
Kedua tangan Lian dilipatkan, menangis histeris memohon ampunan kepada Bianka yang kebingungan.
"Ampun Bunda, ampun. Tolong jangan pukul lagi, maafkan Lian." Berlian langsung turun dari ranjang, bersujud di kaki Bianka.
Boy juga turun memeluk tubuh Lian, mata Boy merah tidak sanggup melihat trauma Lian yang ketakutan.
"Boy, minta maaf sama Bunda. Nanti kita dipukul, Lian takut."
"Jangan takut Lian, Bunda hanya bercanda tidak sengaja. Kamu jangan seperti ini, aku tidak sanggup melihatnya." Boy mengusap air mata Lian.
Bianka langsung terduduk, menyentuh tangan Berlian, langsung memeluknya, menciumi seluruh wajah Lian.
"Maafkan Bunda Lian, maafkan Bunda." Bianka mengusap wajah Lian yang jatuh pingsan.
Boy membawa Lian ke atas tempat tidur, mengambil selimut menutup tubuh Lian. Keisya mendekat meminta Boy memakai baju.
Keisya menatap Boy yang menjelaskan keadaan Lian, dia memiliki trauma yang cukup besar, sehingga membuatnya tidak sanggup melihat kekerasan.
Kei melihat tangan Lian yang bekas gigitan, melihat kakinya yang kehilangan satu jari. Rindu mengusap kepala Lian, kasihan melihat penderita Lian.
"Mama, keadaan Lian sangat buruk. Sebaiknya kita melakukan perawatan."
"Tidak masalah Boy, perlahan Lian pasti akan pulih. Dia hanya membutuhkan waktu juga dukungan." Kei tersenyum melihat Lian kembali.
Semuanya mengucapkan syukur atas pulangnya Berlian, mata Lian perlahan terbuka, Bianka mencium kening Lian menatap dengan penuh kesedihan.
Lian memeluk Bianka, meminta maaf karena sudah lancang tidur dengan Boy. Lian berani bersumpah jika dirinya dan Boy tidak melakukan apapun.
Bi menganggukkan kepalanya, dia sangat mempercayai Lian. Bagi Bianka cukup Lian pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Jangan pergi lagi Lian, kamu harus sembuh melupakan luka kamu. Bersenang-senanglah, obat sakit hanya dengan menyenangkan diri sendiri."
"Terima kasih Bunda, Lian kangen Bunda." Lian memeluk Bianka, wanita yang Lian anggap ibunya.
Semuanya keluar kamar, melihat Reva yang melangkah keluar memanggil nama Reza, Lian mengatakan dia melihat Reza satu kamar dengan Tari, saat ditanya Reza menjawabnya ingin membuat Reza junior.
Suara teriakan Reva sangat besar, Lian menutup telinganya yang merasakan sakit.
__ADS_1
Reza yang dipanggil langsung berlari keluar, dia sangat mengenal Mommy yang sangat keras, bukan hanya Reza yang takut, tetapi Daddy-nya juga sangat takut.
"Di mana Reza?"
Maxi, Miko, Kai, Rinda dan Tari menunjuk ke arah taman belakang. Langsung mengejar putranya yang selalu membuat Tari menjadi bawahannya.
Reva melemparkan belati, tapi Reza berhasil melarikan diri, terus menghindar teriak kuat meminta Mommy berhenti.
"Salah Reza apa Mommy?"
"Kamu masih saja tidur bersama Tari? beraninya kamu mengatakan membuat Reza junior." Reva menarik telinga Reza sampai ke atas.
"Mommy, Reza hanya bercanda. Hanya tidur tidak meraba ke mana-mana, Mommy tenang saja."
"Sudahlah Reva, kamu pasti paling paham Reza keturunan siapa. Dia sangat mirip kamu yang suka nyosor kepada Asep, sampai memaksa ingin menikah." Bianka tertawa duduk di kursi taman bersama Lian dan Tari.
"Benarkah Bunda?" Boy memeluk Bianka.
"Jangan heran juga jika Boy berulah, dia lebih mirip Bara yang tidak tahu tempat, maen cium peluk." Rindu menatap Reva menjatuhkan Bianka.
Reva memukul kepala Reza meminta jika memang mencintai Tari, harus menjaga Tari. Mereka bisa menikah setelah pernikahan Maxi.
Gelas jus ditangan Rinda langsung pecah, Kaira langsung berdiri kaget mendengarnya. Tari juga berdiri terkejut.
"Kak Maxi akan menikah Mommy, sama siapa?" Boy menatap Rinda yang membersihkan tangannya.
"Kalian tunggu saja kabarnya, kalian harus pulang saat mendapatkan perintah untuk kembali ke Mansion Chrispeter. Kalian akan tahu Max menikah dengan siapa." Bianka menghela nafasnya.
Bianka meminta Boy menjaga Berlian, mengobati sedikit demi sedikit trauma Lian. Bi ingin langsung pulang karena mereka datang hanya mampir karena ada pekerjaan.
Rindu mendekati Rinda, memeluk putri semata wayangnya. Rindu tahu Rinda masih menyimpan rasa kepada Maxi, putrinya sudah besar juga semakin dewasa tidak mengakui jika dia sedang terluka.
"Rinda, kamu harus pulang." Rindu mencium kening putrinya.
"Pasti Mami, Rinda pasti pulang." Rinda tersenyum, mencium pipi Maminya.
Boy duduk menatap Rinda yang melihat ke arah langit, Kai mengusap kepala Rinda mengerti perasaan adiknya.
__ADS_1
"Kak Kai akan bertanya kepada kak Maxi." Kaira melangkah pergi.
Mentari dan Reza saling pandang duduk berdua menatap Rinda yang meneteskan air matanya.
"Rinda, pernah tidak kamu bermimpi melihat diri kamu sendiri?" Lian menatap Rinda.
"Pernah, saat aku memperjuangkan cinta kak Max. Setiap hari aku meminta kak Max menemani aku, melakukan segalanya bersama, menghabiskan waktu. Rinda pikir kak Max bahagia, tapi ternyata dia merasa risih dengan dunia Rinda. Bodohnya Rinda masih berjuang mendapatkan restu." Rinda menghapus air matanya.
"Apa yang kamu mimpikan?"
"Rinda melihat, kak Max dan Rinda berjalan bersama saling menggenggam. Kak Max melepaskan tangan Rinda, mengatakan jika mereka tidak bisa jalan beriringan, posisi Max ada di belakang Rinda, dia hanya penjaga tidak lebih."
Lian menatap Boy, dia tidak pernah tahu jika Rinda menyimpan luka hatinya. Rinda tahu Max akan menolaknya, tapi tetap saja mengatakan cintanya, dia ingin menjadi istri Max di depan seluruh keluarga.
Max tidak berpikir langsung mengatakan penolakan, langsung pergi meninggalkan Rinda, tidak berkabar berbulan-bulan. Saat Maxi kembali mereka menjadi dua orang asing, Rinda tidak bisa berbicara dengan Max lagi.
"Seandainya Kak Max melamar apa yang akan kamu lakukan?" Reza menatap Rinda.
"Menolak, luka hati sulit diobati."
"Seharusnya kalian berdua bicara, Rinda dan Maxi sudah memberikan contoh jika cinta butuh komunikasi, contoh kedua ada kak Boy dan Lian mereka juga berakhir karena salah paham. Rinda cinta bukan hanya butuh perjuangan, tapi kepastian. Kepastian ini yang menentukan apa yang kamu inginkan, apa yang kak Max inginkan, kalian perlu bertukar pikiran." Tari menaikan nada bicaranya.
"Kepastiannya, kami tidak berjodoh."
"Jika kamu sudah yakin lalu kenapa menangis?" Rinda kak Reza tahu kamu sudah besar, tapi pikiran kamu sangat egois, gagal satu kali bukan membuat kamu menyerah, tapi harus berjuang lagi."
"Aku setuju dengan Reza pikiran benci, tapi hati rindu. Ucapan bisa mengatakan aku baik, tapi respon tubuh tidak. Kak Max pasti punya alasannya." Boy menatap Rinda yang melangkah mendekati Boy.
Rinda memeluk Boy, mengatakan jika hatinya sangat terluka karena ditinggal oleh lelaki yang dia cintai, Rinda sudah memaafkan tapi tidak menerima penolakan Max.
"Rinda, jika kamu masih terluka berarti cinta kamu semakin besar. Kamu tidak marah dengannya hanya saja kamu mencari pelampiasan untuk meluapkan perasaan, meminta perhatian." Lian mengusap kepala Rinda.
"Seperti kak Lian menyamar menjadi Cristal, tapi mengirim surat cinta. Pada akhirnya kak Lian tidak move on." Rinda tertawa melihat wajah Lian memerah.
"Bicaralah dengan kak Max." Boy memeluk Rinda yang tersenyum.
***
__ADS_1