BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 ORANG YANG SAMA


__ADS_3

Langkah kaki Cristal memasuki perusahaan, langkahnya terhenti melihat seorang pria tampan yang dikelilingi banyak perempuan.


Senyuman Cris terlihat langsung melangkah mendekat melambaikan tangannya, mengagumi ketampanan pria yang ada di depannya.


Reza menjadi patung melihat Berlian tersenyum di depannya, melambaikan tangannya.


Langkah kaki Reza mendekati Lian yang menatapnya penuh rasa kagum, Reza juga tersenyum menggunakan jari telunjuk menekan kening Lian memintanya menyingkir.


"Bapak tampan sekali, pasti orang kaya." Cris menjabat tangan Reza berkenalan.


"Perkenalkan saya Cristal pak ganteng, panggil saja Cris." Cris tersenyum malu-malu.


"Perempuan aneh." Reza langsung melangkah pergi ke luar dari dalam perusahaan.


Cristal melambaikan tangannya, meminta Reza berhati-hati. Mengatakan mereka akan sering bertemu.


"Hei, kamu tidak tahu siapa dia?"


"Memangnya siapa dia?"


"Reza Chrispeter Arvin, dia cucu dari keluarga Chrispeter, putra perusahaan Arvin. Perusahaan terbesar kedua di sini selain perusahaan milik Boy."


"Boy siapa?"


"Pemilik perusahaan ini, dia pria dingin paling tampan, tapi menakutkan."


Cristal menganggukkan kepalanya, langsung melangkah ke bagian penerima karyawan baru. Cris menunjukkan kartu nama Boy, mengatakan jika dia rekomendasi oleh Kaira Chrispeter.


Cris tersenyum menerima kerja apapun, dia menerima pekerjaan sebagai OG di perusahaan.


"Kamu bekerja di bagian paling atas, karena yang biasanya bekerja di sana berhenti, kamu bisa mengantikan posisinya."


"Bagian atas."


"Iya, di sana khusus para petinggi termasuk tuan Boy Chrispeter Arnold. Kamu harus berhati-hati di sana jangan melakukan kesalahan, terutama di ruangan CEO."


"Siap Bu, Cris akan bekerja keras memberikan yang terbaik."


"Tugas kamu membersihkan ruangan, jangan keluar batasan."


Cris tersenyum dia akan bekerja keesokan harinya, langkah kaki Cristal lompat kecil meninggalkan kantor.


Melihat Rinda dan Reza sedang berbicara berdua, Cris bukannya menghindar tapi langsung memeluk Rinda mengatakan jika dirinya diterima kerja sebagai OG.


"OG, tidak ada pekerjaan lebih baik lagi." Rinda menatap Reza.

__ADS_1


"Rinda, dia pacar kamu. Pria tampan yang menjadi rebutan."


"Dia kak Reza, saudara Rinda."


"Wow, kalian keluarga unggul. Rinda cantik, kakaknya tampan, satunya dokter cantik."


"Berlian, aku berharap saat kamu bertemu Boy dia tidak membunuh kamu."


"Cris bukan Lian, kenapa harus membunuh Cris, memangnya Cris salah apa?"


Reza menyerahkan kunci kepada Rinda yang mengucapkan terima kasih, langsung melangkah pergi menuju kantornya.


"Dia pemarah."


"Kak Reza memang seperti itu." Rinda membuka pintu mobil meminta Cris masuk.


"Kita ke mana?" Cristal masuk tersenyum melihat Rinda.


Mobil Rinda melaju menuju sebuah apartemen mewah milik Reza, Rinda ingin Cris tinggal di sana agar bisa dalam pengawasan Rinda.


Apartemen juga tidak jauh dari perusahaan, jadi Cris bisa ke kantor jalan kaki. Tatapan mata Cristal terpesona melihat apartemen sangat mewah.


"Cris, apartemen ini milik kak Reza, kamu sementara tinggal di sini, Rinda sudah minta izin."


"Wow, akhirnya tuhan memberikan kesempatan Cris tidur nyaman." Cristal lompat di atas ranjang, memeluk bantal dan guling.


Kening Rinda berkerut, Cristal mengetahui nama panggil Kaira Kai, padahal tidak ada yang memberitahunya.


"Rinda tidak bisa kak, soalnya sudah perjanjian wajib pulang ke Mansion." Rinda melemparkan sebuah botol minuman.


Setelah mengantar Cristal, Rinda memutuskan untuk kembali ke Mansion. Rinda menghubungi Kai untuk pulang, ada yang ingin Rinda ceritakan.


Sesampainya di Mansion semua orang sedang keluar, Rinda mendengar suara mobil ternyata Maxi juga sudah kembali.


Maxi melangkah masuk melewati Rinda, bibir Rinda langsung monyong karena sudah hampir dua tahun Rinda dan max tidak saling berbicara.


Rinda melangkah ke taman belakang, menghirup udara segar duduk di bawah pohon. Memejamkan matanya sambil mendengar musik.


Maxi melangkah mendekati Rinda, berdiri di depannya memperhatikan wajah Rinda yang terlihat banyak beban pikiran.


"Sampai kapan kamu tidak ingin berbicara dengan aku Rinda? berhenti bersikap kekanakan." Max melepaskan headset dari telinga Rinda.


Rinda membuka matanya, menatap Max langsung berdiri menatap mata Maxi. Rinda tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, hanya tersenyum melangkah pergi.


Tangan Rinda ditahan oleh Max, Rinda memberontak tanpa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Rinda, bicaralah. Sudah dua tahun kita hanya saling pandang, tapi tidak saling menyapa."


Rinda masih terdiam, hati Rinda sakit saat dia berjuang meminta restu kepada kedua orangtuanya, bahkan keluarga besar Chrispeter. Saat perjuangan Rinda mendapatkan respon baik, terutama ayahnya yang sangat posesif memberikan restu, Maxi menolak untuk menikah Rinda, mengatakan tidak memiliki rasa apapun, hanya mengganggap Rinda Putri Chrispeter yang harus dia lindungi.


Mendapatkan jawaban cintanya bertepuk sebelah tangan, Rinda hanya bisa meneteskan air matanya, cinta pertamanya sangat menyakitkan.


Melihat penolakan Max Rinda berusaha untuk kuat menahan sakit hatinya, tidak mengubah sedikitpun sikapnya, dia masih Rinda yang ceria, seakan-akan tidak pernah terluka.


Air mata Rinda menetes, meninggalkan Maxi yang masih memanggilnya. Rasa yang paling Rinda benci tidak bisa mengubah sikapnya untuk peduli kepada Max, tetapi Rinda tidak pernah bisa berbicara, terlalu memalukan dan menyakitkan.


"Rinda mengerti mengapa kak Boy membenci Lian, Rinda juga merasakan benci karena cinta. Kita sama kak, memendam luka." Rinda menghapus air matanya.


"Rinda, apa yang ingin kamu bicarakan?" Kaira mengejar Rinda menaiki tangga menuju kamar Rinda.


"Kak Kai, Cristal memang kak Lian."


"Kamu yakin, sudah memastikan?" Kaira duduk di samping Rinda.


"Dia mengenali kita semua, hanya saja sikapnya yang berbeda."


"Kak Kai juga memikirkan hal yang sama, pertemuan kita membuat Lian terkejut, memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai pengurus anak, dia memilih untuk menjadi orang lain, Cristal tidak terdaftar di manapun, identitasnya." Kaira menunjukkan pencariannya.


"Kenapa kak Lian tidak kembali kepada kita?"


"Tujuannya melihat Boy."


"Kak Kai juga tahu, sebesar apa kebencian kak Boy."


"Mereka saling mencintai Rinda, kamu pasti tahu rasanya jatuh cinta."


Kaira menepuk pundak Rinda, meminta Rinda memberikan Maxi kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan alasannya pernah menolak.


Urusan Boy dan Lian biarkan mereka menyelesaikan permasalah hubungan mereka, Kai yakin Boy sangat mencintai Lian, sehingga rasa bencinya sangat besar.


"Rinda, cinta dan benci beda tipis." Kaira melangkah keluar.


Kaira membuka pintu kamar Rinda kembali, mempertanyakan luka Lian yang ada di pundaknya.


"Bukan hanya luka, kak Boy masih meninggalkan bekas di tubuh kak Lian, saat kami perawatan sangat terlihat."


"Kecupan permanen." Kaira tertawa langsung melangkah pergi.


Rinda menghela nafasnya, menghubungi Boy tapi tidak mendapatkan jawaban, menghubungi Reza juga tidak aktif. Miko sedang berada di lab, Rinda tidak bisa mengganggunya.


"Cinta dan benci, aku membenci kak Max tapi tidak ingin dia terluka. Sebenarnya aku tidak benci, hanya saja takut ditolak lagi, membenci rasa cinta yang belum bisa move on."

__ADS_1


***


__ADS_2