BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TEROWONGAN


__ADS_3

Seluruh pandangan tertuju pada layar yang sudah penuh tanda silang merah, Max mencoret banyaknya orang yang sudah meninggal sampai pada masa dirinya di penjara.


Max memiliki ingatan yang sangat tajam, apapun yang dia lihat langsung terngiang sulit dilupakan.


"Kenapa pada masa ini semuanya dicoret kak?" Reza menatap Maxi.


"Mereka semua sudah meninggal pada masa Paman Ahlan dan Ahlam, mereka satu komplotan."


"Kenapa satu orang ini tidak dicoret? Boy menatap satu foto."


"Dia masuk penjara saat usia lima tahun bersamaan dengan paman Ahlan dan Ahlam di penjara, dia tidak pernah berbicara lebih tepatnya tidak bisa berbicara."


"Di mana dia Max? aku sepertinya mengingatkannya." Miko mendekati foto.


"Dia masih hidup sampai sekarang, salah satu orang yang berhasil kabur."


"Berapa usianya sekarang?" Kai juga memperhatikan.


"Hitung saja sendiri, dia masuk usia lima tahun, saat aku Miko masuk dia sudah remaja, berarti sekarang sekitar lima puluh tahun ke atas."


Boy, Reza, Maxi, Miko dan Kaira memperhatikan sepuluh foto yang tersisa. Semuanya sibuk membahas soal keberadaan para buronan, sedangkan Lian, Tari dan Rinda sibuk cekikikan tertawa melihat pengawal yang tampan-tampan.


"Berbalik sekarang atau kepala mereka akan berlubang!" Boy menatap tajam, Lian langsung berbalik.


Rinda dan Tari masih melambaikan tangannya, Lian menarik baju Tari dan Rinda untuk berbalik. Lian takut melihat mata Reza dan Maxi yang sangat tajam.


"Apa Lo? tidak senang melihat orang cuci mata." Rinda menepis tangan Lian.


Suara tembakan terdengar, seluruh kaca pecah. Tari dan Rinda langsung berbalik menutup telinganya, Reza dan Maxi menembak para pengawal sampai bubar.


"Kita di sini sibuk mencari kebenaran keberadaan para buronan, sedangkan kalian tertawa melihat yang bening-bening."


"Nama aku Berlian Boy bukan Bening." Lian tersenyum.


"Tidak lucu Lian!" Boy menaikkan nada bicaranya.


"Salahkan kak Lian yang genit, mengajari kita melihat hidung mancung, lesung pipi, tubuh tinggi berotot."


"Kapan aku mengatakannya Rin, jangan asal bicara. Kamu yang mengatakan dadanya lebih seksi dari Max."


"Bukan Rinda, tapi Tari yang mengatakannya."

__ADS_1


Mentari menatap tajam Rinda dan Lian, tapi tidak mengeluarkan suara karena takut melihat mata Reza.


Rinda melangkah melihat sepuluh orang yang sudah dicatat sebagai buronan yang melarikan diri, Rinda tersenyum melihat foto seorang anak kecil yang sekarang sudah tua.


"Dia masih gagah, tampan dan perkasa." Rinda menunjuk foto anak kecil puluhan tahun yang lalu.


"Rinda, kamu tahu apa soal perkasa?" Maxi menatap tajam, menarik lengan Rinda.


"Tentu Rinda tahu, gagah perkasa." Rinda tersenyum.


Miko menundukkan kepalanya tertawa, dalam sehari ada saja hal konyol yang Rinda lakukan. Maxi harus sabar menghadapi Rinda yang konyol.


"Baiklah pria perkasa ini jauh lebih tampan dari aku?" Maxi menutup wajah anak kecil langsung meremasnya.


"Emhhh tunggu sebentar, Rinda membayangkan wajah Om tampan gagah perkasa." Rinda memejamkan matanya.


"Ya Tuhan, Rinda jaga perasaan aku Rin." Maxi mengerutkan keningnya.


"Salah Rinda di mana kak Max yang bertanya. Masih tampan kak Max, tapi beda tipis dia setampan Kakek Haikal, biarpun sudah tua masih tampan dan gagah." Rinda menakup wajah Max menatap matanya tajam yang terlihat kesal.


Boy dan Reza saling pandang, langsung menatap ke arah Rinda yang bisa mengenali wajah anak kecil yang sekarang berusia lima puluh tahunan.


"Di mana kamu melihat dia Rinda?" Boy bernada dingin.


"Tari juga melihatnya, rambutnya putih hitam, ukuran dadanya sama seperti punya Tari."


Boy, Maxi dan Miko langsung menatap ke arah dada Tari. Reza langsung berdiri di depan Tari menatap tiga pria yang langsung memalingkan wajahnya.


"Ayo fokus, jika ingin bertengkar lanjut nanti saja saat kita sudah menyelesaikan tugas." Miko menepuk tangannya, menutup seluruh tirai jendela.


Semuanya berkumpul melingkar, Miko membuka hasil rekaman penjara bawah tanah. Pemimpin yang merencanakan pelarian masih ada di sekitar mereka, berarti tidak ada yang bisa melarikan diri dari gerbang markas yang penjaga semakin ketat.


Reza menjalankan mobil remote kecil yang sudah disetting, langsung melaju ke area tahanan.


Banyak tahanan yang memperhatikan laju mobil, ada juga yang mengamuk ingin megambil mobil yang terus menabrak banyak area.


"Masuk ke arah sel yang kosong Za." Boy memberikan perintah.


Mobil langsung melaju ke beberapa ruangan kosong, Lian menahan tangan Reza meminta mundur perlahan.


Reza mengikuti keinginan Lian yang langsung menghentikan mobil remote di satu sel yang diketahui sel anak kecil.

__ADS_1


"Siapa namanya?"


"Z, dia hanya mendapatkan julukan Z." Maxi menunjukkan foto anak kecil.


Lian mengambil alih mobil, langsung berputar mengelilingi ruangan. Saat berada di pulau Heart Lian menemukan lubang bulat yang menghubungkan beberapa tempat.


"Di sinilah jalan keluar masuk mereka, sebenarnya Mister Z sudah lama memiliki pintu rahasia, dia sudah terbiasa keluar beradaptasi dengan seluruh pengawal yang berjaga." Lian menatap yang lainnya.


"Kenapa tiba-tiba dia melarikan banyak orang?"


"Mungkin untuk melaksanakan tugas balas dendam, setiap orang yang ada di sini memiliki dendam dan amarah yang sangat besar." Miko menghela nafasnya.


Mobil remote berhenti, dugaan Lian benar langsung muncul sebuah kode rahasia. Kehebatan manusia yang tersembunyi mampu menciptakan ruangan bawah tanah berbentuk terowongan.


"Apa mereka ada di terowongan?" Reza menatap yang lain.


Berlian memeluk lengan Boy, mengatakan terowongan tempat paling menakutkan, gelap sempit, pengap, tidak ada udara sehingga sulit bernafas.


"Boy mereka memilih tinggal di terowongan sama saja mereka sedang menunggu kematian."


"Kamu juga bisa selamat dari terowongan yang sangat panjang, berarti bagi manusia psikopat seperti mereka, terowongan dijadikan tempat tinggal yang paling menyenangkan.'


"Kak Mik sependapat dengan Reza. Mereka tinggal di sana, bisa bergabung dengan para pengawal, karena melarikan diri dari perbatasan sangat mustahil."


"Tari masih binggung, lalu siapa yang menyerang di villa?"


"Hanya orang suruhan, kakek Akbar tidak berhati-hati sehingga bisa meminum obat berbahaya yang membuat tubuhnya langsung melemah." Boy mengeluarkan senjatanya.


"Boy jangan gunakan senjata, lima tahun yang lalu para pengawal mendapatkan izin untuk menikah agar memiliki keturunan, jika kamu salah sasaran satu keluarga kamu hancurkan." Maxi menatap Boy yang menyimpan kembali senjatanya.


"Apa rencana kita?" Kaira menatap satu-persatu.


Maxi menawarkan diri untuk masuk ke dalam terowongan, tapi Boy menolak tidak memberikan izin, mereka hanya perlu mencari pintu keluar dari terowongan bawah tanah.


Reza mengeluarkan mobil kecil terakhir yang akan mengantarkan Bom peledak, membuat semuanya harus melarikan diri, barulah mereka akan berjumpa di pintu rahasia.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2