
Mentari masuk ke dalam kamar bersama Reza, Tari izin untuk mandi terlebih dahulu. Reza tidak menjawab, tidak meresponnya, Reza lebih pilih fokus melihat layar tabletnya.
Melihat Reza yang super cuek, terkadang super jahil, Tari memilih untuk mandi, berendam sejenak.
Reza menutup layar tabletnya, melihat Tari keluar hanya menggunakan handuk membuat Reza menelan ludah, memejamkan matanya, memijit pelipisnya.
Tangan Reza berusaha untuk mengambil air mineral langsung meminumnya, ruangan ber-AC terasa panas dan sesak.
Tari sudah menggunakan bajunya, mendekati Reza yang wajahnya memerah. Mata Reza juga berubah merah, Mentari mendekati Reza melihatnya yang sudah berusaha menahan diri.
"Tar, minuman mengandung obat, aku sulit menahan diri." Reza mencengkram kuat tubuhnya.
"Apa yang harus Mentari lakukan tuan?" Mentari melihat Reza yang sudah menyentuh pundaknya.
"Masuk ke dalam kamar mandi, jangan keluar sampai besok pagi." Reza langsung berjongkok memeluk tubuh Mentari, mengigit pelan pundaknya.
"Kenapa tidak tuan saja yang masuk?" Mentari merasakan pundaknya perih.
"Kurang ajar kamu Mentari, masih sempatnya kamu melakukan penawaran. Aku tuan kamu." Reza memeluk pinggang Mentari, masih coba menahan agar tidak tergoda dengan bibir seksi Mentari.
"Sudah tuan, jangan genit sebaiknya tidur ...." Mentari tidak bisa menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah tertutup, serangan Reza yang buas membuat Tari harus melawan.
Keduanya sudah berguling di lantai, Mentari kehabisan tenaga melawan tenaga Reza yang berkali-kali lipat lebih kuat, baju atas Mentari sudah melayang.
"Mentari hentikan aku, jangan pasrah kamu bisa terluka." Reza masih berusaha sadar, melihat Mentari kehabisan tenaga.
"Boleh Mentari memukul tuan?" Mentari melihat Reza yang sudah berada di dadanya.
Tangan Mentari menancapkan sesuatu, tangan Reza yang sudah berada di bagian bawah langsung berhenti. Mentari mendorong Reza.
Cepat Tari menggunakan bajunya kembali, ada rasa kasihan melihat Reza yang sudah kedinginan, bibirnya berubah hitam, sekuat tenaga Reza menahan.
Mentari masih setia menunggu Reza, menyelimuti tubuhnya yang bergetar. Kepala Reza di letakkan di pahanya, Mentari menggosok tangan Reza menghangatkan.
Setelah tenang, Reza membuka matanya melihat Mentari ada di sisinya, masih menghangatkan tangannya. Reza menarik kepala Mentari untuk mendekati wajahnya, mencium bibirnya yang seksi.
Merasakan Reza yang sudah tenang, menciumnya juga lembut, Tari memejamkan matanya menikmati yang Reza lakukan.
"Kamu baik-baik saja?" Reza menatap mata Mentari.
"Tuan sudah sembuh." Mentari melihat bibir Reza kembali normal.
"Iya, terima kasih bantuannya. Buang sisa air dalam botol."
__ADS_1
"Baik Tuan, suntikan tadi menyiksa tuan, Mentari tidak tega melihatnya. Maafkan Mentari yang menuruti perintah untuk menyakiti."
"Sudahlah kamu beristirahat, besok kita akan melakukan perjalanan panjang."
Reza duduk menggigat hal gila yang baru saja terjadi, tidak bisa Reza bayangan jika dia sampai meniduri Mentari yang super polosnya.
"Tuan, lihatlah leher Mentari merah semua." Mentari menunjukkan.
Reza langsung berdiri melangkah mendekati Mentari beberapa gigitannya.
"Maafkan aku, suatu hari aku akan bertanggung jawab. Ingat Mentari kamu tidak boleh melakukan hal tadi dengan siapapun, jangan pernah biarkan ada yang menyentuh sedikit saja tubuh kamu." Reza memegang kedua pundak Tari memintanya untuk mengerti.
"Baik tuan, Mentari hanya boleh melakukannya dengan tuan."
"Iya hanya aku yang boleh menyentuh kamu, panggil Reza jangan tuan."
Mentari tersenyum Reza yang dingin sebenarnya sangat baik, berusaha untuk tidak kasar kepada wanita, Mentari tidak polos seperti yang Reza pikirkan, Mentari hanya menjalankan tugasnya untuk menjaga Reza, tapi melihat cara Reza menunjukkan jika Reza menganggap Tari bukan bodyguard, memandang sebagai seorang adik atau wanita.
***
Kai berlari dari kamarnya langsung memaksa Rinda untuk membuka pintu kamarnya, Rinda binggung melihat kakaknya sangat panik.
"Ada apa kak Kai?" Rinda duduk, Miko juga sudah duduk melihat Kai.
"Kak Kai mengkhawatirkan Rinda atau diri kakak sendiri." Rinda tertawa, langsung masuk menuju ranjang untuk tidur.
Kaira juga langsung naik ke atas tempat tidur, keduanya memejamkan mata bersama, Rinda membuka mata menatap Kai.
"Kak Kai, ayo kita tukeran pengawal. Rinda ingin merasakan kerja dengan Maxi yang dingin."
"Kak Maxi sejauh ini baik, dia menjaga aku dengan ketat, sesekali juga menjaga Berlian dan Mentari."
"Kak Miko juga baik, selalu menjadi perisai Rinda, bertanggung jawab atas segala kesalahan Rinda." Rinda tersenyum memejamkan matanya.
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, tapi masa lalu kejam Miko dan Maxi mengajari mereka arti setia.
Miko melihat ke atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuh Rinda, Kai terbangun menahan tangan Miko.
"Aku hanya ingin menyelimutinya." Miko juga menarik selimut untuk Kaira, mengucapkan selamat tidur.
Kai tidak menjawab langsung memejamkan matanya, beristirahat untuk bertualang besok.
Maxi berdiri di depan jendela, melihat gelapnya malam, Miko menepuk pundak Maxi.
__ADS_1
"Nona muda Kai sangat sensitif?"
"Dia hanya berhati-hati, Kai juga sedang mengendalikan pikirannya yang berlebihan. Dia wanita kuat."
"Iya aku bisa melihatnya, waktu cepat berlalu, kita sudah tua sedangkan mereka sudah dewasa. Aku tahu kamu mengkhawatirkan Lian dan Tari, tapi percayalah kedua Tuan muda bisa mengendalikan diri." Miko menepuk pundak Maxi.
"Max jangan katakan kamu jatuh Cinta kepada salah satu pengawal?' Miko tersenyum merangkul Maxi.
"Aku tidak punya waktu memikirkan cinta, seumur hidup hanya untuk mengabdi kepada keturunan Chrispeter." Maxi menatap ke atas melihat langit malam.
"Aku pernah jatuh cinta, tapi dia melukai Rinda, aku hampir membunuhnya, sejak saat itu aku takut jatuh Cinta, mulai sadar diri hidupku hanya untuk mengabdi kepada keturunan Chrispeter." Miko menghela nafas.
***
Pagi hampir siang, Reza mulai emosi menunggu Boy keluar kamar. Miko langsung meminta kunci pengganti. Mentari mulai mengkhawatirkan Berlian, pintu diketuk tidak ada yang membukanya.
Miko berlari langsung memberikan kunci kepada Reza, tanpa berpikir 2 kali Reza langsung masuk, melihat kamar yang terlihat tenang.
Tatapan mata Reza tajam melihat Boy yang dengan santainya, bisa tidur berpelukan dengan Berlian. Keduanya tidak memiliki jarak sama sekali, tidur berpelukan.
Mentari kaget melihat Berlian dalam pelukan Boy, Kai sudah melotot, hanya Rinda yang tertawa kuat. Rinda langsung naik ke atas ranjang, lompat-lompat sambil tertawa.
Kai sudah menarik bantal memukul Boy agar cepat bangun. Reza menggelengkan kepalanya, Boy masih saja konyol, Lian yang bodoh mengikuti tingkah Boy.
"Apa yang kalian lakukan?" Boy membuka matanya, Lian juga bangun melihat Rinda yang lompat-lompat.
"Kak Boy yang tidak punya otak, bisanya bangun siang, asik tidur berpelukan." Reza menggelengkan kepalanya.
"Namanya juga tidur Za, tidak sadar jika ada guling hangat. Salahkan Lian tidak ingin tidur di sofa."
"Seharunya tuan yang tidur di sofa, tidak ingin mengalahkan dengan perempuan." Lian menatap sinis.
"Masalah kalian kenapa bangun siang, aku juga tidur bersama, tapi tidak konyol seperti kalian berdua, sekarang kita terlambat karena kapal kemungkinan sudah berangkat." Reza langsung melangkah keluar.
"Reza baru saja mengakui dia tidur bersama Tari." Boy tertawa kuat.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1