsung berbunyi, Asep langsung berlari melihat Bianka yang sudah berdiri di depan balkonnya.
"Kalian cari mati!" Bi tersenyum sinis mengeluarkan belati dari balik bajunya.
"Nona," Asep langsung masuk, seseorang menyerangnya tapi berhasil menghindar.
"Della!" Asep binggung melihat pelayan utama rumah memegang senjata.
"Dia ingin membunuh, juga anakku. Dia pikir mudah menyingkirkan keturunan Chrispeter, aku bahkan bisa membuat kamu lenyap tanpa nama."
"Kita lihat saja, aku sudah menyuntikan racun di dalam tubuhmu. Beberapa makanan kamu juga mengandung racun, yang akan membunuh perlahan."
"Emmhhh takut!" Bi mengejek Della yang matanya menyimpan banyak amarah.
Della bekerja dengan Chrispeter sejak pernikahan Bunga Haikal, cinta terhadap Haikal harus dia kubur karena cintanya Haikal hanya milik Bunga.
"Cinta ayahku tidak berhasil kamu miliki, laku tertarik dengan Bara tapi jangan menyukaimu, nama kamu juga dia tidak tahu." Bianka tertawa.
"Della mencintai tuan Haikal,"
__ADS_1
"Iya, saat itu dia masih muda baru berusia 15tahun, tapi mencintai lelaki beristri."
"Ternyata kamu sudah mengetahuinya, tapi mengapa kamu diam saja?"
"Bunda juga diam saja, Kenapa aku harus mengambil pusing."
"Bunga juga tahu?"
"Adelia Bunga Kanaya, terkenal dengan nama Bee seorang mafia wanita yang bisa membunuh dengan mudah, memiliki banyak koneksi. Gajah besar seperti kamu mana mungkin tidak terlihat, bahkan sampai semut yang bersembunyi juga Bunda bisa tahu."
"Aku tidak selemah itu Bi, selama 20tahun lebih aku bekerja di sini, sudah aku rencanakan untuk membunuhmu."
"Lakukanlah!" Bianka duduk dengan santai di sofa, mengelus perutnya.
Della melepaskan tembakan, Asep langsung bergerak menepis. Bianka hanya tertawa melihat pertempuran, di luar Mansion juga terjadi pertengkaran, banyak pengawal yang keracunan. Pengikut Della berulah di saat Keluarga Chrispeter sedang bahagia.
Bi bukannya panik tapi lanjut tiduran di ranjang, matanya mengantuk ingin tidur. Melihat sikap Bi yang meremehkan kemarahan Della menjadi, dia sangat mengetahui seluk beluk kediaman Chrispeter. Salah satunya Lab pribadi Bianka yang akan dia ledakan.
"Nona bangun, keluar dari kamar. Di luar juga diserang?!"
"10menit lagi, aku masih mengantuk."
Asep kehabisan tenaga bertarung sendiri, satu sisi khawatir dengan Bi, tapi sisi lain dia harus menyerang. Bahkan tidak punya kesempatan untuk memberikan sinyal kepada keluarga tentang pengkhianatan di kediaman.
Della berhasil mencapai senjatanya, dia arahkan ke dada Asep. Tapi yang ditembak berhasil menghindar menutupi dirinya dengan pengawal.
"Della, membunuh aku tidak ada untungnya untuk kamu."
"Reva Chrispeter akan patah hati."
"Mati bukan hukuman untuk kamu Del, Keluarga Chrispeter akan menempatkan kamu di penjara."
"Tidak masalah Sep, aku hanya ingin melihat putri Haikal, atau cucunya mati."
"Cinta membuat kamu gila, aku yakin kamu bisa bahagia tanpa cinta Haikal, apalagi Bara. Jika Bi sedikit saja terluka, dia akan mengeluarkan seluruh isi tubuh kamu perlahan."
"Aku tidak ingin bernegosiasi Asep, lihatlah wanita sialan ini. Dia asik tidur padahal nyawanya sudah di ujung tanduk."
Asep melihat dari luar jendela, banyak pengawal berjatuhan. Della meracuni semuanya, sedangkan yang berada di kamar semuanya tumbang, yang berada dalam Lab Bi sudah meledak, oleh ledakan kecil.
Bianka dengan santainya masih tidur mengorok, Della tidak bisa diajak kompromi lagi. Asep tidak punya pilihan kecuali bertahan sendiri, tapi jika dia tewas Bianka bisa terluka, jalan utama membawa Della keluar dari kamar, mengambil senjatanya dan membunyikan alarm.
__ADS_1
***
Di acara pesta, Bara izin untuk pulang lebih dulu. Tapi masih terhenti karena masih membahas soal obat yang baru Papi Rian keluarkan.
"Kenapa kamu panik Bara?"
"Perasaan Bara tidak enak ayah, sebaiknya Bara langsung pulang."
Reva langsung berdiri, melihat layar jamnya. Ledakan bom kecil yang Rindu buat meledak di bagian kamar Bi, tapi tidak ada tanda Bianka berada di dalam Lab.
"Sebaiknya Reva juga pulang, ada ledakan di Lab Bi. Asep tidak bisa dihubungi, bahkan pengawal juga tidak memberikan respon."
"CCTV keamanan ruang mati,? Rindu juga nampak kaget, bahkan kamera yang tersembunyi juga kehilangan sinyal.
"Tidak mungkin kediaman Chrispeter diserang?" Raka menatap, Rindu. Rindu dan Reva langsung berlari bersama Bara untuk pulang.
Tidak lama alarm keamanan Chrispeter berbunyi, Kei langsung berdiri ingin pulang tapi Haikal menahannya.
"Tenanglah Kei, kamu berbulan madu saja. Bara Reva dan Rindu sudah kembali."
"Tapi ayah,"
"Raffa jaga keamanan di sini? Kalian berdua juga bantu Raffa." Roy langsung berdiri.
"Ayo kita kembali, pengkhianatan dalam rumah akhirnya bergerak, peluang yang sangat baik." Rian mengandeng istrinya langsung melangkah keluar.
"Bi dan cucu kita akan baik-baik saja ya Ayy?"
"Pasti Bun, jangan remehkan kehebatan putri kita."
Bunga menggenggam tangan Haikal, sejujurnya perasaan Haikal juga tidak enak. Dia tidak bisa melihat keadaan rumah, pengawal juga tidak merespon cukup membuat Haikal khawatir. Tidak ada orang luar yang bisa menembus keamanan Chrispeter, kecuali orang yang sudah puluhan tahun bekerja di kediaman Chrispeter.
"Tidak akan aku ampuni kalian, jika sampai putri dan cucuku terluka."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1