BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BUANG ANGIN


__ADS_3

Suara dentuman terdengar, Rinda langsung memeluk Lian. Tangan Lian meraba-raba dinding, satu tangan Lian menyentuh sebelahnya, tapi tidak tersentuh.


Terdengar suara sedang bertarung, Lian meraba tubuh Rinda mengambil alat make-up meminta Rinda mencari penerangan.


"Ganti lensa mata saja."


"Rinda sialan, seharusnya dari tadi."


Rinda dan Lian menggunakan lensa pengganti melihat Tari dan Kai sedang bertarung melawan satu pria berbadan besar, tubuh Kaira terlempar sampai muntah darah. Mentari dicekik kuat, mengambil sebuah pisau langsung ingin memotong tangan Tari.


Rinda melemparkan sebuah belati, langsung maju menyerang. Giliran Rinda dan Berlian yang bertarung, Kaira langsung membantu Tari berdiri, membungkus tangan Tari menghentikan darah.


"Kamu masih kuat Tari?"


"Iya kak Kai, ayo kita maju." Mentari dan Kaira langsung maju membantu Lian dan Rinda.


Empat orang bertarung melawan satu manusia kuat, Tari yang paling marah karena dia sudah memberikan kesempatan juga memberikan nama, tapi disalahgunakan.


Tari melayangkan pukulan, langsung melompati dinding melayang memanjat tubuh tinggi langsung menancapkan suntikan tepat di tengah kepala, Kaira menyayat leher dengan pisau tajam, Rinda menendang kuat bagian bawah, sedangkan Berlian sudah menancapkan belati sampai menghilang ke arah dada.


Mentari langsung dibanting, terlempar jauh sampai mengeluarkan darah dari hidungnya. Kaira mendapatkan tamparan sampai terjatuh menabrak dinding.


Rinda langsung berlari menjauh, menutup kedua pipinya takut mendapatkan pukulan, takut juga jika giginya lepas karena sedang sakit gigi.


Berlian dicekik kuat, tubuhnya terangkat ke atas. Langsung dilempar menabrak Rinda yang nempel didinding.


Tubuh pria buronan langsung tumbang, Rinda langsung menangis memegang giginya lepas. Tari langsung tertawa lepas melupakan rasa sakit tubuhnya merasa lucu melihat Rinda ompong.


"Kak Kai bagaimana ini Rinda ompong?" Rinda menunjukkan giginya.


"Tenang Rinda, nanti tumbuh lagi." Lian menenangkan Rinda.


"Yakin kak Lian tumbuh lagi?" Rinda menyimpan giginya.


Kaira tertawa kecil, teringat saat Rinda masih berusia tiga tahun dia terjatuh giginya patah langsung menangis seharian. Papi Rinda menenangkan mengatakan gigi Rinda akan tumbuh kembali.


Tari mengecek keadaan pria yang sudah tergeletak, mengatakan jika sudah tidak bernyawa.


Kaira menatap Lian dan Rinda yang langsung mencari keberadaan Boy dan Maxi.


"Kenapa kak Kai dan Tari ada di sini?" Rinda mendekati Kai dan Tari.

__ADS_1


"Kita ditarik dia sampai jatuh ke bawah ini, sepertinya kita tidak bisa keluar dari sini." Tari menatap lubang tempat mereka jatuh.


"Kalian berdua kenapa bisa ada di sini? di mana kak Boy dan Maxi."


"Rinda terlempar ke dalam lubang, Lian langsung lompat juga untuk menolong Rinda." Lian tersenyum memeluk Rinda.


"Sekarang kita terpisah, harus berjuang keluar dari tempat ini." Kai langsung melangkah menyusuri jalan.


Lian merasakan keanehan, mereka melewati jalanan sempit, tapi sekarang jalanan sangat luas.


"Biasanya terowongan terasa pengap, panas, sesak, tapi kenapa sekarang sangat luas juga terasa dingin sekali seperti sedang di dalam goa." Kaira menghentikan langkahnya.


Rinda dan Berlian mengerutkan keningnya, melihat mereka kembali ke tempat semula. Langsung bersembunyi melihat seorang pria yang mereka lihat tidak menggunakan baju sedang berpelukan dengan wanita yang wajahnya penuh luka.


Lian tangannya panas dingin, Tari berjongkok bersembunyi di kaki Kaira menatap takut. Lelaki yang mereka anggap tampan walaupun sudah tua, musuh mereka semua.


Berlian meneteskan air matanya, banyak wanita di bawah umur yang tidak mendapatkan perlakuan wajar, berhubungan bebas, makan daging mentah sudah dianggap lebih dari binatang.


"Apa yang harus kita lakukan?" Kaira menatap Lian, Tari dan Rinda.


"Tari tidak ingin keluar, jika pria tadi sangat kuat membuat tulang belulang kita hampir remuk, apalagi Z dia pastinya sangat kuat. Bagaimana jika dia menodai kita secara bergilir, Tari tidak sanggup walaupun hanya membayangkannya." Tari menutup wajahnya.


"Bagaimana menurut kamu Lian?"


"Tempat ini memiliki empat sisi, satu di penjara, satu lubang tempat kita jatuh satunya tempat kalian jatuh berarti tersisa satu jalan, mungkin itu jalan keluarnya." Kai tersenyum menatap Lian.


Berlian maju perlahan, Kai berada di belakang Lian, Tari dan Rinda saling mengandeng melangkah bersama melangkah perlahan.


"Bau apa ini?" Z mencium aroma yang tidak biasanya.


Lian berhenti melangkah, Kaira langsung mengigit bibirnya, Tari langsung berkeringat, Rinda menutup mulutnya menahan nafas.


Keadaan gelap membuat tidak bisa melihat, hanya Rinda, Kai, Tari dan Lian yang bisa melihat karena menggunakan lensa penerang.


Suara bunyi aneh terdengar, Lian langsung melihat ke arah Rinda, Kai dan Tari juga melihat kebelakang. Rinda menggelengkan kepalanya jika bukan dirinya yang membuat gas angin yang beraroma busuk.


Lian menatap tajam langsung menutup hidungnya, Rinda juga menutup hidungnya karena busuk, Tari hampir muntah karena busuk menusuk hidungnya.


"Busuk sekali melebihi bau bangkai." Z langsung melangkah pergi.


Kaira menepuk pundak Lian untuk lanjut berjalan, Lian melangkah perlahan suara buang angin lebih besar membuat langkah Lian terhenti langsung tertawa kuat tidak bisa menahan diri lagi.

__ADS_1


Mentari juga tertawa sampai duduk, Kaira menahan tawanya menatap Rinda.


"Bukan Rinda kak Kai, sumpah Rinda belum buang angin hari ini." Rinda melotot kesal.


"Kamu tidak merasakannya?"


"Rinda yakin bukan Rinda yang kentut, berhenti tertawa." Rinda terus menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak mengaku kita ceritakan kepada kak Max."


"Jangan Lian, suka sekali mempermalukan. Sumpah bukan Rinda."


"Tadi saya yang buang angin, sakit perut." Z mencengkram lengan Rinda.


"Kakek kurang ajar, buang angin sembarang tidak sopan, busuk lagi." Rinda menatap tajam.


"Tidak ada orang yang membuang angin baunya wangi."


Berlian melihat kacamata yang Z gunakan, berarti dia bisa melihat keberadaan mereka berempat. Tatapan Z langsung melihat Lian, langsung menarik lengan Rinda merangkul pundak Rinda.


"Cucu Rian Chrispeter sangat cantik, kecil, manis juga seksi." Z memperhatikan Rinda dan Kaira yang sama cantiknya.


Rinda berusaha untuk melepaskan diri, tapi cengkraman kuat terasa hampir meremukkan lengannya.


"Lepaskan Rinda, kamu akan menyesal jika sampai dia terluka." Lian mendekati wajah Z.


"Waktu sangat cepat berlalu, pria kecil yang dulunya masuk penjara karena membunuh seluruh keluarga, bahkan anak istrinya tidak menyangka bisa bebas, menikah memiliki putri secantik kamu." Z mengusap wajah Lian.


"Waktu memang sangat cepat berlalu, anak kecil yang menggemaskan, seharusnya mendapatkan cinta dan kasih sayang, tapi sayangnya dia mendapatkan kebencian, sampai dia tua masih penuh dengan dendam." Lian menantang Z.


"Kamu dan Ayah kamu tidak ada bedanya, kalian sama-sama perusak wanita, juga tidak berguna. Ibu kamu memilih pergi karena Ayah kamu tidak menghargainya sama seperti kamu berhati binatang." Rinda menepis tangan Z.


"Kalian ingin mati!"


"Kamu yang akan mati!" Kaira, Lian, Tari dan Rinda tersenyum licik.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***-


__ADS_2