
Suara tangisan juga rengekan terdengar, Tari memukul Reza yang diam saja masih tetap tidur.
Reza membiarkan Tari terus meneriakinya, suara Tari marah, mengomel tidak dipedulikan.
"Jahat, Reza jahat."
"Reza bangun, nanti Tari sakit." Tari terus menangis menarik tangan Reza.
"Makanya kalau dinasehati dengar, kamu yang mengatakan tidak membutuhkan baju, minta dibuang saja bajunya."
"Kak Maxi tidak seperti itu sama Rinda, kak Max tidak pernah marah."
Reza langsung duduk melihat Tari menangis sesenggukan, rambut masih basah hanya menggunakan handuk yang menutupi dada ke pahanya.
"Tari, aku dan kak Max beda. Jangan pernah kamu samakan aku dengan lelaki lain, setiap orang punya cara sendiri."
"Kamu membuang baju Tari, lihat kak Max dia yang menyusun baju, merapikan semuanya. Kamu juga bisa melihat kak Miko, dia sangat lembut kepada kak Kai, bahkan Boy cuek saja melihat baju berantakan, barang mereka belum di rapikan, tapi kamu marah juga membuang semua baju Tari."
Reza tersenyum langsung berbaring kembali, menarik selimut menutupi tubuhnya. Mengabaikan Tari yang masih memukulinya.
"Kenapa kamu tidak menikah saja dengan kak Max, atau sekalian Boy. Jika di mata kamu aku buruk, tidak bisa menuruti kemauan kamu, kenapa menerima pernikahan?" Reza menutup matanya.
Tari terdiam menatap Reza yang memunggunginya, malam pertama mereka diisi dengan pertengkaran. Hubungan mereka belum berubah masih saling egois.
"Tari, aku tidak akan pernah bisa menjadi kak Maxi seperti harapan kamu. Aku punya karakter sendiri yang tidak akan berubah, karena bagi aku bukan suatu kesalahan. Aku tidak memerintah, membentak, memarahi kamu, tapi di sini kita saling belajar untuk memperbaiki diri. Kamu tidak punya pembantu, aku juga tidak punya."
"Maaf." Tari mengusap air matanya.
"Aku yang menafkahi kamu, memenuhi kebutuhan kamu. Aku tidak minta kamu melayani aku, tapi setidaknya kamu selesaikan yang mana menjadi tugas kamu. Berhenti bersikap manja seperti Rinda, kamu Tari bukan Rinda."
"Iya maaf."
"Merapikan baju kamu, menyusun alat make-up kamu, di mana letaknya, mana cantiknya hanya kamu yang tahu, tidak mungkin aku yang menyiapkan di mana pakaian dalam kamu, bagaimana aku membedakan perawatan wajah untuk mandi dan sesudah mandi?"
"Tari sudah minta maaf."
"Maaf jika aku tidak bisa memanjakan kamu seperti yang lain, tapi aku sangat mencintai kamu mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu." Reza langsung berdiri, mengeluarkan koper make up, baju dan seluruh kebutuhan Tari.
"Sekarang bangun, baju disusun di mana? kamu pilih tempatnya nanti aku bantu merapikan." Reza menyerahkan koper.
Tari langsung bangun membuka kopernya, memisahkan baju kerja, baju hari-hari, baju tidur, baju pesta, baju seksi dan baju tertutup.
Reza menghela nafas melihat seluruh lemari hampir milik Tari semua, sepatu boot, high heels, tas, perhiasan, aksesoris penuh.
Tatapan mata Reza tajam melihat satu meja rias penuh, tidak ada sedikitpun ruang untuk Reza.
"Tari suka kamar luas begini, baju Tari muat semua." Tari memakai baju seksi, tanpa pakaian dalam.
"Sudah rapi, sudah waktunya Tari tidur. Good night Reza." Tari mencium pipi Reza langsung lompat ke atas tempat tidur.
Suara petir membuat Tari teriak, langsung berdiri lagi memeluk Reza yang duduk di sofa.
"Ada petir."
"Di luar sedang hujan, jadi wajar saja jika ada petir angin."
__ADS_1
"Tari takut, ayo tidur. Sudah capek seharian beraktifitas." Tari meminta digendong.
Reza langsung menggendong, meletakan Tari ke atas tempat tidur menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
"Kamu tidak dingin menggunakan baju seperti ini?"
"Tidak, Tari nyaman tidur dengan baju ini."
Reza hanya tersenyum memeluk Tari, memejamkan matanya. Tari belum bisa tidur menekan hidung, bibir, pipi, mata Reza sambil tersenyum.
"Tari."
Mata Tari langsung terpejam, saat Reza membuka matanya. Bibir Reza mengecup bibir Tari yang langsung tersenyum.
"Katanya capek, tapi tidak bisa tidur."
"Ini malam pertama kita." Tari menarik, memutar, menyentuh baju Reza.
Reza mengerutkan keningnya, menatap Tari yang terlihat santai dan mencium dagunya.
"Kamu tahu malam pertama itu apa?" Reza menatap wajah Tari.
"Tahu."
"Apa?"
"Hari membuat anak."
"Kalau tidak jadi?"
"Pintarnya istriku, siapa yang mengajari?"
"Rinda."
Reza langsung mengetik kening Tari sampai teriak kuat, langsung berdiri memukuli Reza yang menyakiti keningnya.
"Kalau tidak ingin punya anak ya sudah?" Tari langsung melangkah pergi.
Suara petir yang kuat, membuat Tari balik lagi langsung memeluk Reza yang menghela nafasnya.
"Kak Reza tahu malam pertama itu apa?"
"Tari kamu manusia unik, barusan marah, sedetik kemudian sudah tersenyum lagi." Reza menggelengkan kepalanya.
"Jawab, tahu tidak?"
"Mau praktek."
"Belajar dulu baru praktek." Tari tersenyum menatap Reza.
"Tidak perlu belajar, Rinda sudah mengajari kamu, jadi aku yang akan mengajari praktek malam pertama."
"Malam pertama hanya satu kali seumur hidup? sama seperti mati."
"Iya, jangan membicarakan mati, baru juga nikah." Reza membuka bajunya.
__ADS_1
"Kenapa harus buka baju."
"Diam dulu, Tari harus janji tidak menceritakan kepada Rinda. Janji tidak teriak, tidak mengeluh, tidak memukul, tidak marah atau sejenisnya." Reza memberikan jari kelingkingnya.
"Janji." Tari tersenyum memberikan jari kelingkingnya.
Reza menahan tawa, mencium Tari yang langsung berada di atas tubuhnya. Reza tidak memberikan Tari waktu untuk menyela bahkan protes. Bahkan suara Tari yang marah tidak terdengar.
"Sudah janji tidak akan menangis."
"Tunggu dulu, jantung Tari berdegup. Malu, Tari tidak siap." Tari mendorong dada Reza.
"Terlambat mengatakan malu, apalagi tidak siap kamu yang memancing duluan."
"Tari tidak ada mancing, ini di rumah bukan di laut." Tari menjambak rambut Reza, meringis kesakitan.
Suara tangisan Tari pecah, memeluk erat tubuh Reza. Pelukan erat juga Reza lakukan berusaha menenangkan Tari yang meringis kesakitan.
Tangisan sudah hening, satu jam lebih Reza habisan memuaskan diri. Tidak ada penolakan sehingga keduanya bermandian keringat.
"Capek."
"Ya sudah mandi dulu, baru tidur."
"Jahat, badan Tari sakit semua."
"Sekarang masih sakit?"
"Tadi sakit, terus enak sekarang perih. Seluruh badan sakit."
"Ya sudah mandi dulu sayang, berhenti menangis." Reza menggendong Tari mandi bersama.
Reza kerepotan sendiri, karena terlalu lelah Tari sudah tertidur sambil mandi. Reza terpaksa harus memakainya baju, lalu mengeringkan rambut baru bisa tidur.
"Good night sayang, maaf jika menyakitkan. Aku berharap anak kita tidak cengeng seperti kamu. Cukup satu kamu saja sudah merepotkan."
"Capek kak, berhenti mengomel."
"Iya maaf, sudah tidur sana. Sebentar lagi siang." Reza memeluk Tari yang kelelahan setelah melewati malam pertama.
"Kak nanti anak kita cowok atau cewek?"
"Kembar lebih bagus." Reza tersenyum memejamkan matanya mendengar Tari yang mengigau.
"Maunya cowok, tapi jangan brengsek seperti Daddy-nya."
Reza membuka mata, menatap Tari tajam. Mencium bibir Tari yang mengomel.
"Rendra, dia pasti setampan kamu."
"Amin." Reza memeluk Tari erat, memejamkan matanya untuk tidur.
"Eh salah Rendri, Reza Tari."
"Tidak nyambung sayang."
__ADS_1
***