
Bara keluar dari kamar mandi menyelesaikan mandinya. Mata Bara menatap Bianka yang menggunakan baju seksi ingin keluar kamar, cepat Bara berlari sambil menarik tangan Bianka.
"Bara sakit!" Bianka mengelus lengannya, Bara langsung mengunci pintu. Menatap Bianka tajam.
"Beraninya kamu keluar kamar dengan baju seksi begini, tidak tahu berapa banyak pengawal yang keluar masuk Mansion."
"Tidak akan ada juga yang berani menyentuh aku."
"Tapi aku tidak rela membagi pandangan mereka, hanya aku yang boleh melihat tubuh kamu."
"Aku haus!"
"tunggu di sini, aku yang keluar."
"Stop! kamu tidak tahu berapa banyak maid keluar masuk Mansion. Ingin memperlihatkan tubuh kamu yang hanya menggunakan handuk." Giliran Bianka yang melotot.
Bara mengacak rambutnya, langsung mencari celana dan bajunya. Bi langsung berbaring ke ranjang, menunggu Bara yang keluar meminta air minum.
Setelah air minum datang, Bara meminumnya terlebih dahulu baru memberikannya ke Bi. Bara berbaring di samping Bianka, yang langsung masuk dalam pelukannya. Ingin sekali Bara menolak karena sekarang dia semakin sulit mengendalikan diri, melihat Bianka menggunakan baju seksi saja membuat keringat dingin, apalagi sekarang Bara merasa Bi sengaja menggodanya.
Ciuman dileher Bara membuatnya memejamkan mata, tangan Bara juga mulai memeluk Bi. Menatap matanya dan mendaratkan ciuman ke seluruh wajahnya.
"Jangan menggoda Bianka!" Bara mencium bibir Bi.
Bianka menahan kepala Bara, tangannya mulai meraba-raba. Bara langsung menahan Bi dan berdiri menjauh.
"Bianka cukup! jangan siksa aku dengan cara seperti itu."
"Yakin tidak mau!" Bianka meminta Bara berbaring lagi.
"Tunggu satu mobil minggu lagi, cepat tidur."
"Ooh ya udah! padahal tadi rencananya mau melayani kamu. Haidnya sudah selesai!" Bianka langsung berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Bara yang masih terdiam.
Lama Bianka di dalam, dia sengaja menunggu Bara memanggilnya. Sedangkan Bara gelisah menunggu, kalau dia tahu bisa main dari tadi sudah diterkam.
"Bianka! apa yang kamu lakukan? cepat keluar!" Bara mengetuk kamar mandi.
"Tidur saja duluan! nanti aku nyusul. Masih nyaman di sini?" Bianka tersenyum bisa mengerjai Bara.
"Tapi tidurnya mau ditemenin kamu. Ayolah cepat!"
"Duluan saja, nanti baru aku temenin."
"Mau sekarang Bi!"
"Nanti!"
"Aku dobrak pintunya."
"Apaan kamu...." Bianka membuka pintu dengan kesal, belum sempat menyelesaikan pembicaraannya. Bara sudah menarik Bianka dan menciuminya.
"Kenapa pakai baju begini, mana baju seksi tadi."
__ADS_1
"Kamu tidak mau, jadi aku mau keluar. Tidur sama Nayla!" Bianka berjalan mendekati pintu.
"Mau kamu pakai baju seksi, pakai karung, jas hujan atau baju apapun nanti juga bakal lepas semua." Bara menggendong Bianka, dan meletakkannya di ranjang.
"Mau apa?"
"Mau kamu!"
"Tidak boleh!" Bianka memeluk tubuhnya yang menggunakan baju piyama panjang.
"Kamu tidak boleh menolak keinginan aku." Bara sudah berada di atas tubuh Bianka, matanya menatap mata Bi, senyum manis juga terukir dari wajah tampannya.
"Bara!"
"Kenapa? kamu takut!"
"Ya, nanti kamu tidak tanggung jawab."
"Apa Bi?" tawa Bara langsung pecah, kepala Bara jatuh di bahu Bianka.
Bi memukuli punggung Bara yang menertawakannya, memangnya salah kalau dia takut Bara tidak bertanggung jawab.
"Diam! kalau kamu masih tertawa, aku marah." Bianka menatap Bara yang juga sudah diam, menatap tajam Bi.
Tangan Bianka dikalungkan ke leher Bara, sedangkan kedua tangan Bara memegang kepala Bi, mencium keningnya.
"Kamu ingin mendengar ungkapan Cinta? apa kamu percaya?"
"Aku mencintai kamu Bi, sejak pertama kita bertemu di Inggris. Kita berdua bergabung dalam penelitian akhir. Tapi kamu tidak pernah melihat aku, Bianka Chrispeter yang sombong tidak mengenali Ghavin Barata Arnold."
"Barata! kamu yang mengalahkan aku." Bianka mengigat kemarahannya karena kalah dari seorang pengusaha, yang ikut dalam penelitian.
"Ya! aku berharap mendapatkan selamat dari kamu, tapi kamu langsung pergi dan Kita bertemu lagi di kota xxx."
"Tapi kamu suka Rinda, selalu bersama Rinda. Hanya karena balas dendam dengan Kristan baru menikahi aku."
"Hanya suka saja, soal Kristan tujuan nomor dua, tapi aku memang tidak rela kamu menikah dengan Kristan."
"Bohong!"
"Bi, ini kejujuran aku, impian kedua selain menyelamatkan ibu bisa menikahi kamu. Tapi melihat sifat kamu yang sombong, membuat aku meninggalkan dunia Ghavin dan turun menjadi Bara."
"Melihat Bianka kalah, akan menjadi kesenangan sendiri. Maaf ya aku pernah mencekik kamu, hati aku juga sakit Bi karena menyakiti kamu."
"Benarkah! buktinya apa?"
"Aku akan jadi ayah untuk anak-anak kita."
"Enak di kamu!"
"Sama-sama enak Bi, kita coba."
"Awwwwww Bara! tidak mau."
__ADS_1
"Yakin Bi!"
"Bara!"
Bara tertawa mendengar suara Bianka yang manja, jika memiliki Bi sebahagia ini sudah lama Bara lakukan. Cinta yang Bara miliki dulu terabaikan, tapi sekarang wanita sombong sang putri Chrispeter berada dalam pelukannya.
"Kamu tidak mirip seperti seorang mafia tapi pria mesum." Bianka memukuli dada Bara yang berhasil membuka bajunya.
"Di luar mafia kejam, tapi di depan kamu jadi mafia mesum juga tidak masalah."
"Bara!" teriakkan Bianka membuat Bara semakin menjahilinya.
"Selimut, nanti ada yang lihat. Aku malu!"
"Hanya aku yang melihat Bi."
"Pokoknya tutup pakai selimut!"
"Masuk belum, enak juga belum. Tidak asik main dalam selimut."
"Ya sudah aku tidak mau!"
"Oke pakai selimut." Bara terpaksa harus mengalah.
Bara sudah menutup mulut Bianka dengan bibirnya, Bianka berubah menjadi wanita cerewet. Tidak boleh lihat, jangan sentuh di situ, jangan di sini, tunggu dulu, sakit, dan banyak lagi Omelan Bi yang membuat telinga Bara sakit, tapi tidak mengurangi keinginannya untuk memiliki Bianka seutuhnya.
Tubuh Bianka menggeliat, tangannya ditahan kuat oleh Bara, suaranya juga sudah tidak terdengar lagi. Bi mulai merasakan sakit, Bara mengambil kehormatannya. Bi sudah pernah terkena pisau juga tubuhnya pernah tertembak tapi dia tidak menangis tapi kali ini air matanya keluar bukan menangis sakit tapi hanya ingin menangis saja, karena melepaskan miliknya untuk Bara.
Tubuh Bara ambruk di atas Bianka, nafasnya tidak beraturan, keringatnya lengket ditubuh Bi.
"Bara berat! turun." Bi akhirnya mengeluarkan suara yang dari tadi dia tahan.
"Maaf! aku mencintai kamu Bi." Bara mencium kening dan kedua pipi Bianka."
"Ya cepat keluar! aku malu."
"Kamu cerewet, hari ini kamu sangat mengemaskan. Terimakasih ya. Semoga cepat hamil!"
"Bara!
"Satu kali lagi boleh!"
"Kamu mau bunuh aku, masih sakit, capek juga."
Bara tersenyum membawa Bianka masuk ke dalam pelukannya, kenikmatan yang mereka berdua rasakan akhirnya membawa Bara ke alam mimpi. Bianka membuka matanya, menatap wajah tampan Bara dan tersenyum.
"Tidak pernah aku bayangkan, jika akan menikah. Merasakan nikmatnya hubungan." Bianka mencium sekilas bibir Bara yang sudah tidur.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
__ADS_1