
Di dalam kamarnya Rinda duduk di pinggir ranjang, terdiam melihat ke jendelanya banyak sekali burung gagak hitam. Malam yang dingin ditambah lagi suara burung gagak yang membuat suasana menjadi mencengkram.
Rinda meneteskan air matanya, membayangkan wajah Miko yang bermandian darah.
"Kak Miko sudah berjanji, tidak akan mati dalam keadaan tragis." Rinda menutup wajahnya.
Rinda mengingat saat dirinya melangkah pergi meninggalkan kediaman Chrispeter, satu lelaki tampan, gagah juga masih muda berdiri di samping Papinya.
Papi Raffa merangkul Miko pergi bersama mereka, Miko menjadi pengawal pribadi Rinda, juga kakak satu-satunya Rinda.
Tinggal di tempat yang sangat ramai penduduk, membuat Rinda tidak bisa tidur dengan tenang, Miko memberikan musik yang bernada halus agar Rinda bisa rileks.
Saat pulang sekolah, Miko sudah menunggunya menggandeng tangan kecil Rinda melangkah bersama.
Sejak kecil Rinda tidak pernah berpisah dari Miko, Rinda meledakan satu apartemen membuat keributan satu kota, Miko yang menyelamatkan Rinda, membawanya bersembunyi agar tidak ada yang mengetahui tindakan Rinda.
Saat pertama masuk lab, Rinda menghancurkan lab Maminya, Miko orang yang di salahkan karena harus menanggung kesalahan Rinda. Miko dihukum harus melakukan hafalan seribu macam jenis obat, jika belum hafal belum boleh masuk ke dalam rumah.
Rinda hanya bisa menatap dari kaca jendela, tersenyum menatap Miko menyemangatinya. Sejak kejadian kemarahan Mami, Miko mengajari Rinda soal laboratorium.
Rinda diajarkan untuk bisa membedakan bahan yang berbahaya, bahan yang mudah terbakar agar berhati-hati. Rinda bukan tidak tahu hanya saja dia memang menyukai membuat masalah.
Saat bangun tidur, Rinda sudah melihat Miko di depan kaca jendela melakukan bela diri, melihat kakaknya yang selalu berlatih membuat Rinda mulai ikut melakukan pukulan, tendangan bertenaga.
Raffa dan Rindu sangat mempercayai Miko, bahkan tidak pernah membedakan antara Rinda dan Miko, bagi Raffa Miko putranya.
Rinda mulai bertualang bersama Miko, hingga akhirnya Rinda harus melihat kakaknya terbaring tidak berdaya.
"Diam!" Rinda teriak kuat, melempar kaca karena mendengar suara burung.
Berlian dan Mentari yang berdiri di depan pintu langsung mundur, Rinda berjalan ke arah balkon mengambil senjata menembak setiap burung yang mengeluarkan suara.
"Pergi dari sini, tidak ada kabar duka di Mansion. Kalian harus pergi, jika tidak seumur hidup Rinda akan membunuh kalian."
Lian meneteskan air matanya, langsung memeluk Rinda yang menangis histeris memanggil nama Miko.
"Bagaimana ini kak Lian?"
__ADS_1
"Kak Lian lupa jika kak Miko baru saja dari kritis karena racun, terus tertembak, tertusuk sekarang kena racun lagi." Rinda menangis teriak kuat.
Berlian langsung terdiam, menatap Rinda yang mengatakan soal Miko keracunan.
"Kak Miko memiliki pelindung sebelum virus menyebar, karena dia meminum penawarnya, kita hanya butuh menyempurnakan." Lian tersenyum menatap Rinda yang menghapus air matanya.
"Kak Lian benar." Rinda langsung berlari masuk ke dalam laboratorium mini."
"Sebaiknya kita pergi ke lab Kakek." Tari langsung membuka pintu.
Rinda, Lian dan Mentari langsung berlari ke arah lab, langsung masuk ke dalam melihat lab yang sudah canggih.
Mentari langsung mencari buku yang pernah mereka rebut saat di kapal, Tari tidak menemukan buku apapun.
"Di mana buku?"
"Buku pastinya di lab Mansion kita, buku rahasia milik Kaira."
"Lalu bagaimana kita memulainya, Tari juga tidak mengerti soal lab."
"Lian sudah membaca seluruh isi buku, mengigat jelas isinya. Rinda racun yang melumpuhkan kak Miko, racun yang sama dengan Rinda Chrispeter sebelumnya."
Mentari melangkah keluar, menunggu di depan pintu membiarkan Rinda dan Berlian yang bertindak, karena mereka tahu soal obat-obatan.
"Bagaimana keadaan Paman?" Mentari langsung berlari ke arah ruang rawat.
Mentari melangkah masuk menggenggam tangan Paman Ahlan, Roy ada di dalam ruangan, tetapi Mentari tidak mengetahuinya.
"Paman, kenapa pergi tanpa pamit." Tari meneteskan air matanya, mengusap punggung tangan Paman.
"Paman jika ketemu Ayah, katakan Tari rindu. Paman jika terlahir kembali harus menjadi orang baik." Tari menangis sesenggukan.
Kakek Roy mengusap punggung Tari, mengatakan jika mereka akan melakukan pemakaman terbaik untuk Paman Ahlan, dia sudah menyelamatkan salah satu pengawal terbaik Chrispeter.
"Kakek, Tari tidak tahu harus berkata apa lagi. Hati Mentari hancur, sesak juga sakit sekali."
"Mentari setiap pertemuan ada perpisahan, kamu harus mengikhlaskan Paman Ahlan. Kamu anak baik, Reza pria yang beruntung dicintai wanita sebaik kamu. Maafkan kami tidak bisa menyelamatkan Paman."
__ADS_1
Suara tangisan Tari tertahan, langsung memeluk tubuh besar yang sudah tidak bernyawa. Air mata Roy menetes mengusap kepala Tari.
"Paman, bagaimana cara kami menghibur Kaira? Aunty Ais sangat kami percaya karena kelembutannya, tapi pada akhirnya dia membunuh Paman juga menyakiti kak Miko."
"Dia pengkhianatan Tari, saat pergi dari sini karena menjebak Maxi. Sifat cuek Max membuat Maxi tidak mempedulikannya, tapi satu tahun yang lalu dia diberikan kesempatan karena sudah menikah dan memiliki anak, tidak disangka dia belum berubah."
Roy melangkah pergi, meninggalkan sebuah kotak kecil di samping Mentari. Tari duduk membaringkan kepalanya menggenggam jari jemari Paman Ahlan untuk terakhir kalinya.
"Reza temuin Tari di ruangan Paman Ahlan, dia meninggal." Roy menghela nafas, langsung melihat ke dalam ruangan Miko.
Maxi langsung meremas rambutnya, karena dirinya Paman Ahlan menjadi korban. Racun dari suntikan langsung mematikan.
Reza langsung berlari, Boy merangkul Maxi sama-sama menundukkan kepalanya.
Suara burung gagak terdengar, Maxi dan Boy langsung berdiri ke depan pintu. Maxi memaksa ingin masuk untuk melihat keadaan Miko.
"Tenanglah, di dalam sudah cukup orang. Mereka semua orang terlatih, ada Keisya dan Rindu." Bara menepuk pundak Maxi.
"Jangan menyalahkan diri kamu Max, tidak ada yang menginginkan kejadian ini jadi berlapang dada." Asep menepuk pundak Max.
"Max tidak mungkin sanggup menatap Rinda yang sudah menganggap Miko sebagai kakak kandungnya, menjadi teman berjuang. Maxi juga tidak bisa berbicara lagi dengan Kai jika karena Max lelaki yang dicintainya terbunuh. Maxi tidak mungkin bisa tinggal bersama keluarga Chrispeter lagi." Max langsung berlutut memukul pintu ruangan operasi.
Rindu keluar, langsung menangis histeris memeluk Raffa. Boy mendekati Mami yang masih terisak.
"Tidak cukup Rindu kehilangan Rinda, sekarang Rindu harus menghadapi kenyataan kehilangan anak yang sudah kita angkat putra kandung kita." Rindu mengeratkan pelukannya.
Maxi langsung membuka pintu paksa, melihat Miko yang terbaring dengan banyak alat ditubuhnya.
"Maafkan aku Mik, sejak kita kecil aku selalu membahayakan kamu. Tolong jangan mati dengan cara seperti ini, aku harus bagaimana menghadapi kekasihmu juga adik kesayangan kamu." Maxi meneteskan air matanya, menepuk wajah Miko yang sudah putih pucat tidak ada darah.
"Miko sudah meninggal Maxi." Keisya menepuk pundak Max langsung melangkah pergi ke luar.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***