BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 WANITAKU


__ADS_3

Boy tiba di pinggir pantai, Mentari langsung berlari, Lian ingin memeluk Tari, tapi langsung dilewati.


Mentari memukuli Boy, wajah Boy yang ceria berubah gelap, beraninya seorang pengawal memukulinya.


Tangan Boy langsung melayangkan pukulan, tapi Reza langsung menahannya. Berlian sangat kaget melihat Boy ingin memukul Tari, suara tawa Boy langsung terdengar, sudah Boy duga pasti akan ada sesuatu antara Tari dan Reza.


"Kenapa kamu ingin memukul wanita?" Reza menatap tajam.


"Kenapa kamu membela dia? seorang pengawal tidak punya hak menyalahkan apapun yang tuannya lakukan." Tatapan mata Boy lebih tajam.


"Hanya aku yang berhak menghakimi dia, Tari pengawal diriku, kamu bisa berurusan denganku."


"Dia yang memukuli aku lebih dulu, sekalipun Lian mati di dalam namanya tidak akan pernah diingat."


"Aku tidak perduli soal kamu dan Lian, jika kamu terganggu dengan Tari yang meluapkan kekesalannya, kamu boleh memukul aku." Reza menunjuk wajahnya.


Boy langsung melayangkan pukulannya, kedua pipin Reza merah, Tari teriak kuat melihat tuannya dipukul.


Reza juga langsung melayangkan pukulan, tapi Reza langsung menatap tangannya, melihat Berlian terlempar karena pukulannya.


"Za, kamu memukulnya." Boy menatap tajam.


"Kenapa kamu ikut campur." Reza menatap Berlian yang berusaha tersenyum.


"Melindungi tuanku." Lian menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Reza.


Boy mendekati Lian, mengangkat wajahnya. Mengusap pipi Lian yang memerah, ada darah di pinggir bibirnya.


"Lian, kami sudah terlatih untuk tidak memukul wanita yang tidak bersalah, bahkan yang salah juga tidak kami sakiti, kecuali dia sudah keluar batasan."


Boy sengaja ingin memukul Tari, tapi bukan berarti benar akan memukulnya, Boy juga mengerti Tari masih kecil, perasaan masih labil.


Selama ini Reza tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bahkan kabarnya Reza tidak suka dipeluk oleh Mommy Reva.


"Lian, mulai sekarang jangan menganggap apapun masuk ke hati, saat orang mengatakan kamu sampah, belum tentu kamu memang sampah, bisa saja kamu Berlian."


"Itu nama Lian Tuan." Senyum Berlian terlihat.


"Ohhh, nama yang cantik. Siapa yang memberikannya?"

__ADS_1


"Ayah bilang seorang pangeran tampan, dia memanggil Paman mengatakan jika calon adik kecil namanya Berlian. Dia sebenarnya tidak menyukai bayi wanita, tapi lahirnya wanita."


"Pangeran tampan itu aku."


Boy tersenyum memeluk Berlian, alasan Boy tidak bisa membawa Lian pergi bersama karena mengingatkan dirinya kepada Ayah Lian.


Paman berbadan besar, yang selalu mengawalnya menggendong di atas bahunya bermain, mengangkat pedang, sampai loncat dari balkon kamar demi melarikan diri, Ayah Lian yang menangkapnya.


Keberanian seorang Boy juga tumbuh dari pengawalnya, saat Boy mendengar kabar kepergian pamannya, senyuman Boy langsung menghilang.


"Lian, Ayah kamu dulu pernah berkata. Tuan kecil ingin pengawal muda? aku selalu menjawab Paman pengawal ku selamanya ...." Boy menatap mata Lian.


"Paman menawarkan putrinya sebagai pengawal, Boy menjawab dia bukan pengawal tapi wanitaku." Reza tersenyum melemparkan batu ke pantai.


"Dari mana kamu tahu Reza?"


"Aku tidak sengaja mendengarkannya, karena saat itu aku sedang marah karena ditawarkan pengawal baru seorang wanita, aku menolak tapi Mommy suaranya lebih tinggi dari siapapun, aku yang baru berusia 4 tahun tidak mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan pendapat."


Berlian tidak bisa mengerti ucapan Boy dan Reza, mereka bernostalgia saat pertama melihat si kecil Lian juga Tari yang cengeng.


"Tari tidak cengeng, tidak mudah menangis." Mentari memeluk Berlian meminta perlindungan.


"Tidak, tidak mungkin." Reza tersenyum tidak mungkin dia menyukai Tari yang merepotkan.


Suara langkah kaki mendekat, Kaira muncul bersama Miko. Kai menceritakan yang mereka temukan, kedatangan mereka sudah ditunggu.


"Bibir kak Miko kenapa berwarna pink, seperti warna lipstik kak Kai." Mentari menghidupkan senter memperjelas warna bibir keduanya.


"Nona Kai baik-baik saja?" Lian mendekati Kai yang menutup bibirnya.


Jantung Miko berdegup kencang, Tari terlalu jujur seperti Rinda, tidak bisa menyembunyikan pandangannya seorang diri.


"Kak Lian, Om Miko sama Nona Kai berciuman." Mentari menganggukkan kepalanya.


"Tari, sebaiknya kamu diam."


"Kalau kak Max tahu, Om Miko sudah dikubur hidup-hidup."


"Kak Max, Om Miko? kenapa Max kakak, aku menjadi Om-om." Miko mencubit pipi Tari gemes.

__ADS_1


Mentari tidak menjawab, tatapan mata Lian menakutkan, sehingga Tari memilih diam. Boy dan Reza menatap Kai yang hanya diam, Boy sangat mengenal Kai, walaupun mereka lama tidak bertemu, jika Kai dituduh sesuatu yang tidak dia lakukan pasti marah.


Ucapan Tari ada benarnya, Kai hanya diam menutup mulutnya. Reza juga menatap tidak suka dengan tindakan Miko.


"Kai, kenapa kamu tidak marah?"


"Sebaiknya kita membahas soal tempat ini."


"Kak Kai, jangan mudah tergoda rayuan lelaki, jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, kak Kai tidak ada artinya. Bisa tidak jual mahal."


"Kamu mengatakan jika aku wanita murahan? aku sudah besar Za, bukan anak kecil yang tidak mengerti hubungan lelaki dan wanita." Kaira membuang pandangannya dari Reza dan Boy.


"Kamu siap menikah muda Kai, kamu yakin bisa bahagia jika menikah dengan Miko, dia hanya orang lain yang mengabdi untuk keluarga kita, sungguh penghinaan jika kamu berani menikahinya." Mata Boy menatap Miko yang juga menatapnya tajam.


"Penghinaan Boy? aku memang mencium Kai sebagai seorang wanita, jika kamu memandang dari sisi harta, kekuasaan aku memang kalah, tapi jika kamu memandang dari kesetiaan kamu tidak harus meragukannya Boy." Miko menantang tatapan Boy dan Reza.


"Bisa kalian hentikan?" Kaira menatap Miko memintanya diam.


"Kamu tidak akan pernah bisa memiliki Kaira, dari usia juga sudah terpaut jauh, beraninya kamu menyentuh putri Chrispeter." Suara Reza tinggi, membuat Kai kesal.


"Cukup Za, aku yang berhak menentukan jalan hidupku, sekarang bukan waktunya kita berdebat soal hubungan aku." Kaira membentak Reza.


Suara Reza tertawa sangat kuat, merasakan lucu melihat Kaira yang terlihat menyukai Miko.


Semuanya diam hening, Kaira duduk di dekat perapian bersama Tari. Miko duduk jauh, pikirnya kacau seperti air yang airnya keruh.


Reza duduk di pinggir pantai, melihat langit bersama Lian. Reza mempertanyakan mengapa Lian tidak marah dengan Boy, saat Lian ditangkap oleh manusia kanibal.


Lian tersenyum dia dari awal sudah takut, tapi Boy memberikannya gelang pelacak, Boy pastikan akan melindunginya.


"Kak Boy pasti mengatakan, jangan pernah terluka, bukan kamu yang menjaga aku, tapi aku yang menjaga kamu." Reza tersenyum.


"Benar, sepetinya ungkapan Boy sudah familiar."


Boy berjalan di pinggir pantai, membiarkan kakinya basah terkena air pantai.


"Kenapa Rinda dan Maxi belum juga kembali? nomor mereka sudah tidak aktif, bahkan suara mereka tidak terdengar." Miko langsung melangkah pergi.


"Rinda hilang kontak, kita langsung bergabung saja. Kak Miko sudah pergi lebih dulu dia ingin kita menunggu." Boy mengacak rambutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2