BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 JANJI CINTA


__ADS_3

Suara dentuman ledakan terdengar, Boy langsung membuka matanya melihat Lian masih tertidur dalam pelukannya.


"Lian bangun." Boy mencium kening Lian.


"Suara apa tadi Boy?" Lian langsung mengeratkan pelukannya.


"Ledakan bom, sepertinya ada pelatih pengawal."


Lian melepaskan pelukannya, langsung membalik badannya membelakangi Boy. Suara alarm ponsel Boy terdengar langsung mematikannya, memeluk Lian dari belakang.


"Lian setelah ini, izinkan aku melamar kamu menikahi kamu, menjadi Ayah dari anak-anak kamu." Boy mengeratkan pelukannya.


"Terlalu kencang, Lian tidak bisa bernafas." Berlian tertawa bahagia mendengar ucapan Boy.


Mata Boy dan Lian bertemu, menyatukan dua hidung mancung mereka. Tersenyum mengucap janji saling mencintai, setia dan saling mendampingi.


"Maafkan Lian yang pernah meragukan cinta kamu, seorang putra dari keluarga Chrispeter dan Arnold mencintai seorang wanita yatim piatu, bukannya kisah cinta cerita dongeng. Lian masih merasa semua ini mimpi, sungguh Lian sangat takut untuk bangun." Lian mencium tangan Boy.


Senyuman Boy terlihat memejamkan matanya memeluk Berlian, keduanya saling berpelukan erat.


Matahari sudah tinggi, Maxi terbangun melihat Rinda tidur disisinya. Melihat jam sudah hampir jam sepuluh siang, Max langsung berlari ke kamar mandi.


Rinda meraba di sisinya tidak ada lagi Max, langsung duduk menguap mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Morning Rinda, cepat mandi kita kesiangan." Maxi menarik tangan Rinda.


Suara Rinda tertawa terdengar, meletakan tangannya di leher Maxi. Melihat Rinda bangun tidur sangat alami, tanpa make-up terlihat sangat cantik membuat Max tidak bisa menahan diri.


Keduanya saling berciuman, Max lupa langsung tidur kembali bersama Rinda ke atas ranjang. Baju tidur Rinda sudah terlepas, suara alarm kedua menghentikan Maxi langsung berdiri menutup tubuh Rinda menggunakan selimut.


"Rin ayo mandi." Maxi mengacak rambutnya.


Rinda sudah tertawa meminta Max mengambil bajunya, langsung memakai lagi memeluk Max mencium bibirnya lama.


"Kak maafkan Rinda jika memaksa perasaan, jangan kasihan Rinda jika memang tidak ada rasa cinta." Rinda melangkah ke kamar mandi, tapi tangannya ditahan oleh Max.


Maxi memeluk Rinda dari belakang, menyingkirkan rambut panjang Rinda mengigit leher Rinda membuat rasa perih juga bekas merah.


"Kamu tidak tahu betapa menderitanya aku menahan diri agar tidak menganggap kamu sebagai wanita, kamu seorang putri yang harus aku jaga. Mencintai kamu bukan hal yang mudah, jika boleh memilih daripada kamu mengabaikan aku, lebih baik aku bermandian darah penuh luka dari pada merasakan lukanya hati." Maxi memeluk erat tidak ingin melepaskan Rinda.

__ADS_1


"Rinda merasa kak Max tidak mencintai Rinda."


"Maafkan kak Max, setelah masalah tahanan kita perjuangkan cinta kita meminta restu Papi." Max melepaskan pelukannya.


Rinda tersenyum langsung memeluk Max, Maxi juga tersenyum bahagia bisa berdua, berdebat, tidur bersama, berpelukan dan saling mengatakan cinta.


Rinda melangkah untuk mandi, meminta Max menunggunya.


***


Suara ledakan dan alarm sudah dua kali dibunyikan, Kaira sudah mandi keringat bersama Miko menunggu Boy Lian, Max Rinda apalagi dua manusia paling lelet Reza Tari.


Rinda mengambil senjata mengarahkan ke arah pohon, berkali-kali tembakan Kai meleset. Miko langsung berdiri di belakang Kai, menyentuh pinggang Kai, menyentuh kedua tangannya mengarahkan senjata kepada sasaran.


Suara tembakan terdengar, sasaran langsung hancur. Kai tersenyum menatap tangan Miko, jantung Kai berdegup kencang langsung melihat ke arah wajah Mik yang ada di pundaknya.


"Kenapa tidak fokus?" Miko menatap Kaira.


"Kesal. Kita menunggu dari pagi tapi belum ada satupun yang datang, jika Kai tahu juga tidak ingin turun duluan." Kai menghela nafasnya.


"Biarkan saja Kai, tidak ada ruginya kita bangun pagi, berkeringat juga menyabut pagi yang cerah."


Miko mengeluarkan seluruh peluru, duduk di rerumputan melihat ke depan, Kai juga duduk di samping Mik.


Kaira memeluk lututnya menatap ke pohon sasaran, sesekali melirik Miko yang diam saja.


"Kai,"


"Iya kak."


"Kita berdua seperti pohon sasaran, berkali-kali kita berjuang untuk menebak tidak pernah tepat, tanpa disadari menyakiti setiap sisi." Miko menatap Kaira yang juga menatapnya.


Kaira tersenyum, Mik benar ada rasa sakit karena kesalahan. Sebenarnya pohon sasaran bahagia saat dirinya tersakiti, tapi tidak berhenti berjuang sampai akhirnya berhasil yang membuat kecewa sudah menyakiti, lalu meninggalkan.


"Kak, jangan samakan Kaira dengan wanita lainnya. Kai bahagia menjadi bagian Chrispeter, tapi Kai juga sedih karena tidak ada yang berani mendekati Kai karena status yang Kaira miliki. Kak Miko sama dengan orang di luar sana, berjuang belum, mengungkap rasa juga belum sudah menyerah dan meninggalkan."


Miko tertawa menatap mata Kai yang terlihat kecewa, membuang arah pandanganya agar tidak menatap Miko.


"Siapa yang menyerah dan meninggalkan? kak Miko masih ada di sini Kai, selama tiga tahun kak Miko selalu ada di sisi kamu bahkan mengantikan posisi Max sebagai pengawal kamu."

__ADS_1


"Kaira tidak tahu apapun, karena status kita hanya sebatas pengawal dan ...." Kai terdiam kaget.


Miko menutup mulut Kai, menciumnya. Tangan Miko menahan tekuk leher Kai, satu tangannya memeluk pinggang Kai.


Keduanya berciuman saling membalas, memejamkan matanya tidak menyadari ada empat pasang mata yang berdiri tercengang.


Boy ingin menghentikan Miko, tapi langsung diancam oleh Lian, Maxi sudah menatap tajam, tapi mulutnya ditutup dan rambut Max sudah Rinda tarik.


Rinda dan Lian tersenyum, melihat Miko dan Kaira akhirnya tidak saling tertutup. Miko mencium kening Kaira.


"Kai aku mencintai kamu, izinkan aku menjadi penjaga kamu dan penjaga hati kamu."


Kaira menganggukkan kepalanya, langsung memeluk Miko erat.


Suara Rinda dan Lian bertepuk tangan terdengar, keduanya saling berpelukan. Rinda langsung memeluk Miko dari belakang, Lian juga memeluk Kai mengucapkan selamat.


Maxi langsung menarik Rinda, melarangnya memeluk Miko. Maxi menatap Miko sambil menghela nafasnya.


"Lama sekali kalian keluar, sudah hampir tengah hari, rencananya pergi sebelum matahari terbit, tapi sepertinya kita sedang menunggu matahari terbenam." Miko menatap Boy dan Maxi.


"Iya maaf, ketiduran." Maxi melihat ke arah lain.


"Di mana Reza dan Tari?" Boy melihat sekeliling tidak ada dua manusia yang sama-sama egois terlihat batang hidungnya.


Rinda, Lian dan Kaira langsung berlari ke dalam rumah. Boy, Maxi dan Miko juga berlari mengejar masuk ke dalam.


Lian langsung mendobrak pintu kamar Tari, menatap tajam dua manusia yang masih asik tidur.


"Oh tuhan, masih hidup atau sudah mati ini anak berdua." Rinda tersenyum.


Reza tidur memeluk kaki Tari, sedangkan kaki Reza ada di wajah Tari.


Rinda meminta semuanya diam, langsung mengambil kamera memotret Reza dan Tari dua manusia paling konyol.


"Satu dua tiga ... Reza ... Tari ... bangun!" Rinda, Lian dan Kaira teriak kuat.


Tari langsung terkejut menendang kepala Reza. Suara Rinda tertawa sangat besar, melihat Reza bangun dalam keadaan hidung berdarah.


***

__ADS_1


__ADS_2