
Setelah satu minggu kembali, Boy merasakan bosan ingin pergi ke kota yang sedang berkembang pesat dalam bisnis. Boy merasakan ada sesuatu yang mencurigakan.
Di bawah pohon rindang, Boy mendekati Rinda yang sedang asik santai menikmati angin sepoi-sepoi, sambil mencoret kertas gambar.
"Rin, kamu tahu tidak soal Kota terpencil yang sekarang menjadi tempat menimbun emas. Kak Boy juga mendapatkan kabar, banyak pemberontak yang melarikan diri dari penjara bersembunyi di sana." Boy terus berpikir.
"Menimbun emas, menimbun mayat Rinda percaya." Rinda tertawa melihat Boy, Rinda mengerti Boy ingin pergi, tapi untuk pergi ke sana, harus bersama yang lainnya.
"Kira-kira Reza bersedia tidak untuk pergi bersama, jangan bilang Reza sibuk pacaran."
"Kak Reza sepertinya sudah bergerak. Dia kemarin ingin melarikan diri, tapi tertangkap oleh Mommy Reva."
Boy langsung memanggil Reza, Kai juga ikut mendekat bersama Reza yang masih muka bantal. Kai duduk di samping Boy, membuka bukunya, duduk diam.
"Za, ayo kita pergi ke kota Z. Aku penasaran apa yang terjadi di sana?"
"Bisa saja kita pergi, tapi harus membawa pengawal pribadi."
"Pengawal?"
Kei menceritakan kejadian 10 tahun yang laku, Paman Ahlam meninggal dunia, meninggalkan seorang putri yang sekarang kemungkinan berusia 17 tahun. Setelah meninggalnya Paman Ahlam, beberapa bulan setelahnya istrinya juga meninggal. Putri mereka tinggal bersama Paman Ahlan, pergi dari negara ini. Keluarga Chrispeter memberikan kebebasan.
Lima tahun yang lalu, Kei dikejutkan oleh kedatangan dua wanita cantik, Kemungkinan besar putri Paman Ahlam, juga Paman Ahlan. Kei tidak mendengar secara langsung, tapi menurut ceritanya Paman Ahlan meninggal kecelakaan bersama istrinya.
Boy kaget mendapatkan kabar Paman Ahlam tidak berumur panjang, belum lagi Paman Ahlan harus meninggal karena kecelakaan. Boy yang paling banyak kenangan bersama kedua Paman berbadan besar, sejak bayi mereka yang menggendong Boy, mengajari Boy menembak, bertarung, bahkan Boy sangat mengigat saat dirinya jatuh ke kolam, kesulitan untuk berenang, Paman Ahlam langsung cepat menolong.
Ingatan Boy sangat jelas tentang kedua pamannya, jika benar Paman sudah tiada, Boy mendoakan yang terbaik, berharap kebahagiaan untuk keturunan yang di tinggalkan.
"Di mana kedua wanita itu kak?" Rinda menatap Kai.
"Paman Bara mengirim keduanya sekolah, tapi Kai tidak tahu sekolah jenis apa?"
"Berarti kemungkinan besar dua wanita ini akan menjadi pengawal kita." Reza melihat gambar yang tidak begitu jelas.
__ADS_1
Kei menggagukan kepalanya, walaupun Kai tidak bertemu langsung, tapi sudah pasti sesuai janji keturunan Paman harus menjadi pengawal keluarga Chrispeter.
Suara alarm keamanan Chrispeter berbunyi, Boy melihat ke atas helikopter keluarga Chrispeter
siap mendarat. Rinda menggunakan kacamata jarak jauhnya, melihat Maxi dan Miko turun bersama dua wanita cantik.
"Gila, cantik sekali. Rinda bisa kalah saing." Rinda langsung berdiri, berlari ke arah Mansion, meninggalkan yang lainnya.
Reza juga langsung berdiri, melangkah bersama Boy dan Kai. Berjalan untuk melihat tamu istimewa yang di bawa oleh Maxi dan Miko.
Di dalam Mansion seluruh keluarga besar berkumpul, makan malam bersama keluarga besar. Para kakek dan nenek akan pergi ke tempat yang tenang untuk sementara waktu. Meninggalkan dunia Chrispeter yang penuh kekerasan. Haikal membuat Mansion baru, dekat dengan pantai, tidak jauh juga dari bukit, perkebunan, tempat yang tenang, untuk menikmati haru tua.
Bara dan Bi juga kembali ke Mansion mereka, begitupun dengan Asep dan Reva, Keisya dan Riki, Raffa dan Rinda. Mansion yang tidak berjauhan.
"Semuanya silahkan duduk, Ayah sudah tua sudah saatnya beristirahat total hanya menunggu ajal menjemput. Kalian harus menjaga keluarga kita, keturunan keluarga dengan baik."
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Bi tidak suka mendengarnya."
"Semua ini sudah kenyataannya Bi, kami sudah sangat tua. Sekarang tugas kalian meneruskan keluarga ini. Terutama para penerus, Boy, Kai, Reza dan bontot Rinda." Rian tersenyum melihat keempat cucunya yang sudah besar.
"Nia juga cucu kakek, keturunan Chrispeter, tapi Nia masih kecil harus banyak belajar tentang keluarga kita. Nia dan Natha yang paling spesial."
"Apa maksud kakek, berarti Rinda tidak spesial lagi. Ohh karena Rinda sudah tidak mengemaskan lagi."
"Rinda, diamlah." Rindu menatap tajam.
Banyak hal yang dibicarakan Haikal, Akbar juga angkat bicara meminta semuanya kompak. Besok mereka akan pergi mencari ketenangan, akan kembali jika salah satu akan menikah.
Kediaman Chrispeter akan sepi, hanya ada Raffi dan keluarga kecilnya. Boy menatap kesedihan orang tuanya melihat perpisahan dengan kakek neneknya.
Keinginan Boy untuk mengutarakan keinginannya, menjadi tertunda, cukup saat ini fokus kepada kakek nenek mereka.
Reza menatap Boy, dia juga tidak ingin bertanya soal dua wanita yang baru saja tiba, setelah kakek neneknya pergi barulah bicara dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Makan malam dilakukan dengan tenang, Boy tersenyum melihat dua bocah kecil Chrispeter yang sedang berusaha untuk mengikuti aturan makan malam keluarga, melihat Nia yang menggemaskan mengingatkan Boy kepada Rinda saat kecil.
Nia melotot melihat Boy, dia ingin bicara tapi dilarang saat makan berbicara. Nia menggenggam tangannya diarahkan kepada Boy. Ternyata Rinda memperhatikan, mengambil ayam gorengnya, menghabiskan dagingnya sampai tersisa tulang.
Rinda mengarahkan mengincar kepala Nia, Rinda memperhatikan keluarga yang fokus terhadap makanan masing-masing. Rinda melempar kepala Nia dengan tulang ayam.
Nia yang merasakan Kepalanya sakit, langsung menatap Rinda yang menjulurkan lidahnya, air mata Nia menetes, menangis sambil diam. Boy melihat ke arah Rinda yang cuek saja.
Boy langsung berdiri, mengambil Nia membawanya menjauh. Tangisan Nia langsung pecah, yang lainnya heran melihat Nia yang tiba-tiba menangis, sedangkan Rinda tetap menghabiskan makanannya sambil tersenyum.
"Dasar Rinda cemburuan, jahil." Kai berbisik di telinga Rinda.
Boy berusaha menenangkan Nia yang menangis sesenggukan, memegang kepalanya yang sakit terkena kerasnya tulang.
"Nia, maafkan kak Rinda, dia terbiasa manja. Nia juga sama manja jadi harus saling mengerti."
"Kak Rinda jahat, lihat kepala Nia."
Boy tertawa melihat kelucuan Nia, putri dari Raka Chrispeter yang setelah sekian lama akhirnya diberikan momongan, seorang putri cantik.
Nia perlahan terlelap dalam pelukan Boy, Nayla datang mendekat mengelus kepala Boy. Keponakan satu-satunya dari kakaknya Bara.
"Maafkan Nia Boy, kamu lanjutkan makan saja."
"Baiklah Aunty." Boy menyerahkan Nia kepada ibunya untuk dibawa ke kamar.
Boy Kembali ke meja makan, melihat sekilas seorang wanita cantik bersama Maxi. Keduanya sedang membicarakan hal yang sangat serius, Boy memperhatikan wajahnya, dari kejauhan Boy sudah bisa menebak, putri paman Ahlam.
Maxi orang yang mendapatkan kepercayaan, selain menjaga Kaira juga mengawasi dua wanita, yang membuat Boy masih bertanya-tanya, mungkinkah mereka akan menjadi pengawal, jika iya, Boy sangat penasaran dengan kemampuan seorang wanita.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***